Kaeta menunggu apel sore selesai, dan itu keputusan paling dewasa yang pernah ia buat sepanjang minggu ini. Ia tidak sejahat itu untuk mengganggu orang-orang yang tugasnya menyelamatkan nyawa, jadi ia duduk di tangga samping garasi markas dengan jaket dinas Damian membungkus bahunya, kotak bekal di pangkuan, dan Zeta di sebelahnya yang sibuk mengunyah keripik.
"Kamu yakin pakai jaket itu?" bisik Zeta. "Itu barang bukti, Kae. Kalau Jordi lihat, mulutnya langsung buka toko."
"Jaket ini diberikan padaku malam pos security terbakar, dan tidak pernah ada yang menagihnya. Secara hukum, ini sudah hak guna bangunan."
"Itu bukan jaket, itu rumah."
"Rumahku, dong."
Dari lapangan terdengar suara serak seorang petugas menutup apel. Barisan membubarkan diri, sepatu bot berdentum, dan dalam hitungan detik halaman markas dipenuhi pria berseragam yang menyeka keringat sambil melempar candaan. Beberapa dari mereka menoleh ke tangga dan langsung memelankan suara. Kemarin mereka semua melihat apa yang terjadi di lorong itu.
Damian berdiri di tengah halaman. Ia tidak memanggil siapa pun. Ia hanya diam di sana sampai satu per satu orang menyadari bahwa komandan mereka belum bergerak, lalu halaman itu perlahan hening sendiri.
"Kalau boleh, aku minta waktu kalian sebentar," ucap Damian. Suaranya datar, tetapi kali ini bukan datar yang dingin. Datar yang berhati-hati, seperti orang yang membawa gelas penuh air.
Kaeta menegakkan punggung. Zeta berhenti mengunyah.
"Kemarin aku membentak seseorang di lorong ini. Dia membawakan makanan untukku, dan aku melemparnya ke lantai." Damian menatap garasi, bukan ke arah tangga. Ia sengaja tidak menatap ke sana. "Tidak ada alasan yang membenarkan itu. Kalian semua melihatnya, dan kalian berhak mendengar langsung dari aku bahwa itu bukan cara seorang komandan memperlakukan orang."
Tidak ada yang bersuara. Seorang petugas muda di barisan belakang berdeham, lalu tampak menyesal telah berdeham.
Damian akhirnya menoleh ke tangga. "Kaeta. Aku minta maaf. Bukan karena kau menagihnya. Karena aku salah."
Hening itu bertahan tiga detik.
Lalu Jordi, yang berdiri dengan lengan terlipat di dekat truk, mengangkat tangannya seperti murid di kelas. "Bos, boleh usul? Kalimat 'aku bodoh' belum ada. Itu bagian penting dalam format permintaan maaf nasional."
"Jordi."
"Aku cuma membantu struktur."
"Kau kemarin yang membuat kekacauan ini," potong Zeta dari tangga, berdiri begitu cepat sampai keripiknya hampir tumpah. "Dan sekarang kau mau jadi juri? Yang mulutnya tidak bisa menjaga rahasia itu siapa, Om Jor?"
"Aku sudah minta maaf pada Kaeta kemarin!"
"Minta maaf pada Kaeta, bukan padaku!"
"Memangnya aku berbuat salah padamu?"
"Kau memanggilku wanita jadi-jadian!"
"Itu pujian! Kau kelihatan seperti bisa berubah jadi apa saja!"
Seorang petugas di barisan tengah menutup mulut dengan kepalan tangan untuk menahan tawa. Yang lain pura-pura memeriksa selang. Kaeta menunduk, bahunya bergetar, dan ia tidak tahu apakah itu tawa atau sisa tangis yang belum selesai.
"Cukup," ucap Damian.
Ia tidak membentak. Hanya satu kata, pelan, tetapi Jordi dan Zeta sama-sama berhenti seolah ada yang mencabut kabel mereka. Damian memijat pangkal hidungnya. "Terima kasih sudah mendengar. Bubar."
Barisan bubar. Beberapa orang melirik Kaeta dengan anggukan kecil, seperti mengucapkan sesuatu tanpa kata, dan seorang petugas tua yang memegang topi helm berbisik, "Nona, kami tetap suka rantangnya," sebelum buru-buru pergi.
Kaeta menuruni tangga dengan dagu terangkat, berhenti satu langkah di depan Damian, dan memandanginya dari atas ke bawah seperti dosen menilai tugas akhir.
"Nilainya delapan dari sepuluh," putusnya. "Dikurangi satu karena Jordi, dikurangi satu lagi karena tidak ada kalimat 'aku bodoh'."
"Aku tidak akan mengucapkan itu di depan Jordi."
