"Damian."
Satu kata, dan suara itu jatuh di antara mereka seperti piring yang dilepas dari tangan pelan-pelan. Dari dekat, Caline lebih tinggi daripada kelihatannya dari ujung aula. Gaun peraknya memantulkan cahaya tiga lampu kristal, rambutnya berbau bunga putih yang dingin, dan matanya, cokelat tua dengan bulu mata tebal, tidak sekali pun melirik Kaeta. Ia menatap Damian seperti orang yang menemukan barang miliknya terpajang di etalase toko orang lain.
"Caline," jawab Damian.
Hanya itu. Tanpa "apa kabar", tanpa "lama tidak bertemu". Jari-jari Kaeta masih terkunci di jarinya, dan genggaman itu tidak mengencang, tidak juga mengendur. Kaeta, yang lebih dulu hafal denyut orang daripada nama mereka, menghitung diam-diam di ujung jari: cepat, tapi bukan cepat yang dibuat-buat. Damian sedang bersiaga, bukan goyah.
"Kamu tidak berubah," ucap Caline. "Masih berdiri seperti sedang menunggu perintah evakuasi."
"Aku memang sedang menunggu perintah evakuasi."
"Dari siapa?"
"Dari siapa pun yang menyuruh kita berhenti berbasa-basi."
Di belakang Kaeta, Jordi tersedak kuenya dengan suara yang ia usahakan pelan dan gagal total. Zeta menepuk punggungnya sedikit lebih keras daripada yang dibutuhkan.
Caline akhirnya menoleh. Pandangannya turun dari rambut Kaeta ke liontin hazel di lehernya, ke gaun biru gelap, lalu ke tangan mereka yang bertaut. Di sana matanya berhenti setengah detik, cukup lama untuk dicatat, terlalu singkat untuk dituduh.
"Dan ini?"
Damian tidak menjawab dengan cepat, dan Kaeta menyadari ia sengaja. Pria itu menarik napas sekali, menegakkan bahu, dan bicara dengan suara yang cukup jelas untuk didengar tiga meja di dekat mereka.
"Caline, ini Kaeta Calliope Quinn. Perempuan yang kupilih."
Tambahannya nol. Bukan "pacarku", bukan "calon", bukan keterangan yang bisa dibantah. Kaeta merasakan sesuatu di dada naik pelan seperti gelembung, dan ia memaksanya turun supaya tidak kelihatan di wajah.
Dua kamera berkilat dari arah balkon. Bisik-bisik yang tadi menyebar kini berhenti sejenak, lalu menyala lagi dengan nada lain, nada orang yang baru mendapat bahan untuk seminggu penuh. Di sudut matanya Kaeta melihat Zeta memegang lengan Jordi dengan dua tangan, seperti penonton pertandingan yang tahu wasitnya sedang menunduk melihat catatan.
"Kaeta," ulang Caline, mencicipi nama itu. "Aku sudah melihat namamu di daftar tamu. Tuan Wesley menyebutmu calon menantu tadi, ya? Naik pangkatnya cepat sekali."
"Belum naik, kok. Baru dipanggil ke depan." Kaeta tersenyum paling manis. "Kamu yang jadi duta merek kosmetik itu, kan? Aku pakai maskara waterproof-nya hari ini. Tahan lama sekali."
"Terima kasih. Itu produk andalan."
"Aku mencoba banyak yang katanya tahan lama. Jarang yang benar."
Hening setengah napas. Daniel, di belakang, mengeluarkan suara yang mungkin batuk, mungkin tawa yang dicekik.
"Yang benar-benar tahan lama," balas Caline lembut, "biasanya yang tidak pernah dipaksa."
"Atau yang dirawat," jawab Kaeta. "Tinggal soal siapa yang mau repot."
Mata Caline menyempit sedikit, dan sesuatu yang bukan marah muncul di sana. Kalau Kaeta tidak sedang memegang tangan Damian, mungkin ia menyebutnya rasa ingin tahu. Perempuan itu menarik napas lewat hidung, lalu tersenyum dengan satu sudut bibir saja.
"Kamu lucu. Dam, dulu kamu bilang tidak suka orang yang banyak bicara."
"Aku bilang tidak suka orang yang banyak bicara tapi tidak ada isinya."
Caline membuka mulut, menutupnya lagi. Senyum di wajahnya, yang tadi tampak seperti bawaan lahir, kini tampak seperti pekerjaan. Suaranya turun, tidak lagi untuk panggung.
"Tiga menit, Dam. Hanya itu yang kuminta. Setelah itu aku tidak akan mengganggu pestamu, atau gadismu, atau lampu kristal Tuan Wesley. Ada yang harus kukatakan, dan tidak bisa di sini, di depan kamera, di depan semua orang yang menunggu aku menangis."
