Xavier pulang tepat ketika matahari mulai memanaskan teras, dengan jas dokter tersampir di lengan dan wajah orang yang baru berdamai dengan tiga jam operasi. Kaeta sudah menunggu di meja makan sejak subuh. Ia belum tidur, hanya berbaring, menatap langit-langit, lalu berganti menatap jam, lalu berganti menatap kalung ibunya di meja rias.
"Princess." Xavier berhenti di ambang pintu dapur. "Kamu bangun sepagi ini?"
"Aku tidak tidur."
"Itu bukan jawaban dokter."
"Itu jawaban pasien." Kaeta mendorong secangkir kopi hitam ke seberang meja. "Pasienmu selamat?"
"Selamat. Lima belas menit lagi dan Daddy tidak akan sempat bertanya apa pun." Xavier duduk dengan napas yang lebih berat daripada yang ia sadari, menyesap kopinya, dan menatap putrinya lama-lama. "Daddy minta maaf. Pestanya terlewat. Fotonya sudah Daddy lihat, kamu kelihatan seperti seseorang yang tidak perlu menjelaskan apa pun kepada siapa pun."
"Zeta bilang kalimat yang sama."
"Zeta anak yang cerdas, hanya salah memilih objek kekaguman."
Kaeta tidak tersenyum. Xavier melihatnya, menaruh cangkir, dan menunggu.
"Aku bertemu Paman Mars semalam."
Tangan Xavier berhenti di pegangan cangkir. Tidak tersentak, tidak tegang, hanya diam. Itu sebabnya Kaeta tahu.
"Dia bilang apa?"
"Dia bilang aku harus bertanya kepada Daddy apa yang dilakukan Wesley terhadap rumah sakit. Dia bilang utang itu cuma kulit luar." Kaeta menelan ludah. "Dia bilang pasokan seret dan penanam modal menjauh setelah Damian menaruh mata padaku. Dan dia bilang dia punya bukti."
Xavier menarik napas panjang. Ia membuka mulut, menutupnya, lalu bangkit dari kursi dan berjalan memutari meja. Ia duduk di sebelah Kaeta, bukan di seberangnya, dan memegang kedua tangan putrinya seperti memegang sesuatu yang bisa pecah.
"Kita mulai dari yang bisa Daddy ceritakan sekarang."
Ia bicara pelan. Tentang rumah sakit yang diwariskan ibu Kaeta bersama tanah seluas seratus lima puluh hektar di luar kota, yang sejak lama dijaminkan demi menyelamatkan neraca yang bocor. Tentang Vanessa yang sejak dulu menganggap warisan itu seharusnya dibagi kepada seluruh keluarga Valere, dan kini mengumpulkan kerabat satu per satu untuk menuntut Xavier dicabut dari kewenangannya. Tentang rapat keluarga yang akan ditagih lewat pengacara, tentang suara yang dihitung dengan jari, tentang Mars yang tidak memihak siapa pun dan karena itu justru paling ditakuti.
"Kalau rapat itu kita kalah, tanah itu dijual," tutup Xavier. "Dan rumah sakit ibumu akan dipegang orang yang tidak pernah merawat satu pun pasiennya."
"Dan pasokan yang seret? Investor?"
Xavier diam. Sepersekian detik itu, ibu jarinya mengusap cincin kawin di jari manisnya, bolak-balik, bolak-balik. Kaeta mencatat gerakan itu dan belum tahu cara menamainya.
"Ada bagian cerita yang bukan Daddy sendirian yang boleh menyampaikannya," ucap Xavier akhirnya. "Kamu bilang Damian akan datang siang ini?"
"Katanya akan menjawab semuanya."
"Maka dengarkan dia. Daddy akan duduk di sebelahmu waktu dia bicara."
"Daddy takut?"
"Daddy takut kamu menderita dua kali." Xavier mengusap pipinya dengan ibu jari yang kasar. "Sekali waktu mendengar, sekali lagi waktu menyadari kamu tidak mendengarnya dari Daddy lebih dulu."
Kata-kata itu seharusnya menenangkan. Tetapi sesuatu di dada Kaeta jatuh pelan-pelan, seperti es yang terlalu lama di gelas. Ia memikirkan rumah sakit itu, lorong tempat ia berlari dengan jas ayahnya, tangga tempat ia duduk menunggu operasi. Ia memikirkan ibunya, dan kalimat Mars yang terakhir.
Ibumu juga begitu.
Air matanya jatuh tanpa permisi, satu, dua, lalu ia menutup wajah dengan telapak tangan. Xavier menarik kepalanya ke bahu tanpa bicara, dan untuk beberapa lama dapur itu hanya diisi bunyi lemari es yang mendengung dan suara napas dua orang yang pernah menunggu hal yang sama.
"Aku tidak mau rumah sakit ibu hilang, Dad."
