“Ikut aku, Kae!" Damian tidak perduli tatapan para mahasiswa lainnya, dia tetap menarik tangan Kaeta meskipun gadis itu sempat menolak.
Egonya seakan tersentil oleh kalimat Daniel, dia hanya membuat semuanya menjadi sulit dan tanpa melakukan apapun Kaeta sangat mudah dia dapatkan.
Lihatlah, Saat ini Kaeta sendang tersenyum karena tangannya di gandeng olehnya, padahal baru semalam gadis itu menangis.
Dia tidak perlu bersaing dengan sang sepupunya, baiklah jika selama ini caranya salah dia akan menggunakan kelembutan.
“Kenapa di lepas, pegang aja lagi!" Kaeta kembali menyodorkan tangannya kearah Damian ketika mereka berhenti di parkiran fakultas kedokteran.
Damian terdiam untuk sesaat, dia menatap Kaeta cukup lama, lalu menarik nafas dalam-dalam, gengsinya harus dia buang terlebih dulu.
“Ikutlah bersama ku." Ucap Damian.
“Kemana? apakah mendaftarkan pernikahan? kalau begitu ayo!" Jawabnya penuh antusias, bibirnya tersenyum lebar, namun beberapa detik kemudian senyum itu luntur.
Damian menautkan kedua alisnya. “Kenapa?"
Wajah Kaeta terlihat seperti orang yang benar-benar teraniaya, orang yang paling tersakiti di dunia ini. “Apakah wanita malam itu kekasih mu?" Tanya nya.
“Dia... "
“Ah... Sepertinya tidak mungkin kalau wanita itu kekasihmu.. pasti dia Babysitter ikan gembul mu" Sela Kaeta kembali tersenyum, Damian menarik sudut bibirnya.
“Ayo pulang ke rumahku." Damian sudah tidak memiliki waktu lagi, Ayahnya kembali terus menerornya dengan perjodohan.
“Rumah mu!!" Kaeta terkejut, diluar dugaannya, Damian langsung membawanya ke rumah utama keluarga Wesley?
“Hmm, ay... "
“Baiklah, ayo kita menikah, berapa mahar yang kamu inginkan? biar aku yang menyiapkan." Lagi gadis itu menyela saking semangatnya.
Damian tersenyum tipis, lalu tangan kekar itu sedikit mengacak gemas rambut Kaeta, sungguh perlakuan Damian seperti pada pasangannya. Padahal mereka belum cukup dekat dan komunikasi mereka juga tidak jelas.
**
Kurang lebih tiga puluh menit, mobil mewah Damian memasuki gerbang utama kediaman keluarga Wesley.
Damian memarkirkan mobilnya. Pria itu melirik sekilas kearah Kaeta yang terlihat begitu gugup, dia tersenyum tipis.
“Ayo turun." Ajak Damian
Sebelum turun, Kaera beberapa kali memastikan dandannya layak untuk bertemu pria tua yang hanya dia dengar kekejamannya tanpa pernah melihat secara langsung.
Kaeta turun dari mobil mewah itu dengan langkah kaki gugup. Jemarinya meremas tali tas selempang nya.
Melihat kegelisahan di wajah gadis itu, Damian menghentikan langkahnya. Pria dengan pakaian seadanya itu meraih tangan Kaeta yang terasa dingin. Genggaman itu hangat, memberikan ketenangan yang membuat detak jantung Kaeta tidak karuan.
"Jangan takut, tunjukkan nyalimu" Bisik Damian, suaranya terdengar begitu lembut, tidak seperti biasanya dingin. "Kemana gadis centil yang sering menggodaku?"
Kaeta mendongak, menatap netra hitam Damian yang memantulkan ejekan. Senyum tipis terbit di bibirnya. “Kau menantang ku? Aku tidak takut apapun, yang aku takutkan bagaimana kalau Daddy mu malah jatuh cinta padaku?"
Damian mendengus pelan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman. “Caramu berpikir terlalu jauh. Daddy ku tidak menyukai gadis seperti mu, apa lagi kau itu calon istri ku."
Kalimat calon istri itu meluncur begitu saja dari bibir Damian, terdengar begitu natural seolah hal tersebut adalah sebuah kepastian untuk Kaeta.
Pipi Kaeta langsung memerah, panas menjalar hingga ke ujung telinganya. Gadis itu menunduk, menyembunyikan senyum lebarnya di balik helaian rambutnya.
