Setelah makan malam, Zeta dan Jordi duduk di dua ujung sofa beranda dengan jarak yang cukup untuk memuat satu orang dewasa, satu toples keripik, dan beberapa hal yang belum diucapkan. Tak seorang pun menyinggung amplop Gans, anak tangga, atau penjepit. Kaeta memperhatikan mereka dari ambang pintu sambil mengunyah marshmallow mentah, dan memutuskan bahwa sebagai calon dokter, ia sebaiknya tidak ikut campur dalam penyakit yang belum menunjukkan gejala utama.
"Api unggun," ucap Jordi tiba-tiba, berdiri seperti baru ditunjuk menjadi presiden. "Ayo bikin api unggun. Aku bawa korek, kayu, dan kecerdasan kolektif."
"Tidak," sahut Damian dari halaman.
"Aku belum bilang apa-apa."
"Kau bilang korek."
Damian sudah berada di tepi tanah lapang di antara beranda dan dermaga, dengan sepasang sarung tangan kulit dan sebuah ember yang entah ia temukan di mana. Di sebelahnya tergeletak alat pemadam api kecil yang pasti bukan milik rumah itu, karena stikernya bertuliskan nama markas. Kaeta menatap barang bawaan itu, lalu menatap Damian, lalu kembali pada alat pemadam.
"Kamu membawa itu dari New York?"
"Dari bagasi."
"Sengaja?"
"Aku tidak percaya pada kebetulan yang berhubungan dengan api."
Ia menggali lingkaran dangkal di tanah, menyusun batu berukuran seragam di tepinya, mengukur jarak antara lingkaran dan pohon pinus terdekat dengan langkah kakinya sendiri, menunjuk arah angin dengan jari terangkat, dan baru kemudian meletakkan kayu: pertama ranting kecil, lalu kayu sedang, lalu batang besar yang disilangkan seperti menara yang akan dipasangi bendera. Seluruh proses itu memakan waktu dua puluh menit dan menyisakan tiga penonton yang memandangnya dengan campuran kagum dan kasihan.
"Komandan," ucap Kaeta, bersandar di pagar beranda dengan marshmallow di ujung tusuk. "Apakah kita perlu izin dari balai kota untuk menyalakannya?"
"Tidak."
"Dari dinas lingkungan hidup?"
"Tidak."
"Dari pawang hujan?"
"Dari angin." Damian menatap bendera imajiner di atas kepalanya. "Arah selatan, kecepatan rendah. Aman."
"Dokter Gadungan menyatakan bahwa ini api paling tertib yang pernah ia lihat."
"Dokter Gadungan harus menyingkir tiga meter dari lingkaran."
"Dokter Gadungan sedang membawa marshmallow, bukan pembakar."
"Justru itu yang paling berbahaya."
Zeta tertawa lebih dulu, lalu Daniel, lalu Jordi yang tak mau kalah dan menepuk-nepuk lutut. Damian menyalakan korek dengan tangan yang tidak gemetar sedikit pun. Api kecil menjilat ranting, naik, dan sebentar kemudian lingkaran batu itu berpendar jingga di tengah gelap yang mulai pekat.
Mereka duduk melingkar di atas batang kayu yang diseret Jordi dan Daniel. Danau di belakang mereka tampak seperti lembar hitam yang diam. Daniel membagi tusuk, Zeta membagi marshmallow, dan Jordi, yang tidak dipercaya menyentuh api, diberi tugas memegang bungkus kerupuk.
Tak ada yang bicara beberapa lama. Kaeta menatap bara yang berderak, lalu melirik Damian di seberangnya, cahaya api menyorot setengah wajah pria itu dari bawah, membuat garis rahangnya tampak lebih lembut daripada siang tadi.
"Boleh aku tanya sesuatu?"
"Boleh."
"Kenapa kamu jadi damkar?" Kaeta memutar tusuknya pelan. "Jordi bilang kamu jadi damkar untuk menghindari perjodohan. Dad bilang kamu punya misi. Aku mau dengar dari orangnya."
Jordi mendadak sibuk dengan bungkus kerupuk. Damian menatap api cukup lama sampai Kaeta mengira pertanyaannya terlalu banyak.
"Perjodohan itu alasan yang gampang diceritakan," ucapnya. "Dan memang ada benarnya. Tapi bukan itu."
"Terus?"
"Empat tahun lalu. Malam setelah Caline pergi." Ia menyebut nama itu tanpa meringis, dan Kaeta mencatat bahwa hal itu pun sudah berubah. "Aku menyetir tanpa tujuan. Berhenti di depan gedung apartemen yang terbakar di lantai empat, bukan karena aku mau menolong, aku hanya lewat. Ada seorang petugas damkar yang masuk ke asap tanpa masker tambahan, keluar menggendong anak kecil, dan menyerahkan anak itu pada ibunya sebelum dia sendiri jatuh berlutut dan batuk."
