Dalam perjalanan ke markas, Zeta menyetir sambil mengunyah permen karet dengan agresif, sementara Kaeta di kursi penumpang membaca catatannya keras-keras seperti sedang menghafal mantra.
"Cek respons, panggil bantuan, ambil AED, kompresi tiga puluh, napas dua. Kompresi tiga puluh, napas dua."
"Kae, kamu sudah hafal itu sejak semester lalu. Kamu bisa menyebutkannya sambil tidur, sambil makan, sambil dikejar anjing."
"Aku mau memastikan."
"Kamu mahasiswi yang paling hafal teks jantung se-fakultas. Profesor Sterling sendiri bilang begitu waktu kuis." Zeta melirik sekilas. "Kenapa gugup?"
"Aku tidak gugup." Kaeta melipat catatannya dan memasukkannya ke tas. "Aku bersemangat. Beda."
"Beda apa?"
"Bersemangat itu menyenangkan. Gugup itu tidak."
Zeta mendengus, tetapi tidak mendesak. Ia menyetir sisa jalan tanpa bicara, dan Kaeta menatap jendela dengan jari-jari yang entah kenapa mengetuk lututnya sendiri, ritmis, seperti seseorang yang sedang meniru kebiasaan orang lain.
***
Rudolf dipindahkan ke pinggir lapangan dan diberi selimut, atas permintaan Zeta yang menganggap manekin berhak atas martabat. Di tengah lingkaran kursi plastik sudah ada selembar matras biru, dan di atas matras itu belum ada apa-apa.
"Dengar baik-baik," kata Kaeta di depan dua puluh orang berseragam yang duduk lebih tegak dari sesi pertama. Rambutnya dikuncir dan matanya cerah, seolah hari ini ia tidak punya satu pun alasan untuk gugup. "Hari ini skenarionya henti jantung. Salah satu dari kalian akan rebah mendadak, tanpa tanda. Tugas kalian bukan menebak apakah itu pura-pura. Tugas kalian bertindak."
"Siapa yang rebah?" tanya petugas muda di barisan belakang.
"Itu bagian kejutan." Kaeta tersenyum miring. "Komandan sudah setuju jadi korban. Beliau akan roboh kapan saja dalam sepuluh menit ke depan. Saya tidak akan memberi tahu kapan, dan beliau juga tidak."
"Aku ikut gugup," gumam Jordi.
"Kamu harus," sahut Zeta, mondar-mandir dengan peluit. "Kalau Komandan roboh dan kamu cuma bengong, besok aku menulis di buletin markas."
Latihan pun berjalan. Kaeta menjelaskan urutan, dan semua orang menyimak: cek respons, panggil bantuan, cari AED, mulai kompresi. Ia bicara cepat dan jelas, dengan tangan yang menunjuk dan menjelaskan, dan Damian di sisi lain lingkaran mendengarkan seperti murid yang sungguh-sungguh, lengkap dengan buku catatan kecil yang ia tulisi dengan huruf tegak bersambung. Beberapa kali Kaeta tertawa karena candaan petugas tua. Beberapa kali ia melirik Damian dan cepat-cepat berpaling.
Delapan menit berlalu.
"Jadi urutannya..." Kaeta mengangkat satu jari. "Pertama, pastikan tempat aman. Kedua..."
Bruk.
Damian rebah ke samping tanpa suara, bahunya menghantam matras, kepalanya terkulai. Satu lengannya jatuh terbuka. Dadanya diam.
Lapangan hening sekejap. Seorang petugas tertegun setengah berdiri. Jordi sudah membuka mulut untuk berteriak, dan Zeta sudah meniup peluit.
Tetapi Kaeta tidak bergerak.
Ia berdiri dengan jari yang masih terangkat. Wajahnya, yang tadi bercahaya, berubah putih seperti kertas. Matanya terbuka lebar, tidak berkedip, menatap sosok yang tergeletak di matras. Dunia di sekitarnya mengecil, sampai hanya ada dirinya dan tubuh yang tidak bergerak itu. Telinganya berdengung seperti ada pintu yang dibanting di dalam kepalanya. Tangan yang tadi hangat mendadak dingin dan tidak mau menurut.
Satu detik.
Dua detik.
Dari matras, kelopak mata Damian terbuka sedikit, hanya segaris. Ia melihat wajah itu, dan di sana tidak ada sedikit pun kegugupan seorang instruktur yang terkejut. Yang ia lihat adalah kekosongan. Rahangnya mengeras di balik kepura-puraannya, tetapi ia tidak bergerak. Ia tidak menegur. Ia hanya menutup mata kembali.
Tiga detik.
