Dua hari penuh Damian dan Kaeta saling berkirim pesan seperti dua orang yang berjalan di atas kaca. Senin pagi: Sudah makan? Balasan Kaeta: Sudah. Senin malam: Aku masih menunggu Dokter Xavier. Balasan Kaeta: Aku tahu. Hanya itu. Tidak ada gombalan, tidak ada stiker ikan oranye, tidak ada satu pun kata yang bisa membuat Zeta bersorak. Kaeta menatap layar ponselnya di perpustakaan kampus sampai Zeta merebutnya dan menyimpannya di dalam tas dengan wajah seorang perawat yang menyita rokok.
"Diagnosaku masih sama," bisik Zeta. "Dia bohong soal tugas."
"Diagnosaku belum keluar," jawab Kaeta. "Aku menunggu hasil laboratorium."
"Laboratoriumnya siapa?"
"Dia sendiri. Dia sudah berjanji."
Zeta mendengus, tetapi tidak membantah. Itu tanda paling sopan yang bisa ia berikan.
Selasa sore, ia menyeret langkah ke ruang kerja Xavier di rumah sakit membawa dua kotak makan dari dapur rumah. Xavier duduk di balik meja dengan kacamata bacanya turun ke ujung hidung, menandatangani tumpukan berkas yang tampaknya tidak ada habisnya.
"Makan," perintah Kaeta, menaruh kotak itu di atas berkas.
"Daddy sedang bekerja."
"Daddy sedang bekerja sambil kelaparan. Itu dua pekerjaan, dan salah satunya melanggar sumpah dokter."
"Sumpah dokter tidak menyebut soal makan siang."
"Sumpah yang aku buat sendiri menyebut."
Xavier mendengus, melepas kacamata, dan membuka tutup kotaknya. Aroma nasi goreng, dengan telur yang kali ini tidak keriting dan tidak keasinan karena Kaeta sudah belajar, naik ke udara. Ia baru menyuap sekali ketika pintu diketuk. Seorang petugas administrasi masuk dengan amplop cokelat tebal yang diberi stempel merah di sudutnya.
"Dokter, ini baru datang lewat kurir. Perlu tanda tangan Dokter sendiri."
Xavier menandatangani lembar terima tanpa menatap, menunggu pintu menutup, lalu membalik amplop itu dan membaca kop surat di pojok kiri atas. Kaeta melihat ibu jarinya berhenti di tepi amplop, gerakan kecil orang yang sudah menebak isi sebuah hadiah sebelum membukanya.
"Dari siapa?"
"Dari kantor pengacara yang tidak Daddy bayar." Ia membuka amplop dengan pembuka surat perak, mengeluarkan tiga lembar kertas, dan membaca. Matanya bergerak cepat ke bawah, lalu berhenti lama di satu paragraf. Tanpa bicara ia menyerahkan surat itu pada Kaeta.
Isinya rapi dan dingin. Rapat pemegang kepentingan keluarga Valere akan diselenggarakan hari Jumat, tiga puluh delapan hari dari tanggal surat. Tempat: Rumah Sakit Valere. Agenda tunggal: pencabutan kewenangan Dokter Xavier Quinn atas pengelolaan rumah sakit dan aset terkait, beserta pemungutan suara tentang penjualan tanah seluas seratus lima puluh hektar. Pemohon: Nyonya Vanessa Valere.
"Tiga puluh delapan hari," gumam Kaeta.
"Cukup lama untuk bersiap. Cukup pendek untuk panik."
"Aku tidak panik."
"Tanganmu."
Kaeta menunduk. Kertas itu bergetar di jari-jarinya, dan ia menaruhnya cepat di meja, di samping kotak nasi goreng yang masih mengepul. Ia menarik napas.
"Dad. Aku mau bilang sesuatu dan aku tidak mau dibantah."
"Daddy belum sempat membantah apa-apa."
"Aku tidak akan memakai uang Wesley. Sepeser pun. Bukan untuk bunga utang, bukan untuk pengacara, bukan untuk makan siang pengacara. Kalau perlu, aku jual mobilku. Jam tanganku. Tiga pasang sepatu hak yang bahkan Zeta tidak berani pakai."
"Princess..."
"Dan kalau Tuan Wesley menawarkan apa pun, aku tolak. Kalau Damian menawarkan apa pun, aku tolak." Suaranya naik setengah nada, lalu ia sendiri yang menurunkannya. "Aku mau rumah sakit ini selamat dari tanganku, dari tangan kita. Bukan dari tangan orang yang memegang rantainya."
