Aula pesta Wesley Group dihias begitu mewah sampai Jordi, begitu melangkah masuk, berhenti di ambang pintu dan menatap langit-langit seperti orang yang baru diturunkan dari pesawat ke planet lain.
"Ada tiga lampu kristal," bisiknya. "Tiga. Satu rumah saja tidak punya sebanyak itu."
"Itu bukan lampu, itu tanda bahwa tagihan listrik Dad sudah melewati batas kewarasan," jawab Damian, dan Zeta, di sebelah Jordi dengan gaun hijau zamrud yang jelas-jelas dipilihnya supaya tampak tidak peduli, mendengus pendek.
Kaeta berdiri di antara mereka, tangan kirinya menyelip di sisi lengan Damian. Malam ini ia tidak menarik lengan itu. Ia menunggu, dan Damian, tanpa dipinta, membuka telapaknya sedikit, memberi ruang. Jari-jari Kaeta masuk dan menutup. Itu sudah cukup menjadi izin yang dibutuhkan keduanya.
Gaun biru gelapnya jatuh sampai lutut, lembut dan tidak menuntut perhatian. Di lehernya, liontin hazel mendiang ibunya menangkap cahaya lampu kristal dan melemparkannya dalam titik-titik kecil ke dagu. Dari tadi ia merasakan benda itu hangat di kulit, seperti sentuhan seseorang yang berdiri tepat di belakangnya.
"Posisi," ucap Daniel pelan, tiga langkah di belakang mereka dengan jas hitam yang pas dan alis diturunkan penuh tekad. "Pengawal siap."
"Daniel, wajahmu."
"Ini tatapan maut."
"Ini tatapan orang yang sembelit."
"Aku bekerja dengan apa yang kupunya."
Jordi tertawa terlalu keras, dan seorang pelayan yang membawa nampan sampanye menoleh dengan kerutan di dahi. Zeta menyikut pinggang Jordi tanpa melihat. Itu gerakan yang begitu terlatih sehingga Kaeta menahan tawa, dan mencatat dalam hati untuk menggodanya nanti.
Mereka berjalan memasuki aula. Orang-orang berbalik. Bisik-bisik menyebar seperti riak di air tenang. Damian menanggapi semuanya dengan wajah dinginnya yang biasa, tetapi jemarinya, yang menggenggam jari Kaeta, hangat dan sedikit basah.
"Kau gugup," bisik Kaeta.
"Aku bukan gugup. Aku sedang bersiaga."
"Itu kata lain dari gugup."
"Kata lain dari gugup adalah keterlambatan respons."
"Wah, jawabannya sudah masuk kosakata resmi."
Tuan Wesley mencegat mereka di tengah aula dengan tongkat di tangan dan tuksedo hitam yang berkilauan, wajahnya cerah sampai rasanya akan mengalahkan lampu kristal. Gans berdiri satu langkah di belakangnya, seperti bayangan setia.
"Damian! Kaeta, Nak!" Suaranya menggelegar, dan tiga meja terdekat berhenti bicara. "Cantik sekali. Dan liontin itu..."
"Milik ibu saya, Tuan Wesley."
Mata tua itu menyipit sebentar, melunak. "Valere. Aku mengenal gayanya. Ibumu punya selera yang tidak pernah salah." Ia mengangkat kepala dan memandang ke sekeliling, lalu memanggil dengan suara yang cukup keras untuk membuat satu aula menoleh. "Hadirin! Perkenalkan, calon menantu saya, Kaeta Calliope Quinn!"
Hening sepersekian detik, lalu tepuk tangan terdengar canggung, kemudian lebih penuh. Zeta menutup mulut dengan tangan. Jordi hampir menjatuhkan gelasnya.
"Dad," desis Damian.
"Tuan Wesley," ucap Kaeta, dengan senyum paling manis dan paling berbahaya dalam repertoarnya. "Status saya masih dalam observasi. Mohon jangan mengumumkan hasil sebelum laboratoriumnya keluar."
Tawa pecah dari beberapa meja. Tuan Wesley menepuk tongkatnya ke lantai dengan puas.
"Observasi akan lulus, saya jamin. Dan sehabis pesta ini," ia menurunkan suaranya, tersenyum penuh arti kepada Kaeta dan Damian, "aku punya rencana. Pondok danau yang kuceritakan. Satu akhir pekan, kalian semua, tanpa jas, tanpa dasi, tanpa Gans. Aku akan bicara dengan ayahmu sendiri."
"Tanpa Gans?" ulang Gans dengan nada yang jelas-jelas tersinggung.
"Hanya untuk akhir pekan, Gans."
