"Katup yang memisahkan atrium kanan dari ventrikel kanan," ucap Damian, membaca kartu itu seperti membacakan perintah evakuasi.
"Trikuspid." Kaeta menyilangkan kaki di atas kursi lipat, secangkir kopi hangat di genggaman. "Tiga daun. Seperti tiga orang berebut satu lorong sempit di rumah sakit."
"Berikutnya. Darah meninggalkan ventrikel kanan menuju paru-paru lewat?"
"Pulmonal."
"Waktu respons empat detik. Target enam puluh detik hanya untuk kebakaran, tapi aku mencatat."
"Kau mencatat waktu jawabanku?"
"Kau mencatat napasku waktu aku rebah di matras. Aku membalas." Damian membalik kartu. "Darah kembali dari paru-paru ke atrium kiri, lalu turun ke ventrikel kiri lewat?"
Kaeta membuka mulut, lalu menutupnya. Di ruang istirahat markas yang pagi itu diterangi cahaya jendela miring, empat belas kartu catatan berserakan di meja plastik dan dua gelas kopi kertas berdiri dekat sebuah piring biskuit dari Jordi yang konon "hadiah untuk ujian, bukan untuk dimakan sebelum ujian".
"Mitral," jawabnya pelan. "Bikuspid. Dua daun. Katup ini..."
"Salah."
"Aku belum selesai bicara!"
"Kau berhenti di tengah. Dalam ujian, berhenti di tengah sama dengan menyerah." Damian menyodorkan kartu itu ke seberang meja, dengan jarak yang cukup agar jarinya tidak menyentuh jari Kaeta. "Ulangi dari awal. Tanpa lelucon."
"Lelucon itu bagian dari proses kognitif."
"Lelucon itu cara kau kabur."
Kaeta mengangkat wajah dari kartu. Damian tidak sedang menggodanya. Ia menatap dengan mata yang tidak tergesa, dan Kaeta tahu ia sedang berdiri di perbatasan yang mereka bicarakan di sofa lobi tiga hari lalu: Damian tidak bertanya soal tiga detik di matras, tetapi ia tetap memegang pintunya terbuka.
"Mitral, bikuspid, antara atrium kiri dan ventrikel kiri," ulang Kaeta, kini lebih lambat. "Setelah itu aorta. Darah keluar ke seluruh tubuh."
"Tepat." Damian meletakkan kartu itu di tumpukan benar. "Delapan dari sepuluh."
"Aku dapat sepuluh dari sepuluh!"
Damian tidak membantah. Ia merapikan tumpukan kartu dengan wajah serius, dan Kaeta baru sadar ujung bibirnya naik ketika kartu-kartu itu jatuh berhamburan ke meja untuk kedua kalinya.
Dari pintu, Jordi bersandar di kusen dengan biskuit di tangan. "Kalian sadar itu biskuit hadiah, bukan sarapan?" tanyanya sambil mengunyah.
"Jordi."
"Siap, aku tidak ada di sini." Jordi menghilang sebelum cangkir kertas Damian sempat mengenai dahinya.
***
Pintu ruang kuliah anatomi dikunci pukul delapan lewat satu menit, seperti biasa, dan Kaeta berhasil meluncur masuk di detik kelima puluh sembilan dengan napas habis. Profesor Sterling berdiri di mimbar dengan jubah laboratorium kelabu dan alis seperti dua awan petir, dan ia menatap Kaeta sepanjang waktu yang diperlukan Kaeta untuk berjalan ke bangkunya.
"Nona Quinn. Tiga detik lagi, saya mengunci Anda di luar."
"Saya menghitung, Profesor. Saya punya lima puluh sembilan."
"Anda menghitung dengan optimisme." Sterling mengangkat map. "Kuis. Satu halaman. Empat puluh lima menit. Jangan menulis kata 'mungkin' untuk hal yang mati atau hidup."
Kuis itu ternyata persis seperti kartu pagi tadi, bahkan urutan pertanyaan pertamanya sama dengan yang diucapkan Damian di ruang istirahat: katup antara atrium kanan dan ventrikel kanan. Kaeta menulis jawabannya sambil menahan tawa yang tidak tepat waktu, mengisi pertanyaan lain dengan kerapian yang tidak biasa, lalu menutup lembar jawaban tiga menit sebelum waktu habis. Di sebelahnya, Zeta menulis dan mencoret dan menulis lagi dengan wajah penderita yang sedang diamputasi.
