Xavier membuka mulut, dan Kaeta sempat melihat jawaban yang disiapkannya naik ke ujung lidah. Persis saat itu ponsel di sakunya berdering keras, bunyi yang dikenal Kaeta sejak kecil dan tidak pernah membawa kabar baik untuk makan malam keluarga mana pun. Xavier menatap layar, memejamkan mata sebentar, lalu menempelkan benda itu ke telinga.
"Xavier. Ya. Berapa lama? ... Siapkan ruangan, saya berangkat sekarang." Ia menutup sambungan dan menatap putrinya dengan wajah orang yang dipanggil dua hal sekaligus dan harus memilih satu. "Pasien kecelakaan, Princess. Harus masuk ruang operasi."
"Dad..."
"Malam ini. Daddy janji." Xavier menyentuh bahu Kaeta, cepat dan hangat, lalu setengah berlari ke pintu sambil meraih jasnya. "Daddy akan cerita semuanya malam ini. Tunggu Daddy."
Pintu menutup. Mobil menyala di luar, lalu pergi. Dan Kaeta berdiri di tengah ruang tamu yang ditinggalkan, ditemani gelas teh Vanessa yang masih penuh dan tidak tersentuh.
Hari itu berjalan lamban seperti jarum jam yang sedang merajuk. Kaeta menghabiskan sore dengan membersihkan kamar yang sudah bersih, menata ulang rak buku yang sudah rapi, dan menghitung berapa kali ia melirik jam dinding. Tujuh belas kali. Xavier baru pulang saat langit sudah gelap total, pukul sepuluh lewat, dengan bau antiseptik yang menempel di kerah kemejanya dan lingkar hitam di bawah matanya.
Kaeta sudah menunggu di dapur. Dua cangkir cokelat panas sudah diletakkan di meja, dan satu dari dua cangkir itu jelas terlalu manis, karena ia yang membuatnya.
"Princess, kau belum tidur."
"Daddy janji." Kaeta menggeser cangkir ke arahnya. "Duduk, Dad. Pasiennya bagaimana?"
"Selamat." Xavier tersenyum lelah dan duduk di kursi seberang. "Patah tulang rusuk dan cedera hati. Anak muda, kuat."
"Bagus. Sekarang giliran Daddy yang diperiksa."
Xavier menyesap cokelat itu, mengernyit, lalu menyesap lagi karena tidak mau mengecewakan putrinya. Kaeta melihat itu dan sesuatu di dalam dadanya mengendur sedikit. Ayahnya tidak pernah menolak masakannya, bahkan masakan yang jelas salah.
"Rumah sakit berutang pada Wesley Group," ucap Xavier akhirnya. Ia menatap uap yang naik dari cangkirnya, bukan menatap Kaeta. "Sudah bertahun-tahun. Setelah ibumu tiada, rumah sakit itu hampir tutup. Daddy meminjam banyak untuk menyelamatkannya. Hak kepemilikan rumah sakit dan tanah seratus lima puluh hektar itu dijaminkan. Daddy tidak pernah sanggup melunasinya, Princess. Yang sanggup Daddy bayar hanya bunganya."
"Hanya bunganya."
"Hanya bunganya. Pokoknya tidak pernah berkurang."
Kaeta mengangguk pelan. Ia sudah menyiapkan sebuah kalimat marah di kepalanya sejak siang, kalimat panjang dan penuh tanda seru. Tetapi melihat bahu ayahnya yang membungkuk di atas cangkir cokelat yang terlalu manis, kalimat itu menguap sendiri.
"Dan Tante Vanessa?"
Xavier diam sebentar. "Setelah ibumu tiada, ia pernah menyuruh Daddy menikahinya. Dengan alasan menjaga keluarga. Daddy menolak." Ia mengusap wajahnya dengan telapak tangan. "Sekarang ia memakai utang itu sebagai tuas. Ia mau Daddy menikahinya, atau ia akan mempersulit semuanya lewat keluarga Valere."
Kaeta mendengar kata menikahi itu, dan perutnya terasa seperti jatuh. Tetapi ia tetap bertanya, "Cuma itu, Dad?"
"Cuma itu." Xavier menatap putrinya sekarang. Matanya letih, tetapi tidak berkedip. "Daddy tidak mau kau memikirkan ini, Princess. Itu sebabnya Daddy diam."
"Daddy, aku bukan putri kaca."
"Daddy tahu." Xavier tersenyum kecil, pahit. "Daddy yang rapuh."
Kaeta berdiri, mengitari meja, lalu memeluk ayahnya dari belakang dengan dagu di bahunya. Bau antiseptik dan kopi basi memenuhi hidungnya. "Mulai sekarang Daddy cerita, ya? Apa pun yang menyangkut rumah ini. Kalau Daddy diam, aku jadi menebak, dan tebakanku selalu lebih buruk dari kenyataan."
