"Kamu bicara seakan-akan mengerti segalanya tentang hidup, Daniel," suara Damian terdengar berat, pelan, namun sanggup membungkam Nico dan Reyhan yang sudah saling cengkeram di sudut meja.
Daniel malah terkekeh, meski tangannya di dalam saku celana mengepal erat. "Aku hanya mengerti satu hal saja Paman. Nasi kotak di atas mejaku ini rasanya jauh lebih enak dibanding drama ikan yang mendadak serangan jantung itu."
Damian melirik paper bag di atas meja Daniel dengan sudut mata. Hanya sekilas, tetapi ada kilat ketidaksukaan yang begitu terlihat jelas sebelum dia kembali menatap Daniel.
"Jaga batasanmu," ucap Damian datar, "Kehidupan Kaeta bukan konsumsi publik, apalagi bahan taruhanmu dengan para sahabatmu itu"
"Ini bukan taruhan, Paman. Ini hanya perlindungan," balas Daniel tidak kalah tajam, senyum jahilnya memudar berganti tatapan serius. "Kalau Paman hanya bisa memberikan dia air mata seperti semalam, lebih baik Paman balik ke markas. Ada musibah yang lebih membutuhkan penanganan Paman dibanding perasaan Kaeta."
Damian terdiam dan tidak membalas lagi kalimat Daniel. Pria itu menyandarkan bahunya sesaat pada kusen pintu, menatap Daniel dengan tatapan dingin, tatapan yang sebenarnya membuat mental Daniel merosot ke dasar bumi. Tanpa sepatah kata pun, dia berbalik, melangkah pergi meninggalkan koridor dengan langkah lebar.
"Gila... gila... demi keturunan dinosaurus, aku merinding sampai ke usus buntu!" Nico bernapas lega sembari menepuk dadanya berkali-kali begitu punggung Damian menghilang.
"Daniel, Sumpah, kamu keren banget tapi jujur aku udah menyiapkan ambulans untuk jasad mu," celetuk Reyhan yang masih mengelus sikunya.
"Diam gak kalian," Timpal Sam datar, matanya melirik Daniel yang saat kembali duduk di kursinya. "Jadi, bekal itu mau kamu makan sekarang atau mau disimpen di museum?"
Daniel tidak menjawab. Tangannya sibuk membuka tutup wadah bekal buatan Kaeta. Isinya hanya nasi goreng dengan bentuk telur dadar yang agak keriting dan sedikit gosong di pinggirnya, tetapi bagi Daniel, itu adalah mahakarya abad ini. Dia mengambil sendok dan menyuapnya tanpa ragu.
"Enak?" tanya Jordan penasaran.
Daniel mengunyah pelan, menelan makanan itu, lalu mengangguk penuh semangat. "Keasinan dikit. Tapi berhubung ini dibuat pakai cinta dan tetesan air mata, rasanya jadi kayak bintang lima."
Prttt
Mereka menahan tawa, cinta Daniel memang buta.
*
Sementara itu, di lantai dua gedung fakultas yang sama, Kaeta sedang duduk di bangku taman bersama Zeta. Gadis itu tidak terlalu fokus pada buku tebal yang terbuka di pangkuannya. Tangannya sibuk menggulir layar ponsel, melihat postingan status media sosial milik markas damkar tempat Damian bertugas, berharap ada unggahan terbaru yang menampilkan foto pria.
"Kae, kamu dengerin aku gak sih?" Zeta menepuk bahu Kaeta.
"Hah? Apa, Zet?" Kaeta menoleh dengan wajah polosnya. Matanya yang sedikit sembab masih terlihat jelas di bawah sinar matahari pagi.
"Kamu tuh ya! Semalam nangis-nangis kaya orang Gila gara-gara Om-Om pemadam kebakaran itu bawa cewek ke apartemennya, sekarang malah melamun mikirin dia lagi! Otak mu dipindah ke mana sih?" Kesal Zeta.
Kaeta menghela napas panjang, menopang dagunya dengan kedua tangan. "Tapi Zet..Damian itu beda. Dia sangat misterius, dingin, terus seragam damkar nya membuat kharismanya naik seribu persen. Kamu gak paham pesona pria dewasa."
"Pesona mata mu!" Zeta mendengus kasar. "Pria dewasa yang kamu puja itu jelas-jelas sengaja bikin kamu ilfiel biar kamu menjauh! Kamu aja yang gak paham juga?"
"Ya tinggal aku dekatin lagi sampai dia gak bisa lari," Jawab Kaeta enteng, bibirnya mengerucut. "Lagi pula, semalam kan aku cuma shock aja. Lagian cewek itu... paling cuma temennya. Atau sepupunya dari garis keturunan jauh!"
"Astaga, bisa-bisanya aku punya calon anak tiri modelan kayak gini.." Zeta menepuk jidatnya sendiri. "Oh iya, Kamu tadi ngasih bekal ke Daniel kan? Terus reaksinya gimana?"
