"Aku tidak bisa bernapas," ucap Jordi, tertahan, dengan dasi kupu-kupu yang diikat penjahit sampai tampak seperti hewan kecil yang mencekik lehernya. "Aku menyerah. Aku mau kembali jadi damkar."
"Kau memang damkar," sahut Damian dari depan cermin.
"Damkar yang tidak mau mati karena dasi."
Penjahit langganan keluarga Wesley, seorang lelaki tua berkacamata separuh yang sudah menjahit setelan untuk tiga generasi, menghela napas dengan kesabaran seorang pemahat batu dan melonggarkan simpul itu satu senti. Jordi menarik napas panjang seperti orang yang baru diangkat dari air.
Butik jahit itu kecil, bau kapur dan kain wol, dengan cermin tinggi di tiga sisi. Damian berdiri di tengahnya dengan setelan hitam yang pas di bahu, kemeja putih, dan dasi hitam polos yang terikat tanpa kesalahan sedikit pun. Ia memandang bayangannya dengan wajah orang yang sedang mengevaluasi senjata.
"Kau terlihat seperti malaikat maut yang mau mengambil gaji," komentar Jordi.
"Itu pujian?"
"Tidak. Tapi Kaeta akan menyukainya, jadi kuanggap itu kelemahan." Jordi memiringkan kepala di depan cermin, lalu menurunkan suaranya. "Dam. Soal Senin malam itu."
"Kenapa?"
"Aku berdiri di dapur menahan napas sepanjang cerita kalian, seperti ikan koki yang disuruh diam." Jordi menunjuk akuarium imajiner. "Aku bangga padamu. Serius. Tapi aku mau mengajukan satu pertanyaan, dan kau tidak boleh mengetuk-ngetuk jari."
Damian menyuruh penjahit menunggu di sudut dengan satu gerakan tangan. Ketika lelaki tua itu menghilang ke balik tirai, ia berbicara tanpa mengalihkan pandangan dari cermin.
"Caline sudah kuceritakan pada Kaeta. Kau mendengar sendiri."
"Aku mendengar telur dadarku gosong. Tapi iya, aku mendengar." Jordi menyilangkan lengan. "Bukan itu yang kumaksud, Bos. Yang satunya."
Rahang Damian mengeras. Di cermin, Jordi menatapnya dengan mata yang kehilangan seluruh humornya.
"Kesepakatanmu dengan Dokter Xavier," ucap Jordi pelan. "Tekanan ke rumah sakit. Magnus dan para investor. Dan apa pun yang kau janjikan pada Vanessa, yang kudengar dari balkon waktu Magnus melapor. Kaeta bertanya 'ada lagi?' di lobi, kau bilang ada, dan kau sendiri yang menceritakannya padaku keesokan harinya. Itu artinya ada utang kejujuran yang sudah jatuh tempo."
"Aku sudah menetapkan tenggat. Setelah pesta. Kaeta setuju."
"Berapa kali dalam seminggu ini kau bilang 'belum' pada orang yang berbeda-beda?"
"Jordi."
"Tiga. Aku menghitung." Jordi merapikan dasinya, kali ini dengan tangan gemetar, seolah ingin meremasnya. "Dengar, aku sahabatmu, bukan hakim. Tapi aku melihat wajahnya waktu dia menggenggam tanganmu di balkon. Dia percaya padamu. Dan percaya itu barang yang gampang pecah, apalagi kalau disimpan di tempat yang kau kunci sendiri."
Damian lama tidak menjawab. Ia mengetukkan jari di sisi paha, lambat, dan Jordi mengenal ketukan itu: tanda ia sedang memutuskan sesuatu yang berat.
"Malam setelah pesta," ucap Damian. "Semuanya. Aku akan memintanya duduk dan menceritakan dari awal. Tidak ada yang kusisakan."
"Janji?"
"Janji. Dan kau diam sampai saat itu."
"Aku bersumpah demi biskuitku." Jordi mengangkat tangan. "Mulutku tertutup. Seperti brankas. Seperti peti harta karun yang kuncinya ditelan hiu."
"Jangan dramatis."
"Aku bersungguh-sungguh. Tetapi kalau sampai ada yang bocor, aku tidak akan menyalahkan hiu."
Dari balik tirai terdengar suara penjahit berdeham dengan keras. Jordi buru-buru menegakkan badan dan menunjuk dasinya.
"Pak, tolong yang ini dilonggarkan lagi. Saya perlu bernapas untuk menepati sumpah."
"Sumpah apa, Tuan?"
"Sumpah rahasia negara," jawab Jordi khidmat. "Tapi dasinya dulu."
