Damian baru selesai jaga pukul sembilan, dan itu berarti Kaeta punya sisa sore yang terlalu panjang untuk seseorang yang darahnya sedang mendidih. Ia menghabiskannya dengan menginterogasi Rudolf.
Manekin latihan itu duduk di kursi belajar kamar Kaeta dengan helm damkar kebesaran di kepala dan plester yang masih menyilang di pipinya. Jaket dinas Damian tersampir di bahunya, karena Kaeta memutuskan hari ini ia tidak sanggup memakainya sendiri.
"Pertanyaan pertama," ucap Kaeta sambil mondar-mandir, ujung penlight diketukkan ke telapak tangan. "Apakah kau pernah berniat memakaiku sebagai perisai?"
Rudolf tidak menjawab. Mata plastiknya menatap lurus ke tembok.
"Jawaban yang sangat jujur. Ditolak. Ulangi." Kaeta berbalik. "Tidak. Terlalu galak. Dia akan bilang 'belum' lagi dan semua latihan ini sia-sia."
"Kae?" Zeta menjulurkan kepala dari pintu kamar tanpa mengetuk. Ia menatap Rudolf, lalu Kaeta, lalu Rudolf lagi. "Aku tidak akan bertanya. Tapi kalau Dokter Xavier masuk dan menemukanmu menginterogasi manekin dengan penlight, aku mau jadi saksi bahwa aku sudah mengingatkanmu."
"Dad masih di OR."
"Syukurlah untuk kita semua." Zeta mengangkat kunci mobil. "Ayo. Pukul delapan. Kuantar sampai lobi, tidak lebih, supaya kamu tidak punya penonton."
Di mobil, Zeta menurunkannya di depan pintu kaca dengan satu nasihat. "Kalau dia macam-macam, kamu telepon aku. Kalau kamu yang macam-macam, tetap telepon aku, aku bawa popcorn."
"Pergi, Zet."
"Aku pergi. Tapi tolong ingat: bernapas itu gratis."
***
Penjaga lobi, seorang pria gemuk berkumis yang matanya tidak lepas dari siaran tinju di televisi kecil, hanya mengangkat alis ketika Kaeta duduk di sofa kulit dekat pintu. Ia tidak bertanya. Mungkin ia sudah terlalu sering melihat perempuan menunggu di sana dengan wajah seperti itu. Kaeta menunggu delapan lewat empat puluh, delapan lewat lima puluh, sembilan, dan jam dinding di atas meja resepsionis bergerak seperti keong yang kena flu.
Pintu kaca bergeser pukul sembilan lewat tujuh. Damian masuk dengan seragam dinas yang masih berbau asap tipis dan embun malam di bahunya. Ia berhenti begitu melihat Kaeta, dan sorot matanya melakukan hal yang sudah mulai dihafal Kaeta: turun sedikit, bersiap menerima pukulan.
"Maaf. Ada panggilan kebakaran dapur restoran di ujung jam jaga. Tidak ada yang terluka."
"Syukurlah. Restorannya?"
"Masih berdiri. Dapurnya yang berkabung."
Kaeta hampir tersenyum, lalu mengingat Jessica dan senyum itu menguap di tengah jalan. "Boleh duduk," katanya, menunjuk sisi lain sofa.
"Boleh aku duduk?" ulang Damian, seolah mengecek, dan baru bergerak setelah Kaeta mengangguk. Ia duduk dengan jarak sehasta di antara mereka, menaruh helm di pangkuan, kedua tangannya terbuka di atas helm. Tidak ada yang mengetuk-ngetuk. Itu sendiri sudah merupakan pernyataan.
"Jessica menemuiku siang tadi," ucap Kaeta.
"Magnus memberitahuku."
"Dia bilang malam Daddy-mu menagih janji seminggu itu, kau berkata di depan semua orang bahwa kau akan membawa siapa saja yang kebetulan lewat." Kaeta menatap lurus ke depan, ke arah televisi yang sekarang menampilkan seorang petinju terhuyung. "Siapa saja. Dan aku kebetulan lewat. Apakah itu benar?"
Damian tidak menjawab dengan cepat. Ia tidak mengelak, tidak memotong, tidak mengatakan "kamu salah paham" dengan nada orang yang sudah menyiapkan kalimat. Ia menunduk menatap helmnya, lalu mengangkat wajah.
"Awalnya, ya. Itu benar."
Kaeta mengembuskan napas, dan sesuatu di dadanya jatuh satu anak tangga. Ia sudah tahu jawabannya sejak di kafe. Tetapi tahu dan mendengar adalah dua binatang berbeda.
