“Kau benar-benar memiliki keberanian yang luar biasa, Nona Quinn" ucap Tuan Wesley memecah keheningan, nada bicaranya terdengar santai. “Kau meng absen kekayaannya keluar Wesley dipertemuan pertama kita, lalu kau mengakhiri nya dengan proposal bisnis Rumah Sakit secara terang-tetangan." Lanjut pria tua itu.
Kaeta mengedipkan matanya beberapa kali, dia ingin mengutuk mulutnya sendiri, namun semua sudah terlanjur. “Hmm.. Itu.. Itu sebenernya hanya bagian investasi jangka panjang untuk hubungan kami, Tuan." Jawab Kaeta, kedua pipinya memerah karena malu, setelah menyadari betapa dia tidak tau malunya didepan calon mertuanya.
Damian menggeleng kecil dan dia juga tidak menyangka kalau Ayahnya, sosok pria kolot yang paling tidak menyukai ketidakteraturan juga basa basi murahan, justru tersenyum lebar dan tertawa mendengar jawaban konyol dari Kaeta.
Dalam hitungan detik, Tuan Wesley terlihat benar-benar terpesona dengan kepribadian Kaeta yang unik, berani, namun tetap tahu batas kesopanan.
”Baiklah, aku menyukai caramu berpikir, kamu sangat menarik dan pintar mencari keuntungan." Ucap Tuan Wesley, sembari kembali duduk dengan santai di kursi kerjanya, lalu melirik kearah Damian dengan tatapan penuh arti. “Sesuai dengan keinganmu, aku tidak akan melakukan perjodohan lagi, karena kau sudah membawa calon menantu untukku, meskipun aku sendiri masih ragu, bagaimana caramu mendapatkannya."
Damian hanya mengangkat bahunya acuh, sementara Kaeta dia tetap menunjukkan senyum manisnya. Dia tidak berpikir semua ini palsu, dekat bersama Damian itu suatu keberuntungan, terlebih sampai dikenalkan dengan Tuan Wesley.
Beberapa jam sudah berlalu begitu cepat, hampir seharian Kaeta banyak berinteraksi dengan Tuan Wesley, gadis itu membuat pria tersebut banyak tertawa, bahkan para Maid sampai heran melihatnya.
Setelah makan malam yang di penuhi oleh gelak tawa tidak terduga antara Tuan Wesley dan Kaeta, sesuatu yang bahkan tidak pernah Damian saksikan seumur hidupnya, pria itu memutuskan untuk segara mengantar gadisnya pulang sebelum malam semakin larut.
Mobil mewah Damian kembali membelah jalanan kota yang mulai sepi oleh kendaraan. Di dalam mobil, suasana terasa jauh lebih hangat dan intim dibandingkan perjalanan mereka ketika pagi. Kaeta sibuk merenungkan setiap detik kejadian di rumah utama Wesley, merasa seperti sedang mengalami mimpi buruk yang indah karena bisa duduk satu meja dengan kepala keluarga paling berpengaruh di kota itu tanpa drama dramatis.
Begitu mobil berhenti tepat di depan rumah Kaeta, gadis itu langsung melepas sabuk pengamannya dan turun dengan senyum semringah yang tidak kunjung pudar dari wajahnya. Setelah melambaikan tangan perpisahan dan memastikan Kaeta melangkah masuk ke dalam rumah dengan selamat, Damian memutar balik mobilnya. Pria itu kembali menancap gas menuju kediaman utama Wesley.
Dia sangat tau kalau malam ini belum benar-benar selesai begitu saja, ayahnya pasti masih menunggunya di ruang kerja untuk meminta penjelasan darinya.
Damian tidak pernah salah, Setibanya kembali di rumah utama, Tuan Wesley sudah menunggunya di ruang perpustakaan pribadi, duduk tenang sembari menyesap segelas wiski tua di dekat jendela besar yang menghadap langsung ke arah taman belakang.
"Duduklah, Damian," titah Tuan Wesley tanpa sedikit pun menoleh ketika mendengar langkah kaki putranya mendekat ke arah meja.
Damian melangkah masuk tanpa suara, lalu menarik kursi yang berhadapan langsung dengan sang ayah. "Ada apa lagi, Dad? Bukankah semuanya sudah sangat jelas, kita sudah membicarakan nya sore?"
