"Nona kecil!"
Kaeta belum sempat melewati pintu kaca IGD ketika sepasang lengan hangat, berbau sabun antiseptik dan teh melati, menangkapnya dari samping. Ia nyaris menjatuhkan tasnya. Pelakunya seorang perempuan paruh baya bertubuh bulat dengan seragam perawat biru tua, rambut kelabu yang disanggul rapi, dan kacamata yang menggantung di rantai kecil di lehernya.
"Marlene!"
"Sudah berapa minggu kamu tidak menengok kami? Kamu pikir IGD ini hanya ramai kalau ayahmu operasi?" Marlene memegang pipi Kaeta dengan dua tangan, menatapnya seperti memeriksa bola mata pasien. "Kurus. Kurusan. Dan matamu bengkak."
"Itu efek alergi."
"Alergi apa?"
"Alergi lampu kristal."
"Aku tidak tahu itu penyakit, tapi aku percaya." Marlene melepaskannya, menepuk lengannya dua kali, lalu menunduk dan berbisik di telinganya seperti membagi rahasia negara. "Ayahmu sudah di ruang rapat. Dia dari tadi menatap jam dinding, seperti jam itu yang berhutang. Kamu bawa roti? Dokter Xavier tidak sarapan."
"Aku bawa. Dua."
"Anak baik." Marlene mengusap rambutnya seperti ketika Kaeta berumur sembilan dan datang ke rumah sakit membawa katak di saku jas ayahnya. "Nanti mampir ke ruang perawat. Kue lapis di laci nomor tiga."
"Marlene masih ingat katak itu?"
"Katak itu masih hidup dalam mimpi buruk tiga perawat jaga." Marlene menggeleng, tapi sudut matanya melembut. "Waktu itu kamu juga minta stetoskop kecil dan menempelkannya di dadaku, lalu bilang, 'Jantung Marlene bunyinya seperti orang yang sedang menghitung uang.' Perawat lain hampir menangis menahan tawa."
Kaeta tertawa, dan tawa itu hampir tidak terasa dipaksakan.
Lorong menuju ruang rapat melewati sayap lama. Dari balik pintu besi di ujung lorong, bunyi dengung rendah merambat di lantai, naik ke telapak kaki, disusul batuk logam yang tiba-tiba, seperti orang tua yang menahan dahak. Kaeta berhenti sebentar.
"Genset sayap lama," jelas Marlene yang berjalan di sampingnya. "Tiap pagi diuji. Dia memang suka batuk. Dokter Xavier bilang perbaikannya masuk daftar."
"Daftar yang mana?"
"Daftar yang selalu kalah sama tagihan." Marlene tersenyum, tetapi matanya tidak ikut. "Jangan dipikirkan. Ayo."
***
Ruang rapat kecil di lantai dua berbau kopi dan kertas lama. Xavier duduk di ujung meja dengan surat Vanessa terbentang di depannya, kacamata baca di ujung hidung, sementara di seberangnya Paman Sam menyilang lengan di dada, tubuhnya yang tinggi besar membuat kursi plastik itu tampak seperti mainan.
"Kae!" Sam menepuk pahanya dengan dua tangan. "Kamu tambah cantik dan tambah kurus. Dokter jantung tidak suka dua-duanya bersamaan."
"Paman, itu bukan diagnosis."
"Itu pengamatan klinis." Sam berdiri, memeluknya sebentar dengan kedua lengan yang selalu terasa seperti dinding yang bisa ditumpangi. Dari dekat, ia berbau tembakau pipa dan obat gosok. "Duduk. Daddy-mu sedang berlatih menunjukkan wajah tenang. Hasilnya buruk."
"Sam," tegur Xavier tanpa mengangkat mata.
"Sebagai sahabat sejak kecil, aku berhak memberi umpan balik."
Mereka duduk. Kaeta menaruh dua roti di depan ayahnya dan Xavier, yang tadinya berniat memprotes, menggigit satu tanpa suara. Sam membuka map biru di depannya dan membaca ulang surat Vanessa dengan bibir bergerak, kali ketiga, lalu menghela napas panjang.
"Aku sudah bertanya pada sepupuku yang pengacara, di luar lingkaran Wesley, jangan salah sangka." Sam mengetuk-ngetuk map dengan jari sebesar sosis. "Intinya begini. Dalam keluarga Valere, rapat itu sah. Suara dihitung per garis keturunan. Vanessa sudah mengumpulkan hampir separuh. Yang belum memihak: Mars dan beberapa sepupu jauh. Yang memihak Xavier: sedikit, dan aku tidak menghitung diriku karena aku bukan Valere."
"Jadi kita kalah?" tanya Kaeta.