"Janji."
"Janji betulan, bukan janji ala Daddy ketika aku minta adopsi kucing?"
"Janji betulan."
Kaeta mengusap rambut ayahnya sebentar. Ia tidak bertanya lebih jauh. Malam itu, utang dan bunga sudah cukup untuk dicerna, dan ayahnya sudah cukup lelah untuk satu hari.
***
Kamar Kaeta gelap kecuali lampu tidur berbentuk bulan sabit. Jam di dinding menunjuk lewat tengah malam, tetapi matanya tidak mau menutup, seolah ada seseorang di balik kelopaknya yang menekan tombol terang.
Ia duduk di tepi tempat tidur dan menarik tas kuliahnya mendekat. Di bagian dalam, ada saku kecil dengan ritsleting macet yang tidak pernah ia buka di depan siapa pun. Dari sana ia mengeluarkan sebuah stetoskop mungil dengan diafragma perak yang sudah pudar dan selang karet yang mulai retak di ujung-ujungnya.
Stetoskop ibunya.
Bukan yang ia curi dari meja Xavier. Bukan yang ia bawa ke apartemen Damian tengah malam. Yang ini selalu tinggal di saku itu, tidak pernah ia pakai untuk bermain, tidak pernah ia tunjukkan pada Zeta sekalipun. Kaeta menempelkan diafragma dinginnya ke telapak tangan, menahannya di sana sampai logam itu menghangat.
Ia tidak sanggup tidur. Dan ia sudah berjanji.
Jarinya membuka kontak. Nama itu ada di urutan kedua, setelah Daddy. Kaeta menekan tombol panggil sebelum sempat mengubah pikiran.
Nada sambung berbunyi dua kali. "Kaeta."
"Kau belum tidur."
"Aku baru pulang jaga." Suara Damian rendah, serak, dan terdengar sedikit waspada. "Ada apa? Kau baik-baik saja?"
"Aku menepati janji." Kaeta memeluk lutut. "Kalau ada yang menyangkut aku, aku cerita. Dan kau juga. Itu syaratnya, kan? Dua arah."
Hening sebentar di seberang. "Cerita."
Kaeta menceritakannya. Kedatangan Vanessa dan kalimat-kalimat manisnya yang berbisa, jawaban Xavier, utang, bunga, jaminan tanah, dan tuas pernikahan. Ia bercerita dengan suara datar, nyaris seperti membacakan hasil laboratorium, kecuali di bagian ayahnya yang minum cokelat terlalu manis. Bagian itu suaranya sedikit pecah.
Damian mendengarkan tanpa menyela. Ketika Kaeta selesai, napasnya terdengar panjang di telinga.
"Aku tahu soal utang itu," katanya. "Kemarin di kolam, aku seharusnya sudah bilang."
"Iya. Seharusnya."
"Maaf."
"Diterima." Kaeta mengusap hidungnya. "Setidaknya sekarang kau mendengarnya dariku, jadi kita imbang."
Ada kalimat lain yang naik ke tenggorokan Damian dan tertahan di sana. Kaeta tidak bisa melihatnya lewat telepon. Yang sampai ke telinganya hanya jeda yang terlalu panjang dan suara jari mengetuk sesuatu yang keras.
"Berapa jumlahnya?" tanya Damian akhirnya. "Aku bisa..."
"Tidak."
"Kae."
"Ini keluargaku, Damian." Suara Kaeta lembut tetapi tidak bisa ditawar. "Terima kasih sudah menawarkan. Tapi kau bukan orang yang kupanggil untuk membayar utang. Aku memanggilmu hanya supaya ada orang yang tahu."
Hening lagi. Kali ini lebih singkat.
"Baik," kata Damian. "Aku ada kalau kau butuh. Bukan sebagai penyelamat. Sebagai orang yang tahu."
Dada Kaeta menghangat di tempat yang tidak ia duga. "Satu lagi," tambah Kaeta cepat, sebelum keberaniannya habis. "Terima kasih sudah mau mendengar tanpa menyuruhku tenang. Semua orang selalu menyuruhku tenang."
"Kau tidak kelihatan seperti orang yang bisa disuruh tenang."
"Itu fakta medis atau penghinaan?"
"Diagnosis." Ada senyum di suara Damian, tipis dan lelah. "Selamat tidur, Dokter Kaeta."
"Selamat tidur, Komandan."
Panggilan berakhir. Kaeta menatap layar yang meredup, menyunggingkan senyum kecil yang bodoh, lalu menjatuhkan diri ke bantal dengan stetoskop mungil itu di dadanya.
Ponselnya bergetar sekali. Satu pesan masuk, dari Daniel.
Kae, kita harus bicara. Penting.