“Mulut mu kalau ngomong emang suka ngasal banget, Om Jor" Ucap Zeta sengaja memancing kekesalan Jordi dengan memanggilnya Om.
Jordi melebarkan matanya. “Om? Apakah aku setua itu? " Gumamnya lalu dia mengusap wajahnya dengan kasar, pria itu juga merasa bersalah pada Kaeta “Aku bukan sengaja mengatakan hal itu, mulutku memang tidak bisa menjaga rahasia. Gak ada niat sedikit pun untuk membuat kekacauan ini."
Zeta menaikan sebelah alisnya, lalu terkekeh. “Alasan!'
Sementara Kaeta, gadis itu menarik napasnya dalam-dalam, sakit hati? Tentu saja, tetapi apa yang bisa dia lakukan? Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, gadis itu berjongkok hendak mengambil kembali kotak nasinya.
"Udah, Kae, gak usah dipungut, jangan membuat jangan mu terluka. Biar petugas piket aja yang urus," Cegah Zeta terlihat panik sembari menarik pelan lengan sahabatnya agar kembali berdiri. Bukan tanpa alasan, sebab ada pecahan gelas juga.
Kaeta tidak menjawab, gadis itu masih diam, seakan-akan sedang mencerna apa yang baru saja terjadi.
Sedangkan di balik pintu ruangan yang tertutup rapat, Damian berdiri tegap menatap lurus kearah luar jendela. Dia sendiri tidak tau kenapa sampai lepas kendali dan membentak Kaeta, bahkan sampai melempar makanan yang gadis itu buat untuknya.
Pria itu mengepalkan kedua tangannya dengan erat sehingga buku-buku jarinya memutih, mengutuk kebodohannya sendiri yang gagal mengontrol emosi.
Beberapa jam sudah berlalu, Kaeta sudah meninggalkan markas damkar. pria berbadan tegap berbalut kaus hitam dan jaket bomber itu melangkah keluar dengan ekspresi wajah yang masih dingin dan sulit untuk di artikan. Langkah kakinya membawa pria itu berhenti tepat di lantai di mana makanan Kaeta berserakan.
Damian kembali menghela nafas panjang. “Apa yang sudah aku lakukan?." Gumamnya pada dirinya sendiri namun masih terdengar oleh Jordi.
“Aku yang salah sudah menyebabkan kekacauan ini, Dam, tapi kau jauh lebih salah melampiaskan semuanya pada Kaeta." Damian tidak menjawab, namun perkataan Jordi ada benarnya.
**
Keesokan harinya, Damian izin keluar dan absen dari tugasnya karena ada hal penting yang harus dia urus. Semalam penuh dia hampir tidak bisa tidur, bayangan wajah sedih Kaeta dan masalalu nya seakan datang secara bersamaan menghantui pikirannya.
Langkah lebar Damian berhenti tepat di hadapan seorang gadis cantik yang menatapnya tanpa ekspresi. "Ikut aku," ucap Damian dengan datar,
Kaeta mendongak, menatap tajam pria yang kemarin membuat hatinya hancur. "Mau kemana? Mau membentak ku lagi?" tanya nya dengan ketus.
"Bawel banget. Ayo ikut atau aku tinggal," Ujar Damian, lalu berbalik badan menuju mobil jeep miliknya.
Jiwa bucin Kaeta yang mendarah daging dalam dirinya langsung mengambil alih, rasa sakitnya lenyap begitu saja.
“Kau lihat Zet, jurus ngambek ku membuatnya langsung datang. Terlalu menggoda pesona ku ini." Bisik Kaeta sembari menyenggol lengan Zeta.
"Dasar bucin level goblog, baru digituin aja langsung luluh," cibir Zeta, meski bibirnya ikut tersenyum tipis melihat sahabatnya kembali ceria.
Di dalam mobil, hanya ada keheningan. Damian fokus menyetir dengan kedua tangan mencengkeram kemudi, rahangnya mengeras dan pikirannya tengah melayang jauh entah kemana.
Sementara itu, Kaeta justru terlihat sangat menikmati momen berharga ini. Sepanjang perjalanan, gadis itu sibuk berceloteh menceritakan banyak hal tanpa henti.
