Perempuan yang berdiri di samping meja mereka mengenakan mantel krem, rambut ikalnya tersisir rapi, dan senyumnya jelas sudah dilatih di depan cermin sebelum dibawa kemari. Kaeta tidak perlu menengok dua kali. Ia hanya pernah melihat wajah itu satu kali, di ambang kamar apartemen Damian, tengah malam, dan satu kali sudah cukup untuk seumur hidup.
"Kaeta Quinn," ucap perempuan itu. "Aku Jessica. Boleh aku duduk?"
Sendok es krim di tangan Zeta berhenti di tengah jalan menuju mulutnya. Kafe dekat kampus itu sedang ramai oleh mahasiswa yang berebut colokan, dan di atas meja mereka berserakan kartu catatan anatomi bergambar katup jantung, dua gelas kopi, serta satu piring kentang goreng yang sudah dingin.
"Tergantung," jawab Kaeta tanpa mengangkat mata dari kartunya. "Kamu datang membawa kabar, atau membawa kode apartemen?"
Zeta tersedak. Jessica berkedip sekali, dan senyum yang dilatih itu bergeser seperempat senti.
"Aku tidak datang untuk berkelahi."
"Bagus. Aku sedang diet kekerasan sejak minggu lalu, hasilnya menyedihkan, jadi tolong jangan menguji." Kaeta menunjuk kursi kosong dengan ujung kartu. "Duduk. Tapi Zeta tetap di sini. Dia saksi, sekaligus asisten medis kalau ada yang pingsan."
Jessica duduk, menaruh tas di pangkuan, dan memesan kopi hitam tanpa gula dari pelayan yang kebetulan lewat. Ia memutar cangkir kosong di depannya sebelum bicara, gerakan orang yang menyusun kalimat dengan hati-hati.
"Aku anak sahabat Paman Wesley. Aku memanggilnya Paman sejak kecil. Soal perjodohan itu, aku juga tidak bisa menolak ayahku, jadi jangan kira hanya kamu yang dirugikan." Ia mengangkat wajah. "Malam Paman menagih janji seminggu itu, aku ada di ruang makan. Damian bilang di depan semua orang, aku akan membawa siapa saja yang kebetulan lewat di depanku. Siapa saja. Aku mendengarnya sendiri."
Kaeta menaruh kartunya. Hanya satu detik, tetapi Zeta melihat jemari sahabatnya mengeras di tepi meja.
"Dan kamu," lanjut Jessica pelan, "kebetulan lewat."
Kafe itu tidak mendadak sunyi. Mesin penggiling kopi tetap meraung, seseorang tertawa di meja belakang. Tetapi bagi Kaeta, suara-suara itu seolah dipindahkan ke ruangan lain.
Lalu ia tersenyum, dan senyum itu adalah jenis yang dulu membuat Xavier menyimpan semua barang pecah belah.
"Kebetulan lewat itu mahal, tahu. Aku lewat dengan jas dokter pinjaman, stetoskop pinjaman, dan keberanian yang sama sekali tidak pinjaman." Kaeta bersandar. "Kalau mau menghitung kebetulan, silakan. Aku lewat, dia menoleh. Sisanya mengikuti hukum fisika: benda diam tetap diam sampai ada yang menendangnya. Aku menendang. Dia tidak melawan."
"Aku tidak bilang..."
"Sekarang giliranku." Kaeta menopang dagu. "Kenapa kamu menyampaikan ini padaku, bukan padanya? Kodenya sudah diganti, jadi kamu tidak bisa masuk dan bertanya sendiri. Berarti kamu mencari yang lain. Kamu tidak membawa kebenaran, Jessica. Kamu membawa kekalahan, dan kamu ingin ada yang ikut kalah."
Cangkir kopi hitam datang. Jessica meraih sendok dan mengaduk isinya tiga kali, padahal tidak ada gula yang perlu larut.
"Aku... bukan itu maksudku."
"Empat kali," bisik Zeta di telinga Kaeta. "Dia mengaduk empat kali. Itu diagnosis."
"Tiga," balas Kaeta tanpa menoleh. "Tapi aku suka semangatmu."
Jessica menaruh sendoknya. Pipinya merah, dan untuk pertama kalinya senyum yang dilatih itu benar-benar hilang, menyisakan wajah yang lebih muda dan lebih capek dari yang Kaeta duga.
"Aku cuma tidak mau kamu mengira ini cerita cinta biasa," ucapnya. "Ini dimulai sebagai strategi. Itu faktanya. Tanyakan saja padanya. Kalau dia jujur, kamu akan tahu aku tidak berbohong."
Ia berdiri, meletakkan lembaran uang di bawah piring kentang, dan pergi tanpa menyentuh kopinya. Pintu kafe berdenting. Mantel krem itu lenyap di antara kerumunan mahasiswa.
