Pesan Damian masuk Senin sore, singkat dan tanpa tanda baca berlebihan: Aku mau menceritakan Caline. Malam ini, di apartemen. Jordi ada di sana. Kau boleh membawa siapa pun, atau tidak membawa siapa pun.
Kaeta membaca dua kali, menatap langit-langit kamarnya selama sepuluh detik, lalu mengetik jawaban yang lebih pendek dari yang ingin ia ketik: Jam delapan. Aku datang sendiri. Tidak ada Rudolf.
Ia tiba pukul delapan kurang lima dan disambut di pintu oleh Jordi yang memakai celemek bergambar kartun ikan, memegang sutil seperti membawa pedang upacara.
"Dokter Kaeta! Selamat datang di Restoran Jordi. Menu malam ini: mi instan dengan telur dadar dan solidaritas."
"Solidaritas dengan siapa?"
"Dengan Bos. Aku saksi. Aku ditugaskan duduk di dapur, tidak boleh bicara, tidak boleh menguping." Jordi menunjuk dirinya sendiri. "Aku akan melakukan dua dari tiga. Sisanya silakan tebak."
"Jordi."
Suara itu datang dari ruang tamu. Damian berdiri di dekat akuarium, tangan di saku, tanpa seragam, hanya kaus abu-abu dan celana panjang yang tampak lebih jujur daripada semua setelan yang pernah dipakainya. Ikan koki oranye bernama Kavea menyembul ke permukaan dengan mulut membuka menutup, seolah ikut menghadiri sidang.
"Aku tidak bilang apa-apa!" Jordi menghilang ke dapur dan terdengar suara panci beradu dengan nada tersinggung.
Kaeta melepas jaket tipisnya dan menatap Damian. Kaeta sengaja tidak memakai jaket dinas itu malam ini. Untuk cerita seperti ini, ia ingin mendengarkan dengan bahunya sendiri.
"Boleh aku duduk?" tanya Damian.
"Ini apartemenmu."
"Tetap kutanyakan. Aku berdiri sampai kau memberi tanda."
"Aku memberi tanda." Kaeta menunjuk sofa. Damian duduk di ujung seberang, dengan jarak yang sama seperti di lobi seminggu lalu. Dari tas kecilnya ia menarik sehelai kertas lipat, lalu menaruhnya di meja.
"Daftar tamu pesta ayahku," ucap Damian. "Nama keenam belas."
Kaeta membaca. Alisnya naik dan turun, lalu naik lagi.
"Duta merek kosmetik anak usaha ayahku," lanjut Damian. "Dipilih staf pemasaran, bukan ayahku. Dia akan hadir Sabtu ini. Aku tidak ingin kau melihat nama itu di pesta tanpa pernah mendengar ceritanya dari aku."
***
Mereka berpindah ke balkon karena Damian bilang ia tidak bisa bercerita di ruangan yang ada akuarium, ikan itu membuatnya merasa diadili. Kota malam terhampar di bawah, ribuan lampu jendela. Jordi tertinggal di dapur, menggoreng telur dengan volume sangat tidak wajar.
"Caline pergi empat tahun lalu," ucap Damian dengan kedua tangan bertumpu pada pagar besi. "Kau sudah tahu sebanyak itu."
"Dan Daddy-mu dan kau tahu ke mana dia pergi."
"Ya." Ia menarik napas. "Dia ingin menjadi model. Aku mendukungnya. Lalu ada seorang pria yang punya agensi dan uang, yang bersedia membiayai debutnya dengan syarat yang tidak pernah dia ceritakan padaku. Aku tahu syaratnya. Aku tahu dari cara dia berhenti menjawab teleponku."
Kaeta tidak menyela. Di belakang mereka, Kavea membuat gelembung kecil yang naik dan pecah.
"Aku tahu," ulang Damian lebih pelan, "dan aku memilih buta. Itu bagian yang paling memalukan. Dia tidak membohongiku. Aku yang menolak melihat. Malam dia pergi, aku berdiri di pintu bandara dan tidak berkata apa-apa. Aku tidak meminta dia tinggal. Aku bahkan tidak mengantarnya sampai pintu keberangkatan."
