“Emang gak niat untuk datang dan kau cuma membuat janji tanpa di tepati. Damian!" Ucap Kaeta, dia menunggu dari malam hingga matahari terbit, namun tidak ada Damian datang ataupun kembali mengirim pesan.
Kedatangan Kaeta ke markas pemadam membuat semua orang menoleh kearahnya dan beberapa dari mereka menghentikan aktivitasnya para petugas yang sebagian tengah menikmati kopi pagi.
Kaeta berdiri dengan kedua tangan berkacak pinggang di depan meja kerja Damian. Wajah cantiknya terlihat merenggut namun terlihat menggemaskan, sementara Damian yang baru saja keluar dari ruangannya justru memasang ekspresi dingin dan datar, menatap gadis kecil itu yang sangat nekat mendatangi markasnya.
“Keluar Kaeta, ini masih pagi, jangan membuat keributan dan mengganggu istirahat mereka." ucap Damian dengan suara berat, terdengar begitu dingin dan tidak bersahabat.
Kaeta terdiam untuk sesaat, dia membalas tatapan pria dewasa didepannya, sifat Damian membuatnya sangat bingung, terkadang lembut dan perhatian, terkadang juga seperti sekarang ini, cuek dan dingin.
Jam dingin sudah menunjukkan pukul delapan pagi, Kaeta bisa melihat jelas sisa-sisa kelelahan mereka, akibat berjibaku dengan amukan si jago merah semalaman penuh.
Pesan singkat yang Damian kirim semalam masih terngiang di kepalanya. Dan karena pesan itu juga yang membuatnya tidak tidur semalaman.
Alih-alih menyerah dan menunggu di rumah dengan sabar, sifat pantang menyerah Kaeta justru membakar semangatnya untuk datang langsung menyerbu markas. Ditemani oleh Zeta .
Sahabat setianya yang membawa rantang makanan bersusun tiga, kedatangan dua gadis cantik bergaya modis itu sukses membuat seisi markas mendadak gempar.
"Keluar? Enak saja! Setelah semalaman aku menunggu sampai mataku hampir copot dan ponselku mati total, kau malah mengusirku?!" Jawab Kaeta, sama sekali tidak takut melihat tatapan tajam dari sang komandan. "Mana janji manismu yang katanya mau datang membawa hadiah, hah?"
Damian menghembuskan napas kasar, melipat kedua tangannya di depan d**a bidangnya dengan tubuh tegapnya. “Tidak ada waktu untuk meladeni candaanmu gadis kecil, aku tidak memintamu untuk menunggu, kalau kau tidak tidur, itu karena kebodohanmu sendiri. Sekarang pergi atau aku yang akan menyerermu keluar."
"Aku bukan gadis kecil, Damian Wesley! Dan aku tidak sedang bercanda!" seru Kaeta dengan mata berkaca-kaca tetapi penuh kekesalan yang membara. "Tadi malam Daddy sampai memujimu hebat, tapi kenapa kau malah bersikap menyebalkan seperti pria berengsek begini padaku?!"
“Aku tidak meminta di puji, tanpa pujian dari Ayahmu, semua orang sudah mengetahuinya kalau aku memang hebat."
“Kau!!" Damian mengangkat kedua bahunya acuh.
“Hancurkan saja Markasnya, Kaeta!" Seru Zeta.
"Heh, wanita jadi-jadian! Berani sekali kau mengancam markas kami!" Seru Jordi yang langsung berdiri dari kursinya, wajahnya memerah menahan gemas luar biasa melihat kehadiran Zeta. "Kau pikir markas ini tempat bermain untuk anak manja sepertimu?"
"Jaga mulutmu ya, Tuan Pemadam yang sok galak!" Jawab Zeta, langsung meletakkan rantang makanan di atas meja dengan bunyi dentingan cukup keras. "Jangan coba-coba cari masalah denganku, kalau tidak mau skor balapmu kupecundangi sekali lagi di sirkuit!"
"Hah! Silakan saja kalau kau berani! Kau ini benar-benar wanita paling menyebalkan dan paling tidak tau aturan yang pernah ku temui seumur hidupku, Nona pengganggu!" Jordi melangkah medekat. Sembari menunjuk wajah Zeta.
"Ahh terimakasih atas pujiannya,aku tau kalau aku ini memang mempesona dan pasti membuatmu terobsesi!" Balas Zeta santai, lalu mengibaskan rambut panjangnya ke udara dengan gaya arogan yang membuat Jordi semakin gemas, namun dia tetap menahan diri.
Damian melirik sekilas ke arah perdebatan sahabatnya itu, lalu kembali menatap tajam ke arah Kaeta yang kini justru melangkah lebih dekat, mengabaikan sikap cuek pria itu sepenuhnya.
“Makan dulu Damian, setelah itu aku akan pergi." ucap Kaeta dengan nada yang melemah. Gadis itu membuka rantang makanan bersusun tiga itu, lalu mengeluarkan sepiring nasi hangat dan lauk buatan rumah yang masih mengepulkan uap tipis.
Damian menatap makanan itu sekilas, lalu kembali menatap mata Kaeta yang memantulkan ketulusan, Pria itu mengatupkan rahangnya rapat-rapat,
"Aku tidak lapar. Bawa makanan itu pulang, Kaeta, aku tidak pernah makan makanan seperti itu" tolak Damian dingin.
