Mars melangkah keluar dari bayangan pilar sepelan orang yang sudah menunggu terlalu lama dan tidak keberatan menunggu lebih lama lagi. Setelan gelapnya sama dengan yang ia pakai di restoran waktu itu, wajahnya sama, hanya gelas di tangannya yang kali ini kosong.
"Paman," ucap Kaeta.
"Kau memakai kalungnya." Ia mengulang kalimat itu, kini dengan tatapan jatuh ke liontin hazel. "Aku ingat kalung itu. Adikku memakainya setiap kali ada hal penting. Katanya batu ini membuat matanya kelihatan lebih jujur."
Kaeta menyentuh liontin itu tanpa sadar. "Matanya memang jujur, Paman."
"Matanya paling jujur di keluarga kami. Itu sebabnya dia tidak pernah bisa berbohong dengan baik." Mars berhenti dua langkah darinya, menjaga jarak seperti dokter yang belum yakin pasiennya boleh disentuh. "Aku tidak datang untuk membahas adikku."
"Syukurlah. Kalau iya, aku harus minta Paman duduk dulu."
"Kau masih menjawab dengan lelucon."
"Itu satu-satunya bahasa yang aku kuasai selain anatomi." Kaeta menyandarkan punggung ke pagar batu, melipat tangan, dan memasang senyum miring yang pernah ia pakai di depan mesin kasir ketika kartunya ditolak. "Jadi Paman datang untuk apa? Menyiram saya dengan minuman? Giliran saya sudah lewat, tapi saya ikhlas."
Rahang Mars bergerak. Itu bukan senyum, tapi mungkin kerabat jauhnya.
"Aku datang untuk mengulang peringatan, karena kelihatannya satu kali tidak cukup." Suaranya turun, rendah, dan tiap kata terukur. "Dia tidak baik untukmu."
"Itu kalimat yang sama dengan di restoran, Paman. Saya butuh kalimat baru. Dua kali kalimat yang sama bikin pasien curiga pada dokternya."
"Kalau begitu kalimat baru." Mars melirik ke balik bahu Kaeta, ke pintu samping yang masih tertutup, lalu kembali pada keponakannya. "Tanya ayahmu apa yang dilakukan Wesley terhadap rumah sakit itu."
"Soal utang? Saya sudah tahu, Paman. Daddy sudah cerita. Hanya bunga yang terbayar, sisanya jaminan."
"Utang itu kulit luarnya saja." Mars menggeleng sekali, pendek. "Tanya mengapa pasokan seret, mengapa para penanam modal tiba-tiba menjauh, mengapa semua itu terjadi tepat setelah putra Wesley menaruh matanya padamu. Tanya, dan lihat apakah ayahmu bisa menatapmu saat menjawab."
Dada Kaeta mengencang. Ia menahan wajahnya tetap sama, belajar dari orang-orang yang pernah mengajarinya bahwa ekspresi adalah barang pertama yang dirampok. Tetapi di dalam, sesuatu yang kemarin sudah ia simpan rapi di laci kini bergeser, menimbulkan bunyi.
"Paman punya bukti?"
"Punya."
"Apa?"
"Aku tidak akan menjelaskannya di teras pesta orang." Mars mengeluarkan kartu nama hitam polos dari saku dalam jas, bukan kartu bisnis, hanya satu nomor tulisan tangan di sudut. "Datanglah kapan saja. Kuputarkan semuanya. Kau berhak tahu."
Kartu itu menggantung di antara mereka, di ujung jari yang kurus dan dingin.
Kaeta menatapnya. Dua puluh detik, mungkin lebih, sebelum ia sadar ia tidak sedang memutuskan apakah akan mengambilnya. Ia sedang mencari tahu mengapa tangannya tak mau terulur.
"Tidak, Paman."
"Tidak?"
"Kalau Paman punya bukti, simpan saja." Suaranya lebih tenang daripada dadanya. "Saya akan mendengar dari mereka yang saya percaya. Dari Daddy. Dari Damian. Bukan dari orang yang hanya bicara dengan saya kalau ada yang bisa disalahkan."
Mars tidak bergerak. Selama sekejap, sangat singkat, wajah dinginnya retak di sudut mata, seperti kaca yang kena satu retakan rambut. Lalu retakan itu menutup lagi.
"Kau selalu menertawakan sesuatu supaya tidak perlu memikirkannya," ucapnya pelan. "Ibumu juga begitu."
Kalimat itu mendarat di tempat yang tak seharusnya. Kaeta merasakan hawa dingin menjalar dari tengkuk ke jari-jari, seperti pintu yang selama ini ia kunci rapat tiba-tiba bergoyang di engselnya. Ia menelan ludah. Mulutnya bergerak lebih dulu daripada kepalanya.
"Paman mau bilang apa lagi tentang ibu saya? Silakan, di pesta ini banyak kursi."
"Tidak sekarang." Mars memasukkan kembali kartu itu ke sakunya. Gerakannya lambat, seperti menutup sesuatu yang bukan benda. "Tetapi nomornya tidak akan berubah."
Pintu samping terbuka. Cahaya aula tumpah di lantai teras, bersama langkah yang Kaeta kenali tanpa menoleh.
