Xavier menginjak lantai marmer rumah utama Wesley dengan langkah dokter bedah yang memasuki ruang operasi asing: mata bergerak ke semua sudut, tangan tidak menyentuh apa pun. Gans menyambut mereka di ambang pintu dengan senyum selebar yang diizinkan protokol.
"Tuan Dokter Xavier. Nona Kaeta. Tuan muda Damian. Tuan besar menunggu di ruang makan."
"Terima kasih, Tuan Gans," jawab Kaeta, dan kepala pelayan itu hampir tersenyum betulan mendengar sapaan yang menaikkan pangkatnya.
Meja makan Wesley panjangnya cukup untuk menampung rapat dewan direksi, tetapi hari ini hanya empat kursi yang ditata dekat ujung. Tuan Wesley berdiri menyambut dengan tongkat di satu tangan, uban di pelipisnya tampak lebih putih di bawah lampu kristal. Ia menjabat tangan Xavier dengan kehangatan yang terlalu rata, seperti orang yang berlatih menjadi ramah selama satu minggu.
"Dokter Xavier. Terima kasih sudah datang. Saya tahu hari Minggu itu berharga bagi dokter bedah."
"Saya yang berterima kasih atas undangannya, Tuan Wesley."
Mereka duduk. Sup jamur dihidangkan. Di sela dentingan sendok, kedua pria itu bertukar kalimat yang tersusun rapi seperti instrumen di nampan steril: cuaca, lalu lintas, kabar buruk tentang pasar saham, kabar baik tentang cucu seorang kolega. Kaeta menatap bolak-balik dari Xavier ke Tuan Wesley ke Damian, dan menghitung dalam hati berapa kali sendok mereka menyentuh mangkuk dengan sinkron yang tidak wajar.
"Tujuh," bisik Damian di sebelahnya.
"Delapan," koreksi Kaeta. "Yang tadi tidak kau hitung."
"Kenapa kita menghitung?"
"Karena kalau tidak, aku akan melempar sesuatu."
Tuan Wesley berdeham. "Kaeta, Nak. Kau suka ikan?"
"Saya suka ikan yang bisa dimakan, Tuan Wesley. Ikan yang bisa diajak bicara saya tidak punya pengalaman."
"Kalau begitu kau harus menemui Jenderal lagi." Mata tua itu berkilat. "Ia menanyakan kau, dengan caranya sendiri. Ikan itu lebih berwibawa dari seluruh direksiku, tapi rupanya masih bisa kangen."
"Dad," ucap Damian. "Kaeta sedang makan."
"Dan aku sedang menawarkan kebahagiaan hidup. Setelah makan, kita ke kolam." Tuan Wesley menyendok sup dan melirik Xavier. "Dokter Xavier, soal rumah sakit Anda..."
Gerakan sendok Xavier berhenti sepersekian detik. "Bunga bulan ini sudah ditransfer, Tuan Wesley."
"Saya tidak menyinggung bunga."
"Saya yang menyinggungnya."
Hening menempel di meja seperti selaput. Kaeta merasakan Damian di sebelahnya mengeras, bahu dan rahangnya, seolah sedang menahan sesuatu yang berat di punggung. Ia menarik napas dan melakukan apa yang selalu dilakukannya di meja yang terlalu tegang: memecahkan gelas dengan kata-kata.
"Tuan Wesley, boleh saya tanya sesuatu soal sup ini?"
"Silakan, Nak."
"Jamurnya disumbang oleh siapa? Saya mau mengirim surat terima kasih. Atau surat tuntutan, kalau ini ternyata jamur yang membuat Daddy saya berhenti bicara."
Tuan Wesley tertawa sampai tongkatnya bergeser. Xavier menutup mata sebentar dan menggeleng, bukan sepenuhnya tidak setuju. Dan di sudut meja Damian menunduk, bahunya bergetar, dan Kaeta tahu ia tertawa tanpa suara.
"Gadis ini," ucap Tuan Wesley kepada Xavier sambil menyeka mata, "sebaiknya Anda simpan baik-baik. Anak saya tidak akan pernah menemukan yang kedua."
"Saya tidak berniat kehilangan yang pertama," jawab Xavier dingin tapi sopan.
Mereka berpindah ke taman belakang untuk kopi. Tuan Wesley mengajak Xavier berjalan pelan menyusuri kolam, tongkat mengetuk batu, dan di sela-sela kalimat mereka terdengar dua hal yang menyatukan dua orang tua dengan putra-putri keras kepala: kekhawatiran dan keinginan untuk tidak terdengar khawatir. Di kolam, ikan koi besar berwarna putih keemasan muncul ke permukaan, membuka mulutnya, dan Kaeta mengangkat tangan seperti bersumpah.
