Zeta menolak pulang bersama mereka dengan alasan yang terlalu rapi untuk dipercaya. "Aku ada tugas kelompok," katanya sambil melambai dari kursi pengemudi mobilnya sendiri. "Banyak sekali. Berat. Tidak bisa ditunda."
"Tugas kelompok apa, Zet?" tanya Kaeta.
"Tugas yang membutuhkan aku pulang sendirian dan tidak ada yang bertanya." Zeta menurunkan kaca sampai penuh, menatap Damian lurus-lurus. "Komandan, antar dia sampai depan pintu. Kalau dia lecet seujung kuku pun, kuberi tahu Jordi bahwa kamu menangis waktu nonton film hewan."
"Aku tidak menangis waktu nonton film hewan."
"Kamu tahu aku tahu."
Mobil Zeta melesat keluar halaman markas. Dari garasi, Jordi menjulurkan kepala dengan cengiran yang terlalu lebar untuk disebut tidak mencurigakan.
"Dokter Kaeta! Bos! Hati-hati di jalan! Jangan lupa lampu merah itu artinya berhenti, bukan kesempatan!"
"Jordi," ucap Damian tanpa menoleh.
"Siap, Bos! Aku tidak bicara apa-apa!" Kepala itu lenyap, dan dari dalam garasi terdengar tawa yang diredam dengan cukup buruk.
Damian menatap lampu belakang mobil Zeta sampai hilang di tikungan, lalu membukakan pintu jip untuk Kaeta tanpa bicara.
Di dalam, mesin menyala, dan angin pendingin berembus dingin ke lengan Kaeta yang cuma berkaus tipis. Ia merogoh tas, menarik jaket dinas Damian yang terlipat di sana, dan mengenakannya dengan gerakan yang sudah terlatih. Damian melirik. Kaeta menangkap tatapannya.
"Aku mau mengembalikannya," ucap Kaeta cepat. "Sungguh. Tadi pagi aku bawa supaya tidak lupa."
"Simpan dulu."
"Kau yakin? Ini barang dinas. Mungkin ada inventarisnya."
"Ada inventarisnya." Damian memutar kemudi keluar dari halaman. "Tulisannya 'Jaket Komandan, hilang dalam tugas'. Sudah lama kucoret."
Kaeta menatap jendela supaya Damian tidak melihat senyumnya.
***
Jalan menuju rumah Quinn lengang dan basah oleh sisa gerimis. Lampu-lampu kota menyala satu per satu, memantul di aspal. Damian mengemudi dengan satu tangan, tangan lainnya bertumpu di tuas persneling, dan selama dua kilometer pertama tidak ada yang bicara.
"Tadi aku lihat kau menulis terus," ucap Kaeta, mencari topik yang aman. "Di buku kecil itu. Aku kira kau menulis daftar belanja."
Damian mengeluarkan buku saku dari kantong dadanya dan menyodorkannya tanpa melihat. Kaeta membuka halaman terakhir dan membaca tulisan tegak bersambung di bawah lampu dasbor.
Tulang dada. Bukan pinggang. Bukan mengajak berdansa.
Di bawahnya ada garis tebal yang digores dua kali.
"Kau mencatat itu?" Kaeta menutup buku itu cepat-cepat sebelum wajahnya terbaca. "Itu bukan materi. Itu komentar."
"Itu satu-satunya bagian yang kuingat tanpa membaca."
"Kau murid yang buruk."
"Aku murid yang jujur."
Kaeta mengembalikan buku itu dengan gerakan terlalu hati-hati, seolah benda itu mudah pecah.
"Tadi," ucap Damian akhirnya. "Tiga detik itu."
Kaeta menegakkan duduknya sedikit. "Apa?"
"Waktu aku roboh. Kau berhenti."
"Oh, itu." Kaeta mengibaskan tangan dengan gaya orang yang membicarakan cuaca. "Itu sengaja. Aku menguji refleks regu. Hasilnya: Jordi lulus dengan nilai C minus, dua petugas berhasil menemukan nadi, dan Petugas Tua berhak mendapat piagam karena mengusulkan nomor darurat."
"Kaeta."
"Dan aku sukses mengajarkan kompresi dada ke Rudolf. Dia mungkin trauma, tapi dia kuat."
"Kaeta."
"Ya, Komandan?"
Damian menurunkan kecepatan di lampu merah. Ia menoleh. Cahaya merah dari lampu jalan jatuh di separuh wajahnya, dan ia tidak menatapnya seperti saat ia membentak, atau seperti saat ia dingin. Hanya menatap, dengan mata yang jujur.
