Daniel menunggunya di bangku batu depan gedung anatomi, dengan jaket kulit hitam yang sama, rambut berantakan yang sama, dan wajah yang jelas tidak sama. Tidak ada gombalan garing di sana. Tidak ada cengiran. Hanya sebuah map cokelat di pangkuannya yang ia pegang seolah itu bom waktu.
"Kae." Ia berdiri begitu melihat Kaeta. "Syukurlah. Aku hampir mengirim pesan kedua."
"Aku baca pesan pertama jam setengah satu pagi dan menatap langit-langit sampai subuh," jawab Kaeta, menjatuhkan tasnya ke bangku. "Kalau ini ternyata soal utang pulsa, aku akan memakai stetoskop Daddy untuk mencekikmu."
"Bukan utang pulsa." Daniel menyerahkan map itu. "Buka."
Kaeta membuka. Kertas bermaterai, kop universitas, dan satu paragraf panjang yang matanya tangkap hanya sepotong: program pertukaran pelajar, Jerman, keberangkatan dua minggu lagi, atas nama Daniel.
"Jerman." Kaeta mengangkat wajah. "Kamu mau ke Jerman?"
"Aku tidak mau. Paman yang mau." Daniel memaksakan senyum miring. "Rencana ini sudah kudengar dari geng sejak lama, Kae. Aku tahu Paman menyuruh Magnus mengurus pemindahanku. Aku menahannya berminggu-minggu. Aku pura-pura lupa tanda tangan formulir, pura-pura hilang paspor, pernah juga pura-pura sakit sampai Reyhan membawakan bubur ke kamarku."
"Reyhan membawakan bubur?"
"Setengah mangkuk. Sisanya dia makan sendiri di jalan." Daniel mengangkat bahu. "Tapi Magnus itu manusia mesin. Dia datang ke rektorat tiap hari, dan akhir pekan ini semua berkasnya lengkap. Suratnya terbit, Kae."
Dari balik pilar, tiga kepala muncul berjajar seperti anak SD yang ketahuan menguping: Nico, Reyhan, dan Jordan.
"Kami sudah bilang jangan dikasih tahu dulu," bisik Nico, tidak berhasil sama sekali.
"Aku cuma bilang jangan dikasih tahu pelan-pelan," bela Reyhan.
"Itu sama saja, Rey."
"Beda. Yang satu pakai kata 'pelan'."
Daniel memijat pangkal hidungnya. "Kalian bertiga bisa pergi. Sekarang. Sebelum aku menyuruh Kaeta mendiagnosis kalian."
Mereka bubar dalam sekejap, hanya Reyhan yang berbalik dua kali karena yakin ia belum selesai membela diri.
Kaeta memandangi kertas itu. Dalam kepalanya bergerak banyak hal sekaligus: tawa Daniel di bukit, bekal yang ia habiskan sampai bersih, gombalan jelek yang entah kenapa selalu membuat pagi terasa tidak sesepi seharusnya.
"Kamu tidak boleh pergi," ucapnya.
"Wah. Tuan Putri takut kehilangan pengawalnya."
"Aku takut kehilangan satu-satunya orang di kampus ini yang gombalannya lebih jelek dari gombalanku."
Daniel tertawa pendek, lalu cepat-cepat menutupinya dengan batuk. "Aku tidak minta kamu melakukan apa-apa. Aku cuma tidak mau kamu mendengarnya dari orang lain. Itu saja."
"Kamu bilang kita harus bicara. Berarti kita belum selesai bicara."
Kaeta menutup map itu, menyelipkannya ke dalam tasnya, dan menarik napas panjang seperti orang yang bersiap menyelam.
"Mau ke mana?" Daniel menegakkan punggung. "Kae, jangan..."
"Aku mau menagih janji."
***
Markas damkar siang itu sepi dari sirene. Kaeta melewati halaman tanpa ketuk-ketuk, melintasi lorong yang hari Kamis lalu ia lewati sambil menangis, dan mendorong pintu kantor Damian dengan bahu.
Damian berdiri di depan peta wilayah. Ia menoleh dengan alis terangkat. "Kaeta. Aku tidak tahu kau akan datang."
"Aku juga tidak tahu sampai Daniel menyerahkan ini." Kaeta mengeluarkan map itu dan meletakkannya di meja dengan bunyi plak. "Surat pertukaran pelajar. Jerman. Dua minggu lagi."
Damian melirik map itu tanpa menyentuhnya. Rahangnya bergerak sedikit. "Itu urusan keluarga Wesley."
"Ah. Jadi sekarang kita sudah punya definisi 'urusan keluarga'." Kaeta bersedekap. "Kemarin malam kau bilang kalau ada sesuatu yang menyangkut aku, aku akan tahu. Dan aku menepati bagianku. Aku bahkan meneleponmu tengah malam untuk cerita soal Tante Vanessa."