“Iya, aku tau, kau tidak pernah makan makanan manusia, jadi kau harus makan sebelum pingsan karena kelaparan, Komandan sialan!" Jawab Kaeta tanpa ragu, langsung menyodorkan sendok berisi makanan tepat di depan bibir Damian. "Buka mulutmu, Damian."
Beberapa petugas pemadam yang sedetik lalu pura-pura sibuk mendadak tersedak ludah mereka sendiri, melebarkan mata karena terkejut melihat keberanian luar biasa dari gadis di hadapan komandan mereka yang terkenal paling dingin itu.
Damian tertegun sesaat, menatap sendok di hadapannya lalu beralih menatap sorot mata Kaeta yang berbinar penuh harap.
"Kau benar-benar keras kepala, Kaeta..." bisik Damian akhirnya dengan suara serak, dia ingin menepis sendok itu, namun Kaeta lebih dulu menekan sampi membuat mulutnya terbuka.
Kaeta tersenyum lebar penuh kemenangan. Dan tepat di detik itu juga, Kaeta tau bahwa sedingin apa pun Damian memperlakukannya, pria itu tidak akan pernah bisa benar-benar mengusirnya pergi.
“Manja banget Damian, ingat dia Kaeta bukan Celine" Jordi terkekeh tanpa sadar dengan ucapannya.
Sendok di tangan Kaeta berhenti tepat di depan bibir Damian ketika tatapan tajam sang komandan mendadak berubah menjadi kilatan amarah yang sangat mengerikan.
"Jordi!" geram Damian dengan suara rendah, rahangnya mengeras hingga otot-otot di lehernya menonjol.
"Eh? Ah..maksudku... Astaga, bukan begitu, Dam!" Jordi langsung menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya, wajahnya yang tadinya memerah karena kesal kini berubah memucat dan memejamkan matanya, dia menyadari kebodohannya sendiri.
"Ada apa sih? Memangnya siapa Celine?" Zeta memicingkan mata, menatap curiga ke arah Jordi dan Damian secara bergantian.
"Celine siapa?" Kaeta menoleh kearah Damian. “Wanita yang malam itu di apartemen mu?" Lanjutnya lalu menurunkan sendoknya perlahan. Dia menghapus senyum kemenangan yang baru saja terukir di bibirnya.
Jordi menelan ludah dengan susah payah, menghindari tatapan tajam Damian yang sudah siap menerkamnya hidup-hidup. "B-bukan apa-apa, Nona Kecil. Lupakan saja! Anggap aku tadi sedang kerasukan setan!"
"Jangan berbohong! Kau jelas-jelas menyebut nama Celine!" Ujar Kaeta, nada suaranya mulai meninggi, dipenuhi rasa penasaran sekaligus ketidaknyamanan. "Siapa Celine, Damian? Kenapa sahabatmu sampai ketakutan begitu ketika menyebut namanya di hadapanku?"
Damian menatap Kaeta dengan sorot mata yang bukan lagi sekadar dingin, melainkan penuh luka, Napas pria itu memburu, menolak untuk memberikan satu pun jawaban atas pertanyaan yang menusuk telinganya itu.
"Sudah aku katakan untuk tidak ikut campur dan pergi dari sini, Kaeta!" bentak Damian , suaranya menggelegar memecah keheningan markas.
"Tidak! Aku tidak akan pergi sebelum kau menjelaskan siapa Celine!" seru Kaeta, kekesalannya kembali memuncak melihat sikap tertutup pria itu. "Kenapa? Apakah dia wanita masa lalumu yang masih memenuhi hatimu makanya kau memperlakukanku seperti orang asing?!"
"Cukup, Kaeta!" Damian kehilangan kendaliannya.
PRAK!
Dengan gerakan cepat dan kasar, Damian menepis tangan Kaeta. Pukulan tangannya menghantam rantang makanan bersusun tiga yang dibawa gadis itu hingga terlempar ke lantai. Piring keramik pecah berkeping-keping, membuat nasi hangat dan lauk pauk berhamburan di atas lantai. Suara dentingan yang nyaring itu membuat seisi ruangan terperanjat, berdiri membeku tanpa berani mendekat.
Kaeta tertegun, matanya membelalak melebar sempurna menatap makanan yang susah payah dia siapkan, kini terlihat berserakan tidak berbentuk di atas lantai.
"Tuan Damian, kau..." cicit Zeta tertahan di tenggorokan, terkejut melihat perlakuan Damian pada sahabatnya itu.
Tanpa mengatakan sepatah kata lagi dan tanpa melirik sedikit pun ke arah Kaeta yang gemetar menahan tangis, Damian langsung berbalik badan dan melangkah dengan langkah lebar penuh amarah meninggalkan ruangan itu menuju ruang kerjanya, lalu membanting pintu dengan keras.
BRAAAK!!
Jordi berdiri mematung dengan rasa bersalah yang teramat sangat dalam pada Kaeta. Dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, menatap Kaeta dengan pandangan penuh penyesalan. "Maaf... aku tidak sengaja membuat Damian marah, Nona Kaeta..." UcapJordi dengan suara pelan.
Kaeta tidak menjawab. Gadis itu menunduk, menatap nanar sisa makanan di atas lantai dengan hati yang terasa dihujam ribuan anak panah, Siapa sebenarnya Celine? Dan mengapa nama itu mampu mengubah Damian menjadi monster yang kejam dalam hitungan detik.