Dipusat kota, panasnya api seakan tidak terasa bagi para petugas yang sedang mencoba manahklukannya. Suara teriakan minta tolong para korban yang terjebak dalam bangunan terdengar memilukan bagi para petugas.
Mereka tidak menyerah dan saling membantu untuk menyelamatkan korban yang terjebak.
"Pastikan selang utama bertekanan penuh! Titik api terbesar ada di lantai dua, jangan biarkan merembet ke area gudang!" teriak Damian dengan lantang, suaranya mengalahkan deru mesin pemadam di tengah kepulan asap hitam pusat kota.
"Komandan, struktur bangunan mulai tidak stabil akibat panas yangnya Api!" Sahut Jordi, setengah berteriak melalui alat komunikasi di helm pelindungnya sembari memegang erat ujung selang pemadam berukuran besar.
"Aku tau! Evakuasi semua ke zona aman,jangan sampai ada yang tertingal, aku akan masuk sendiri untuk memastikan tidak ada korban tertinggal di dalam!" titah Damian sama sekali tanpa ada keraguan, lalu dia langsung mengenakan masker oksigennya dan menerobos masuk ke dalam lorong mal yang membara panasnya.
Sementara tempat lain, mobil sedan putih yang dikemudikan oleh Daniel baru saja memasuki kawasan perumahan elit tempat tinggal Kaeta. Suasana di dalam mobil terasa hening, hanya ditemani suara ketukan rintik hujan yang mulai membasahi kaca jendela.
"Kau melamun lagi, Kaeta? Paman Damian pasti punya alasan yang sangat masuk akal kenapa tadi dia tidak menjemputmu di kampus" ujar Daniel lembut, memecah kesunyian sambil meminggirkan kendaraannya tepat di depan gerbang rumah gadis itu.
Kaeta menoleh, menggigit bibir bawahnya perlahan. "Aku tau, Daniel. Tapi sejak hatiku tetap tidak tenang setelah melihat truk pemadam kebakaran melintas kencang ke arah pusat kota. Ponselnya benar-benar tidak bisa dihubungi."
Daniel tersenyum tipis, mencoba meredakan kecemasan yang terpancar di wajah cantik gadis di sampingnya. "Percayalah padaku, Kaeta. Dia seorang komandan lapangan yang sangat bertanggung jawab, bukan pria yang suka mempermainkan janji pada wanita."
"Tapi bagaimana jika didalam sana dia terluka? Kau tau sendiri pekerjaan mereka itu mempertaruhkan nyawa," cicit Kaeta dengan suara bergetar, air mata hampir menetes di pelupuk matanya.
"Hei, jangan berpikir negatif dan tidak masuk akal. Paman Damian adalah pria tangguh, dia sangat tau betul cara melindungi dirinya sendiri di profesi pilihannya," Daniel mencoba untuk tenang, dia menenangkan kegelisahan Kaeta dan nyeri di dadanya.
Tiba-tiba, layar ponsel Kaeta di atas pangkuan bergetar keras. Nama sang ayah tertera jelas di layar tersebut. Kaeta langsung menyambar benda pipih itu dan menekan tombol hijau dengan tergesa-gesa.
"Dad! Kau di mana? Kenapa belum pulang?" tanya Kaeta langsung tanpa basa basi, begitu sambungan terhubung.
“Kaeta, Sayang, maafkan Daddy. Malam ini Daddy tidak bisa pulang tepat waktu karena rumah sakit mendadak kedatangan puluhan korban luka bakar akibat kebakaran besar di mal pusat kota,” suara Xavier terdengar sangat lelah di ujung telepon.
Kaeta menutup mulutnya dengan sebelah tangan, matanya membelalak lebar. "Kebakaran besar di mal pusat kota, Dad? Ya Tuhan... Apakah separah itu keadaannya?"
“Cukup parah, tapi tim pemadam kebakaran datang dengan sangat sigap dan berhasil menyelamatkan banyak nyawa. Pimpinan tim penyelamat di lapangan benar-benar bekerja secara luar biasa hebatnya, mempertaruhkan nyawanya di tengah kobaran api.” tanpa Sadar Xavier memuji Damian.
