“Dad, apa kau tau? kemarin aku bertemu dengan Tuan Wesley, ternyata beliau itu tidak seseram yang aku dengar di berita." Ucap Kaeta menggebu, menarik kursi makan dan duduk di sebelah Ayahnya.
Xavier, yang sedang menuangkan secangkir kopi panas ke dalam cangkirnya, langsung menghentikan gerakannya tangan nya. Dia menatap putrinya dengan sebelah alis yang terangkat, setengah penasaran namun jauh di lubuk hatinya, ada kekhawatiran, Damian sudah jauh melangkah.
“Oh ya? Jadi sekarang kepala keluarga Wesley yang terkenal kejam dan dingin itu berubah jadi badut sirkus yang membuat putri kesayangan Daddy tertawa bahagia, begitu?” tanya Xavier dengan nada bercanda, mencoba menutupi kegelisahannya di balik senyum tipis.
Kaeta tertawa begitu riang, mengambil sepotong roti panggang lalu mengolesinya dengan selai stroberi. “Ihh, Dad, aku serius! Beliau itu aslinya asyik banget diajak ngobrol. Bahkan kami juga membahas soal investasi rumah sakit, dan beliau sama sekali tidak marah. Malahan, beliau tertawa mendengarkan permintaan ku. Hebat kan?”
Mendengar kalimat 'investasi' dan kedekatan yang terjalin begitu cepat dengan keluarga konglomerat itu, raut wajah Xavier mendadak berubah dengan serius. Pria paruh baya itu meletakkan teko kopinya perlahan, lalu menatap Kaeta dalam-dalam.
“Kaeta, Dengarkan Daddy, Nak,” ucap Xavier dengan suara yang mendadak serius, membuat Kaeta seketika berhenti mengunyah. “Daddy ikut senang kalau kau bisa akrab dengan Tuan Wesley. Tapi, kau harus ingat posisimu. Keluarga Wesley itu berada di level yang sangat berbeda dari kita. Dunia mereka penuh dengan intrik, topeng kepalsuan, dan aturan-aturan kelas atas yang kejam.”
Kaeta mengedipkan matanya beberapa kali, menelan makanannya dengan susah payah. “Tapi Damian bilang semuanya akan baik-baik saja, Dad. bahkan Tuan Wesley sudah membatalkan perjodohannya dan menerima ku, meskipun aku dan Damian belum memiliki hubungan yang jelas..”
“Justru itu yang membuat Daddy cemas!” sela Xavier dengan nada sedikit meninggi, tidak bisa lagi menyembunyikan rasa khawatirnya. “Lelaki kaya seperti mereka tidak pernah melakukan sesuatu tanpa alasan. Damian mungkin tulus padamu, tapi bagaimana dengan keluarganya? Bagaimana jika suatu saat nanti kau diinjak-injak hanya karena latar belakang keluarga kita yang tidak sepadan? Daddy tidak sanggup melihat putri Daddy terluka karena terjebak di dunia mereka, Kaeta.”
Suasana di meja makan mendadak hening. Kaeta menunduk, menatap piringnya sendiri. Dia tau ayahnya berbicara atas dasar rasa sayang dan pengalaman hidup yang jauh lebih banyak, namun hatinya telanjur terpaut pada Damian.
“Dad, Damian tidak akan membiarkan itu terjadi. Aku percaya padanya,” cicit Kaeta pelan, mencoba meyakinkan sang ayah sekaligus menenangkan dirinya sendiri, Damian yang awalnya cuek dan dingin, namun tiba-tiba langsung berubah drastis.
Xavier menghela napas panjang, mengusap wajahnya dengan kedua tangan karena frustrasi. Dia tau betul watak keras kepala putrinya itu. “Terserah kau, Kaeta. Tapi berjanjilah pada Daddy, jaga hatimu baik-baik, jangan menyerahkan seluruh duniamu pada seseorang yang dunianya bisa runtuh kapan saja.”
Kaeta hanya bisa mengangguk lemah, mengakhiri perdebatan sarapan pagi itu dengan perasaan campur aduk antara kebahagiaan karena bertemu dengan Tuan Wesley dan kecemasan baru yang ucapkan oleh ayahnya.
