Mobil hitam yang menjemput Kaeta pagi itu bersih sampai Kaeta bisa melihat wajahnya sendiri di kaca pintu, dan wajah itu kelihatan sedang menahan diri untuk tidak tersenyum seperti orang yang menang undian.
"Nona Kaeta," sapa Gans dengan membungkuk sedikit di sisi pintu mobil. Rambut putihnya tersisir rapi, sarung tangannya putih tanpa noda. "Tuan besar sudah menunggu sejak pukul tujuh."
"Sejak pukul tujuh? Ini baru jam sembilan, Tuan Gans."
"Beliau menunggu dengan sangat tekun, Nona."
"Berarti Tuan Wesley memang tidak tidur."
Gans tidak menjawab, tetapi ujung kumisnya bergerak, dan itu cukup.
Perjalanan ke rumah utama Wesley ditempuh dalam keheningan yang hanya diisi bunyi pendingin mobil dan debaran Kaeta yang tidak mau diam. Ia sudah membongkar lemari kemarin malam sampai tiga kali. Gaun biru terlalu manis, kemeja putih terlalu seperti panitia seminar, dan akhirnya ia memilih setelan krem sederhana yang membuatnya kelihatan seperti anak baik-baik. Zeta bilang itu penyamaran terbaik yang pernah ia buat.
Gerbang besi terbuka perlahan. Halaman yang sama, lorong lukisan leluhur yang sama, dan di ujung lorong berdiri seorang pria bersandar di dinding dengan tangan terlipat dan wajah murid yang dipanggil kepala sekolah.
"Kau di sini," kata Kaeta.
"Dia memanggilku jam enam," jawab Damian datar. "Katanya kalau aku tidak datang, dia akan mengirim Jessica untuk menjemputku."
"Dia kejam."
"Dia ayahku."
"Itu yang kumaksud."
Bibir Damian berkedut. Ia menatap setelan krem itu sepersekian detik terlalu lama, lalu menunduk memeriksa jam tangannya yang sama sekali tidak butuh diperiksa.
"Ayo," ucapnya. "Dia di taman belakang."
***
Taman belakang rumah Wesley punya kolam sebesar kamar tidur, dan di tepinya duduk Tuan Wesley di kursi rotan dengan tongkat bersandar di lengan, melempar remah roti ke permukaan air dengan ketenangan seorang raja yang sedang memberi makan rakyatnya.
"Ah. Anak-anakku datang." Ia mengangkat wajah, dan ubannya memantulkan cahaya pagi. "Kaeta, Nak. Duduk, duduk. Lihat dulu ini."
Kaeta mendekat ke tepi kolam. Belasan ikan koi dengan sisik putih, merah, dan emas berkumpul seperti pasukan yang menunggu perintah. Satu di antaranya sebesar betis orang dewasa dan bergerak begitu lamban dan berwibawa sehingga Kaeta spontan merasa harus memberi hormat.
"Itu Jenderal," kata Tuan Wesley bangga. "Umurnya delapan belas tahun. Lebih tua dari pegawai terbaru saya."
"Jenderal sudah punya pasangan, Tuan?"
"Jenderal tidak percaya pernikahan. Seperti anak saya." Tuan Wesley melirik Damian tajam. "Tapi semoga yang satu ini tidak setegar kepala ikan."
"Dad."
"Aku cuma berbicara soal ikan, Damian."
"Kau tidak pernah cuma berbicara soal ikan."
Kaeta menahan tawa sampai pundaknya bergetar. Tuan Wesley menepuk kursi di sampingnya. Setelah Kaeta duduk, pria tua itu memberi isyarat kecil, dan Gans melangkah maju dengan membawa sebuah kotak putih panjang yang dibungkus pita perak.
"Hadiah yang sudah saya janjikan," ucap Tuan Wesley. "Buka."
Kaeta membuka pita itu dengan jari yang entah kenapa tidak setenang biasanya. Di dalam kotak, terlipat rapi di atas kertas tipis, ada sehelai jas putih. Bahan yang halus, kerah yang tegas, dan di dada kirinya, sulaman benang biru tua yang menjadi barisan huruf.
Kaeta Calliope Quinn.
Ia terdiam. Jari-jarinya menyentuh sulaman itu pelan, huruf demi huruf, seperti memeriksa denyut nadi.
Jas dokter pertama yang pernah ia pakai milik ayahnya, dengan nama orang lain di dadanya, dan ia memakainya untuk bermain-main. Sekarang ada sehelai jas lain dengan namanya sendiri, dan tiba-tiba ia tidak yakin dirinya pantas.