"Kamu tidak pernah menangis di depan kamera."
"Itu sebabnya mereka terus menunggu."
Damian tidak menjawab. Ia menoleh pada Kaeta, bukan lama, hanya cukup supaya Kaeta tahu keputusannya bukan miliknya sendiri. Tangannya masih diam. Tidak ada tarikan, tidak ada permintaan yang dibungkus tatapan.
Tiga menit itu pendek. Tiga menit itu juga cukup untuk mengubah seseorang. Kaeta menimbang keduanya dalam waktu yang lebih singkat dari yang ia kira.
"Tiga menit," ucapnya. "Aku yang hitung."
"Kau yakin?"
"Aku yang bilang boleh, bukan kamu yang menebak." Kaeta melepas jarinya sendiri, perlahan, dan Damian membiarkannya. "Pergilah. Jangan sampai aku harus mencarimu dengan stetoskop."
Sudut mulut Damian terangkat sedikit, sangat sedikit. Ia berbalik mengikuti Caline, yang berjalan di depan menuju pintu kaca di sisi timur, ke arah ruang kecil yang menghadap taman. Punggung perak dan punggung hitam itu menjauh di antara kerumunan, dan jarak di antara keduanya persis selebar satu orang.
***
"Aku mau mengikuti," bisik Jordi.
"Tidak," sahut Zeta, mencengkeram kerah jasnya dari belakang seperti induk kucing memegang anaknya.
"Aku cuma ingin memastikan tidak ada lampu kristal yang jatuh."
"Lampu kristal tidak akan jatuh karena kamu tidak ada."
"Itu menyakitkan, Zet."
"Itu logika."
"Itu penolakan beralasan."
"Itu penyelamatan nyawa. Nyawamu."
Jordi diam, mengunyah dengan dendam, sementara Zeta menoleh pada Kaeta dan menurunkan suaranya. "Kae. Kamu boleh gemetar. Kami semua sudah memutuskan tidak akan menyebut-nyebutnya."
"Aku tidak gemetar."
"Jarimu mengetuk-ngetuk gelasku."
Kaeta menunduk. Ia memang sedang mengetuk, pelan dan teratur, ketukan yang bukan miliknya. Ketukan Damian. Cepat-cepat ia menarik tangan, dan Zeta, demi persahabatan, pura-pura sibuk dengan serbetnya.
Kaeta berdiri di tempatnya dengan tangan kosong. Ia baru sadar betapa hangatnya jari Damian ketika udara aula yang dingin menyentuh kulitnya lagi. Ia memasukkan tangan ke tas kecil, mengeluarkan ponsel hanya supaya jarinya punya pekerjaan. Ada satu pesan baru dari Xavier, dikirim dua puluh menit lalu.
Daddy minta maaf sekali, Princess. Pasien IGD, harus masuk ruang operasi sekarang. Kirim foto kamu pakai kalung ibumu. Kalau ada yang bertingkah, bilang saja dokter bedahmu sedang membawa pisau.
Kaeta tertawa kecil, sebentar, lalu tawa itu berubah menjadi napas panjang. Jadi bukan karena Xavier tak mau datang. Dalam hati ia berterima kasih pada pasien di meja operasi itu, siapa pun dia, karena tidak harus ada ayahnya di sini menyaksikan perempuan perak itu berjalan ke arah Damian.
"Kae." Daniel muncul di sisinya, tangan masuk saku, tidak lagi memasang tatapan mautnya. "Mau minum?"
"Mau. Yang bukan sampanye."
"Jus apel. Kata pelayan, buatan rumah."
"Kata pelayan atau kata Jordi?"
"Kata pelayan. Jordi baru saja mengaku dia mencurigai jus itu karena warnanya kuning."
Kaeta menerima gelasnya dan tidak meminumnya. Ia menatap jam besar di dinding seberang aula, tepat di bawah balkon atas, jarum detiknya bergerak dengan kesantaian yang terasa menghina.
"Dua menit empat puluh detik," gumamnya.
"Kau betul-betul menghitung?"
"Aku bilang akan menghitung." Kaeta menunduk, memutar gelas jus di tangannya. "Aku tidak tahu kenapa aku bilang begitu. Mungkin karena kalau aku tidak punya angka, aku harus punya pikiran."
Daniel tidak menanggapi. Ia berdiri di sebelahnya, tiga langkah lebih dekat daripada yang ia janjikan sebagai pengawal, dan menatap pintu kaca di ujung aula.
Pintu itu tertutup rapat. Tirai putih di baliknya bergerak sekali, lalu diam.