Ruangan Jordi lebih mirip gudang yang kebetulan punya meja. Ada helm bekas bertumpuk di rak, poster keselamatan yang separuh sobek, dan sebuah ayam karet tergantung di lampu yang entah apa gunanya. Jordi menarik laci terbawah, mengeluarkan map merah, dan meletakkannya di depan Kaeta seperti hakim menjatuhkan palu.
"Laporan palsu nomor 911," ucapnya. "Pos security rumah Quinn. Masih ada di berkas dinas markas ini, Nona."
Kaeta menatap map itu. Bagian atasnya bertuliskan tinta hitam yang rapi: LAPORAN KEBAKARAN, DIDUGA DISENGAJA. "Bukannya Damian sudah melupakan kasusnya?"
"Komandan memang melupakan kasus pidananya. Tapi berkas dinas tidak punya kata 'lupa'. Tiap audit tahunan, inspektur dari pusat akan membuka lemari ini, menemukan map merah, dan bertanya siapa gadis yang membakar pos security demi memanggil damkar." Jordi mengangkat bahu penuh simpati. "Aku tidak bilang ini akan jadi masalah. Aku bilang ini akan jadi pertanyaan."
"Bisa dihapus?"
"Tidak bisa dihapus. Bisa ditutup, dengan catatan pembinaan."
"Pembinaan seperti apa?"
"Apa saja yang berguna bagi masyarakat. Biasanya orang membersihkan taman." Jordi menatapnya dengan alis naik. "Aku tidak akan menyuruh Nona menyapu taman."
Kaeta menggigit bibir bawah, berpikir. Matanya jatuh pada poster separuh sobek di dinding: gambar telapak tangan di dada dan tulisan SELAMATKAN SATU NYAWA.
"Aku punya sertifikat pelatih pertolongan pertama dari palang merah kampus," katanya perlahan. "Bukan sertifikat dokter. Aku tidak mengaku jadi dokter lagi, ya, sebelum ada yang salah paham. Tapi aku boleh mengajar kompresi dada, tersedak, perban."
Jordi menegakkan badan. "Maksud Nona..."
"Dua puluh jam. Aku mengajar satu regu. Gratis, sebagai penebusan."
"Tidak perlu."
Suara itu datang dari pintu. Damian berdiri di sana dengan tangan di saku, entah sudah berapa lama.
"Perlu," bantah Kaeta tanpa menoleh. "Aku membakar pos security. Aku yang membuat satu regu pemadam datang dengan sirene hanya karena aku bosan. Ini bukan soal kau memaafkan aku. Ini soal aku."
Damian menatapnya lama. Ia kelihatan ingin membantah, tetapi sesuatu di wajah Kaeta membuatnya mengurungkan niat. "Kapan?"
"Besok. Pukul empat. Setelah kuliah, sebelum apel sore." Kaeta mengangkat satu jari. "Satu syarat. Kau wajib hadir sebagai murid."
"Aku komandan."
"Komandan juga manusia yang bisa tersedak, Damian."
Di belakang Kaeta, Jordi menutup mulutnya dengan map merah supaya tawanya tidak terdengar. Damian memelototinya, lalu menghela napas pendek.
"Besok pukul empat," ucapnya.
***
Esok harinya, tepat pukul empat, bagian belakang halaman markas dipenuhi dua puluh kursi plastik yang disusun setengah lingkaran. Seluruh regu duduk di sana dengan wajah penuh curiga, seperti murid yang baru tahu gurunya adalah teman main adiknya.
Di tengah lingkaran, terbaring seorang manekin pria berwarna kuning gading dengan satu mata lebih rendah dari yang lain.
"Kenalkan," kata Zeta, berdiri dengan peluit di leher dan papan tulis kecil di tangan, "namanya Rudolf. Dia akan menderita demi kalian semua. Mohon hormati pengorbanannya."
"Siapa yang menamainya?" tanya salah satu petugas.
"Dokter Xavier," sahut Zeta. "Katanya wajahnya mengingatkan dia pada seseorang di rapat direksi."
Dari gerbang masuk markas, Xavier memang sedang berjalan membawa tas peralatan di satu tangan dan tangan lainnya menenteng manekin kedua. Ia berhenti di depan Damian, yang berdiri paling dekat dengan gerbang. Hening sekejap, panjang dan dingin.
"Tuan Damian," sapa Xavier.
"Dokter."
"Manekinnya saya pinjamkan." Xavier menyerahkan boneka kedua itu ke tangan Damian tanpa mengalihkan tatapan. "Putri saya tidak."
Damian mengangguk sekali. "Saya mengerti."
"Bagus. Kembalikan Rudolf utuh. Dua matanya sudah cukup bermasalah."
Xavier menepuk bahu Kaeta sebentar, memberinya isyarat bangga yang disamarkan sebagai kerutan dahi, lalu pergi ke mobilnya. Kaeta menahan senyum. Dari seluruh kalimat dingin di dunia, ayahnya baru saja memilih yang paling kocak.