"Alasan yang masuk akal. Dinaikkan jadi delapan setengah."
Mata Damian jatuh ke jaket dinas yang melingkari bahu Kaeta. Mulutnya terbuka sedikit, seolah hendak menyebut sesuatu, lalu menutup lagi. Kaeta menangkap itu dan mengangkat alis tinggi-tinggi, menantang. Damian memilih menatap langit sore.
"Ikut aku," katanya. "Ada tempat duduk yang tidak ada Jordi-nya."
***
Ruang istirahat markas berbau kopi dan semir sepatu. Kaeta menaruh kotak bekal di meja dengan bunyi tuk yang tegas, lalu membuka tutupnya seperti membuka berkas perkara.
"Nasi goreng telur," katanya. "Resep kedua. Garamnya sudah kukurangi."
Damian menatap isi kotak. Nasi kecokelatan, telur yang dikeriting pinggirannya, dan beberapa irisan mentimun yang ditata terlalu rapi untuk masakan semata. "Kurang berapa?"
"Setengah sendok."
"Dari berapa?"
"Dari tiga."
"Kae."
"Sudah, makan saja. Komandan yang mulia, lambung Anda tidak akan hancur karena garam."
Damian mengambil sendok. Suapan pertama berhenti sebentar di mulutnya. Matanya melirik gelas air di meja, lalu kembali ke nasi. Ia menelan, lalu menyendok lagi.
"Asin?" tanya Kaeta curiga.
"Tidak."
"Kau bohong. Hidungmu mengerut."
"Hidungku tidak pernah mengerut."
"Tadi mengerut. Dua kali."
Damian tetap makan. Suapan demi suapan, sampai nasi di kotak itu habis dan hanya tersisa satu irisan mentimun yang ia makan terakhir seperti penutup upacara. Dua gelas air sudah kosong. Gelas ketiga sedang dipertimbangkan.
"Terima kasih," ucapnya. "Enak."
"Asin."
"Asin," Damian mengaku. "Tapi aku makan sampai habis."
Senyum Kaeta muncul tanpa izin dan ia tidak sempat mencegahnya. Ia memutar-mutar ujung zipper jaket itu di jarinya, lalu bertanya dengan suara yang dibuat sangat santai, "Satu hal lagi. Perempuan di apartemenmu."
Sendok Damian berhenti di udara.
"Sudah janji kemarin, kalau menyangkut aku, kau bilang," lanjut Kaeta. "Dia menyangkut aku, kan? Waktu itu aku lari tengah malam karena ikanmu, dan yang keluar dari kamarmu seorang wanita seksi."
"Namanya Jessica." Damian meletakkan sendok dengan hati-hati. "Anak sahabat ayahku. Dia memanggil ayahku 'Paman', dan dia datang malam itu karena ayahku."
"Ayahmu mengirim perempuan ke apartemenmu? Jam setengah tiga pagi?"
"Ayahku memberi kode apartemen lewat Gans, atas nama Pria Tua itu sendiri. Dia masuk sebelum aku sempat bilang tidak. Itu sebabnya dia ada di sana dan itu sebabnya aku tidak menyambutnya." Damian menarik napas. "Aku tidak mengundangnya, Kae. Aku bahkan baru tahu dia di dalam setelah dia keluar dari kamarku. Kodenya sudah diganti Magnus kemarin."
Kaeta menatapnya cukup lama. Penjelasan itu terlalu jujur untuk dicurigai, dan terlalu rapi untuk tidak ditanyai lagi. Tetapi ia sudah menetapkan tiga syarat di bangku taman, dan salah satunya baru saja dipenuhi di depan matanya.
"Oke," katanya. "Pertanyaan terakhir, dan ini paling penting."
"Silakan."
"Kavea selamat dari tamu itu?"
Akhirnya Damian tertawa. Pendek dan kaget, hampir seperti batuk. "Kavea baik-baik saja. Gemuk, oranye, dan jelas lebih membenci Jessica daripada aku."
"Ikan yang berselera."
Ponsel Damian bergetar di atas meja kayu. Layarnya menyala, dan nama yang tertera membuat rahangnya mengeras: Gans.
Damian mengangkat. "Ya."
"Tuan muda," terdengar suara Gans, cukup nyaring sampai Kaeta bisa menangkapnya. "Tuan besar berpesan, hadiah untuk Nona Kaeta tidak bisa menunggu. Besok pagi saya akan menjemput beliau."
Damian menatap Kaeta. Kaeta menatap jaket di bahunya, lalu menatap Damian, lalu perlahan tersenyum selebar-lebarnya.
"Hadiah?" bisiknya. "Komandan, kenapa kau tidak bilang kita sudah sampai tahap hadiah?"