Tuan Wesley meletakkan gelasnya pelan di atas meja, lalu mengangkat wajahnya untuk menatap sang putra dengan tatapan yang kembali berubah serius. santai dan hangat di antara mereka mendadak menguap penuh tanda tanya.
"Gadis itu... Kaeta," ujar Tuan Wesley memulai "Dia benar-benar berbeda dari perempuan-perempuan manipulatif yang pernah kau bawa ke rumah ini sebelumnya. Dia cerdas dengan caranya sendiri, bernyali besar, dan yang paling penting, dia tidak maruk oleh bayang-bayang harta kekayaan keluarga kita." Ucap pria tua itu.
“Aku ingin kau memberikan jawaban jujur darimu, Dam, apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian berdua? Bagaimana bisa seorang Damian Wesley, yang selama ini arogan dan menutup diri, bisa mendapatkan hati gadis seperti dia?"
Damian terdiam sejenak, menarik napas dalam-dalam untuk mengendalikan ekspresi nya, setiap memori ingatan yang membawanya sampai ke titik ini. Dia sadar, dia tidak bisa lagi berbohong atau memberikan jawaban setengah-setengah kepada ayahnya.
"Semuanya tidak terjadi dalam waktu singkat atau berjalan mulus begitu saja, Dad," jawab Damian dengan suara datar namun terdengar sangat tenang. "Awalnya, hubungan kami adalah sebuah ketidaksengajaan. Ada banyak kesalahpahaman,bahkan air mata yang harus tumpah karena kebodohan kita sendiri. Aku sempat memperlakukannya dengan sangat buruk di masa lalu, karena aku berpikir dia sama saja seperti perempuan lain yang mendekatiku demi keuntungan."
Tuan Wesley mendengarkan setiap kalimat yang keluar dari mulut putranya, kedua alisnya terangkat perlahan "Lalu, apa yang membuatmu berpikir dia layak untuk mu? Apa yang membuatmu mendadak menyeretnya ke sini dan mengklaim nya sebagai calon istrimu?"
"Karena aku akhirnya sadar, semakin aku mencoba menjauhinya dan menolak keberadaannya, semakin aku tidak sanggup kehilangannya,"
Damian terlalu pintar untuk menyakinkan Ayahnya, sorot mata tajamnya menyiratkan ketulusan yang selama bertahun-tahun jarang ditunjukkan oleh sang ayah. "Dia menangis karena kebodohanku, tapi dia juga satu-satunya orang yang membuatku ingin berubah menjadi pria yang jauh lebih baik. Aku mendapatkan hatinya bukan dengan cara kotor atau paksaan bisnis, melainkan karena aku tau aku akan mati rasa jika harus melihatnya tersenyum di sisi pria lain."
Tuan Wesley terdiam cukup lama setelah mendengar pengakuan tersebut. Pria paruh baya itu mengamati setiap gerak-gerik Damian, dan binar di mata putranya, menilai apakah ada kepalsuan di sana. Tetapi, yang dia temukan hanyalah tekad seorang pria muda yang siap melindungi dunianya sendiri. Perlahan-lahan, Tuan Wesley mengangguk pelan, dan tersenyum, senyum bangga terukir di sudut bibirnya.
"Bagus," ujar Tuan Wesley pada akhirnya. "Jika kau sudah memantapkan pilihanmu dan bersedia mempertaruhkan seluruh hidupmu padanya, maka buktikan ucapannmu. Daddy tidak akan lagi mencampuri urusan cinta atau perjodohan konyol itu. Tapi ingat satu hal ini baik-baik, Damian, jangan pernah berani menyakiti gadis itu sedikit pun, atau kau harus berhadapan langsung dengan Ku."
Damian mengangguk paham, dia bernafas lega, akhirnya terbebas dari perjodohan konyol, sekarang yang harus dia pikirkan, bagaimana menghadapi Kaeta dan Xavier.
“Dam, besok kau bawa lagi dia kemari, aku ingin memberikannya hadiah."
“Tidak bisa, aku tidak bisa membawanya kemari setiap hari, aku tidak yakin kau tidak jatuh cinta pada calon istriku."
”Kau!!"