Satu. Dua. Tiga.
Damian menghitung dalam hati sambil menatap punggung Kaeta yang semakin menjauh di jalan setapak taman. Bahu gadis itu naik turun, langkahnya cepat, dan kuncir rambutnya bergoyang seperti sedang ikut marah. Rambutnya pun kelihatan sedang menyumpahi dirinya.
Jari-jarinya mengetuk setir. Tuk. Tuk. Tuk. Kebiasaan yang muncul setiap kali kepalanya berkelahi dengan dadanya, dan kali ini dadanya menang telak.
"Sial," gumamnya.
Kunci dicabut, pintu jip dibuka, lalu ditutup pelan. Damian sempat melirik tangannya sendiri yang menutup pintu dengan hati-hati itu, dan hampir tertawa getir. Ternyata pintu yang ditutup pelan bisa jadi bentuk permintaan maaf juga.
"Kaeta!"
Tidak ada jawaban. Gadis itu malah mempercepat langkah, melewati deretan bangku kosong dan tong sampah hijau yang tidak bersalah apa-apa.
Damian berlari kecil, lalu berhenti tiga langkah di belakangnya. Sengaja tidak lebih dekat. Tangan yang kemarin menepis rantang tidak berhak menyentuh lengan siapa pun hari ini, apalagi lengan Kaeta.
"Aku tidak akan menyentuhmu," ucapnya. "Aku cuma minta kau berhenti. Satu menit."
Kaeta berhenti, tetapi tidak berbalik. "Satu menit. Mulai sekarang. Dan hitung yang benar, Komandan, aku punya jam tangan."
"Namanya Caline."
Bahu Kaeta kaku sesaat.
"Bukan Celine," lanjut Damian. "Jordi salah menyebutnya, dan kau salah dengar karena dia salah menyebutnya."
Kaeta akhirnya berbalik. Mata hazel-nya merah, tetapi dagunya terangkat tinggi. "Oh, jadi masalah terbesar kita hari ini soal ejaan. Terima kasih sudah meluruskan, Pak Guru."
"Bukan itu." Damian menarik napas panjang. "Empat tahun lalu dia pergi. Hanya itu yang sanggup kuceritakan hari ini. Sisanya belum. Bukan karena kau tidak penting, Kae. Karena kalau kupaksakan sekarang, aku akan membentakmu lagi, dan aku tidak mau."
"Jadi aku harus bersyukur kau tahu diri."
"Kau boleh marah."
"Aku memang marah!" Kaeta menunjuk dadanya sendiri. "Dengar ya. Kalau aku cuma pengganti, bilang dari sekarang. Aku bukan ban serep siapa pun. Aku tidak mau jadi tempat kau menaruh bayangan perempuan lain."
Damian menatapnya lama. Angin taman menggerakkan ujung kemejanya, dan untuk sekali itu ia tidak mencari jawaban yang aman.
"Kau bukan penggantinya," katanya pelan. "Caline tidak pernah membakar pos security demi memanggilku."
Kaeta mengerjap. "Itu pujian atau laporan polisi?"
"Dua-duanya."
Sudut bibir Kaeta bergerak. Cuma sedikit, lalu ia buru-buru menahannya dan memasang wajah tersinggung lagi. Tetapi Damian sudah melihatnya, dan tiga langkah di antara mereka mendadak terasa lebih ringan.
"Satu pertanyaan," kata Kaeta, kali ini tanpa nada bercanda. "Jawab jujur, jangan yang enak didengar. Kau masih menunggu dia pulang?"
Damian membuka mulut, menutupnya, lalu membukanya lagi. Yang keluar bukan jawaban yang rapi. "Dulu iya. Hari ini aku berdiri di tengah taman, mengejar perempuan yang bahkan tidak mau menoleh. Itu jawaban paling jujur yang kupunya."
"Jawaban jelek."
"Aku tahu."
"Tapi jujur." Kaeta mengusap pipinya dengan punggung tangan, cepat, seolah itu hanya debu. "Oke. Itu masih bisa kuterima. Tidak banyak, tapi bisa."
Di balik wajah ketusnya, Kaeta sebenarnya sedang bertengkar dengan dirinya sendiri. Separuh dirinya ingin terus berjalan sampai gerbang taman. Separuh lagi, yang selalu lebih berisik, sudah menghitung berapa lama lagi ia harus pura-pura marah sebelum boleh luluh dengan wibawa.
***
Bangku taman itu catnya mengelupas. Kaeta duduk di ujung kiri, menyilangkan lengan, lalu menepuk bagian kayu di sampingnya dengan dua jari saja, sangat hemat.
Damian tidak langsung duduk. "Boleh?"
"Kalau aku bilang tidak, kau berdiri sampai senja?"
