Pukul sembilan lewat lima puluh delapan, dua menit lebih awal, Damian sudah berdiri di depan ruangan Xavier dengan seragam dinas yang disetrika sampai garis lipatannya bisa dipakai memotong keju. Ia mengetuk dua kali. Dari dalam terdengar suara kursi bergeser dan satu kata yang tidak ramah.
"Masuk."
Ruangan itu lebih kecil dari yang diingatnya, penuh rak buku kedokteran dan foto-foto lama yang dibingkai. Di meja tulis, Xavier duduk dengan scrub hijau tua, sebuah pisau bedah diletakkan sejajar dengan pena, dan secangkir kopi yang tidak diminum. Damian menaksir bahwa pisau itu sengaja ditaruh di sana. Seorang dokter bedah tidak lupa meletakkan alatnya.
"Duduk."
Damian duduk. Xavier tidak mengajaknya minum, tidak bertanya kabar. Ia menyilangkan jari, menatap lama, lalu berbicara dengan nada yang tenang sekali, nada yang sama yang mungkin ia pakai sebelum memberitahu keluarga pasien bahwa operasi tidak berjalan baik.
"Saya akan bicara lebih dulu. Putri saya pulang kemarin malam dengan wajah orang yang menahan tangis dan tersenyum bersamaan. Saya bukan buta, Tuan Damian. Apa yang terjadi?"
"Ada seseorang yang bicara padanya soal awal mula kami. Soal perisai." Damian menatap lurus. "Aku membenarkannya. Awalnya memang begitu."
Pena di meja bergeser sepersekian senti. Hanya itu reaksi Xavier.
"Dan sekarang?"
"Sekarang bukan." Damian mengangkat satu tangan sebelum Xavier menjawab. "Aku tahu kata-kata murah. Karena itu aku datang membawa yang lain. Kesepakatan kita, yang kuajukan dulu di ruangan ini, batal. Pelunasan utang, hak kepemilikan rumah sakit, semua tawaran itu kutarik. Aku tidak menukar apa pun dengan putrimu, sekarang maupun nanti. Magnus sudah kuperintahkan menghentikan tekanan terhadap rumah sakit, dan perintah itu kuberikan hari Minggu, tiga hari sesudah Anda memanggilku. Seharusnya tidak perlu menunggu dipanggil."
"Sebelum." Xavier mengulang kata itu dengan nada menguji. "Berapa hari sebelum?"
"Dua hari."
"Dua hari tidak menghapus beberapa minggu."
"Tidak."
Jawaban pendek itu membuat Xavier terdiam. Ia mungkin sudah menyiapkan tanggapan untuk pembelaan panjang, tetapi tidak untuk pengakuan sependek itu. Ia meraih cangkir kopi, mencium baunya, dan menaruhnya lagi.
"Putri saya tidak tahu tentang tawaran itu," ucap Xavier. "Itu juga kesalahan saya. Saya menyimpannya karena saya takut ia memilih mengorbankan diri. Jadi saya tidak berhak menceramahi siapa pun soal kejujuran. Tetapi saya berhak bertanya: apakah ia akan mendengarnya dari Anda?"
"Setelah pesta Wesley Group. Sebelas hari lagi. Kaeta sudah menyetujui tenggatnya, dengan syarat ia tidak boleh mendengarnya dari orang lain lebih dulu."
"Dan Anda minta tenggat itu karena?"
"Karena aku takut kehilangan dia sebelum pesta."
Xavier menatapnya lama sekali. Di luar jendela, helikopter evakuasi bergemuruh di atas atap, lalu menjauh.
"Satu pertanyaan lagi," katanya. "Anda komandan pemadam kebakaran, tetapi Anda juga pewaris Wesley Group, dan Anda tidak perlu bekerja sehari pun. Saya ingin tahu apa misi di balik seragam itu."
"Misi seperti yang Anda bayangkan memang tidak ada." Damian menjawab setelah jeda. "Ada alasan, tetapi belum pernah kuceritakan ke siapa pun, bahkan Jordi. Aku akan menceritakannya kepada Kaeta. Dia lebih berhak mendengarnya lebih dulu daripada Anda."
Wajah Xavier tidak marah. Yang tampak hanya sesuatu yang lebih tua dan lebih lelah, seperti seorang ayah yang tiba-tiba menyadari bahwa putrinya telah menjadi perempuan dewasa di luar jadwalnya.
"Itu jawaban separuh."
"Aku tahu."