"Aku butuh seseorang untuk menghentikan Daddy-ku, dan kau lewat dengan jas dokter pinjaman." Damian bicara datar, tanpa perhiasan. "Aku tidak membela itu. Aku tidak tahu kapan berubah. Mungkin waktu kau menyiram Mars, mungkin waktu pos security itu terbakar. Yang kutahu, siang kau turun dari jipku di taman kota, aku sadar tidak ada kata 'kebetulan' yang cukup besar untuk menutup perasaan itu."
"Aku bukan perisai," ucap Kaeta pelan.
"Kau tidak pernah jadi perisai. Perisai itu diam dan menerima benturan." Sudut bibir Damian bergerak sedikit. "Kau lebih mirip kembang api yang meledak di depan perisai."
"Itu pujian atau tuduhan?"
"Laporan lapangan."
Kali ini Kaeta tersenyum betulan, kecil dan miring, lalu buru-buru menyembunyikannya di balik bahu. Ia menarik napas dan menegakkan duduknya. Zeta benar, napas memang gratis, tetapi yang ia butuhkan sekarang adalah keberanian, dan itu tidak ada harganya di pasar mana pun.
"Ada lagi?"
Pertanyaan itu jatuh di antara mereka seperti batu ke air tenang. Damian tidak bergerak. Di televisi, gong tanda ronde berbunyi, dan penjaga lobi mengaum kecil karena jagoannya tersungkur.
"Ada," jawab Damian akhirnya.
Kaeta menunggu. Menunggu itu sulit sekali bagi seseorang yang seumur hidup tidak pernah diminta menunggu.
"Dan aku belum bisa mengatakannya malam ini." Suaranya tidak naik, tidak turun. "Beri aku sampai setelah pesta Daddy-ku."
"Pesta Wesley Group."
"Dua belas hari lagi. Setelah itu, semuanya. Aku tidak akan menyisakan satu pun."
"Kenapa tidak sekarang?"
Damian menatap helmnya lagi. "Karena aku takut. Kalau kukatakan malam ini, kau akan pergi, dan aku tidak mau kehilanganmu sebelum pesta. Itu alasan yang pengecut. Aku tahu. Aku tidak mencoba membuatnya terdengar bagus."
Hening panjang. Dari televisi terdengar komentator berteriak soal pukulan kait kiri. Kaeta menatap sepatu botnya sendiri, lalu sepatu bot Damian yang berlepotan abu dapur restoran, dan ia menyadari betapa lucunya dua pasang sepatu itu berdampingan di sofa lobi pukul sembilan malam, saling bertengkar tanpa suara.
"Baik," ucapnya.
Kepala Damian terangkat. "Baik?"
"Aku beri tenggat. Sampai setelah pesta." Kaeta mengangkat satu jari. "Dengan satu syarat. Aku tidak boleh mendengarnya dari orang lain lebih dulu. Bukan dari Jessica, bukan dari Jordi yang mulutnya bocor, bukan dari Magnus, bukan dari siapa pun. Kalau aku mendengar sepotong saja dari orang lain sebelum kau sendiri yang mengatakannya, selesai."
"Selesai apa?"
"Kau tahu apa."
Damian mengangguk, satu kali, pelan, dan tanpa lelucon. "Setuju. Dengan syaratmu."
"Dan Damian."
"Ya."
"Jangan bilang 'belum' lagi kalau aku tanya hal lain. Cukup satu kali itu untuk satu tenggat."
"Dicatat."
Kaeta berdiri. Damian ikut berdiri, dan tangannya yang tadi terbuka di atas helm menggantung di sisi tubuh, tidak terulur, tidak menahan. Kaeta melihatnya dan memutuskan itu lebih meyakinkan daripada seribu janji.
"Besok pukul sepuluh," ucap Damian, "aku bertemu ayahmu."
"Aku tahu. Daddy sudah mengingatkanku tiga kali sambil mengasah pisau bedah. Pisaunya memang sudah tajam, tapi dia mengasahnya terus."
"Itu kabar baik atau buruk?"
"Pakai seragam." Kaeta berjalan ke pintu kaca dan berhenti. "Daddy lemah terhadap seragam."
"Ayahmu dokter bedah," balas Damian. "Dia lemah terhadap hasil laboratorium."
Pintu kaca bergeser membukakan malam. Kaeta melangkah keluar tanpa menoleh, dan tepat sebelum pintu menutup di belakangnya, ia mendengar Damian berbisik pada dirinya sendiri, nyaris tak terdengar, sebuah kalimat yang terdengar seperti doa orang yang tidak terbiasa berdoa.
"Dua belas hari."