"Merah," ucap Zeta, mengangkat gaun itu setinggi dagu seperti membawa bendera kemenangan.
"Tidak," jawab Kaeta dari balik tirai ruang ganti.
"Kenapa tidak?"
"Karena merah itu warna yang diminta orang yang mau menang dalam adu pandang. Aku datang bukan untuk adu pandang. Aku datang menggandeng tangan seseorang."
"Aku tidak mengerti, tapi aku merasa itu kalimat yang bagus." Zeta menggantung gaun merah itu kembali dengan penyesalan seorang kolektor, lalu meraih gaun berikutnya. Butik itu berada di lantai dua pusat perbelanjaan, penuh cermin besar dan pramuniaga berkuku sempurna yang sudah menerima uang muka dari kebaikan hati Xavier.
Tirai terbuka. Kaeta keluar dengan gaun biru gelap yang jatuh sampai lutut, potongannya sederhana, bahunya terbuka sedikit, tidak ada hiasan selain satu garis tipis di pinggang. Ia berdiri di depan cermin dan memiringkan kepala.
Pramuniaga berkuku sempurna itu menahan napas di belakang mereka. Zeta diam. Dua detik, tiga detik.
"Zet?"
"Aku sedang memikirkan kalimat paling jujur yang bisa kuucapkan tanpa merusak persahabatan kita." Zeta mengusap pipi. "Kamu terlihat seperti seseorang yang tidak perlu menjelaskan apa pun pada siapa pun."
"Itu pujian atau tuduhan?"
"Laporan lapangan. Kata yang kau curi dari Komandan."
Kaeta tertawa dan memutar badan sekali. Sepatu hak tinggi yang dipilihkan pramuniaga untuk mencoba gaun itu memantul di lantai marmer, dan ia nyaris terpeleset sebelum berhasil berpegangan pada tiang cermin. "Nilai kesempurnaan: sembilan koma lima," gumamnya. "Dikurangi setengah karena sepatu ini ingin membunuhku." Tawanya berhenti saat menyadari Zeta tidak ikut tertawa. Sahabatnya duduk di bangku beludru dengan tas di pangkuan, memandangi lantai, jari-jarinya memutar-mutar tali tas.
"Zet, kamu kenapa?"
"Aku mau jujur sesuatu. Dan jangan tertawa."
"Aku tidak janji."
"Aku sudah selesai." Zeta menarik napas. "Dengan Dokter Xavier. Cegilnya. Waktu kamu cerita dia mengasah pisau bedah sambil menunggu Damian, aku sadar pria itu terlalu menakutkan untuk jadi ayah tiri siapa pun. Aku lebih cocok jadi sahabat putrinya saja."
Kaeta menatapnya lama. "Aku sudah menunggu pengakuan itu sejak kita kenal."
"Kau tidak pernah bilang."
"Aku sopan. Lagi pula tontonannya lucu." Zeta tersenyum kecil, lalu senyum itu berubah menjadi sesuatu yang canggung. "Ada satu hal lagi, tapi aku tidak tahu bagaimana menanyakannya. Kae, kalau ada seseorang yang menggodamu tanpa henti, setiap kali bertemu, sampai kamu ingin melempar sepatu, itu tandanya dia benci atau..."
"Atau suka," sahut Kaeta cepat. "Diagnosisnya dua. Tapi gejalanya identik: sering mengganggu, sering muncul tiba-tiba, jaket kulit yang bau knalpot truk damkar."
"Bukan knalpot! Itu wangi sabun!"
"Siapa yang bilang ini soal Jordi?"
Zeta membuka mulut, menutupnya, lalu menyambar gaun hijau di rak terdekat dan menghilang ke ruang ganti sebelah, menyisakan Kaeta sendirian dengan cermin, senyum lebar, dan seorang pramuniaga yang sedang pura-pura merapikan topi.
***
Rumah Quinn malam itu sepi. Xavier pulang dari rumah sakit pukul tujuh, lebih awal dari biasanya, dan menunggu Kaeta di ruang kerjanya dengan lampu meja menyala. Di depannya ada kotak beludru kecil berwarna biru tua, tutupnya sudah terbuka.
"Daddy?" Kaeta berdiri di ambang pintu, masih memegang kantong belanjaan. "Kenapa menyalakan lampu seperti adegan film detektif?"
"Duduk, Princess."
Kaeta duduk di kursi di depan meja. "Gaunnya sudah dapat?" tanya Xavier, tanpa mengalihkan mata dari kotak itu.