"Pimpinan tim penyelamat?" gumam Kaeta pelan, dadanya bergemuruh menyadari siapa sosok di balik pahlawan yang dimaksud oleh ayahnya.
“Sudah dulu ya, princess, pasien darurat baru datang lagi ke IGD. Kunci pintu rumah rapat-rapat dan jangan kemana-mana. Daddy akan pulang secepatnya!” sambungan telepon terputus begitu saja.
Kaeta menurunkan ponselnya perlahan, menatap kosong ke arah depan. Daniel yang melihat perubahan itu kembali bertanya, "Ada apa, Kae? Apakah ayahmu memberikan kabar tentang kebakaran itu?"
"Iya, Daniel. Ayahku bilang korban kebakaran mulai berdatangan ke rumah sakit, dan aku seperti mendengar, Ayahku memuji Damian, ini pertanda ada celah restu." jawab Kaeta dengan mata berkaca-kaca penuh kebanggaan dan dalam keadaan seperti ini, dia masih sempat memikirkan restu membuat Daniel tersenyum tipis.
"Paman Damian memang paling hebat," Jawba Daniel.
Kaeta mengangguk pelan, rasa khawatirnya saat ini perlahan berganti menjadi keyakinan yang kuat. "Terima kasih banyak sudah mengantarku pulang dan berkata jujur padaku, Daniel. Kau benar-benar pria yang baik."
"Sama-sama, Kaeta. Masuklah dan istirahatlah, cuaca di luar semakin dingin," ucap Daniel sembari membuka kunci pintu mobil untuknya.
Kaeta membuka pintu mobil, keluar dari kendaraan tersbeut, dan melambaikan tangan singkat pada Daniel yang segera memutar balik arah mobilnya meninggalkan halaman rumah.
Setibanya di dalam rumah yang sepi, Kaeta langsung melepas sepatu dan berjalan ke arah jendela kamar di lantai dua. Langit malam di kejauhan terlihat masih menyisakan rona kemerahan, sementara angin malam berhembus kencang membawa hawa dingin.
Kaeta merapatkan jaketnya, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan degup jantungnya.
Drrt... Drrt...
Ponsel di tangannya mendadak kembali bergetar, menampilkan sebuah pesan masuk dari nomor yang sangat dia hafal di luar kepalanya. Kaeta langsung membuka pesan itu.
“Maaf sore tadi aku mengingkari janjiku, Princess. Tapi malam ini juga aku berjanji akan datang menemuimu, membawa hadiah yang dijanjikan ayahku, dan memelukmu erat setelah api ini benar-benar padam.”
Mata Kaeta melebar membaca pesan tersebut, sudut bibirnya terukir senyuman manis di tengah air mata. Tanpa pikir panjang, Kaeta langsung membalas pesan itu dengan cepat.
"Kau tidak perlu terburu-buru, Komandan Wesley... Selamatkan dirimu terlebih dulu, karena aku akan menunggumu di sini sampai kapan pun."
Tidak ada hubungan jelas, tetapi saling memberikan kabar dan harapan. Kaeta menggelengkan kepalanya.
“Ini bukan harapan palsu kan? Atau hanya sekedar mimpi?" gumamnya.
Hubungannya dengan Damian belum jelas, pria itu yang mendadak berubah dan membawanya bertemu dengan Tuan Wesley, padahal sebelumnya Damian sangat cuek padanya.
Kaeta kembali membaca pesan dari Damian, malam ini pria itu akan datang dan memeluknya? Benarkah? atau hanya sekedar ketikan reflek saja ketika berada di zona menegangkan?
“Bolehkah jika aku benar-benar berharap dia datang dan memelukku seperti apa yang dia katakan barusan?" gumamnya pelan.
Dia kembali menatap gelapnya malam, menantikan sebuah janji yang belum tentu akan di tepati. berharap boleh dan kecewa itu konsekuensi nya. karena memang belum ada kejelasan pasti dari hubungan mereka berdua.
“Langsung aja menikah gak sih? Pacaran kelamaan " lagi dia bergumam pada dirinya sendiri. “Tapi bagaimana kalau Damian tidak mau?"