"Ya ampun!" Zeta melesat maju, melambaikan kedua tangan di udara dan berteriak lebih keras dari yang diperlukan. "Ini dia, para hadirin! Pelajaran kedua! Instruktur juga manusia, dan kadang instruktur bengong! Yang kalian lakukan kalau instrukturmu bengong? Kalian tetap bergerak! Jordi! Telepon!"
"Aku? Telepon siapa?"
"Nomor darurat, Om Jor!"
"Oh, benar!" Jordi merogoh saku dan mengangkat ponsel, bahkan menempelkannya ke telinga. "Halo? Ya, korban laki-laki, tidak sadar, tidak bernapas, lokasi markas damkar... lho, kita sendiri damkarnya?"
Sebagian regu tertawa. Sebagian lain sudah bergerak, dua orang berlutut di sisi Damian dan memeriksa nadi di lehernya. Dengan begitu perhatian orang beralih, dan di tengah keributan kecil itu Zeta menyelinap ke samping Kaeta, menggenggam pergelangan tangannya yang beku.
"Kae," bisiknya. Suaranya jauh lebih pelan daripada suara peluitnya. "Kae. Aku di sini. Napas."
Kaeta mengedip. Sekali, lalu dua kali. Udara masuk ke paru-parunya seperti seseorang yang baru muncul dari dalam air.
"Aku... baterainya habis," katanya serak. "Cuma sebentar."
"Aku tahu." Zeta meremas tangannya sekali. "Tak apa. Kamu mau lanjut, atau mau kutemani minum dulu?"
"Lanjut." Kaeta menegakkan punggung. Suara dan wajahnya perlahan kembali, meski ujung jarinya masih dingin. "Terima kasih, Zet."
Ia melangkah ke tengah. Setengah regu sudah mengerumuni Damian, dan beberapa orang melirik ke arahnya dengan tatapan bertanya yang sopan. Kaeta mengangkat tangan, dan lapangan mendengarkan.
"Semuanya, mundur. Cukup. Terima kasih sudah bergerak." Suaranya mantap sekarang, jauh lebih mantap dari yang ia rasakan. "Tadi itu pelajaran tambahan dari saya, dan jelas gagal sebagai pelajaran, jadi mari kita ulang dengan benar. Komandan, silakan bangun. Rudolf, naik panggung."
Damian bangkit tanpa komentar, mengibaskan debu dari kaus. Rudolf diseret ke atas matras. Kaeta berlutut di sampingnya, menepuk bahu manekin dengan keras. "Pak! Bapak dengar saya?" Ia menunggu dua detik. "Tidak ada respons. Saya minta tolong panggilkan bantuan dan ambilkan AED."
"Panggil 911!" seru petugas tua, dan beberapa orang berseru sama.
"Betul." Kaeta tidak berhenti. "Sekarang tempatkan tumit tangan di tengah dada. Tangan satu lagi di atasnya. Lengan lurus. Tekan lima sentimeter. Hitung bersama saya."
Ia menekan. Satu, dua, tiga. Suaranya sedikit bergetar di angka sepuluh, lalu menguat, dan pada angka dua puluh, regu mulai menghitung bersamanya dengan irama yang pas. Ketika ia melepas tangan dan menoleh, dua puluh pasang mata menatapnya dengan wajah yang berubah. Tidak ada lagi tatapan curiga yang polos.
Seorang petugas bertepuk tangan. Lalu yang lain. Dalam sekejap, halaman belakang markas dipenuhi tepukan dan siulan.
"Bagus, Dokter Kaeta!" seru Jordi.
"Dokter Kaeta!" ulang yang lain, setengah bercanda, setengah sungguh-sungguh.
"Saya bukan dokter," Kaeta menegaskan, tersenyum tipis. "Saya Pelatih."
"Dokter Kaeta!" ulang mereka lagi, dan tidak ada yang mau mengalah.
Damian tidak ikut berseru. Ia berdiri di pinggir lingkaran, kedua tangan di saku, mengamati Kaeta dari jauh. Ia tidak tersenyum. Matanya mengikuti punggung gadis itu, jemari gadis itu yang berusaha tidak gemetar, dan tarikan napasnya yang terlalu teratur untuk wajar. Ia mencatat semuanya dalam kepalanya, satu per satu, seperti catatan insiden. Tiga detik. Wajah putih. Mata kosong. Ia tidak bertanya.
Setengah jam kemudian regu bubar, sepatu bot berdentum menjauh ke arah garasi. Kaeta mengemasi selang dan matras sendirian dengan gerakan terlalu cepat. Wajahnya sudah kembali berwarna, tetapi pucat yang tersisa di bawah matanya tidak mau pergi.
Damian berhenti di sampingnya.
"Aku antar kamu pulang," ucapnya.