Pasar malam itu bau gula bakar, minyak goreng, dan sosis yang ditusuk lidi, dan Kaeta sudah memutuskan akan memenangkan malam ini dengan satu rencana jahil yang tidak mungkin gagal.
"Dua tiket rumah hantu," ucapnya kepada penjaga loket, lalu menyelipkan lembaran uang sambil mengedipkan sebelah mata. Penjaga itu, lelaki kurus bertopi koboi yang kelihatannya sudah menjumpai ribuan pasangan dengan ekspresi sama, mengangguk khidmat dan menutup sebelah matanya pula, tanda kesepakatan terjalin.
"Apa itu?" tanya Damian dari belakang, tangannya di saku jaket, buku sakunya menyembul di kantong dada.
"Wahana tenang. Cocok untuk komandan yang butuh istirahat dari kebakaran." Kaeta memamerkan tiket dengan senyum paling tidak bersalah dalam repertoarnya. "Dinding berlukis, musik pelan, tidak ada air."
"Rumah hantu."
"Wahana tenang bertema arwah. Itu beda."
"Kaeta."
"Ya, Komandan?"
Damian menunduk memandang tiket, lalu memandang Kaeta, lalu memandang tulisan di atas pintu masuk yang berbunyi RUMAH HANTU LORONG DARAH dengan huruf merah menetes. Ia menghela napas pendek seperti seseorang yang sudah menerima nasib. "Aku berasumsi kau sudah membayar petugas di dalam untuk mengagetkanku."
"Tuduhan tidak berdasar."
"Berapa?"
"Dua kali lipat harga tiketmu."
"Lain kali bayar lebih. Aku sudah menandai tiga tempat persembunyian sebelum kita masuk."
Kaeta cemberut sepanjang lorong masuk, tetapi lima belas detik kemudian, ketika lampu mati total dan seorang makhluk berkain putih menjerit dari lemari, ia yang berteriak paling keras. Ia mencengkeram udara, menemukan lengan jaket Damian, lalu tersadar dan melepasnya seperti menyentuh kompor.
"Maaf. Boleh aku pegang lengan jaketmu? Hanya sampai keluar?"
Damian tidak tertawa. Itu hebatnya. Dalam gelap, suaranya terdengar mantap dan rendah. "Boleh."
"Aku tidak takut. Ini murni taktis."
"Dicatat."
"Jangan dicatat!"
"Sudah dicatat." Dari balik bayang-bayang, Kaeta mendengar bunyi pena menggores kertas kecil, dan ia mengerang sepanjang sisa lorong sementara hantu berkain putih mengikuti mereka dengan tatapan simpatik seorang rekan sesama korban rencana yang gagal.
Mereka keluar dari pintu belakang, di bawah lampu pasar yang menyilaukan. Kaeta menarik tangan dari lengan jaket dan merapikan rambutnya dengan martabat seekor kucing yang jatuh dari lemari.
"Rencanaku cacat," ucapnya tegas. "Aku mengakui. Tetapi, kau tidak berteriak sedikit pun."
"Aku sudah menghadapi ruang bawah tanah terbakar dengan penerangan nol." Damian membuka buku sakunya, membaca catatannya, dan menyodorkan halaman itu ke arah Kaeta. Di sana tertulis dengan tulisan tegak bersambung: Rumah hantu: Kaeta menjerit di detik lima belas, minta izin pegang lengan di detik enam belas. Jangan diceritakan ke siapa pun.
"Kau menulis itu?"
"Aku boleh menyimpan catatan tentangmu. Kau sendiri yang bilang."
"Aku bilang boleh asal isinya tentang aku, bukan tentang kelemahanku!"
"Bagiku itu tidak berbeda."
Kaeta membuka mulut, menutup, lalu menahan senyum paling konyol yang pernah terbit di wajahnya, dan memutuskan menyeret Damian ke lapak lempar gelang sebelum wajahnya benar-benar bertindak mengkhianatinya.
***
Di dermaga, lampu-lampu kapal nelayan memantul seperti serpihan emas di air hitam. Angin membawa bau garam dan sisa gula bakar. Mereka duduk di tepi papan kayu, kaki menggantung di atas air, dengan satu boneka ikan raksasa berwarna oranye tergeletak di antara mereka. Damian memenangkannya di lapak ketiga dengan sekali lempar, tanpa ekspresi, sementara penjaga lapak mendecakkan lidah dan Kaeta bersorak sampai suaranya parau.