"Aku tidak akan memaksamu bercerita," katanya. "Kalau ada sesuatu di balik itu, kau boleh menyimpannya selama kau perlu. Aku cuma mau kau tahu aku melihatnya."
Kaeta membuka mulut, hendak mengeluarkan satu lelucon lagi. Lelucon itu sudah ada di ujung lidah, lengkap dengan nada dan jedanya. Tetapi tatapan itu membuat lidahnya berhenti.
"Aku baik-baik saja," ucapnya pelan.
"Aku tahu kau akan bilang begitu."
"Lalu kenapa kau bilang?"
"Supaya kau tahu pintunya tidak aku kunci."
Kaeta menggigit bibir dalam. Ada banyak sekali kalimat yang tidak bisa ia keluarkan, dan hampir semuanya menggumpal di dada seperti benang kusut. Ia menatap lampu merah yang belum berubah.
"Kau bilang janji soal kejujuran itu dua arah," ucap Damian. "Aku juga ikut menjaganya. Kalau kau belum bisa bilang, aku menunggu. Bukan menuntut."
"Itu... lumayan bagus untuk orang yang dulu menepis rantang."
"Aku sedang latihan."
"Lumayan." Kaeta mengangkat dagu. "Nilainya tidak kunaikkan lagi. Aku tidak suka kau benar."
Lampu berganti hijau. Jip kembali melaju, dan hening yang menyusul tidak lagi sekaku tadi. Kaeta meletakkan tangannya di atas pahanya sendiri, di dekat tuas persneling, jari-jari saling meremas.
Damian melirik tangan itu sekali. Dua kali. Lalu ia berdeham.
"Kaeta."
"Hm?"
"Boleh aku menggenggam tanganmu?"
Pertanyaan itu lahir dengan suara yang rendah dan hampir ragu, dan Kaeta tidak sengaja menahan napas. Kemarin-kemarin Damian menarik tangannya begitu saja, di parkiran, di depan kantor, tanpa bertanya. Hari ini ia menunggu dengan jari terbuka di atas tuas persneling, telapak menghadap ke atas, seperti seseorang yang meletakkan sesuatu yang rapuh di atas meja dan membiarkan orang lain memutuskan.
Kaeta menatap telapak tangan itu. Lalu, tanpa bicara, ia meletakkan tangannya di atasnya.
Jari Damian menutup pelan. Hangat, dan sedikit lebih gemetar dari yang pernah dibayangkan Kaeta pada seorang komandan pemadam kebakaran.
"Boleh," bisiknya terlambat.
"Aku sudah lihat tadi," sahut Damian, sudut bibirnya naik sedikit. "Kamu menjawab dengan tangan."
"Aku masih harus menjawab dengan kata. Itu aturan ketat."
"Catat saja jawabannya sebagai 'tersirat'."
Mereka tidak bicara lagi sampai gerbang rumah Quinn terlihat di ujung jalan. Tidak ada yang diucapkan, dan tidak ada yang kurang.
Jip berhenti di depan gerbang. Damian mematikan mesin, tetapi tangan mereka belum terlepas. Kaeta baru hendak membuka mulut untuk mengucapkan selamat malam ketika ia melihat siluet seorang pria jangkung berdiri di balik pagar besi, bersandar di tiang lampu, kedua tangan terlipat di dada.
"Itu Daddy," bisiknya.
Xavier menatap kaca depan jip. Tatapannya turun, tanpa tergesa, ke tangan yang bertaut di atas tuas persneling. Ia memandang tangan itu selama satu detik penuh, dan ekspresinya tidak berubah sama sekali.
Damian tidak menarik tangannya secara mendadak. Ia menunggu sampai Kaeta yang melepaskannya lebih dulu, lalu turun dan membukakan pintu untuknya.
"Selamat malam, Dokter Xavier," sapa Damian.
"Tuan Damian." Xavier membuka gerbang. Suaranya halus, tetapi tidak ada senyum di sana. "Terima kasih sudah mengantar putri saya."
"Sama-sama."
"Boleh saya minta waktu Anda sebentar?" Xavier melirik Kaeta. "Princess, masuk dulu. Daddy tidak lama."
Kaeta masuk ke halaman dengan langkah yang sengaja lambat, lalu berhenti tiga meter dari pintu dan pura-pura mengikat tali sepatu. Dari sana ia menangkap potongan kalimat.
"Selasa depan," kata Xavier. "Pukul sepuluh pagi, di ruangan saya, rumah sakit. Ada beberapa hal yang perlu kita bicarakan, Tuan Damian."
Jeda satu detik.
"Saya akan datang," jawab Damian.