Api berderak. Daniel menunduk memandang tusuknya.
"Aku berdiri di sana, dengan mobil mahal dan sepatu mahal dan seluruh kekuasaan yang dibeli keluargaku, dan aku sadar tidak satu pun dari itu bisa menarik anak itu keluar. Uang tidak bisa. Nama Wesley tidak bisa." Damian mengetuk-ngetuk paha, pelan. "Untuk sekali itu aku ingin melakukan sesuatu yang tidak bisa dibeli. Itu saja. Misi rahasia itu tidak ada, Kae. Pria Tua dan Dokter Xavier terlalu banyak menonton film."
Kaeta tidak langsung menjawab. Marshmallow di ujung tusuknya sudah hangus di satu sisi dan ia tidak peduli.
"Itu alasan yang bagus."
"Itu alasan yang kecil."
"Alasan yang kecil sering menjadi satu-satunya yang benar." Ia menggigit bibir, dan sebelum sempat berpikir, kalimat berikutnya terlepas. "Ibuku punya aturan soal nomor darurat itu. Soal 911. Katanya, kalau sesuatu itu sudah bukan permainan lagi..."
Ia berhenti.
Semua kepala menoleh. Api berderak lagi, dan di keheningan pendek itu Kaeta mendengar detak jantungnya sendiri di telinga. Tenggorokannya mengering. Damian menunggu tanpa menekan, tanpa bergerak, dengan cara yang membuat penantian itu terasa seperti pintu yang sengaja dibiarkan terbuka.
"...baru boleh dipakai pesan pizza," lanjut Kaeta dengan suara cerah.
"Apa?" tanya Zeta.
"Aturan keluargaku. Nomor darurat dilarang dipakai pesan pizza sampai keadaan darurat benar-benar terjadi. Ibuku kejam soal pizza."
Jordi tertawa terlalu keras. Daniel tertawa dengan jeda setengah detik terlambat. Damian tidak tertawa. Ia hanya menatap Kaeta sebentar, dalam, lalu memalingkan wajah ke api dan mengangguk satu kali, seperti orang yang menerima sebuah paket yang sengaja belum dibuka.
***
Dua puluh menit kemudian, Kaeta dan Damian membawa ember ke dermaga untuk mengisi air, dan Daniel pamit tidur dengan hormat pengawal yang tugasnya selesai. Di tepi api tinggal Zeta dan Jordi, dengan bunyi kayu patah di antara mereka.
"Kamu pernah bilang aku wanita jadi-jadian," ucap Zeta tiba-tiba, menatap api.
"Itu sebelum aku tahu kamu bisa menendang tulang kering dengan akurasi dokter bedah."
"Dan kamu membuka mulut soal Celine di depan Damian sampai bekal Kaeta pecah."
Jordi tidak menyahut. Ia memandangi bungkus kerupuk di tangannya seakan baru sadar benda itu bukan miliknya.
"Itu bukan lucu," lanjut Zeta pelan. "Waktu itu kupikir kamu cuma cerewet. Ternyata kamu cerewet di saat yang salah. Aku tidak bisa mengerti kenapa orang yang paling bisa membuatku tertawa juga orang yang paling bisa membuatku ingin melempar sepatu."
"Karena kalau aku tidak bercanda, aku tidak bisa bernapas," jawab Jordi, dan suaranya tidak punya nada lawakan sama sekali. "Aku bukan orang yang hebat soal bicara serius, Zet. Setiap kali kucoba, yang keluar malah bodoh."
"Itu pertama kali kamu bilang jujur."
"Jangan beri tahu siapa-siapa."
"Aku belum memaafkanmu."
"Aku tahu." Jordi mengangguk pelan. "Aku butuh waktu menyusun permintaan maaf yang tidak lucu. Itu pekerjaan paling sulit yang pernah kuambil."
Zeta tidak menjawab. Tetapi ia menggeser duduknya, hanya beberapa senti, cukup agar lengan mereka hampir bersentuhan. Jordi memperhatikan jarak baru itu dan tidak berani menyebutnya.
Dari dermaga terdengar percikan air, lalu tawa rendah yang jelas milik Kaeta. Dan ketika api mengecil, dan rumah kayu di belakang mereka sudah mematikan lampu satu per satu, suara itu naik terbawa angin, pelan dan penuh rahasia.
"Besok aku mau berenang."
"Pakai pelampung."
"Aku tidak butuh pelampung."
"Aku akan berdiri di tepi dengan tali."
"Kamu akan berdiri di tepi dengan tali dan alat pemadam."
"Tentu saja."