Kaeta mengirim fotonya pukul tujuh pagi.
Dalam foto itu, Rudolf duduk tegak di kursi plastik dengan helm damkar kebesaran di kepalanya, selembar plester menempel menyilang di pipi manekin, dan di bawahnya ada tulisan tangan di atas kertas catatan: PASIEN DALAM PEMULIHAN. TIDAK BOLEH DIGANGGU KECUALI OLEH JORDI.
Di bawah foto itu, satu kalimat: Komandan, Rudolf sampaikan terima kasih sudah jadi muridnya. Dia minta dikembalikan ke Daddy dengan sapuan debu minimum.
Damian membaca pesan itu berdiri di dapur apartemennya, bertelanjang kaki, dengan secangkir kopi yang sudah lama dingin di tangan. Ibu jarinya mengetik balasan, menghapusnya, mengetik lagi. Pada akhirnya ia hanya menulis: Dikembalikan hari Selasa. Plester jangan dicopot. Dan ia baru sadar sudut bibirnya terangkat saat sebuah suara dari belakang berkata:
"Dua puluh delapan."
Damian tersentak. Jordi bersandar di kusen pintu dapur dengan kantong plastik berisi sarapan, kunci cadangan di jarinya, dan tampang pria yang baru menemukan harta karun.
"Kau masuk bagaimana?"
"Kodenya diganti Magnus, tapi Magnus lupa mengganti kunci fisik. Itu kelemahan keamanan yang sangat manusiawi." Jordi mengangkat kantong plastik. "Bubur ayam. Kau tersenyum, Bos."
"Aku tidak tersenyum."
"Dua puluh delapan gigi. Aku menghitung sebelum kau sadar." Jordi menaruh kantong di meja dan menuang bubur ke dua mangkuk dengan cekatan. Di sudut ruang tamu, akuarium besar berpendar biru, dan ikan koki oranye bernama Kavea menyembul ke permukaan, menatap mereka dengan mulut membuka menutup. "Selamat pagi, Kavea. Ayahmu sedang jatuh cinta dan tidak mau mengaku."
"Jordi."
"Aku bicara pada ikan, bukan pada kamu." Jordi mengambil sendok. "Tapi kalau kamu mau dengar saran dari ikan: bilang saja yang sebenarnya pada Kaeta. Soal kesepakatanmu dengan Dokter Xavier. Soal Magnus dan investor. Soal semuanya."
Senyum Damian menghilang seperti tirai yang ditarik. Ia meletakkan ponsel di meja dengan layar menghadap ke bawah.
"Belum."
"Kapan?"
"Belum, Jordi."
"Kau mengulang kata yang sama. Itu bukan jawaban. Itu kaset rusak."
"Aku akan bilang," ucap Damian pelan. "Aku harus menunggu waktu yang tepat. Kalau kukatakan sekarang, dia akan pergi, dan aku tidak tahu apakah aku..." Ia menelan sisa kalimat itu. "Belum."
Jordi menatapnya lama, menyuap bubur, lalu menghela napas. "Terserah kau, Bos. Tapi waktu yang tepat itu biasanya mitos. Yang ada cuma waktu yang makin mahal."
Damian mengaduk buburnya tanpa memakannya. "Kamis kemarin. Waktu aku rebah di matras."
"Tiga detik," sahut Jordi cepat. Nada bercandanya turun satu tingkat. "Aku lihat juga. Zeta lihat. Kau dengar bagaimana Zeta berteriak? Itu bukan Zeta yang biasanya. Itu Zeta yang menutupi sesuatu."
"Dia tidak mau cerita."
"Kau tanya?"
"Tidak. Aku bilang pintunya tidak kukunci." Damian meletakkan sendok. "Tapi dia akan datang sendiri atau tidak sama sekali. Aku tidak mau jadi orang kedua yang memaksanya."
"Kedua?" Jordi mengangkat alis. "Siapa yang pertama?"
Damian tidak menjawab, karena ia sendiri tidak tahu.
Bel apartemen berbunyi. Jordi menoleh ke arah pintu dan wajahnya berubah. "Dia."
"Dia aku panggil."
***
Magnus masuk tanpa suara, mantel gelap terlipat di lengan, map hitam di tangan. Ia berhenti di tengah ruang tamu dengan postur yang tidak berubah sejak Damian mengenalnya. Jordi sudah menghilang ke balkon, membawa mangkuk dan sebuah ekspresi yang jelas menandakan bahwa telinganya tetap terbuka.
"Tuan."
"Duduk."
"Saya lebih nyaman berdiri."