"Kaeta." Damian berhenti di ambang pintu. Matanya bergerak cepat: Kaeta, wajahnya, tangan yang mencengkeram pagar, lalu pria di sebelahnya. "Mars."
"Komandan." Mars mengangguk setengah derajat. Hanya setengah, dan itu sudah cukup kasar. "Aku sedang berbincang dengan keponakanku. Silakan lanjutkan pesta."
Ia melewati Damian tanpa melirik, dan sosoknya menghilang di balik pintu dengan tenang. Teras kembali hanya berisi bau tanah basah dan jangkrik yang terlambat berbunyi.
***
"Kau pucat."
"Pencahayaan."
"Di sini tidak ada lampu kristal." Damian maju selangkah, berhenti sebelum jaraknya melewati batas yang ia buat sendiri. Tangannya setengah terulur dan tidak menyentuh apa pun, terbuka di udara. "Aku boleh?"
Kaeta menatap tangan itu. Ia ingin menggeleng. Ia ingin bilang aku baik-baik saja, tetapi tubuhnya lebih jujur daripada lidahnya, dan ia mengangguk sekali.
Damian menyelipkan jaket tuksedonya ke bahu Kaeta, sangat hati-hati, tidak ada jari yang menyentuh kulit. "Apa yang dia bilang?"
"Dia bilang kamu tidak baik untukku." Kaeta menarik jaket itu rapat. "Dia mengulang. Dan dia menyuruhku bertanya pada Daddy tentang apa yang dilakukan Wesley pada rumah sakit."
Napas Damian berhenti tepat selama satu hitungan, cukup lama untuk Kaeta mendengarnya. Lalu rahangnya mengeras, bukan marah, lebih mirip orang yang menahan beban di bahu agar tidak terjatuh.
"Dan kamu menjawab apa?"
"Aku bilang aku akan bertanya pada orang yang kupercaya." Kaeta menatap matanya. "Itu kamu atau Daddy. Kalian berdua tahu sesuatu yang aku belum tahu, kan?"
Damian tidak menyangkal. Itu saja sudah menjawab separuh pertanyaannya, dan separuh lagi tergantung di antara mereka seperti tali yang ditarik dari dua ujung.
"Setelah pesta," ucap Kaeta pelan. "Itu janjimu."
"Besok." Suaranya rendah dan tidak goyah. "Besok siang aku datang ke rumahmu. Kujawab semuanya. Apa pun yang kau tanya."
"Semuanya?"
"Semuanya."
Kaeta menatapnya lama. Di balik pintu kaca, musik berganti lagu, dan seseorang tertawa terlalu keras di dalam seperti tak ada apa pun yang bisa menyentuh malam itu.
"Antar aku pulang," katanya akhirnya. "Aku tidak mau melihat lampu kristal lagi."
Mereka keluar lewat pintu belakang, melewati dapur yang berbau mentega dan dua koki yang pura-pura tidak melihat. Jordi, entah bagaimana, sudah menunggu di dekat tangga dengan piring berisi lima kue dan wajah penuh pertanyaan, tetapi satu tatapan Damian membuat ia mengatupkan mulut dan hanya mengangkat piringnya sedikit, tanda hormat paling sopan yang pernah Kaeta lihat dari seorang damkar. Zeta menyusul di belakangnya dan memeluk Kaeta sebentar, erat, tanpa kata. Daniel hanya berdiri di tangga paling atas dan mengangkat dua jarinya ke pelipis. Pengawal, melapor selesai tugas.
Jip hitam itu bergerak keluar dari halaman Wesley Group dengan lampu depan yang menyapu pagar bunga. Damian menyetir lambat, lebih lambat daripada yang pernah Kaeta lihat, dan tidak menyalakan musik. Kaeta merapatkan jaket tuksedo di bahunya, menatap jalan, menatap lampu-lampu kota yang memanjang seperti garis tinta, dan memikirkan kalimat Mars yang tidak mau keluar dari kepalanya: tepat setelah putra Wesley menaruh matanya padamu.
"Dam."
"Hmm."
"Kamu tahu kenapa aku tidak mau mengambil kartunya?"
"Karena kau percaya padaku?"
"Karena kalau aku mengambilnya, itu artinya aku sudah memutuskan." Ia menoleh. "Aku belum mau memutuskan apa pun malam ini. Jangan membuat aku menyesal belum memutuskan."
Tangan Damian di kemudi mengencang, lalu mengendur, dan ia hanya menjawab dengan satu kata yang bukan "Hmm", bukan "Baik", tetapi sesuatu di antaranya. "Ya."
Rumah Quinn muncul di ujung jalan dengan lampu teras menyala dan gerbang yang sudah dibuka oleh satpam malam. Damian berhenti di depan pintu, mematikan mesin, dan tidak turun membukakan pintu untuknya. Ia menunggu Kaeta yang membukanya sendiri.
"Besok siang," ucap Kaeta, satu kaki sudah di aspal.
"Besok siang. Kujawab semuanya."
Di kamarnya, Kaeta melepas kalung ibunya dengan jari yang tidak terlalu tegap dan menaruhnya di meja rias. Liontin hazel itu masih hangat dari kulitnya. Ia memutarnya menghadap dinding, seolah benda itu sudah terlalu banyak melihat malam ini.