"Kamu tau gak sih,Dam? Aku sempat sakit hati dan menangis, selaian itu, aku sebenarnya juga marah sama kamu, tapi karena efforts mu yang ingin meminta maaf padaku, aku jadi berpikir dua kali untuk marah." Kaeta terus bicara panjang kali lebar.
"Hm," Jawab Damian singkat dan seadanya.
Meskipun jawabannya sangat minim, Kaeta tetap melanjutkan ceritanya. Bagi gadis itu, mendengarkan suara Damian sudah menjadi kebahagiaan tersendiri. Mobil jeep hitam itu akhirnya menepi di sebuah area taman kota yang cukup sepi dan tenang, jauh dari keramaian kota.
Begitu mesin mobil dimatikan, Damian menoleh perlahan ke arah Kaeta, mendapati gadis itu tengah menatapnya dengan senyum lebar.
“Aku minta maaf." ucap Damian akhirnya mengucapkan kalimat sakral itu.
Kaeta tertegun untuk sesaat, tatapan mata Damian yang menatapnya begitu dalam membuat detak jantungnya tidak karuan.
“Aku salah dan tidak seharusnya membentak mu." lanjut Damian sembari menghela napas panjang."Kau mau memaafkan ku dan jangan pernah ingin tau siapa dia?"
"Kenapa? Apa perempuan itu jauh lebih penting daripada aku sampai kau semarah itu ketika Jordi menyebut namanya?'
"Bukannya begitu, Kaeta..." Sela Damian dengan suara tertahan di tenggorokan.
"Lalu apa? Bisakah kau menjelaskannya padaku, Damian! Dan tolong jaangan membuatku merasa seperti orang yang paling bodoh, yang tidak tau apa-apa tentang masa lalu mu!" Ucap Kaeta.
Damian membuang muka ke sembarang arah. mengetukkan jari-jarinya di atas setir mobil dengan rasa gelisah. "Kau tidak perlu tau, dan ini bukan ranahmu untuk ikut campur."
"Bukan ranahku gimana maksud kamu? Kamu sendiri yang menarik aku masuk ke dalam hidupmu, tapi giliran aku ingin tau siapa perempuan bernama Celine itu, kamu malah memintaku diam!" Kesal Kaeta. "Seandainya aku tau dari awal jika wanita itu masih berada di hatimu, aku tidak akan sebodoh ini untuk ngejar-ngejar mu!"
Mendengar bentakan kecil penuh dramatis itu, Damian langsung menoleh. Rahangnya mengeras,
"Siapa yang memintamu mengejarku? Dari awal kau sendiri yang terus mendekatiku dengan berbagai cara, Kaeta." Damian tidak pernah meminta Kaeta mengejarnya. "Aku tidak pernah meminta mu datang ke markas, aku tidak pernah minta kau membuatkan ku makanan itu, dan aku juga tidak pernah meminta perasaan konyol darimu!"
Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Damian seperti anak panah yang begitu tajam yang menghujam langsung ke jantung Kaeta. Kaeta terpaku, napasnya seolah berhenti detik itu juga. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya menetes begitu saja membasahi pipi mulusnya.
"O-oh... Jadi begitu?" Gumam Kaeta, senyum getir terukir di bibirnya. "Semua usaha ku selama ini di matamu hanya dianggap konyol dan tidakak penting, ya?"
Damian tersentak pelan ketika melihat bulir air mata di wajah Kaeta. "Kaeta, bukan itu maksud...”
"Gak usah dilanjutin!" Sela Kaeta dengan cepat, tangannya langsung meraih pegangan pintu mobil dengan kasar. "Makasih untuk hari ini dan jalan-jalannya yang sangat enyenangkan ini, Damian,. Mulai sekarang, kamu tidakk perlu khawatir lagi dengan kehadiran gadis konyol dan pengganggu sepertiku!"
KLIK!
"Kaeta! Tunggu!" teriak Damian dari dalam mobil, tetapi gengsinya membuat tangannya tertahan di kemudi, dia ragu untuk segera mengejar gadis itu.