"Tidak akan hilang."
"Daddy tidak bisa janji."
"Daddy tidak janji," bisik Xavier. "Daddy bersumpah akan berusaha sampai tidak bisa lagi berdiri."
***
Bel pintu berbunyi saat air mata Kaeta baru berhenti. Pada saat yang sama ponsel Xavier bergetar di meja dengan nada khusus yang hanya dipakai rumah sakit untuk keadaan yang tidak bisa menunggu. Xavier membaca layarnya, wajahnya berubah dari ayah menjadi dokter hanya dalam satu kedipan.
"Pasien semalam, drainnya bermasalah. Daddy harus kembali." Ia berdiri, merapikan kerah, lalu menunduk mencium ubun-ubun Kaeta. "Daddy tidak akan lama. Jangan biarkan siapa pun menekanmu."
"Dad..."
"Daddy ingin ada di sini, Princess. Sungguh."
"Pergilah. Ada orang yang butuh Daddy lebih dari aku."
Xavier berjalan cepat ke depan. Dari dapur Kaeta mendengar pintu terbuka, jeda sangat singkat, lalu suara ayahnya yang berat dan rendah. "Tuan Damian. Dia baru menangis. Apa pun yang ingin Anda bicarakan, tunggu saya." Jawaban Damian tidak terdengar, hanya langkah sepatu yang tertahan di ambang pintu, lalu mesin mobil Xavier menyala dan menjauh.
Ruang tengah rumah Quinn terang oleh matahari siang. Kaeta menyeka pipi dengan lengan baju dan menyusul ke depan, dan Damian berdiri di sana, di tengah ruangan, dengan kemeja abu-abu gelap yang digulung sampai siku dan tidak membawa apa pun di tangan. Tidak ada kotak, tidak ada bunga, tidak ada hadiah. Ia hanya berdiri, dan menatap mata Kaeta yang bengkak.
Damian membaca keadaan itu dalam satu detik. Ia sudah menyiapkan kalimat-kalimatnya sepanjang malam, urutannya, kata pertamanya, bahkan jeda di antaranya. Tetapi melihat perempuan itu berdiri dengan mata merah dan rambut belum disisir, kalimat-kalimat tersebut menjadi sesuatu yang tidak sanggup ia lemparkan ke wajah seseorang yang baru menangis di bahu ayahnya. Dan ayahnya baru saja berkata: tunggu saya.
"Aku datang," ucapnya.
"Kamu bilang akan menjawab semuanya."
"Iya."
"Daddy bilang dia mau duduk di sebelahku waktu itu."
"Aku tahu. Aku dengar." Damian menarik napas. "Aku mau dia ada di sini juga. Bukan karena aku takut. Karena ini bukan cerita yang cuma milikku, dan kamu berhak mendengarnya tanpa ada yang berkurang di antara dua versi."
Ponselnya bergetar di saku. Ia mengeluarkannya, melihat layar yang kosong, dan menyimpannya lagi dengan wajah sedatar kertas.
"Ada tugas di markas," ucapnya. "Aku harus pergi."
Kaeta menatapnya. Ponsel itu tidak berdering. Tidak ada nada dispatch, tidak ada pager, tidak ada Jordi yang meneleponnya dengan suara tergesa. Ia sudah terlalu lama belajar membaca orang yang menutupi sesuatu dengan wajah tenang untuk tidak menyadarinya.
"Baik," ucapnya akhirnya.
"Aku akan menghubungimu."
"Baik."
Damian berbalik. Di pintu ia berhenti, setengah menoleh, seolah ada yang ingin ia tambahkan. Tetapi yang keluar hanyalah, "Makan sesuatu, Kae. Jangan hanya kopi."
Pintu menutup pelan. Kaeta berdiri di ruang tengah yang terlalu terang, dan merasakan hal yang aneh, bukan marah, bukan kecewa, melainkan semacam nada sumbang halus yang tidak bisa ditunjuk asalnya. Ia berjalan ke jendela tepat ketika jip hitam itu keluar dari bawah pohon dan menghilang di tikungan, lebih cepat daripada yang biasa Damian lakukan di jalan perumahan.
Dalam satu pagi ia mendengar kata "tunggu" dua kali, dari dua pria yang menyayanginya. Dan dua-duanya, dengan caranya sendiri, berarti belum.
Kaeta mengambil ponsel. Ia mengetik pesan kepada Zeta, menghapusnya, mengetik lagi, lalu menghapusnya lagi. Akhirnya ia hanya menulis satu kalimat pendek: Kalau seseorang bilang ada tugas padahal ponselnya diam, itu artinya apa menurut diagnosamu? Balasan datang dalam sepuluh detik, satu kata saja, karena Zeta, seperti biasa, menjaga ponselnya lebih dekat daripada jantungnya: Bohong.