"Belok kiri di pohon yang kelihatan sedih," ucap Zeta, mengangkat peta kertas setinggi hidung seperti menu restoran yang tidak ia percayai.
"Pohon yang mana?" tanya Jordi dari belakang kemudi.
"Yang sedih."
"Zet, di sini semua pohon kelihatan sedih. Ini hutan, bukan pesta."
"Yang ini sedih dengan cara pribadi."
SUV putih yang dikirim Tuan Wesley dari garasinya itu cukup besar untuk lima orang dan tujuh tas, tetapi tidak cukup besar untuk menampung Jordi dan Zeta bersamaan. Sudah dua jam mereka berperang kecil soal rute, musik, suhu pendingin, dan apakah keripik kentang boleh dimakan sambil menyetir. Di kursi belakang, Kaeta duduk di tengah, diapit Damian di sisi kanan dan Daniel di sisi kiri, dan merasa seperti isian roti.
"Ada yang mau permen?" tanya Daniel, mengacungkan kantong plastik dari saku jaketnya.
"Rasa apa?"
"Jeruk. Atau jeruk. Atau jeruk."
"Aku ambil jeruk," ucap Kaeta, dan Daniel menjatuhkan satu ke telapaknya. Dari sudut mata ia melihat Damian menatap lurus ke depan dengan tangan terlipat di dada dan rahang yang kaku, kakinya yang panjang ditekuk dalam sudut yang jelas-jelas tidak dirancang untuk kursi belakang.
"Kamu mau?" tanya Kaeta, mengulurkan bungkus permen kedua.
"Boleh." Damian mengambilnya dengan dua jari, tidak menyentuh telapak Kaeta sedikit pun. Ia membuka bungkusnya, memasukkan permen ke mulut, dan berhenti. "Ini jeruk."
"Daniel bilang jeruk, atau jeruk, atau jeruk."
"Itu tiga pilihan yang sama."
"Itu demokrasi ala keluarga Wesley," sahut Daniel. "Pilihannya banyak, hasilnya sudah ditentukan."
Damian menoleh sebentar pada keponakannya, matanya menyempit, tetapi sudut mulutnya terangkat sedikit. Itu pertama kali selama perjalanan. Kaeta menghitung sebagai kemajuan.
Hening yang mereka bawa dari kota sedang mengendap seperti debu di dasar mobil. Sejak balasan pendek soal tugas itu, Damian dan Kaeta belum membahas apa pun. Tidak ada yang mengungkit kalimat tentang tugas, tidak ada yang mengungkit Mars, tidak ada yang mengungkit surat Vanessa. Mereka duduk berdampingan seperti dua orang yang sama-sama tahu ada gajah di dalam mobil, dan sama-sama bersikap ramah pada gajah itu.
"Kae," bisik Damian akhirnya, hampir tidak terdengar di bawah protes Zeta tentang radio. "Soal tugas..."
"Nanti." Kaeta menahan permen di pipi. "Kamu bilang di danau."
"Aku tidak bilang di danau."
"Kamu bilang akhir pekan. Itu ada di pesan Jordi, yang dibaca Zeta, yang melapor padaku."
"Zeta membaca pesan Jordi?"
"Zeta membaca semua pesan Jordi. Itu bentuk kasih sayangnya."
Damian menutup mata sedetik, seperti orang yang baru dikalahkan oleh jaringan intelijen yang lebih baik daripada miliknya.
Dari depan, Zeta menjerit, "BELOK SEKARANG! BELOK SEKARANG!"
Jordi membanting setir, ban berdecit di kerikil, dan seluruh isi mobil terlempar ke kiri. Kaeta menimpa Daniel, Damian menimpa Kaeta, ransel-ransel menimpa semuanya, dan di tengah tumpukan itu terdengar suara Jordi yang tenang, nyaris khidmat:
"Pohon yang sedih."
"Aku bilang kiri," ucap Zeta, tersengal. "Bukan sekarang."
"Kamu bilang sekarang dua kali."
"Aku berteriak dalam dua bahasa."
Mereka tiba tiga puluh menit kemudian, tepat ketika matahari mulai menggeser warna langit dari putih menjadi emas muda.
***
Pondok danau Tuan Wesley bukan pondok. Itu rumah kayu dua lantai dengan beranda yang mengelilingi seluruh sisi, atap miring yang tampak seperti jaket yang terlalu besar, dan dermaga kayu yang menjorok ke danau dengan tenang. Danaunya luas, berwarna kelabu kehijauan seperti kaca susu, dikelilingi pinus yang bayangannya jatuh sampai ke tengah air.
Di pintu depan menempel sepucuk amplop dengan tulisan tangan Gans, rapi dan penuh kemarahan yang disimpan. Zeta membacanya keras-keras.