***
Mereka memisah di tengah aula, mengikuti arus orang yang ingin menjabat tangan. Kaeta berdiri di dekat meja prasmanan sementara Damian dipanggil oleh seorang rekanan bisnis yang tidak bisa ditolak. Dari kejauhan Damian menoleh padanya, dan Kaeta mengangkat satu jari: sebentar, aku di sini. Ia mengangguk dan melanjutkan percakapan dengan postur yang tampak lebih santai daripada tadi.
"Kae," bisik Zeta, muncul di sampingnya dengan gelas jus dan gaun zamrud yang ia kenakan seperti baju zirah. "Kalau aku pingsan karena lampu kristal, tolong pura-pura bilang aku sedang praktik."
"Praktik apa?"
"Praktik menjadi lukisan."
"Zet, lukisan tidak makan tiga kue."
"Lukisan modern boleh."
Kaeta mengambil sepotong kue kecil dari piring perak, menggigitnya, dan menyapu pandangan ke ruangan hanya untuk mengisi waktu. Matanya melewati kerumunan, balkon atas, bar, tirai beludru. Lalu berhenti.
Di sudut aula, dekat pilar marmer yang cukup besar untuk menyembunyikan sebuah truk kecil, berdiri seorang pria dengan setelan gelap dan gelas anggur di tangan. Wajahnya tampan dengan cara yang dingin, dan matanya sama persis dengan yang pernah menatap Kaeta dari seberang meja restoran, tatapan orang yang sudah menghitung kesalahanmu jauh sebelum kau datang.
Mars.
Pamannya tidak tersenyum. Ia tidak melambai, tidak mengangguk. Ia hanya mengangkat gelasnya setinggi dada, sangat sedikit, dengan gerakan yang bisa berarti salam atau ancaman, dan menatap Kaeta tepat di mata. Kemudian pandangannya turun sebentar ke leher keponakannya, ke liontin hazel itu, dan sesuatu bergerak di wajahnya yang terlalu cepat untuk Kaeta tangkap.
Kuenya mendadak terasa seperti kertas. Kaeta menelan, mengangkat dagu, dan membalas dengan senyum miring, senyum kecil yang diajarkan Xavier tentang cara menghadapi pasien yang menolak minum obat.
"Kae." Bukan Zeta kali ini.
Kaeta menoleh. Damian sudah kembali di sisinya, dan ia bahkan tidak sadar kapan pria itu datang. "Kau pucat," katanya.
"Bukan pucat. Pencahayaannya."
"Aku melihat Mars," ucap Damian. "Dia dari tadi di sana?"
"Sejak kita masuk, kurasa. Dia pandai menjadi bagian dari pilar."
Kaeta menyelipkan jarinya lagi ke jari Damian, tanpa menunggu ditanya, tanpa meminta. Ia hanya mengangkatnya sedikit, bertanya dengan mata, dan Damian menjawab dengan menutup genggamannya. "Dia hanya menonton. Mari kita biarkan dia menonton sesuatu yang bagus."
"Kau tidak perlu bicara dengannya sekarang."
"Aku akan bicara kalau dia yang mendekat. Dan kalau tidak, ya sudah." Kaeta mengangkat bahu. "Aku tidak berniat memulai ronde dua di depan tiga lampu kristal."
Lampu aula meredup satu tingkat. Dari panggung kecil di ujung ruangan, pemandu acara mengumumkan kehadiran duta merek terbaru kosmetik anak usaha Wesley Group dengan suara yang berlebihan, dan musik berubah menjadi sesuatu yang lembut. Pintu besar di sisi barat terbuka.
Seorang perempuan masuk dengan gaun perak yang jatuh sampai mata kaki, rambut hitam tergerai lurus sampai punggung, langkah yang terlatih di lorong-lorong peragaan busana sampai tampak tidak menyentuh lantai. Orang-orang memberi jalan tanpa disuruh. Kamera berkilat dari dua penjuru.
"Itu dia?" bisik Jordi dengan mulut penuh kue.
"Jordi, diam," desis Zeta.
"Aku diam. Aku hanya mengunyah dengan opini."
Genggaman Damian di jari Kaeta mengencang, hanya sepersekian detik, lalu melonggar kembali dengan sengaja. Kaeta merasakannya, dan ia tidak melepaskan.
Perempuan itu menyapu aula dengan mata, bukan seperti orang mencari, melainkan seperti orang yang sudah tahu persis di mana yang dicarinya berdiri. Matanya berhenti. Senyumnya tidak naik, tidak turun. Ia berjalan lurus menembus kerumunan, melewati meja prasmanan, melewati Jordi yang berhenti mengunyah, melewati Zeta yang memeluk tasnya, dan Daniel yang memasang tatapan mautnya dengan serius.
Ia berhenti tepat di depan mereka.