"Jenderal," ucapnya khidmat. "Saya kembali. Mohon izin lewat lagi."
Ikan itu menyelam tanpa komentar.
"Dia menyetujui," simpul Tuan Wesley dari kejauhan. "Itu berarti kau lulus."
"Lulus apa, Tuan Wesley?"
"Lulus menjadi tamu yang sah. Tahap berikutnya, cucu." Tuan Wesley mengangkat cangkir kopinya dengan wajah paling lugu yang bisa dipaksakan seorang pengusaha. "Saya hanya bertanya."
Xavier tersedak kopinya sampai Damian harus menepuk punggungnya, dengan izin yang terucap lebih dulu: "Dokter, boleh?" Xavier mengibaskan tangan tanda setuju sambil terbatuk.
"Tuan Wesley," jawab Kaeta dengan hormat, "saya baru mau lulus anatomi dulu. Urusan cucu harus melewati rapat keluarga, tiga pembacaan, dan tanda tangan notaris Daddy saya."
"Saya tidak keberatan menunggu," ucap Tuan Wesley riang. "Saya sabar, Nak. Ikan mengajari saya itu."
Di sela percakapan, Tuan Wesley menoleh kepada Xavier. "Saya punya pondok di tepi danau, Dokter. Sudah lama tidak terpakai. Saya ingin mengumpulkan anak-anak ke sana suatu akhir pekan. Kaeta, Damian, Daniel, kawan-kawan mereka. Dengan kamar terpisah, tentu saja. Saya bukan ayah yang gila."
"Saya akan memikirkannya," jawab Xavier.
"Itu jawaban yang bagus. Saya menghormati orang yang memikirkan."
***
Ruang kerja Tuan Wesley berbau kayu mahoni dan wiski tua, sama seperti yang pernah Damian ingat sejak kecil. Tuan Wesley menutup pintu di belakang mereka berdua, bergerak ke meja, dan menarik secarik kertas dari laci. Tongkatnya bersandar di tepi meja dengan bunyi pelan.
"Daftar tamu pesta Wesley Group." Tuan Wesley menyodorkannya. "Aku mau kau membacanya sendiri sebelum seseorang lain membacakannya untukmu."
Damian menerima kertas itu dan membaca dari atas, nama demi nama, birokrat, mitra bisnis, kolega lama. Nama keenam belas membuat ibu jarinya berhenti di tepi kertas.
Caline. Duta merek, anak usaha kosmetik Wesley Group.
"Bukan aku yang memilihnya," ucap Tuan Wesley pelan. "Staf pemasaran. Mereka pikir ia wajah yang tepat untuk peluncuran produk, dan kontraknya sudah berjalan sebelum aku sempat melihat daftarnya. Aku bisa melarangnya hadir. Aku tidak mau. Aku bukan ayah yang mengatur siapa boleh melewati pintu."
"Kau tahu apa yang dia lakukan padaku."
"Aku tahu. Aku juga tahu apa yang tidak kau lakukan padanya, yaitu menahannya." Mata tua itu lembut dan tajam sekaligus. "Aku tidak menyalahkanmu, Dam. Tapi aku tidak mau kau jatuh dua kali di tempat yang sama dengan seorang gadis yang pantas lebih baik dari ini."
Damian meremas kertas itu sampai tepinya tertekuk. "Kaeta belum tahu nama itu akan hadir."
"Kalau begitu beri tahu dia."
"Aku akan memberitahunya sendiri."
"Cepat. Sebelum Sabtu itu, sebelum orang lain." Tuan Wesley menatapnya. "Kalau kau terlalu pengecut, aku yang akan bilang."
"Jangan." Suara Damian tidak keras, tetapi nadanya membuat tangan Tuan Wesley berhenti di atas tongkat. "Aku yang akan menceritakannya. Utuh. Dari mulutku sendiri."
Tuan Wesley mengangguk perlahan. Dari jendela ruang kerja terdengar suara tawa Kaeta yang bening, bercampur gumaman Xavier, dan ketukan tongkat yang tidak ada hubungannya. Damian mengalihkan pandangan dari kertas itu ke kaca, melihat Kaeta berlutut di tepi kolam, tangan menepuk air memanggil Jenderal, rambutnya tertiup angin sore.
Ia melipat daftar itu dua kali dan memasukkannya ke saku seragam, tepat di sebelah buku kecil yang isinya tentang gadis itu.