"Ini bukan untuk dipakai berpura-pura," ujar Tuan Wesley, seakan membaca pikirannya. "Saya sudah dengar semua tentang jas ayahmu. Simpan ini sampai kau benar-benar berhak memakainya. Namanya sudah saya bordir lebih dulu supaya kau punya sesuatu yang harus kau kejar."
"Tuan Wesley..." Suara Kaeta hilang sesaat. Ia berdeham. "Terima kasih. Saya janji tidak akan menjadikan ini kostum Halloween."
"Dengan reputasimu, itu janji yang sangat berani."
"Tuan, saya sedang terharu. Tolong jangan mengancam."
Tuan Wesley tertawa, dalam dan lepas, sampai Gans menunduk menyembunyikan senyum. Damian yang berdiri di belakang kursi hanya menggeleng kecil. Matanya tidak lepas dari wajah Kaeta, dan tidak ada nada dingin di sana sama sekali.
"Ada satu lagi." Tuan Wesley menyerahkan amplop krem bertepi emas. "Pesta ulang tahun ke-40 Wesley Group. Tiga minggu lagi. Kau datang, bersama anak keras kepala ini, dan ayahmu juga."
"Wah." Kaeta menimang amplop itu. "Tiga minggu lagi. Saya perlu gaun, sepatu, dan strategi."
"Strategi apa?"
"Cara menghindari pertanyaan kapan saya punya anak."
"Itu pertanyaan saya!"
"Makanya saya sudah siapkan jawabannya." Kaeta menegakkan duduknya. "Tuan, saya baru mengajukan proposal ke anak Anda, dan sekarang masih tahap peninjauan. Hasilnya baru keluar setelah audit."
Damian tersedak udara. Tuan Wesley menepuk-nepuk pahanya dengan tawa yang hampir tidak bisa diredam. "Cucu! Saya mau cucu, Nak. Tiga. Dua juga boleh."
"Kita bicarakan dulu syarat dan ketentuannya."
"Gans, catat. Dia akan jadi negosiator yang hebat."
"Sudah saya catat, Tuan," jawab Gans tanpa ekspresi.
Tuan Wesley menarik napas dalam sisa tawanya, matanya sedikit berair. Ia menatap Kaeta dengan hangat, lalu seperti teringat sesuatu, ia mengibaskan tangan.
"Dan jangan tegang soal pesta, urusan uang tidak akan kau sentuh. Ayahmu sudah banyak pikiran, saya tahu. Rumah sakit peninggalan ibumu itu, bersama tanah seratus lima puluh hektarnya, sudah lama jadi jaminan utang di Wesley Group. Kami tidak akan mengungkitnya di pesta. Ayahmu sudah menceritakannya padamu, tentu."
Udara di tepi kolam berubah. Tidak banyak. Hanya cukup untuk membuat remah roti di tangan Tuan Wesley berhenti jatuh.
Kaeta tidak bergerak. "Menceritakan apa, Tuan?"
"Dad," ucap Damian. Suaranya rendah, dan rahangnya mengeras.
Tuan Wesley mengerutkan kening, menatap putranya, lalu menatap Kaeta. Ia kelihatan menyadari sesuatu yang tidak ia mengerti. "Ah. Urusan orang tua, Nak. Tanyakan saja pada Dokter Xavier."
"Tentu," jawab Kaeta, dan ia menyunggingkan senyum yang rapi dan sopan. Senyum yang biasanya menjadi pertanda masalah.
Ia melirik ke belakang. Damian sedang menatap kolam, bukan ke arahnya. Lehernya kaku, dan jari-jarinya mengetuk-ngetuk sisi celana yang tidak ia sadari. Kaeta memutuskan menyimpannya dulu. Ini urusan keluarganya, dan yang pertama harus ia tanyai adalah ayahnya sendiri, bukan pria di belakang kursi itu.
***
Di perjalanan pulang, Gans mengemudi dalam diam. Kotak putih berpita perak terpangku rapat di dada Kaeta seperti bayi yang baru lahir. Di luar kaca, pohon-pohon lewat satu per satu, dan Kaeta menghitung dalam hati: utang, jaminan, bertahun-tahun.
Ponselnya bergetar. Nama Daddy menyala di layar.
"Dad?"
"Princess." Suara Xavier terdengar terlalu hati-hati. "Kau di mana?"
"Di jalan pulang, Dad. Ada apa, suara Daddy aneh."
Ada jeda panjang di ujung sana. Dengung mesin, lalu napas yang ditarik.
"Besok siang akan ada tamu ke rumah," kata Xavier. "Tolong ada di rumah. Dan jangan buat acara apa pun."