Zeta menunggu tiga detik penuh. "Kae."
"Aku tenang."
"Kau meremas kartu katup mitral sampai berbentuk bola."
Kaeta menunduk. Kartu itu memang sudah kusut, dan gambar katup di dalamnya tampak seperti orang yang sedang tersiksa. Ia meratakannya di meja dengan telapak tangan, pelan-pelan, seolah meratakan sesuatu yang lain.
"Aku tenang sekali," ulangnya. "Seperti air mendidih yang tidak berbunyi."
"Itu bukan tenang. Itu panci."
"Kae, napas dulu."
Suara itu datang dari meja sebelah. Daniel duduk di sana dengan segelas cokelat panas dan atlas anatomi yang halamannya tidak berganti sejak empat puluh menit lalu. Jaket kulitnya tersampir di kursi, dan ia menurunkan buku itu dengan wajah orang yang tertangkap basah, tetapi tidak menyesal.
"Kamu menguping," tuduh Kaeta.
"Aku sedang belajar. Mereka kebetulan bicara keras."
"Jangan pakai kata itu."
"Maaf." Daniel memindahkan kursinya mendekat, tidak terlalu dekat. Suaranya turun satu tingkat. "Dengar, jangan pergi sambil marah. Kamu bisa bicara hal yang tidak kamu maksud, dan Paman bukan orang yang pandai memperbaiki kalimat orang lain. Tunggu sampai kepalamu dingin."
"Kepalaku sudah dingin."
"Telingamu merah."
Kaeta menyentuh telinganya dan memang hangat. Ia menarik napas, mengembuskannya, lalu merogoh ponsel. Jari-jarinya mengetik cepat tanpa meminta izin pada otaknya: Aku perlu bicara, malam ini, dan kata belum sudah dilarang masuk percakapan.
Ia menekan kirim, lalu menaruh ponselnya terbalik di meja. Cangkir kopi hitam Jessica masih penuh dan masih mengepul. Kaeta menariknya ke depan, meminum seteguk panjang, dan meringis.
"Pahit," katanya. "Tentu saja tanpa gula."
***
Ponsel Damian bergetar di loker markas, tepat ketika ia sedang menarik kaus bersih lewat kepala. Ia membaca pesan itu dua kali. Pesan pertama dari Magnus, masuk lima menit lalu: Nona Jessica menemui Nona Kaeta di kafe dekat kampus pukul dua belas lewat. Saya terlambat tahu. Pesan kedua dari Kaeta, dan yang kedua inilah yang membuat tangannya berhenti di tengah gerakan.
Aku perlu bicara, malam ini, dan kata belum sudah dilarang masuk percakapan.
"Mukamu seperti sup basi," komentar Jordi dari bangku seberang, sedang mengikat tali sepatu bot. "Siapa yang mati?"
"Belum ada."
"Itu bukan jawaban yang menenangkan, Bos."
Damian menunjukkan layar ponselnya. Jordi membaca dengan bibir bergerak, lalu bersiul panjang, nada turun, seperti bom jatuh di film kartun.
"Jessica," ucapnya. "Dia mencari Kaeta, bukan kamu. Itu cerdik. Aku harus mengakui itu cerdik."
"Aku tidak butuh penilaian kecerdikan."
"Kau butuh seseorang yang bilang kau sudah terlambat. Dan aku siap menjadi seseorang itu secara sukarela." Jordi menegakkan badan. "Kau akan bilang apa malam ini?"
Damian mengetik balasan dengan ibu jari, lambat, menghapus dua kata, mengetik ulang. Aku selesai jaga pukul sembilan. Di mana? Jawaban Kaeta datang cepat: depan apartemennya. Ia menulis lagi, kali ini tanpa menghapus. Aku di sana pukul sembilan lewat sedikit. Tunggu di lobi, jangan di luar. Dingin.
Ia menaruh ponsel di bangku. Jari-jarinya mulai mengetuk lutut.
"Aku akan bilang yang kutahu," katanya. "Bukan semuanya. Tapi yang ini, ya."
"Sebagian jujur itu sama saja dengan sebagian bohong, Bos."
"Jordi."
"Siap. Aku tidak bicara apa-apa." Jordi mengangkat tangan. "Mau kutemani malam ini?"
"Kau tetap di sini dan tidak membuntuti."
"Aku tidak membuntuti. Aku mengawal."
"Jordi."
"Siap. Tidak mengawal." Jordi meraih helmnya, berjalan ke pintu, lalu menoleh dengan wajah yang mendadak sungguh-sungguh. "Dam. Dia pantas mendengarnya darimu. Bukan dari orang kantoran berambut ikal."
Pintu loker menutup. Damian tinggal sendirian dengan kaus setengah terpasang dan sisa jaga yang sama sekali tidak ingin ia jalani.