Damian tidak memaksa. Ia berdiri di dekat jendela, memunggungi pemandangan kota. "Investor yang kau hubungi beberapa minggu lalu untuk rumah sakit itu. Berapa yang sudah mundur?"
"Dua dari empat. Satu menunda keputusan. Satu belum bereaksi."
"Proyek kerja sama peralatan medis?"
"Ditahan di meja direksi atas arahan Tuan. Kontraknya belum dibatalkan, hanya tidak disetujui."
"Hentikan semuanya." Suara Damian rendah, nyaris tanpa nada. "Hubungi dua investor itu. Katakan Wesley Group tidak punya keberatan apa pun. Setujui kontrak peralatan medis hari Senin. Dan mulai hari ini, tidak ada lagi yang mengganggu pasokan, vendor, atau staf rumah sakit itu. Tidak dari kita, tidak lewat tangan lain."
Magnus tidak bergerak. Hanya alisnya yang naik, tipis sekali. "Tuan memerintahkan hal yang berlawanan dengan yang Tuan perintahkan beberapa minggu lalu."
"Aku tahu."
"Apakah saya boleh bertanya alasannya?"
"Tidak."
"Baik." Magnus menggeser map hitam ke atas meja kopi. "Kalau begitu saya laporkan hal lain. Nyonya Vanessa menyewa pengacara. Namanya tercantum di kantor notaris yang sama yang dulu mengurus akta jaminan rumah sakit. Ia memegang salinan perjanjian utang antara Dokter Xavier dan Wesley Group."
Damian menoleh pelan. "Salinan dari mana?"
"Dari arsip keluarga Valere. Dokumen itu pernah dikirim ke ahli waris sah saat penandatanganan. Itu hak mereka." Magnus menatap lurus. "Yang saya khawatirkan bukan dokumennya, Tuan. Yang saya khawatirkan adalah janji yang Tuan sampaikan kepada Nyonya Vanessa beberapa minggu lalu. Bahwa Wesley Group tidak akan menagih pokok selama ia terus menekan Dokter Xavier."
Ruangan itu mendadak sangat sunyi. Dari akuarium, Kavea mengibaskan sirip sekali dan gelembung kecil naik ke permukaan.
"Beliau menganggap janji itu izin," lanjut Magnus. "Dan ia mulai bergerak sendiri. Pengacara, surat, rapat keluarga. Tidak satu pun dari itu atas perintah kita."
Damian menatap lantai. Jari-jarinya mengetuk paha, lambat, hampir tidak terdengar. Api yang ia nyalakan sendiri di sebuah restoran, dengan satu kalimat murah dan sebuah janji yang ia kira bisa ia matikan kapan saja. Sekarang api itu punya kaki, dan kakinya berjalan ke arah yang tidak ia pilih.
"Aku harus memadamkannya," ucapnya, kepada dirinya sendiri lebih daripada kepada Magnus.
"Mungkin sudah terlambat untuk padam dengan satu perintah, Tuan."
"Kalau begitu aku harus memadamkannya dengan cara lain."
"Dengan cara apa, Tuan?"
"Aku belum tahu."
"Cara yang paling cepat biasanya mengatakan yang sebenarnya kepada orang yang paling dirugikan." Magnus mengucapkannya tanpa intonasi, seperti membaca prosedur evakuasi. "Itu bukan saran. Itu pengamatan."
"Sejak kapan kau mengamati hal begitu?"
"Sejak Tuan mulai tersenyum membaca ponsel."
Damian menatapnya. Magnus membalas dengan wajah kosong sempurna, dan untuk sesaat Damian curiga bahwa Jordi dan Magnus sebenarnya berguru pada sekolah yang sama.
Dari balkon terdengar dentang sendok jatuh. Magnus menoleh sedikit tanpa mengubah wajahnya.
"Tuan, ada orang ketiga di apartemen ini."
"Aku tidak dengar apa-apa!" teriak Jordi dari balik pintu kaca. "Aku sedang makan bubur! Bubur itu berisik!"
"Dia sudah menjadi bagian dari ini sejak awal," ucap Damian datar. "Satu lagi. Surat Daniel?"
"Sudah dicabut, Tuan. Pihak rektorat menerimanya dengan dua halaman keluhan administrasi."
"Bagus."
Magnus mengambil mantelnya dan berbalik ke pintu. Tangan di gagang, ia berhenti.
"Satu hal lagi, Tuan. Nona Jessica sudah kembali ke New York. Pagi ini beliau bertanya kepada staf rumah utama di mana Nona Kaeta bisa ditemui."