"Atas perintah Tuan besar dan lewat faks Dokter Xavier, pembagian kamar telah ditetapkan sebagai berikut. Nona Kaeta, kamar atas berbalkon. Nona Zeta, kamar atas di sebelahnya. Tuan Daniel, kamar bawah barat. Tuan Jordi, kamar bawah timur. Tuan Damian, kamar bawah ujung lorong, sejauh yang bisa dicapai tanpa keluar rumah. Satu pintu, satu kunci. Saya, Gans, tidak diundang, dan menyatakan itu dalam catatan resmi."
"Dia menuliskan catatan resminya," bisik Jordi, kagum.
"Dia ngambek," koreksi Zeta.
"Ngambek yang berkelas."
Damian membaca surat itu sekali dari balik bahu Zeta dan mengangguk. "Bagus. Itu adil."
"Kamu setuju kamarmu di ujung lorong?" tanya Kaeta.
"Aku setuju dengan semua yang membuat ayahmu tidur nyenyak malam ini."
Ucapan itu keluar begitu saja, tanpa gaya, tanpa gombalan, dan Kaeta, yang sudah siap membalas dengan sesuatu yang jahil, tidak menemukan jawabannya. Ia hanya menatap pria itu, lalu menunduk membuka tasnya.
Tiga puluh menit berikutnya dihabiskan dengan mengangkut tas, menyalakan lampu, mengeluh soal sinyal, dan Jordi memeriksa dapur seperti prajurit menyisir wilayah musuh. Kaeta menelepon Xavier dari beranda atas. Di ujung sana suara Sam tertawa keras sebelum Xavier sempat menjawab, dan Kaeta menyampaikan laporan kunci, kamar, dan posisi Damian dengan ketaatan seorang prajurit.
"Satu pintu, satu kunci," ulang Xavier. "Bagus. Daddy ingin lihat semua kuncimu besok pagi lewat video."
"Daddy."
"Itu perintah dokter."
Setelah telepon, ia berjalan sendirian ke dermaga.
Air danau berdesir pelan di tiang-tiang kayu. Di seberang, perbukitan menghitam, dan satu burung putih yang tidak ia kenal melintas rendah di atas permukaan. Kaeta duduk di ujung dermaga dengan kaki menggantung, melepas sepatu, dan membiarkan ujung jari kaki menyentuh air. Dinginnya langsung menjalar naik sampai lutut.
Dulu ibunya mengajarnya berenang di kolam rumah mereka. Kaeta masih ingat telapak tangan yang menahan punggungnya di bawah air, suara yang menghitung satu, dua, tiga, dan tawa ketika ia berhasil mengapung sendiri. Setelah itu mereka selalu bermain dokter-dokteran di tepi kolam. Ia jadi dokter, ibunya jadi pasien yang paling pandai pingsan, jatuh pelan di atas handuk dengan mata terpejam, dan Kaeta harus...
Kaeta berhenti. Napasnya tertahan di tengah kalimat yang bahkan tidak pernah ia ucapkan keras-keras.
Papan dermaga berderit di belakangnya. Ia tahu langkah itu tanpa menoleh.
"Aku tidak akan bertanya," ucap Daniel. Ia duduk di sebelahnya, menjaga jarak satu lengan, melepas sepatu sendiri, dan menaruh kakinya ke air tanpa menyentuh tubuh Kaeta. "Aku cuma mau duduk. Kalau mengganggu, bilang."
Kaeta tidak menjawab. Ia memandang air. Daniel memandang air. Dua kaki, empat kaki, dua pasang riak yang saling bertemu di tengah, lalu menyatu, lalu pecah lagi.
"Airnya dingin," ucap Daniel, setelah beberapa menit.
"Iya."
"Aku sengaja bilang yang jelas-jelas supaya kau tidak perlu menjawab yang rumit."
"Terima kasih."
"Sama-sama." Ia menyipitkan mata ke langit yang mulai menua. "Dan kalau suatu hari kau mau bicara, aku pendengar yang lumayan. Sudah tiga minggu aku berlatih diam."
Kaeta tertawa kecil, serak, dan akhirnya ia menyandarkan tangan di papan dermaga di antara mereka tanpa menyentuh siapa pun. Dari beranda rumah, jauh di belakang, terdengar suara Jordi mengumumkan bahwa ia menemukan sosis dan tidak akan membaginya, disusul suara Zeta yang menuntut hak asasi manusia.
Zeta turun dari beranda membawa dua piring. Jordi, yang menyusul dengan penjepit di tangan, nyaris menabraknya di anak tangga terakhir. Keduanya berhenti, satu langkah berjarak, dan saling menatap sekejap lebih lama daripada yang biasa dilakukan dua orang yang sedang bertengkar. Zeta lebih dulu memalingkan wajah, memandang piringnya seolah di sana tertulis jawaban ujian. Jordi mengangkat penjepit, menurunkannya, berdeham.
Tak seorang pun dari mereka berkata apa-apa.