"Kenapa?"
"Kalau aku minta dia tinggal, lalu dia tinggal, itu bukan karena dia memilihku." Telunjuknya mengetuk pagar besi dua kali. "Lebih gampang menyalahkan dia seumur hidup."
Angin malam mengibaskan ujung rambut Kaeta ke wajahnya. Ia menyingkirkannya perlahan, dan untuk beberapa saat tidak ada suara kecuali dengung kota di bawah dan bunyi sutil yang menggaruk wajan di dalam.
"Dia kembali sebagai duta merek," ucap Kaeta.
"Dipilih orang lain. Aku tidak berhubungan dengannya sejak hari itu, kecuali satu pesan ucapan ulang tahun tahun lalu yang tidak kubalas. Daddy tidak pernah menentang kami, jadi aku tidak punya siapa pun untuk disalahkan selain diriku sendiri. Kabar yang kudengar sejak itu: dia sukses. Itu saja."
"Kau sudah mencari tahu siapa yang memilihnya?"
"Magnus yang mencari. Murni urusan pekerjaan, katanya. Ia melapor dengan wajah yang sama seperti biasa, jadi aku tidak tahu itu kabar baik atau buruk."
"Dan kau takut?"
Damian membuang muka ke lampu-lampu kota. Rahangnya mengeras, mengendur, mengeras lagi. "Takut," ucapnya pendek. "Bukan karena dia. Karena aku. Kalau dia berdiri di depan kita, aku takut jadi pria yang sama."
Kaeta mendengarkan itu sampai selesai. Lalu ia melakukan hal yang tidak diduga Damian: ia tertawa kecil, bukan mengejek, melainkan seperti orang yang akhirnya menemukan potongan puzzle yang hilang.
"Kau tahu apa yang lucu?" tanyanya. "Kau bilang kau memilih buta. Tapi kau sedang menceritakannya dengan mata terbuka, sekarang, di depanku. Itu bukan pria yang sama."
"Aku tidak tahu itu."
"Aku tahu. Aku dokter gadungan yang hafal diagnosis orang." Kaeta mengulurkan tangan terbuka, telapak ke atas, di antara mereka. "Boleh aku memegang tanganmu? Aku yang memulai kali ini."
Damian menatap tangan itu seperti menatap sesuatu yang tidak tercantum di prosedur apa pun. Ia meletakkan tangannya di atasnya, pelan, dan jari-jari Kaeta menutup.
"Aku ikut ke pesta," ucap Kaeta. "Aku menggandeng tanganmu masuk, dan siapa pun yang berdiri di depan kita, aku tidak peduli dia pakai gaun apa."
"Kaeta..."
"Satu syarat." Ia menatap lurus. "Kalau dia bicara padaku, kau tidak menjawabkan untukku. Aku bisa menjawab sendiri."
"Aku tahu kau bisa."
Dari balik pintu kaca terdengar bunyi sendok jatuh ke lantai. Tidak ada teriakan, tidak ada bantahan. Hanya hening yang terlalu rapi, lalu sepiring kecil telur dadar berbentuk hati muncul di ambang pintu, didorong sebuah tangan berlengan celemek kartun ikan, tanpa penjelasan dan tanpa satu kata pun.
Kaeta menoleh ke pintu kaca, lalu ke Damian, lalu terbahak sampai harus menunduk memegang pagar. Damian ikut tertawa, rendah dan tertahan, tetapi jari-jarinya tidak melepaskan jari Kaeta barang sedetik pun.
"Ada satu masalah," ucap Kaeta begitu napasnya kembali. "Kalau aku mau menggandeng tanganmu ke pesta ayahmu, aku butuh gaun. Gaun betulan, bukan scrub."
Ponselnya berdering di tas. Nama di layar membuatnya menghela napas pasrah: ZETA, huruf besar semua.
"Kau pasti sudah tahu," ucapnya ketika menerima panggilan.
"Aku punya firasat sebelum kau mengirim pesan," terdengar suara Zeta di seberang, dengan latar bunyi kantong belanja. "Besok aku jemput. Jam sepuluh. Kita beli gaun yang membuat seorang duta merek menyesal lahir."