**
Bagi Kaeta, jam kuliah berlalu dengan sangat lambat. Hari ini jadwalnya cukup padat, tetapi pikirannya terus melayang pada pesan singkat yang dikirimkan oleh Damian tadi pagi. Pria itu berjanji akan menjemputnya tepat pukul tiga sore di depan gerbang kampus, lalu membawanya kembali ke rumah utama Wesley untuk menerima hadiah yang dijanjikan oleh sang ayah.
Pukul dua lewat lima puluh menit, Kaeta sudah berdiri di dekat pilar halte kampus dengan tas ransel tersampir di bahunya. Dia terus melirik ke arah layar ponselnya, tersenyum sendiri membaca pesan terakhir dari Damian yang mengatakan bahwa dirinya sedang dalam perjalanan.
Tetapi, waktu terus berjalan. Jarum jam di lengannya menunjuk ke angka tiga lewat lima belas menit. Mobil sport hitam milik Damian belum juga menampakkan batang hidungnya. Kaeta mulai menggigit kuku jarinya, merasa gelisah.
“Mana sih? Katanya di jalan,” gumam Kaeta pelan, mencoba menghubungi nomor Damian.
Tut… Tut… Tut…
Panggilan pertama tidak diangkat. Kaeta mencoba menelepon untuk kedua kalinya, namun hasilnya tetap sama. Suara operator wanita yang menyatakan bahwa nomor tersebut tidak dapat dijangkau.
Tiba-tiba, suara sirene mobil pemadam kebakaran terdengar meraung-raung membelah jalan raya di dekat kawasan kampusnya. Kaeta menoleh sekilas ke arah jalan utama, melihat dua unit truk pemadam besar melaju dengan kecepatan tinggi menuju arah pusat kota.
“Jangan bilang…” gumam Kaeta pelan, mengingat profesi yang digeluti oleh Damian di luar urusan bisnis keluarganya.
“Kaeta?”
Sebuah suara yang sangat familiar membuyarkan lamunannya. Kaeta menoleh dan melihat adanya Daniel berdiri di hadapannya dengan membawa map tugas, mengenakan kemeja rapi khas seorang mahasiswa.
“Daniel? Kau sedang apa di sini?” tanya Kaeta terbata-bata, mencoba menetralkan kecemasan di wajahnya.
Daniel tersenyum ramah, meskipun tatapan matanya menyiratkan kekhawatiran ketika melihat ekspresi pucat di wajah gadis itu. “Aku baru selesai urusan perizinan di gedung rektorat. Aku melihat kau berdiri sendirian, kau menunggu Paman Damian?”
Kaeta mengangguk pelan, menggigit bibir bawahnya. “Iya, Dia berjanji mau menjemput ku jam tiga lewat. Tapi sudah dihubungi berkali-kali tidak aktif."
Daniel menghela napas, tatapannya melemah, sudah dia duga sejak awal kalau hal ini akan terjadi.
“Kaeta, kalau kau tidak keberatan, biar aku saja yang mengantarmu pulang,” tawar Daniel begitu lembut, menawarkan diri tanpa ada niat mendesak. “Jangan menunggu di sini terus. Cuaca mulai mendung, dan kau sepertinya sangat kelelahan.”
Sekali lagi Kaeta menatap ponselnya, layar itu tetap gelap tanpa ada satupun pesan masuk dari Damian. Rasa kecewa, cemas, dan takut bercampur menjadi satu di kepalanya. Janji tinggal janji, dan lagi-lagi, kenyataan pahit menghantam ekspektasinya.
“Makasih, Dan, aku telpon supir ku aja." ucap Kaeta dengan suara bergetar menahan tangis, merasa diabaikan di saat dia sangat mengharapkan kehadiran pria idamannya.
Daniel membuka pintu mobil sedannya yang terparkir tidak jauh dari halte, lalu menatap Kaeta. “Masuklah, Kaeta. Biar aku yang mengantarkan kau pulang ke rumah dengan selamat. Jangan menyiksa dirimu dengan menunggu orang yang mungkin sedang terjebak dalam dunianya sendiri.”
Kaeta terdiam untuk sesaat, dia percaya Damian sedang melakukan tugasnya dan tidak berniat untuk melupakan janji menjemputnya.