"Satu," hitung Xavier dari layar ponsel yang disandarkan Kaeta ke cangkir kopi. "Dua. Tiga. Itu kunci kamarmu, kunci Zeta, dan..."
"Kunci balkon, Dad."
"Kenapa balkon dikunci?"
"Karena Tuan Wesley menganggap pencuri bisa memanjat pinus."
Xavier mendengus. Di pojok bingkai, Kaeta menangkap sekilas cangkir kopi raksasa dan selembar surat Vanessa yang sudah ditandai tiga warna stabilo.
"Daddy tidak tidur?"
"Daddy tidur tiga jam, itu cukup untuk ahli bedah." Xavier mengusap wajahnya. "Berenanglah hati-hati. Danaunya dingin."
"Dad tahu aku mau berenang?"
"Daddy tahu putrinya sejak dia berumur tiga tahun. Kalau ada air, kamu pasti masuk."
Setelah menutup telepon, Kaeta duduk lama memandang ponselnya yang kembali gelap. Kalimat itu bukan pujian dan bukan peringatan, dan ia belum selesai menimbang yang mana.
***
Jordi menemukan Damian di ujung dermaga pukul tujuh pagi, sendirian, dengan kaki terbuka seperti orang yang sedang diinterogasi oleh angin. Ia membawa dua gelas kopi dan wajah yang jarang ia tunjukkan di luar jam jaga.
"Kopi."
"Terima kasih."
"Ini Sabtu." Jordi menaruh gelas di papan, duduk bersila. "Kau bilang akhir pekan. Jumat sudah lewat tanpa satu kata pun, dan hari ini hari kedua dari dua."
"Aku tahu."
"Kau tahu, dan kau hanya duduk di sini menatap air seperti sedang menunggu air mengaku lebih dulu."
Damian menyeruput kopi. Jari-jarinya mengetuk gelas, tiga kali, berhenti. "Kau mau aku mengatakannya sebelum sarapan?"
"Aku mau kau mengatakannya sebelum aku memberi tahu Zeta bahwa dia boleh membunuhku dengan penjepit sosis karena membiarkan sahabatnya jadi pembohong."
"Aku bukan pembohong."
"Kau bilang ada tugas."
Damian diam. Kopi di gelasnya bergetar halus, lalu tenang lagi. "Hari ini," ucapnya. "Bukan karena kau menekanku. Karena aku sudah bilang pada diriku sendiri."
"Pagi? Siang?"
"Setelah dia berenang. Dia sudah memikirkan ini sejak semalam, dan aku tidak mau mengacaukan hari yang baik untuknya dengan hal yang tidak baik."
"Berarti malam."
"Berarti malam."
Jordi menatapnya lama, lalu mengangguk pelan dan menepuk lututnya sekali, tanda yang selalu ia pakai sebagai pernyataan percaya tanpa kata. "Aku akan berdiri di sana waktu kau ngomong."
"Jangan. Ini bukan pertunjukan."
"Aku akan berdiri di sana dengan jarak sopan. Seperti pohon sedih."
Damian menunduk, dan Kaeta bersumpah melihat sesuatu bergerak di pipinya.
***
Pukul sepuluh, danau berubah warna menjadi hijau jernih yang menampakkan batu-batu di dasarnya. Kaeta turun ke dermaga dengan baju renang hitam sederhana dan handuk tersampir di bahu, sementara Damian berdiri di ujung papan dengan kaus abu-abu, celana pendek, seutas tali panjang yang tergulung di bahu, dan alat pemadam api kecil yang diletakkan di sisi kakinya dengan khidmat.
"Aku tidak percaya kamu membawa itu," ucap Kaeta.
"Aku berkata aku akan membawanya."
"Itu alat untuk api, bukan air."
"Api bisa muncul di mana saja."
"Kamu sedang mencoba terdengar tidak lucu supaya terdengar lucu."
"Aku sedang berusaha bersiaga."
Zeta dan Jordi duduk di bangku pinggir dermaga membawa gelas jus, memasang wajah orang yang sedang menonton pertandingan olahraga yang mereka sendiri tidak ikut bertaruh. Daniel berada di beranda atas jauh di belakang, bersandar pada pagar dengan cangkir di tangan.
Kaeta menarik napas dalam-dalam. Air danau itu dingin seperti benda tajam. Ia melompat tanpa aba-aba, menyelam dalam, dan muncul tiga meter dari dermaga dengan rambut menempel di wajah dan tawa yang meledak.
"Dinginnya luar biasa!"
"Keluar kalau kedinginan!" seru Damian dari dermaga.
"Aku tidak kedinginan! Aku bersemangat!"
Ia berenang dengan gaya yang diajarkan ibunya, tenang dan panjang, menjauh dari dermaga sampai ke tengah di mana air berubah menjadi hijau gelap. Di sana ia berhenti, mengapung telentang, memandang langit tanpa awan. Dua puluh detik. Tiga puluh. Ia merasa ringan, lebih ringan daripada sejak berhari-hari.
Lalu sesuatu yang jahil menyala di kepalanya, seperti pemantik yang disentil. Kaeta menegakkan badan, menepuk-nepuk air dengan kacau, dan berteriak sekeras mungkin sambil menenggelamkan kepala:
"TOLONG! KRAM! KAKIKU...!"
