Tamu yang akan datang itu, kata Xavier kemarin lewat telepon, urusan orang dewasa. Kata Kaeta, itu kalimat yang dipakai orang dewasa ketika mereka sebenarnya ketakutan.
Xavier pulang larut dari ruang operasi dan Kaeta sudah tertidur di sofa ruang keluarga dengan kotak putih berpita perak di perutnya. Pagi tadi ayahnya sudah berangkat visit pasien sebelum matahari penuh, jadi seluruh pertanyaan yang menumpuk di kepala Kaeta terpaksa ia simpan sampai siang.
Siang pun tiba. Kaeta duduk di ruang tamu dengan kaki disilangkan, menunggu bel berbunyi sambil menelepon Zeta.
"Jadi Wesley tahu Daddy-mu punya utang, tapi Daddy-mu tidak bilang apa-apa padamu," ringkas Zeta dari seberang. Terdengar bunyi keripik. Zeta selalu mengunyah saat ada gosip. "Dan sekarang ada tamu misterius."
"Dan jasku bagus."
"Jasmu bagus, tolong jangan lupakan jasmu. Tapi Kae, kalau tamunya orang jahat, kamu punya aku di nomor satu panggilan cepat."
"Kau di nomor tiga. Nomor satu Daddy, nomor dua Damian."
"Aku tersinggung."
"Tersinggunglah setelah aku selesai menghadapi tamu ini."
Bel berbunyi. Dua kali, pendek-pendek, nada orang yang yakin pintu akan dibukakan untuknya.
***
Kaeta menutup telepon, merapikan duduknya, dan menepuk-nepuk bantal sofa dengan gerakan orang yang sedang bersiap-siap menghadapi sidang. Satu maid melintas dengan nampan teh dan menatapnya cemas.
"Non, perlu saya siapkan kue?"
"Jangan, Bi. Teh saja. Siapa pun yang datang, jangan dituang terlalu penuh. Dia tidak akan lama."
Maid membuka pintu, dan masuklah wangi parfum yang mahal lebih dulu daripada pemiliknya. Wanita itu berjalan dengan sepatu hak runcing, rambut cokelat tembaga tertata sempurna, bibir merah yang jelas tidak diragukan bahwa ia akan menang apa pun yang terjadi. Kaeta mengenalinya dari foto lama di album ibunya, hanya dengan beberapa kerutan baru di sudut mata.
"Kaeta, Sayang." Vanessa melebarkan tangannya. "Aku bibimu."
Kaeta tidak berdiri. "Tante Vanessa. Selamat siang."
"Kau sudah besar sekali."
"Terima kasih, Tante. Saya memang rajin makan."
Vanessa menurunkan tangannya perlahan, senyumnya tidak bergeser sama sekali. Ia duduk di sofa seberang tanpa dipersilakan dan memandangi ruangan itu seperti penilai yang sedang menaksir barang jaminan. "Mana ayahmu?"
"Beliau pulang lima menit lagi. Sambil menunggu, saya yang menemani."
"Kudengar kau digandeng putra Wesley." Vanessa mengambil gelas teh yang baru saja diletakkan maid, membaui uapnya, lalu menaruhnya lagi tanpa meminum. "Hati-hati, Sayang. Keluarga itu terkenal pandai menghitung. Mereka tidak memberi apa pun tanpa mencatatnya."
"Tante tahu banyak soal catatan."
"Tentu. Aku tahu juga soal catatan yang belum diceritakan ayahmu." Vanessa menyandarkan punggung, dan nadanya jatuh lembut seperti sutra yang menyembunyikan jarum. "Ayahmu sangat melindungimu, ya? Betapa mulianya. Sampai-sampai ia tidak bilang sudah berapa tahun hanya sanggup membayar bunga utang rumah sakit ini."
Rumah itu mendadak sangat sunyi. Bahkan jam dinding di lorong terdengar seperti sedang menahan napas.
Kaeta merasakan sesuatu di dadanya jatuh satu lantai, tetapi wajahnya tetap rapi. Pagi kemarin ia sudah mendengar kata itu dari mulut Tuan Wesley. Untungnya, kali ini ia tidak melompat kaget, dan ia tidak akan memberi Vanessa kenikmatan itu.
"Wah," ujar Kaeta. Ia mencondongkan tubuh, menatap wajah Vanessa lekat-lekat, lalu menyipitkan mata seperti dokter yang menemukan gejala. "Tante, boleh saya perhatikan sebentar?"
"Perhatikan apa?"
