Tiga menit lewat. Kaeta tahu karena ia menghitung dari jam besar di bawah balkon, dan jarum detik itu tidak berbaik hati sedikit pun.
Empat menit. Lima.
"Aku bisa pura-pura keracunan makanan," bisik Jordi. "Lalu Damian lari keluar dengan wajah panik, dan misi selesai."
"Jordi," ucap Zeta tanpa menoleh, "kalau kamu pura-pura keracunan, yang lari ke arahmu adalah koki, bukan Damian."
"Aku bersedia berkorban untuk komandanku."
"Kamu bersedia berkorban untuk kue."
Kaeta tidak ikut tertawa. Ia menatap pintu kaca di sisi timur itu lagi, tirai putihnya yang diam, dan menyadari bahwa menunggu adalah satu-satunya hal dalam hidupnya yang tidak bisa ia bikin lucu. Zeta menyodorkan sepiring kecil kue ke arahnya tanpa bicara. Kaeta menggeleng. Zeta menarik piring itu kembali, memandangnya sebentar dengan raut yang jarang ia pakai, raut orang yang ingin bilang sesuatu yang menghibur tetapi tidak menemukan kalimat yang tidak terdengar bohong, lalu memutuskan mengunyah saja di sampingnya. Itu pilihan yang tepat. Kaeta mencatat dalam hati untuk berterima kasih nanti.
Delapan menit. Ia memutar-mutar liontin hazel di lehernya dengan dua jari, kebiasaan yang baru ia sadari kalau seseorang memperhatikan.
Daniel memperhatikan.
"Prosedur pengawal," ucapnya pelan, mengulurkan tangan dengan telapak menghadap atas. "Kalau Tuan Putri tidak boleh mondar-mandir, setidaknya boleh berdansa. Aku tidak akan memegang lebih dari yang diperlukan, dan kau boleh bilang berhenti kapan saja."
"Daniel."
"Aku tidak sedang menyatakan apa-apa. Aku sedang menyelamatkan karpet Tuan Wesley dari tapak sepatumu."
Kaeta menatap tangan itu, lalu wajah di atasnya. Tidak ada yang disembunyikan di sana, tidak ada permintaan di balik canda. Ia menaruh gelas jusnya di tangan Zeta dan meletakkan jemarinya di telapak Daniel. "Satu lagu."
"Satu lagu. Dan aku tidak akan menginjakmu."
"Kamu pasti menginjakku."
"Aku akan menginjak dengan penuh penyesalan."
Musik lembut itu terdengar seperti kartu pos dari zaman yang lebih sopan. Daniel menuntunnya dengan tangan di sisi pinggang yang tidak menekan, dan Kaeta, yang selalu bangga bisa mengikuti irama apa pun, mendapati langkahnya agak kaku, seperti baru dicopot dari engsel. Hitungan satu-dua-tiga di kepalanya terus bercampur dengan hitungan lain, yang jarum jam bawa.
"Kau melirik pintu lagi," ucap Daniel.
"Aku melirik lampu kristal."
"Lampu kristalnya di atas, pintunya di kiri."
"Aku melirik secara diagonal."
Ia baru saja akan membalas ketika suara lain menyusup dari sisi kanan, suara yang sudah ia dengar sepuluh menit lalu dan langsung dikenali.
"Menarik."
Caline berdiri di tepi lantai dansa dengan gelas kosong di tangan, sendirian. Gaun peraknya tidak lagi sempurna: ada satu helai rambut yang lepas dari tempatnya, dan lipstiknya sedikit lebih pucat daripada tadi. Tetapi senyumnya sudah kembali seperti semula, rapi dan cerah.
"Berdansa dengan keluarga Damian," lanjutnya, lembut, dengan nada orang yang sedang memuji. "Strategi yang cerdas. Mengambil hati seluruh pohon silsilah, satu per satu."
Daniel menghentikan langkah. Rahangnya mengeras sedikit, tetapi Kaeta menyentuh lengan jasnya, dua jari saja, dan ia diam.
"Saya sedang berdansa dengan teman saya," ucap Kaeta. "Pohon silsilahnya cuma kebetulan ikut."
"Teman yang kebetulan keponakan."
"Teman yang kebetulan meminjamkan telapak tangannya waktu saya butuh sesuatu untuk dipegang." Kaeta menatap sepatu perak Caline, bertumit tipis dan tinggi. Sepuluh senti, paling sedikit. "Ngomong-ngomong, boleh saya beri anjuran dokter? Gratis."
"Dokter?"
"Calon. Tapi anjurannya sungguhan." Ia menurunkan suara seperti pasien rawat jalan yang diberi tahu hasil laboratorium. "Sepatu sepuluh senti, berdiri empat jam, tanpa makan. Darah ke kepala menipis. Orang yang kekurangan darah di kepala sering membuat keputusan yang kelihatannya berani padahal cuma pusing. Duduk sepuluh menit, minum air putih, dan jangan ambil keputusan apa pun sebelum betis berhenti berdenyut."