Ia tenggelam dengan sengaja, bersiap menunggu tiga detik, empat detik, lalu muncul dan tertawa. Itu rencananya. Ia bahkan menghitung dalam hati.
Satu. Dua.
Di atas permukaan air terdengar lengkingan seseorang, terlalu jauh untuk terdengar jelas, lalu sesuatu menghantam air dengan suara berat. Pada hitungan ketiga, tangan yang keras mencengkeram lengannya dan menariknya naik. Kaeta mendongak. Damian berada di sana, basah kuyup dengan kaus yang menempel di dada dan matanya liar, napasnya pecah dan putus-putus, satu lengan melingkar di bawah ketiaknya dengan kuat.
"Kae! Kae, napas! Lihat aku! Napas!"
"Aku..."
"Jangan bicara! Napas!"
Ia menarik Kaeta sampai ke tangga dermaga, setengah mendorongnya naik, mengangkatnya dengan satu tangan dan menidurkannya di papan kayu, dua jari langsung menekan sisi lehernya, mata menatap dada Kaeta dengan konsentrasi seorang petugas yang sudah terlatih ribuan jam. Zeta berlari, Jordi menjatuhkan gelasnya, dan dari beranda atas Daniel berdiri tegak dengan cangkir yang terlepas.
"Aku tidak apa-apa," ucap Kaeta, terbatuk. "Dam, aku... aku tidak tenggelam."
Damian berhenti. Jari-jarinya masih di lehernya. Ia menatap wajah Kaeta, bibirnya yang bergetar, matanya yang terlalu lebar, dan baru kemudian ia melihat sesuatu yang lain: ujung senyum yang tidak sempat dihapus.
"Kau..." Suaranya serak. "Kau pura-pura."
"Aku cuma mau..."
"Kau pura-pura tenggelam." Ia menarik tangannya seperti tersengat. "Kau pikir itu lucu?"
Kaeta membuka mulut, tetapi tidak ada kata yang tersedia. Ia melihat tangan Damian gemetar, benar-benar gemetar, dan seluruh bayangan yang ia kira bisa diubah menjadi lelucon mendadak berubah. Ia teringat tepi kolam yang lain, dan permainan lain yang pernah berhenti terlalu lambat.
"Maaf," bisiknya.
"Aku masuk air dengan ponsel di saku dan..." Damian berhenti, mengusap wajah dengan tangan basah. "Aku tidak bisa membedakan, Kae. Kau menjerit, kau tenggelam, kau menghilang, dan aku tidak bisa membedakan. Aku tidak mau lagi tidak bisa membedakan."
"Aku mengerti."
"Kau tidak mengerti." Lalu ia menghela napas panjang, bahunya jatuh, dan nada suaranya merendah menjadi sesuatu yang lain. "Maaf. Aku membentak."
"Aku pantas."
"Tidak." Ia mengambil handuk dari papan, merentangkannya tapi tidak menyentuh bahu Kaeta. "Boleh?"
Kaeta mengangguk. Damian membungkusnya dengan handuk dengan gerakan hati-hati yang hampir terasa seperti permintaan maaf. Tangannya masih gemetar. Dari belakang, Zeta menarik Jordi mundur dua langkah, dan keduanya menahan napas.
"Aku tidak akan menjerit minta tolong kalau aku tidak butuh ditolong," ucap Kaeta. Suaranya kecil. "Janji."
"Jangan berjanji sesuatu yang tidak kau pegang."
"Aku pegang."
Mereka duduk berdampingan di papan basah, air menetes dari rambut Kaeta ke bahu Damian. Lama sekali mereka diam. Lalu Kaeta menoleh, menatap wajah pria itu dari jarak yang tak pernah mereka biarkan sejak pesta, dan menyadari sesuatu yang sederhana: ia tidak ingin menunggu lagi.
"Dam."
"Hmm."
"Aku yang bilang kapan, kan?"
Alis Damian bergerak. Ia mengerti tepat sedetik sebelum Kaeta mengatakannya.
"Sekarang," ucap Kaeta. "Boleh aku lebih dulu?"
"Kau yakin?"
"Kalau tidak yakin, aku tidak akan bilang."
Damian tidak bergerak. Ia membiarkan Kaeta menentukan jaraknya, dan Kaeta, dengan handuk di bahu dan air danau di bibir, memajukan wajahnya. Ciuman itu singkat dan pelan, dingin di awal dan hangat di akhir, rasa air danau dan sisa ketakutan yang belum selesai pergi. Ketika ia menarik diri, Damian masih menatapnya dengan mata yang sedikit lebih lebar dari biasa.
"Itu..." ia berdeham. "Itu bukan prosedur."
"Itu prosedurku."
Dari kejauhan Zeta menutup mulut dengan kedua tangan sambil melompat-lompat tanpa suara. Jordi memutar badan sepenuhnya dan menatap pohon pinus yang paling dekat, bahunya bergetar. Di beranda atas, Daniel berdiri bergeming. Ia melihat semuanya dari kejauhan, wajahnya dibelah bayangan atap, dan perlahan ia tersenyum, senyum yang pahit tetapi tidak marah, lalu menunduk memungut cangkirnya dan masuk ke dalam rumah.
"Kae."
"Ya?"
"Ada yang harus kukatakan." Damian menarik napas. Suaranya turun sampai hanya Kaeta yang bisa mendengar. "Malam ini."