Kaeta teringat kertas note yang dia tempel di kotak bekal tadi pagi. "Ya cuma aku simpen di mejanya terus aku pergi. Lagian aku cuma mau bilang makasih aja. Kasihan Daniel kemarin nyetir malam-malam cuma buat anterin cewek cengeng kaya aku."
"Daniel kecintaan banget sama kamu Kae, tapi kamu yang bodoh malah kecintaan ke Damian."
"Dia bagiku hanya temen bercanda yang asyik, Zet. Beda kelas sama Damian," Ujar Kaeta, tiba-tiba saja pandangannya mengarah ke satu titik.
Di sana, Damian yang ternyata baru saja keluar dari gedung dekanat, sedang berjalan menuju mobil operasionalnya. Pria itu terlihat sangat berwibawa meski hanya mengenakan pakaian dinas harian. Kaeta yang awalnya lesu, mendadak berdiri tegak bagaikan mendapat suntikan dopamin.
"Zet, titip buku ku sebentar" Kaeta langsung berlari kecil memotong jalur lapangan tanpa memperdulikan teriakan Zeta yang memanggil namanya.
"Kaeta! Mau ke mana kamu?!"
Kaeta tidak peduli. Dia berlari kecil menyeberangi area parkir sampai langkahnya berhenti tepat di depan Damian yang hendak membuka pintu mobilnya.
"Damian!" panggil Kaeta napasnya terengah-engah
Damian menghentikan tangannya yang menggapai gagang pintu. Dia menoleh pelan, menatap Kaeta dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan datar tanpa ekspresi. Tidak ada rasa bersalah, tidak ada keramahan.
"Kenapa di sini?" tanya Damian dingin. "Ini lingkungan kampus, bukan tempat main-main."
Kaeta memutarkan tubuhnya sedikit, mencoba bersikap manis meski matanya yang bengkak. "Aku memang kuliah di sini, Dam. Kamu sendiri ngapain ke kampus aku? Kengen aku ya?"
"Urusan dinas dengan pihak rektorat," jawab Damian singkat. Dia hendak masuk ke dalam mobil.
"Tunggu dulu!" Kaeta menahan pintu mobil Damian dengan kedua tangannya. "Tentang..sema..semalam..."
Damian menghentikan gerakannya. Tatapan matanya muali menajam. "Soal semalam sudah jelas, Kaeta. Jangan membuang waktumu untuk hal-hal yang tidak penting. Pulang, belajar, dan dengarkan kata Daddy mu."
"Tapi perempuan itu siapa?" Tanya Kaeta, matanya mulai berkaca-kaca lagi. Sifat pantang menyerahnya kembali bertempur dengan rasa cemburu. "Aku tau Dam, kamu pasti sengaja kan?"
"Bukan urusanmu," Jawab Damian. "Minggir!"
"Gak mau sebelum kamu mengatakan kalau Kamu gak suka sama perempuan itu!"
"Kaeta, lepaskan."
Sebelum Kaeta sempat menjawab, sebuah tangan tiba-tiba merangkul bahu Kaeta dengan santai dari belakang dan menariknya mundur perlahan dari pintu mobil Damian.
"Tuan Putri, pagi-pagi udah bikin drama di parkiran," suara Daniel memecah ketegangan. Daniel berdiri di samping Kaeta sembari memegang sebuah kaleng minuman dingin yang langsung ditempelkannya ke pipi Kaeta yang bengkak.
"Aww! Dingin, Daniel!" Kaeta meringis sembari menepis pelan tangan Daniel, tetapi dia tidak benar-benar menjauh.
"Lagian mata udah mirip bakpao dikukus dua kali masih aja nekat ngejar pemadam kebakaran yang sok cuek ini" ledek Daniel terkekeh pelan. Lalu dia menatap Damian yang masih berdi di samping mobilnya.
Daniel menyunggingkan senyum tipis, "Paman Damian mau jalan sekarang kan? Kasihan sirine nya nanti karatan kalau kelamaan nunggu di sini. Biar Kaeta aku yang urus."
Damian menatap pertautan tangan Daniel di bahu Kaeta, lalu beralih menatap wajah Kaeta yang terlihat kebingungan dan serba sala.Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, Damian masuk ke dalam mobilnya, menutup pintu dengan dentuman keras, dan melajukan kendaraan itu meninggalkan area kampus dengan kecepatan sedang.
Kaeta menatap mobil Damian yang perlahan menjauh dengan raut wajah lesu. "Dia selalu begitu."
Daniel mengacak rambut Kaeta dengan gemas sehingga gadis itu mengaduh kesal. "Dia gak marah, Princess. Dia cuma lagi panik karena sadar saingannya terlalu tampan"
"Ih! PD banget kamu!" Kaeta meninju pelan lengan Daniel.
"Tapi nasi gorengnya enak kok, ya meskipun asinnya bisa bikin darah tinggi," goda Daniel sembari mengedipkan sebelah matanya.
Kaeta akhirnya tertawa pelan, membiarkan Daniel menarik pelan lengannya menuju gedung fakultas.
“Kaeta!! ikut Aku!"