"Kalau perlu."
"Duduk, Damian. Berdiri di depanku begitu kau kelihatan seperti terdakwa yang menunggu vonis." Kaeta menahan napas sebentar. "Padahal memang."
Damian duduk, menyisakan jarak satu lengan. Kayu bangku itu dingin dan sedikit lembap. Brr. Kaeta mengamati jarak itu, menimbang apakah ia tersinggung atau justru lega, dan memutuskan bahwa ia lega tetapi tidak akan pernah mengakuinya. Di kejauhan, seorang bapak mendorong kereta bayi sambil menatap mereka dengan alis terangkat, lalu pura-pura sibuk dengan burung merpati.
Kaeta mengacungkan jari telunjuk. "Syarat pertama. Kau tidak boleh membentak. Mau kesal, mau marah, mau jengkel pada Jordi sampai ubun-ubun berasap, silakan. Tapi tidak padaku, dan tidak dengan suara yang membuat orang lain ikut menoleh."
"Baik."
"Syarat kedua." Jari tengah ikut naik. "Tidak melempar barang. Tidak mengusir. Kalau kau butuh waktu sendiri, ucapkan, 'Aku butuh waktu,' lalu pergi dengan kaki sendiri. Jangan pakai rantang orang."
Damian menunduk. Rahangnya bergerak. "Rantangmu pecah gara-gara aku."
"Gelasnya juga. Zeta sampai menyapu serpihannya sambil menggerutu panjang sekali." Kaeta menurunkan suara. "Tapi bukan itu yang paling sakit. Yang paling sakit, aku berjongkok memungut makananku sendiri di lantai markasmu, dan semua orang melihat."
Damian tidak menjawab. Tidak ada pembelaan yang cukup besar untuk menimpa kalimat itu.
"Syarat ketiga." Tiga jari sudah terangkat, dan Kaeta menatapnya lurus. "Kalau ada sesuatu yang menyangkut aku, kau bilang. Hal kecil, hal besar, hal yang kau kira aku tidak akan suka. Aku lebih sanggup mendengar kebenaran yang jelek daripada mendengarnya dari orang lain tiga minggu kemudian."
Sepersekian detik, Damian diam. Wajah Xavier di balik meja kerjanya melintas begitu saja, bersama kertas-kertas yang pernah ia sodorkan. Telapak tangannya yang bertumpu di lutut terasa dingin. Ia menelan ludah.
"Janji," ucapnya.
Kaeta menyipitkan mata. "Kau tadi diam dua detik."
"Aku menimbang kata yang pas."
"Kata 'janji' sudah pas. Kenapa ditimbang?"
"Karena ini janji pertamaku yang benar-benar ingin kutepati." Damian menatap lurus ke depan, ke arah merpati yang berjalan-jalan dengan percaya diri. "Aku tidak mau mengucapkannya asal."
Kaeta mengamati wajah samping pria itu lebih lama dari yang ia sadari. Jantungnya, si pengkhianat kecil, sudah berdetak terlalu cepat. Dokter spesialis yang baik tentu tahu bahwa itu bukan gejala penyakit, hanya efek samping dari ketampanan yang tidak dilindungi izin edar.
"Baiklah," katanya akhirnya. "Aku terima. Tapi satu hal lagi, dan ini bukan syarat. Ini tagihan."
"Tagihan."
"Kemarin kau membentakku di depan Jordi, Zeta, petugas piket, dan siapa pun yang kebetulan lewat lorong markas. Semua orang itu pulang membawa gambaran aku dibentak lalu makananku dilempar. Kau tidak bisa menghapus gambaran itu dengan minta maaf di dalam jip yang kosong." Kaeta mengangkat dagu. "Minta maaf di depan mereka semua. Hari ini juga."
Damian menoleh. "Di depan seluruh regu."
"Seluruh regu. Jordi, Magnus kalau dia ada, bahkan tukang parkir markas kalau perlu."
"Magnus bukan bagian regu."
"Kalau dia lewat, dia kena. Nasib."
Satu alis Damian naik, sangat pelan. Dulu, ia mungkin akan menjawab dengan satu kata yang dingin. Hari ini ia menghitung dalam hati sekali lagi, kali ini sampai lima, dan hasilnya jauh lebih baik.
"Sore ini," ucapnya. "Setelah apel sore. Di depan semua orang."
"Bagus." Kaeta berdiri, merapikan roknya, lalu menepuk-nepuk debu yang tidak ada. "Satu lagi."
"Apa?"
"Aku mau duduk di barisan depan."
"Barisan depan apa?"
"Permintaan maafmu, Komandan. Itu pertunjukan perdana Damian Sinclair Wesley dalam sejarah umat manusia. Aku tidak mau ketinggalan satu kata pun."