"Dia mirip Kavea," ucap Kaeta, menepuk kepala boneka itu.
"Kavea tidak sebesar itu."
"Kavea seharusnya sebesar itu kalau dia bahagia."
Damian tertawa, singkat dan nyaris tak bersuara, tetapi Kaeta mendengarnya dan menyimpannya dalam hati seperti menyimpan batu licin dari pantai. Mereka diam beberapa saat. Di kejauhan terdengar musik organ dari komidi putar, bernada sumbang.
"Aku tidak pernah ke pasar malam," ucap Damian. "Sampai malam ini."
"Pernah. Pasti pernah. Semua orang pernah."
"Ayahku mengajakku ke pesta kebun dan bursa saham. Pasar malam bukan agendanya."
"Jadi aku yang pertama." Kaeta menatap air. "Aku bangga."
Damian menoleh. Cahaya lampu dermaga jatuh di separuh wajahnya, dan ia tampak lebih muda dari biasanya, kurang tegak, kurang dingin. Ia menarik napas panjang, lalu menanyakan sesuatu dengan suara yang berhati-hati sekali.
"Kaeta. Boleh aku menciummu?"
Pertanyaan itu menggantung di antara mereka, di atas papan kayu dan boneka ikan oranye, dan Kaeta merasakan jantungnya melakukan sesuatu yang tidak tercantum di kartu catatannya. Ia tidak mengalihkan pandangan. Ia hanya mengamati wajah itu, dan menyadari Damian menunggu dengan tangan terbuka di atas lututnya, siap menerima jawaban apa pun.
"Belum," ucap Kaeta.
Rahang Damian tidak berubah. Tidak ada kekecewaan yang dipaksakan, tidak ada protes. "Baik."
"Bukan tidak. Belum." Kaeta menegakkan duduknya. "Aku yang akan bilang kapan. Dan kalau kau menebak waktunya sendiri, itu pelanggaran."
"Dimengerti."
"Kau tidak keberatan?"
"Aku bisa menunggu." Sudut bibir Damian terangkat sedikit. "Aku sudah terlatih dari sofa lobi."
Kaeta tertawa, dan tawa itu keluar lebih lega dari yang ia duga. Namun di belakang mereka, dari balik tumpukan peti ikan, terdengar bunyi berderak, lalu bunyi bersin yang jelas bukan bersin ikan.
Damian tidak menoleh. "Jordi."
"Aku hanya bersin," sahut sebuah suara dari balik peti, dengan keyakinan seseorang yang sama sekali tidak dipercaya siapa pun.
"Zeta juga," tambah suara kedua, lebih kecil, lebih panik.
Kaeta berdiri dan berjalan pelan ke tumpukan peti. Di belakangnya, Jordi berjongkok dengan topi pancing menutupi separuh wajah, dan di sebelahnya Zeta memakai wig pirang miring dan kacamata hitam di tengah malam. Di tangan Zeta ada sebungkus kentang goreng yang sudah tinggal separuh.
"Kami tidak membuntuti," ucap Jordi dengan wajah paling polos yang pernah dilihat umat manusia.
"Kami mengawal," koreksi Zeta.
"Mengawal siapa?"
"Dermaga," jawab keduanya serempak.
Kaeta menatap Damian, yang berdiri dengan tangan di pinggang dan mata terpejam sebentar, seperti orang yang sedang berdoa memohon kesabaran. Ponselnya bergetar di saku jaket. Ia mengeluarkannya, membaca layar, dan seluruh wajahnya berubah.
"Pria Tua," ucapnya. Ia menekan tombol terima, dan suara Tuan Wesley menggelegar begitu keras sampai tiga orang di sekitarnya mundur selangkah.
"Damian! Besok makan siang di rumahku, pukul dua belas. Bawa Dokter Xavier. Sudah kuundang lewat Gans, tapi kau yang harus meyakinkannya datang. Dan bawa juga Kaeta, jangan pura-pura lupa!"
"Dad, ini malam."
"Aku tahu ini malam! Itu sebabnya aku menelepon sekarang!"
Sambungan terputus. Dermaga hening sepuluh detik. Kemudian Zeta, masih dengan wig miring, mengangkat kentang gorengnya perlahan.
"Ada yang mau?"