Caline menatapnya. Lama. Kemudian bahunya turun, hanya satu sentimeter, dan tawa pendek lolos dari hidungnya tanpa sempat ia tahan.
"Itu nasihat paling aneh yang pernah kudengar."
"Itu resep."
"Resepnya mungkin benar." Caline mengangkat gelas kosongnya seperti bersulang pada udara. "Selamat berdansa."
Ia berbalik pergi, menuju bar, dan untuk beberapa detik tak seorang pun di dekat mereka bernapas.
"Kau barusan mengobati mantan kekasih pria yang kau cintai," bisik Daniel.
"Aku mencegah hal buruk terjadi di lantai dansa. Itu bagian dari profesi."
"Kau belum punya profesi."
"Aku punya bakat."
***
Damian muncul di pinggir kerumunan ketika lagu pertama berganti lagu kedua. Wajahnya dingin seperti biasa, tetapi dasi yang tadi sempurna kini miring satu senti, dan ia berjalan seperti orang yang baru keluar dari ruang operasi: dari tubuhnya ada sesuatu yang belum selesai dibuang. Ia berhenti tepat di luar jangkauan Kaeta dan Daniel, dan menunggu.
Kaeta menoleh pada Daniel. "Terima kasih. Satu lagu sudah cukup."
"Aku menginjakmu sekali."
"Dua kali."
"Aku menghitung satu setengah." Daniel mundur, melepas tangannya, dan melewati Damian dengan anggukan singkat. Pria itu membalasnya dengan anggukan yang sama, dan di antara mereka lewat sesuatu yang dulu tidak ada: saling mengerti tanpa saling menyukai.
Kaeta berjalan menghampiri. Ia tidak bertanya apa-apa. Ia hanya berdiri, dan menunggu.
"Dia memintaku kembali," ucap Damian tanpa pembukaan. "Aku bilang tidak."
"Hanya itu?"
"Dia bilang banyak hal. Aku mendengarkan semuanya. Jawabanku tetap satu." Ia menatap Kaeta lurus. "Tidak ada yang kusembunyikan dari percakapan itu. Kalau kau ingin tahu isinya, aku akan bilang."
"Sekarang?"
"Kapan saja kau mau. Boleh sekarang, boleh nanti."
Kaeta menimbang. Menurut hitungan jam di dinding, tiga menit yang dijanjikan sudah menjadi sebelas. Tetapi tangan pria itu berkeringat tipis ketika ia mengulurnya, telapak terbuka, menunggu, dan kebohongan jarang menunggu.
"Nanti saja," ucap Kaeta. "Sekarang aku mau berdansa."
"Boleh aku mengajakmu?"
"Boleh."
Damian menuntunnya ke tengah dengan postur yang sempurna dan langkah yang sempurna dan sama sekali tanpa kehangatan sampai Kaeta berbisik, "Kamu menghitung langkah."
"Satu, dua, tiga. Target respons enam puluh detik."
"Ini dansa, bukan penyelamatan."
"Aku tidak tahu bedanya."
"Ini dansa, bukan penyelamatan," ulang Kaeta, lebih pelan, lalu menyadari matanya sendiri sedang mencari sesuatu di wajah pria itu, bekas apa pun yang ditinggalkan percakapan tadi. Ia hanya menemukan sepasang mata yang menatapnya balik dan tidak lari ke arah lain. Itu lebih menenangkan daripada jawaban mana pun.
Kaeta tertawa, dan tawa itu menarik bahu Damian turun, dan bahunya yang turun menarik sesuatu di dadanya turun juga. Musik menggulung mereka dua putaran, tiga. Di putaran keempat, Tuan Wesley menepuk tongkatnya dari kejauhan dan mengangkat tangan memanggil putranya untuk bersulang dengan kolega.
"Satu menit," ucap Damian, menyesal.
"Pergilah. Aku mau udara. Kepalaku masih berisi lampu kristal."
"Teras ada di sisi sana. Jangan jauh-jauh."
"Aku dokter, bukan buronan."
"Dokter Gadungan," koreksinya, dan kali ini senyumnya sungguhan, sebelum ia berbalik.
Ia keluar lewat pintu samping, melewati dua pelayan yang sedang merapikan nampan dan seorang tamu yang menelepon dengan suara terlalu keras soal harga saham. Teras di baliknya sepi dan beraroma tanah basah, seperti baru disiram. Kaeta menyandarkan tangan di pagar batu dan menghirup udara sampai dadanya penuh. Di kejauhan lampu taman menyala berderet, dan musik dari dalam sekarang terdengar seperti dari dasar kolam.
"Kau memakai kalungnya."
Suara itu rendah dan datar, dari sisi kiri, dari bayangan di balik pilar. Kaeta tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang berdiri di sana dengan gelas anggur yang tak lagi berisi.