***
Daniel mengajaknya lewat satu pesan Selasa malam, tanpa gombalan dan tanpa tanda seru, dan justru itu yang membuat Kaeta setuju. Bukit itu sama seperti yang diingat Kaeta, sekitar satu jam dari kota dengan motor, rumputnya masih basah oleh embun yang belum sempat kering, dan kota di bawah tampak seperti miniatur kaca yang ditumpahkan seseorang. Daniel sudah menunggu dengan motor besarnya diparkir menghadap lembah dan dua gelas kopi kertas di atas jok.
Sebelum berangkat, Kaeta mengirim pesan pendek kepada Damian: Aku ke bukit bersama Daniel. Satu jam, sebentar saja. Aku pulang sebelum gelap. Balasannya datang lima detik kemudian: Hati-hati. Helm. Dan terima kasih sudah memberitahuku. Hanya itu. Tanpa ancaman, tanpa pertanyaan, tanpa jaminan apa pun. Kaeta menatap layar itu cukup lama sebelum memasukkan ponsel ke saku.
"Kopi," ucap Daniel, menyerahkan satu gelas. "Gula dua, tanpa krim, sesuai pesananmu di kantin waktu semester lalu."
"Aku tidak pernah memesan itu."
"Aku mengarang. Aku sedang berusaha terdengar romantis."
"Gagal."
"Aku tahu." Daniel tersenyum, lalu duduk di rumput dengan lutut ditarik. Kaeta duduk di sebelahnya, jarak satu lengan, dan untuk beberapa saat mereka hanya memandangi angin yang mengacak ilalang.
"Aku berhenti, Kae," kata Daniel akhirnya.
"Berhenti apa?"
"Menunggu. Bukan menyukai. Dua hal itu beda." Ia memutar gelas kopinya. "Aku sudah menunggu sampai tidak enak sama diri sendiri. Kau mencintai Paman, dan kalau dia bahagia bersamamu, aku tidak punya alasan untuk menyabotase. Gencatan senjata itu bukan basa-basi."
Kaeta menoleh, sungguh-sungguh. "Dan kamu baik-baik saja?"
"Belum. Tapi lebih baik daripada tiga minggu lalu." Daniel mengangkat bahu. "Aku tetap akan berdiri di dekatmu, kalau kau tidak keberatan. Bukan untuk merebut apa-apa. Sebagai teman yang tahu kapan harus diam. Sabtu ini, di pesta, biar aku jadi pengawalmu."
"Pengawal?"
"Pria bermata awas dengan jas rapi yang berdiri tiga langkah di belakangmu dan memberi tatapan maut pada siapa pun yang mengusik Tuan Putri."
"Kamu tidak punya tatapan maut."
"Aku sedang berlatih di cermin." Daniel menunjukkannya sekarang, alisnya diturunkan, matanya menyipit, dan hasilnya terlihat seperti kucing yang baru ditegur.
Kaeta terbahak sampai kopinya hampir tumpah. Daniel ikut tertawa, dan di antara mereka angin membawa sesuatu yang sudah lama tidak ada: kelegaan.
"Terima kasih," ucap Kaeta setelah tawa mereka reda. "Sungguh."
"Jangan berterima kasih. Aku masih punya gombalan yang belum kupakai." Daniel merogoh sakunya, mengeluarkan ponsel. "Oh, hampir lupa. Paman Wesley menyuruhku menelepon tamu-tamu yang belum membalas undangan. Satu nama yang kau kenal baru saja membalas."
Kaeta meletakkan gelas kopinya di rumput. "Siapa?"
"Pamanmu. Mars." Daniel menatap layar. "Dia akan hadir Sabtu ini, bersama dua orang asistennya."
"Berarti dia datang," ucap Kaeta pelan. "Pamanku yang pernah kusiram dengan minuman, di pesta yang dikelola calon mertuaku, bersama mantan kekasih pria yang kupegang tangannya."
"Kalau kau mau, aku bisa menelepon kembali dan bilang pesta dibatalkan karena banjir."
"Itu sihir, Daniel. Bukan fisika."
"Aku siap belajar sihir demi Tuan Putri."
"Mars tidak datang karena bisnis," lanjut Kaeta. "Dalam keluargaku, tidak ada yang datang karena bisnis. Semua datang karena memeriksa."
Daniel tidak menyela. Itu hal yang paling ia pelajari minggu ini.
Angin berhenti sebentar. Kaeta memandangi kota di kejauhan, ribuan lampu kecil yang belum menyala, dan di sana, entah di sudut mana, ada seorang pria yang pernah mengatakan bahwa Damian tidak baik untuknya.
"Kita pulang sekarang?" tanya Daniel.
"Belum." Kaeta mengambil lagi gelas kopinya. "Aku mau menghabiskan ini dan melihat matahari turun dulu. Pamanku bisa menunggu sampai Sabtu."