Xavier menatapnya lama, dan Kaeta melihat sesuatu melewati wajah ayahnya, sesuatu yang terlalu cepat untuk dinamai tetapi terlalu dalam untuk diabaikan: kelegaan yang bercampur dengan rasa bersalah. Ia mengusap wajah dengan satu tangan.
"Daddy bangga mendengarnya," ucapnya. "Dan Daddy minta maaf, karena bagian dari Daddy ingin kamu menerima tawaran apa pun yang datang."
"Dad..."
"Tidak sekarang. Nanti." Xavier menutup kotak makannya dan menyodorkan surat itu kembali. "Pegang ini. Simpan di tasmu. Hari ini kita buktikan Daddy tidak membesarkan putri yang cuma pandai menyiram orang."
***
Damian menerima kabar itu lewat telepon Kaeta pukul empat sore, suara perempuan itu singkat dan lurus seperti petugas yang membaca laporan. Ia mendengarkan sambil berdiri di depan jendela ruang rapat markas, tangan di saku, menahan diri agar tidak menyela.
"Aku menelepon karena aku tidak mau kamu mendengarnya dari orang lain lebih dulu," ucap Kaeta. "Aturannya sama dengan yang kupakai padamu. Hanya arahnya terbalik."
"Terima kasih sudah menelepon."
"Itu tidak perlu dibalas dengan terima kasih."
"Kalau begitu, aku akan..."
"Tidak ada yang perlu dilakukan. Aku hanya memberitahu." Hening sebentar. "Sampai nanti, Dam."
Sambungan terputus. Damian menurunkan ponsel dan membuka daftar kontak. Magnus sudah menuliskan nomor kantor pengacara Vanessa dua pekan lalu untuk keperluan yang sekarang sudah dibatalkan. Ibu jarinya bergerak ke angka pertama.
"Kalau kamu menelepon nomor itu," ucap Jordi dari ambang pintu, dengan sepiring mi instan di tangan, "aku akan menulis ucapan belasungkawa untuk karier ayahmu."
"Aku hanya mau bicara."
"Bicara apa? 'Selamat sore, saya Damian Wesley, saya yang bilang Nona Vanessa boleh menekan sampai pokok utang tidak ditagih, tolong berhenti'?" Jordi menyuap mi, mengunyah, menelan. "Itu bukan telepon, itu pengakuan lewat orang yang salah. Dan Kaeta akan mendengarnya dari pengacara yang suaranya mirip penagih listrik."
Damian menutup daftar kontak. Jari-jarinya mengetuk paha, tiga kali, cepat.
"Kau bukan ibuku, Jordi."
"Ibumu tidak makan mi di jam kerja."
"Dan kau tidak punya urusan dengan jadwal pengakuanku."
"Jadwalmu itu urusanku sejak kamu menyuruhku diam di dapur." Jordi menaruh piring di meja dan duduk terbalik di kursi, dagu di sandaran. "Dam, aku menyayangimu. Tapi menunda lagi adalah salahmu. Bukan salah Dokter Xavier yang baru dipanggil operasi, bukan salah matahari yang terlalu terang, bukan salah jip yang tidak mau menyala."
"Jipku menyala."
"Kalau sudah begitu pandainya kau mencari alasan, kau seharusnya jadi pengacara. Dan Zeta akan bilang..."
"Zeta tidak ada hubungannya."
"Zeta selalu ada hubungannya." Jordi mengangkat alis. "Sementara kau, kapan terakhir kau membalas pesanku tentang dia tanpa kata 'urusanku'?"
"Pagi ini."
"Itu tiga kata. Satu 'urusanku'."
Hening. Dari lapangan terdengar bunyi selang dibentangkan dan teriakan dua petugas yang berdebat tentang nozel. Damian memandang ke luar jendela.
"Akhir pekan ini," ucapnya akhirnya. "Paling lambat. Begitu Xavier bisa duduk di ruangan yang sama. Aku akan bicara, dari awal."
"Janji?"
"Dua puluh kali kau tanya."
"Dan baru kali ini kau menjawab dengan tanggal."
Ponsel di tangan Damian bergetar. Satu pesan masuk, dari nomor yang disimpan dengan nama Dokter Xavier. Ia membaca, dan Jordi, yang sudah terlatih memperhatikan wajah komandannya lebih teliti daripada alat ukur tekanan, melihat sudut mata Damian menyempit.
Besok pukul delapan pagi saya mengadakan rapat darurat rumah sakit bersama Dokter Sam dan Kaeta. Anda tidak diundang. Anda diberi tahu, supaya tidak mendengarnya dari orang lain.
Damian membaca pesan itu dua kali. Lalu ia menaruh ponselnya di meja, pelan, seperti orang menutup peti kecil, dan tidak menjawab Jordi yang menunggu dengan mulut setengah terbuka.