"Rahang Tante. Ada ketegangan di otot masseter bagian kiri. Ini biasanya terjadi pada orang yang terlalu sering menggertakkan gigi saat berpikir, atau saat menunggu jawaban yang tidak datang-datang." Kaeta mengangguk mantap. "Dan kantung mata Tante menunjukkan kurang tidur. Saya sarankan kompres hangat, magnesium, dan berhenti mengunjungi rumah orang tanpa membawa kue."
Vanessa mengerjap. "Kau..."
"Resepnya," lanjut Kaeta lancar, "pulang. Dosis tunggal, segera. Pintu keluar ada di sebelah kiri Tante, dan kalau Tante kesulitan menemukannya, sopir kami bisa mengantar. Gratis. Saya tidak menagih."
Wajah Vanessa mengeras. Kaeta tidak membentak, tidak berdiri, tidak mengangkat suara sedikit pun, tetapi pesannya meluncur seperti jarum yang menancap pas di bantalan. Dari balik pintu kaca ruang tamu, dua maid terlihat berpura-pura mengelap debu pada satu titik yang sama.
"Kau tidak sopan," desis Vanessa. "Mulutmu tajam sekali. Persis ibumu."
Senyum Kaeta bergetar setengah detik. Hanya setengah detik, lalu kembali rapi seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
"Itu pujian terbaik yang saya dengar hari ini, Tante. Sayang datangnya dari orang yang salah." Kaeta merapikan lipatan roknya. "Dan saya sopan. Saya cuma tidak menawarkan teh. Beda."
"Kaeta."
Suara itu datang dari pintu depan. Xavier berdiri di ambang ruang tamu, masih mengenakan jas dokter di atas kemeja, dengan wajah yang sudah menua semalam. Ia melepas stetoskop dari lehernya perlahan, menggulungnya, dan memasukkannya ke saku. Tidak ada tawa di sana.
"Dad."
"Naik ke kamarmu, Princess."
"Dad, aku..."
"Tolong." Xavier tidak membentak. Dia memang tidak pernah membentak. Tetapi nada dua kata itu membuat Kaeta menelan sisa leluconnya.
Kaeta berdiri, melewati Vanessa tanpa menoleh, dan naik beberapa anak tangga. Ia berhenti di tikungan, tempat bayangan pegangan tangga cukup besar untuk menyembunyikan seorang gadis yang sedang menguping. Pelan, ia duduk di anak tangga.
Tuan Wesley bilang jaminan. Tante Vanessa bilang bunga. Dua orang berbeda, satu kata yang sama, dan satu ayah yang selama ini tidak pernah menyebutnya sekali pun saat makan malam. Kaeta menghitungnya dengan jari di lutut. Hasilnya tidak enak.
Dari bawah, suara Vanessa kembali naik, licin dan manis. "Dua hari yang kauminta sudah berubah jadi berminggu-minggu, Xavier. Aku datang ke sini untuk mengambil jawabanmu."
"Jawabanku sama dengan yang dulu." Suara Xavier tenang, tetapi tenang yang dingin dan sangat keras. "Aku tidak akan menikahimu. Dan aku tidak akan menyerahkan Kaeta. Tidak sekarang, tidak sampai kapan pun."
"Kau tahu aku bisa menghancurkan semua yang kau pertahankan."
"Aku tahu kau akan mencoba."
"Rumah sakit itu milik keluarga Valere. Kakakku punya hak. Aku punya hak. Dan putrimu bukan satu-satunya yang boleh memutuskan nasibnya."
"Putriku bukan barang yang dilelang, Vanessa." Terdengar bunyi kursi yang bergeser. "Pintu keluar ada di sebelah kirimu."
Dari tangga, Kaeta menutup mulut dengan telapak tangan supaya tawanya tidak lolos. Ayahnya baru saja mengutip resepnya. Ingin sekali ia bersorak, tetapi ketegangan di bawah sana terlalu pekat untuk dijadikan panggung.
Suara hak sepatu mengetuk lantai marmer, cepat dan menusuk. Berhenti di ambang pintu.
"Kau akan menerima surat dari pengacaraku," ucap Vanessa dingin. "Dan percayalah, Xavier, kali ini kau tidak akan punya dua hari."
Pintu depan menutup. Mesin mobil menderu di luar, lalu menjauh, dan rumah itu kembali hening.
Kaeta menuruni tangga pelan-pelan. Xavier berdiri di tengah ruang tamu dengan satu tangan menyangga sandaran sofa, dan wajahnya putih seperti kertas fotokopi. Bibirnya tipis, matanya menatap karpet seolah angka-angka di sana menghitung dirinya.
"Daddy."
Xavier tidak menoleh.
"Daddy," ulang Kaeta, lebih pelan, dan kali ini nadanya tidak mengandung lelucon sama sekali. "Utang apa?"