Pintu utama terbuka lebar, kepala pelayanan keluarga Wesley, Tuan Gans, menyambut kedatangan mereka berdua dengan senyuman yang begitu lebar.
"Tuan muda Damian, Tuan besar sudah menunggu Anda di ruang kerja" ujar Gans
"Terima kasih, Gans." Jawab Damian
Damian langsung membawa Kaeta masuk menuju ruang kerja sang Ayah, Sepanjang koridor, lukisan-lukisan leluhur keluarga Wesley berderet rapi,
Seakan-akan mengawasi setiap gerak-gerik siapa pun yang melewati lorong tersebut. Kaeta semakin mengeratkan genggamannya pada tangan Damian, menyadari betapa besar dunia pria di sampingnya ini, dunia yang sangat asing baginya.
Tiba di depan sebuah pintu yang berukuran besar, Damian menarik napas dalam-dalam. Ini adalah momen penentu. Perjodohan konyol yang terus didesak oleh sang Ayah harus dihentikan hari ini juga, dengan cara mendatangkan langsung perempuan yang beberapa akhir ini mengganggu nya.
Tok... tok... tok.
"Masuk," suara bariton terdengar dari balik pintu.
Damian membuka pintu tersebut, menuntun Kaeta melangkah masuk ke dalam ruang kerja yang dipenuhi deretan rak buku klasik dan meja kerja kayu mahoni yang besar. Di balik meja itu, duduklah Tuan Wesley, pria paruh baya dengan uban di pelipis dan sorot mata yang tajam.
Pria itu mendongak dari dokumen di tangannya. Alisnya langsung bertaut begitu melihat siapa yang dibawa oleh putra tunggalnya
"Apakah ini gadis yang kau maksud?"
Damian melangkah lebih maju, memposisikan dirinya sedikit di depan Kaeta. “Iya, ini dia gadis yang aku maksud." Tuan Wesley tidak langsung menjawab. Dia menyandarkan tubuhnya di kursi menatap Kaeta dari ujung kepalang hingga ujung kakinya.
“Kau yakin dia?"
“Kenapa kau tidak percaya padaku Dad, sekarang sudah cukup, jangan terus meneror ku dengan perjodohan bisnis yang gak masuk akal, aku sudah memutuskan pilihanku."
Tuan Wesley berdiri dari kursi kerjanya, menatap putranya penuh dengan tatapan menyelidik. ”Keputusan apa? Jangan pernah bermain-main dengan masa depanmu, Damian!'
Damian mengangkat kedua bahunya acuh. ”Tidak ada yang bermain-main." Jawabnya sembaru menoleh kearah Kaeta. “Dia pilihanku."
Sementara Kaeta dia menelan ludahnya dengan kasar, perutnya terasa ditumbuhi ribuan kupu-kupu, dia sebenarnya bingung dengan situasinya, tetapi entah kenapa tidak merasa keberatan dengan keputusan Damian kyi.
“Selamat Sore, calon.. Eh..Maksud saya, Tuan Wesley" Sapa Kaeta tersenyum manis. “Perkenalkan, Saya Kaeta Calliope Quinn, calon menantu pilihan Putra Anda, tentang mahar, tenang saja, Saya tidak terlalu matre kok, tapi kalau mau tetap memaksa mau menyiapkan, Rumah, properti, Villa, mobil mewah,perhiasan dan barang branded, saya tidak akan menolak."
Damian melirik sekilas. Dia menarik sudut bibirnya, tidak matre? tetapi semua barang-barang mahal gadis itu sebutkan.
“Ada lagi?"
“Tentu saja ada."
“Katakan, apa yang kamu inginkan?"
Kaeta tersenyum malu-malu. “Kalau bisa suntikan Dana lebih besar di Rumah Sakit, Daddy ku dan jangan hentikan pemasukan alat-alat medis.
Damian langsung tersentak. begitu juga dengan Tuan Wesley. “Apa maksud mu? ti... "
“Mungkin maksud Kaeta, jangan ada keterlambatan dalam pengiriman" Sela Damian dengan cepat, Kaeta menganggukkan kepalanya.
“Iya, beberapa hari lalu... "
“Dad, bagaimana apakah kau merestui aku dengan Kaeta?" lagi Damian menyela, dan ini membuat Tuan Wesley menatapnya tajam.