"Biru gelap. Tidak ada bahu terbuka berlebihan, tidak ada belahan, tidak ada satu pun yang akan membuat Daddy mengambil pisau bedah."
"Dan Zeta?"
"Zeta mengumumkan dia sudah pensiun jadi cegil Daddy. Dia juga bertanya soal Jordi dengan wajah merah."
"Syukurlah. Daddy sudah mulai berpikir untuk mengganti nomor telepon." Xavier mendorong kotak itu perlahan ke arahnya. Di dalamnya, di atas bantalan satin, ada kalung emas tipis dengan liontin kecil bermata hazel yang menangkap cahaya lampu dan melemparkannya kembali seperti berkedip.
"Itu..."
"Milik ibumu." Xavier mengambil kalung itu dengan ujung jari, seolah takut menyentuhnya terlalu keras. "Dia memakainya hari Daddy melamarnya. Sudah ditolak dua kali sebelumnya, jadi kau tahu dari mana kegigihan Daddy berasal."
"Dua kali?"
"Dia bilang pertama aku terlalu serius, kedua aku terlalu bercanda. Kali ketiga aku datang dengan wajah yang tidak serius dan tidak bercanda, hanya takut. Dia tertawa sampai terbatuk, lalu bilang ya." Xavier tersenyum, dan senyum itu berumur lebih tua daripada dirinya. "Dia selalu tertawa seperti kamu. Terlalu keras, terlalu cepat, tanpa peduli ada pasien di ruang sebelah. Sekali waktu dia membuat seorang kepala bagian bedah tertawa di tengah rapat, dan Daddy harus pura-pura batuk supaya tidak ikut terbawa."
Kaeta merasakan sesuatu mengencang di tenggorokannya. Jarang sekali Xavier menyebut ibunya dengan detail seperti itu. Biasanya hanya kalimat singkat di hari tertentu, nama sebuah bunga, satu lagu yang terputar di mobil.
"Daddy ingin kau memakainya Sabtu nanti," lanjut Xavier. "Bukan untuk pamer pada siapa pun. Hanya supaya... ibumu ikut hadir. Sebentar saja."
Kaeta menerima kalung itu dan membiarkannya jatuh ke telapak tangannya. Ringan. Dingin. Beratnya hampir tidak ada, dan entah mengapa justru itu yang membuat dadanya sesak.
"Dia memakai ini juga waktu..." Xavier berhenti. Bibirnya terbuka separuh, matanya menatap lampu meja, dan untuk satu detik wajahnya berubah menjadi wajah seseorang yang berdiri di tepi tebing. "Malam terakhir itu, dia memakainya juga. Malam itu, Daddy..."
Ruangan hening. Jam dinding berdetak. Kaeta tidak bernapas.
Tangan kirinya, tanpa ia perintahkan, merayap ke dalam tas di pangkuan dan menyentuh kantong kecil di sisi dalam. Ada benda kecil dingin di sana, stetoskop mungil dengan pipa yang sudah mengeras, milik perempuan yang namanya melekat pada setiap benda di rumah ini. Jarinya meremas benda itu, dan hampir saja mulutnya terbuka untuk berkata sesuatu yang tidak pernah ia ucapkan kepada siapa pun.
"Dad, malam itu aku..."
"Besok saja, ya, Princess." Xavier tersenyum cepat, terlalu cepat. Ia mengusap pangkal hidungnya. "Hari ini cukup ibumu dan kalungnya. Daddy tidak mau menumpuk terlalu banyak. Besok, atau minggu depan. Daddy janji."
"Daddy sudah bilang begitu sejak minggu lalu," ucap Kaeta pelan.
"Kali ini sungguh."
Mereka saling menatap beberapa detik, dua orang yang sama-sama tahu ada sesuatu di antara mereka dan sama-sama setuju untuk tidak membukanya malam ini. Kaeta mengangguk dan menutup kotak beludru itu. Xavier berdiri, mengecup puncak kepalanya, lalu keluar dengan langkah yang sedikit lebih berat dari saat ia masuk.
Di kamarnya, Kaeta menggantung gaun biru itu di pintu lemari dan meletakkan kotak kalung di meja rias. Ia membuka laci, mengeluarkan stetoskop kecil milik ibunya, dan menimbang kedua benda itu di telapak tangan.
"Beberapa hari lagi tidak akan membunuhku," katanya pada bayangannya di cermin. Bayangan itu mengangkat alis, jelas tidak percaya.