"Kita belum menang." Sam menatap Xavier. "Dan karena itu aku mau menawarkan ini. Aku sudah bicara dengan bendaharaku. Perusahaanku bisa menanggung bunga utang tahun ini, mungkin dua tahun, dan tidak ada syaratnya. Hanya ada satu: kalian jangan buang waktu menolak."
"Sam."
"Xavier."
"Saya terima bantuan pasokan, bukan sedekah." Xavier meletakkan roti dan menatap sahabatnya. "Dan satu hal sudah jelas. Apa pun yang kita lakukan, bukan uang Wesley."
"Tentu saja bukan uang Wesley. Itu uangku." Sam menepuk dada. "Kudapat dari menjual selang infus selama dua puluh tahun, dan tiap selang kuberi doa."
Kaeta akhirnya tersenyum, dan melihat Xavier menunduk menyembunyikan senyumnya sendiri di balik roti.
"Kita bahas pelan-pelan," tutup Xavier. "Pasokan dulu. Bunga belakangan. Dan Kaeta tidak boleh menjual sepatunya."
"Aku tidak janji."
"Daddy tahu."
Ponsel di meja bergetar. Nama di layarnya membuat Xavier mengerjap, mengambilnya dengan dua jari seperti serangga, dan keluar ke lorong. Tetapi Kaeta, yang duduk paling dekat pintu, mendengar suaranya lewat celah engsel.
"Selamat pagi, Tuan Wesley."
Suara dari ujung sana menggelegar, begitu keras sampai Sam menaikkan satu alis. "DOKTER XAVIER! Saya tidak akan basa-basi! Pondok danau saya kosong akhir pekan ini dan anak-anak harus dipakai! Maksud saya, harus dipakai berlibur! Anak muda butuh udara!"
"Anak-anak siapa saja?" Suara Xavier datar.
"Kaeta, Damian, kedua temannya, Jordi dan Zeta, dan si Daniel! Saya tidak ikut! Orang tua tidak diundang ke akhir pekan anak muda! Ini murni kebaikan hati!"
Sam menutup mulutnya dengan kepalan tangan. Bahunya bergetar.
Hening. Cukup lama sampai Kaeta mengira sambungan telepon itu putus. Lalu Xavier berkata, dengan nada yang dipakai ahli bedah ketika menyebut jarak persis dari sebuah arteri, "Kamar terpisah, Tuan Wesley. Setiap orang. Satu pintu, satu kunci."
"Saya mengerti sekali! Saya pernah muda!"
"Itu yang saya takutkan."
Pintu terbuka. Xavier masuk lagi, wajahnya kering seperti kertas, dan duduk tanpa menjelaskan apa pun. Kaeta menatap ayahnya, Sam menatap Kaeta, dan ketiganya menunggu seseorang yang akan memecahkan kesunyian.
"Aku boleh pergi?" tanya Kaeta.
"Daddy tidak menjawab itu dengan cepat."
"Aku bisa menunggu."
"Kamu pergi," ucap Xavier setelah beberapa detik. "Tapi tiap malam menelepon."
"Dengan siapa?"
"Dengan Daddy. Dan kalau ponselmu tidak diangkat, Daddy datang dengan ambulans."
Kaeta mengambil ponselnya sendiri dan membuka pesan ke Damian. Pondok danau Tuan Wesley. Jumat sore. Kamu ikut? Jawaban datang kurang dari semenit, singkat, dan Kaeta merasakan sesuatu mengendur di balik tulang rusuknya.
Ikut. Dan kali ini aku tidak akan bilang ada tugas kalau tidak ada tugas.
Kaeta membaca kalimat itu dua kali. Kalimat itu tidak mengaku, tidak juga membantah, hanya menyebut kebohongan yang sudah terjadi dengan nada orang yang tahu ia berutang. Ia tidak membalas. Ia memasukkan ponsel ke saku dan merasakan Sam menatapnya dari seberang meja dengan mata dokter yang sudah terlalu sering melihat orang menyembunyikan debar.
"Kae."
"Ya, Paman?"
"Danau itu bagus untuk jantung," ucap Sam, pelan dan biasa. "Udara bersih, tidur cukup, tidak ada genset."
"Paman menulis resep atau menggoda?"
"Dua-duanya. Itu efisiensi."
Dari lorong, jauh di bawah lantai, dengung genset sayap lama kembali berubah menjadi batuk logam yang panjang. Tidak ada yang berkomentar. Xavier menggigit rotinya sampai habis, Sam menutup mapnya, dan Kaeta, tanpa tahu mengapa, menghitung dalam hati berapa lama dengung itu bertahan sebelum mereda: sebelas detik.