"Baik, semuanya!" Kaeta bertepuk tangan dua kali dan melangkah ke tengah lingkaran, memakai kaus lengan panjang dan rambut dikuncir ketat. Dalam sekejap, gadis yang biasa membanting pintu mobil itu lenyap, digantikan seseorang yang suaranya tenang dan jelas. "Hari ini kita mulai dari tersedak. Orang tersedak biasanya tidak bisa bicara. Tanda universalnya: tangan memegang leher. Siapa yang bisa memperagakan?"
Tidak ada yang bergerak.
"Aku!" Jordi mengangkat tangan setinggi-tingginya. "Aku siap jadi korban. Ini panggilan hidupku."
"Silakan maju, Petugas Jordi."
Jordi berdiri, memegang lehernya dengan kedua tangan, dan langsung roboh dramatis ke arah rumput sambil mengeluarkan suara seperti angsa yang diinjak. "Ugh! Hhh! Sampaikan salam... pada ibuku!"
"Dia belum tersedak sungguhan," bisik petugas tua di barisan depan. "Dia baru menyanyi."
"Petugas Jordi," ucap Kaeta datar. "Tersedak sungguhan tidak mengeluarkan suara. Itu justru tandanya."
"Oh." Jordi menatap udara. "Jadi aku harus diam saja?"
"Dan terlihat panik dalam diam."
Jordi mengangguk dan menegakkan badannya. Ia memegang leher, matanya melebar, mulutnya terbuka tanpa suara. Ajaibnya, itu justru kelihatan jauh lebih meyakinkan, dan beberapa petugas spontan memajukan badan.
"Bagus. Sekarang Zeta, asisten, berdiri di belakangnya."
Zeta menyelipkan peluit ke mulut dan berlari ke belakang Jordi. "Lingkarkan lengan di perut. Kepalan tangan di bawah tulang dada. Tarik ke atas dan ke dalam." Ia membaca dari papan tulis. "Tapi tidak sekeras itu, ya."
Terlambat. Zeta menarik dengan penuh semangat dan Jordi terangkat setengah meter dari tanah, dengan wajah kaget yang kali ini tidak dibuat-buat.
"Aduh! Zeta! Pelan-pelan!"
"Katanya ke atas dan ke dalam!"
"Bukan ke atas dan ke dalam sampai ke atap!"
Seluruh regu tertawa, dan di barisan paling belakang, Damian menutup mulut dengan kepalan tangan, bahunya bergetar. Kaeta melihatnya dari sudut mata dan hatinya melonjak seperti ikan yang baru dilepas ke kolam.
"Baik, lupakan soal atap." Kaeta menarik napas, menahan tawa dengan susah payah. "Setiap orang pasangan. Satu korban, satu penolong. Pelan, terukur, ingat tekniknya. Komandan, silakan berpasangan dengan Rudolf."
"Dengan manekin?"
"Murid nomor satu mendapat pasangan paling sabar."
Damian mengangkat Rudolf dengan serius, seperti membawa jenazah pahlawan, dan seluruh regu tertawa lagi.
Ia melingkarkan lengan ke perut manekin itu dengan postur yang rapi, tapi kepalan tangannya terlalu rendah. Kaeta berhenti di sampingnya dan menunggu sampai Damian menoleh.
"Boleh aku betulkan posisi tanganmu?"
"Silakan."
Kaeta menyentuh punggung tangan Damian hanya dengan ujung jari dan menggesernya dua senti ke atas. Telapak tangan itu hangat, dan butuh usaha lebih besar dari yang diperkirakan untuk menarik jarinya kembali dengan wajah profesional.
"Di sini," ucapnya, suaranya sedikit lebih tinggi dari biasa. "Bawah tulang dada. Bukan di pinggang. Kalau di pinggang, itu bukan pertolongan pertama, itu mengajak berdansa."
"Mengerti, Dokter."
"Aku bukan dokter. Panggil aku Pelatih."
"Mengerti, Pelatih."
Kaeta berdeham dan berjalan cepat ke pasangan berikutnya sebelum ada yang melihat pipinya.
Saat latihan bubar, matahari sudah condong ke barat. Kaeta mengemasi peralatan, dan Damian mendekat dengan Rudolf di bahu.
"Sesi kedua," katanya. "Kamis sore. Kau rencanakan apa?"
"Henti jantung. Kompresi dada." Senyum Kaeta terlambat setengah ketukan, dan ia tidak menyadarinya. "Aku butuh pasien yang tumbang."
"Aku jadi pasiennya."
Kaeta berhenti menggulung selang. "Kau?"
"Murid nomor satu juga harus ikut tumbang," jawab Damian datar. "Kalau komandan tidak berani jadi pasien, regu tidak akan berani jadi penolong."