"Baik." Xavier menyingkirkan pisau bedah dari meja, ke dalam laci, dan Damian menyadari bahwa itu adalah gestur pertama yang menyerupai keramahan. "Syarat saya hanya dua. Tidak ada sentuhan tanpa izin Kaeta, dalam bentuk apa pun, sekecil apa pun. Dan tidak ada kebohongan lagi. Kalau Anda gagal pada yang kedua, saya tidak akan bicara dengan Anda. Saya akan berbicara dengan pengacara saya. Jelas?"
"Jelas."
"Buktikan. Bukan dengan kata-kata. Dengan hari-hari, satu per satu."
Pintu ruangan terbuka tanpa ketukan.
"Dad! Aku bawa Rudolf, dia sudah sembuh dan..." Kaeta berhenti di ambang pintu, mendorong kursi roda yang mengangkut seorang manekin berhelm damkar dengan plester menyilang di pipi. Matanya berpindah dari Damian ke ayahnya ke laci yang baru ditutup, dan senyumnya meluncur turun seperti es batu di piring.
"Princess," ucap Xavier dengan suara yang jauh lebih lunak daripada lima menit lalu. "Kamu tidak kuliah?"
"Kelas siang. Aku mampir mengembalikan pasien kesayangan Daddy." Kaeta mendorong Rudolf masuk dan memarkirkannya tepat di tengah ruangan, di antara Damian dan meja. "Aku tidak mengganggu pembicaraan antar pria dewasa, kan? Kalau mengganggu, Rudolf bisa pura-pura pingsan sebagai pengalih perhatian."
"Kami hampir selesai," jawab Xavier.
"Aku memang sudah pamit," tambah Damian. Ia berdiri, menatap Kaeta sebentar, lalu menatap manekin itu. "Plesternya masih di tempat."
"Sesuai perintah Komandan."
Dua mata hazel itu bertemu dengan sepasang mata hitam, dan untuk beberapa detik tidak ada yang memutus pandangan. Xavier berdeham keras, nyaris seperti batuk.
"Plester itu," ucap Xavier pada Rudolf, bukan pada siapa pun. "Resmi dari rumah sakit mana?"
"Rumah Sakit Kaeta. Surat izin pulangnya kutempel di punggung." Kaeta memutar kursi roda setengah lingkaran, memamerkan secarik kertas bertuliskan BOLEH PULANG, ASAL TIDAK DIAJAK LOMBA. "Pasien sempat melawan, tapi aku mengancam akan mencabut helmnya."
"Putri saya kejam," kata Xavier kepada Damian dengan nada seseorang yang bangga dan putus asa sekaligus. "Anda sudah diperingatkan."
"Sejak hari pertama," jawab Damian datar.
"Hari pertama apa?" tanya Kaeta curiga.
"Hari ada orang memakai jas dokter yang bukan miliknya."
Damian pamit, menunduk singkat kepada Xavier, dan melangkah keluar tanpa menyentuh siapa pun, bahkan sekadar menepuk bahu Rudolf.
***
Di dalam jip, di tempat parkir rumah sakit, ponsel Damian bergetar sebelum ia sempat menyalakan mesin. Nama di layar membuat kedua alisnya naik.
"Halo."
"Kau di mana?" Suara Kaeta terdengar napasnya sedikit memburu, seperti habis berlari menuruni tangga. "Jangan jawab. Kau masih di parkiran, aku tahu mesinmu belum menyala. Dengar, aku punya kuis anatomi jantung hari Kamis. Profesor Sterling akan menanyakan katup-katup itu sampai ke nama-nama kecilnya, dan aku butuh seseorang untuk menguji kartu catatanku."
"Zeta?"
"Zeta menguji dengan membaca soal sambil makan keripik. Hasilnya aku hafal keripik, bukan katup."
"Daniel?"
"Daniel menguji dengan wajah sedih. Aku butuh yang tidak peduli wajahku." Kaeta berhenti sebentar. "Kau tegas dan tidak berperasaan terhadap kesalahan. Itu kualifikasi sempurna."
"Aku tidak yakin harus tersinggung atau tersanjung."
"Pilih yang membuatmu mau datang." Nada suaranya melunak sedikit. "Kamis pagi, sebelum kuis. Di markas. Bisa?"
Damian menatap kaca depan, ke arah lantai dua gedung rumah sakit, tempat jendela ruangan Xavier berkilat memantulkan langit. Entah untuk kali keberapa pagi itu, ia merasa seseorang sedang menilainya dari balik kaca.
"Bisa," jawabnya. "Aku bawa kopi. Kau bawa kartunya."
"Bawa juga tabah. Kamu butuh itu."