"Itu menyangkut utang keluargamu. Daniel menyangkut keponakanku."
"Daniel temanku. Sahabatku, kalau mau jujur. Dia orang yang membawaku ke bukit dan mengantarku pulang waktu aku menangis semalaman gara-gara wanita di apartemenmu." Kaeta menuding dengan telunjuk. "Kalau sahabatku diusir ke benua lain, itu menyangkut aku. Hitungan sederhana, Komandan. Kau tidak perlu kuliah kedokteran."
"Bukan begitu isi janjinya."
"Janjinya bilang 'menyangkut aku'. Aku tidak menulis 'khusus kerabat sedarah'."
Damian terdiam. Ia menatap Kaeta, lalu map itu, lalu langit-langit, seperti mencari pasal yang bisa menyelamatkannya. Jari-jarinya mengetuk meja, ritmis. Tuk. Tuk. Tuk.
"Kenapa kau memindahkan Daniel?" tanya Kaeta lebih pelan. "Jawab yang benar. Bukan yang di rapat keluarga."
Rahang Damian mengeras lagi, lalu mengendur. Ia menarik napas sekali, dalam.
"Karena aku cemburu," akunya. "Alasan resminya ia kuliah asal-asalan, tapi alasan yang sebenarnya cemburu. Dan itu bukan alasan yang bisa kupertahankan di depanmu."
Kaeta mengedip. Ia datang dengan sepuluh kalimat marah yang sudah disusun rapi di jalan, dan baru saja kehilangan sembilan di antaranya. "Itu... jawaban yang sangat jelek."
"Aku tahu."
"Cemburu pada Daniel? Daniel yang membawakan kopi ke kelas dan memuji sepatuku dengan puisi tentang tali sepatu?"
"Daniel menyatakan perasaannya padamu di bukit. Aku mendengarnya dari Jordi, dan Jordi mendengarnya dari Reyhan." Damian menatap meja. "Tidak ada satu pun cara menyebutnya yang membuatku kelihatan lebih baik."
"Tapi jujur," ujar Kaeta, kali ini pelan, hampir seperti bisikan.
"Aku sedang berusaha." Damian meraih gagang telepon di mejanya. "Magnus. Ke kantorku. Sekarang."
Magnus muncul dalam hitungan menit, tinggi, kaku, jas gelap tanpa satu kerutan pun. Ia berdiri tegak dua langkah dari meja dan memandang map itu, kemudian Kaeta, dengan wajah yang sama sekali tidak bisa dibaca.
"Tuan."
"Surat pertukaran pelajar atas nama Daniel. Cabut. Hari ini."
"Tuan sendiri yang memerintahkannya beberapa minggu lalu."
"Aku tahu apa yang kuperintahkan. Sekarang kuperintahkan sebaliknya." Damian menatapnya datar. "Batalkan semua berkasnya di rektorat. Beri tahu mereka itu kesalahan administrasi dari pihak kita."
Magnus menunduk sedikit. "Baik, Tuan." Ketika ia kembali menegakkan badan, matanya sempat bertemu mata Kaeta, dan hanya sesaat ada sesuatu yang bergerak di sana. Bukan kemarahan. Lebih mirip peringatan yang tidak punya kata-kata.
"Wah, akhirnya ada yang menghentikan robot ini," kata sebuah suara dari ambang pintu. Jordi bersandar di kusen dengan cangkir kopi, senyumnya lebar sekali. "Magnus, tolong, rekam mukamu waktu dengar 'sebaliknya'. Aku mau simpan di ponsel."
"Saya tidak butuh komentar dari orang yang tidak bisa menjaga mulutnya," sahut Magnus dingin tanpa menoleh.
"Dan aku tidak butuh komentar dari orang yang tidak punya satu pun senyum di arsip pribadinya."
"Jordi," ucap Damian.
"Aku cuma menjalankan fungsi tubuhku, Bos."
Magnus melewati Jordi di ambang pintu dengan pundak yang sengaja menyenggol cangkir kopi. Kopi bergoyang tetapi tidak tumpah. Jordi menatap cangkirnya penuh kemenangan, dan Magnus menatap lurus ke depan seolah tidak pernah ada kejadian itu.
Kaeta menahan tawa dengan telapak tangan, lalu menatap Damian yang sedang memijat kening.
"Terima kasih," ucapnya.
"Jangan terima kasih dulu." Damian tidak menatapnya. "Kita lihat dulu apa rektorat mau menerima surat pembatalan."
Dari ambang pintu, Jordi mengangkat satu jari. "Nona Kaeta, sebelum pulang, mampir ke ruanganku sebentar. Ada urusan lain yang perlu dibereskan, dan kebetulan, ini menyangkut Anda."