Ketika hasilnya dibagikan sore itu, angka di pojok kertas Kaeta tertulis dengan tinta merah tebal. Sembilan puluh dua. Di bawahnya, satu kalimat dengan tulisan tangan Sterling yang jelas bukan tulisan orang yang suka memuji: Tangan yang rapi hari ini. Pertahankan.
Sebelum kelas bubar, Sterling mengetukkan penghapus papan ke mimbar sampai seluruh ruangan sunyi.
"Pengumuman. Upacara jas putih mahasiswa tahun pertama diadakan Jumat, sepuluh pekan dari sekarang. Hadir wajib. Keluarga boleh hadir. Pakaian rapi, tidak ada sandal." Ia menyapu ruangan dengan tatapan. "Jas putih tidak diberikan karena nilai Anda bagus. Jas itu diberikan karena kami percaya Anda akan menjaganya. Silakan pikirkan perbedaannya."
Kaeta menyandarkan punggung. Di dalam tasnya, jauh di bawah kartu dan penlight, ada kantong kecil berisi stetoskop mungil milik ibunya, dan di rumah, tergantung di lemari, sebuah jas putih bersulam namanya sendiri yang belum pernah ia kenakan. Entah mengapa, ia teringat pada tiga detik di matras itu.
"Kae," bisik Zeta. "Kamu menggenggam tali tas seperti menggenggam leher ayam."
Kaeta melepaskan genggamannya dan tidak berkata apa-apa.
***
Damian menunggu di koridor kampus dengan seragam dinas dan kantong kertas berisi dua roti isi. Ia tidak berdiri di depan kelas, tidak menghalangi jalan, dan jaraknya dari pintu dua belas langkah penuh, jarak yang cukup agar tidak ada yang bisa menuduhnya mengepung. Kaeta melihatnya dan merasa dadanya melakukan hal yang konyol.
"Berapa?" tanya Damian begitu Kaeta mendekat.
"Sembilan puluh dua."
"Aku mau lihat kertasnya."
Kaeta menyodorkan kertas itu. Damian membacanya sambil berdiri, tidak tersenyum, tetapi alisnya turun satu tingkat.
"Tangan yang rapi," bacanya pelan. "Pertahankan."
"Itu komentar paling hangat dari Sterling sepanjang sejarah universitas. Aku akan membingkainya."
"Paman."
Mereka berdua menoleh. Daniel berdiri di ujung koridor dengan buku di dada dan sebuah ekspresi yang berusaha tampil santai tetapi gagal total. Ia berjalan mendekat, berhenti di jarak yang cukup sopan, dan menatap Damian lurus.
"Aku mau bicara. Sebentar saja."
Damian tidak menjawab selama dua detik, lalu menyerahkan kantong roti kepada Kaeta. "Aku di sini."
"Aku tidak akan membuat kekacauan," ucap Daniel. "Aku cuma mau bilang: kita sama-sama tahu aku tidak akan berhenti menyukai dia dalam semalam. Tapi aku juga tahu aku tidak mau jadi orang yang menahan surat atau mengganggu urusan Paman. Gencatan senjata. Kita bersaing sehat, seperti yang kutantang dulu, atau tidak sama sekali."
"Aku tidak pernah menganggap ini kompetisi," jawab Damian.
"Itu karena Paman sedang menang."
"Kalau dia memilih orang lain, aku tidak akan menahannya."
"Itu juga yang aku bilang pada diriku sendiri tiap malam," ucap Daniel. Ia tersenyum miring, kemudian mengulurkan tangan. "Gencatan?"
Damian menyambut tangan itu. Jabatan singkat dan kokoh, tanpa sorotan, tanpa musik latar, seperti dua pria yang baru menyadari bahwa mereka sebenarnya berebut hal yang sama dengan cara yang berbeda.
"Kencan hari Sabtu," ucap Kaeta tiba-tiba, dan dua pria itu menoleh bersamaan. "Aku yang memilih tempatnya, Komandan. Kau tidak boleh protes, tidak boleh membawa daftar, tidak boleh mencatat waktu jawabanku."
"Aku boleh membawa buku saku?"
"Boleh, asal isinya tentang aku."
"Isinya selalu tentang kau." Damian mengambil kembali kantong roti dari tangannya, menyerahkan satu padanya. "Aku akan datang."
Mereka berjalan menuju tangga berdua, pelan, dengan jarak yang jujur di antara bahu masing-masing. Di belakang mereka, Daniel berdiri sendiri di koridor yang mendadak lengang. Ia memandangi punggung keduanya sebentar, lalu merogoh ponsel dan mengetik cepat kepada Nico: Gencatan resmi. Kau kalah taruhan. Bayar tujuh puluh ribu.