Author POV
Dain terbangun bukan karena alarm, bukan karena delay, bukan karena Freya, melainkan karena Letta mengetuk kertas jam jelek di kulkas, seolah takut magnetnya lepas semalam, seolah takut roster itu kabur sendiri ke dunia yang suka judul.
Kaos masih di badan. Ember masih di lantai, kosong, menganggur, seperti janji yang tidak dipakai dan tetap harus ada. Plafon retak di pojok yang sama. Gorden turun. Portal mati. Rantai di dalam. Di kulkas, jam masih menempel, sayap pesawat di bawahnya masih tidak simetris, dan pagi itu rumah berbunyi seperti hangar kecil yang diperiksa hakim.
"Om, jam masih. Om tidak cabut. Lulus. Bunda angka. Om masak. Minggu dekat, hari ini masih rumah. Kaos. Hakim lapar. Jangan kerah. Jangan lagu. Jangan buka grup. Titik."
Dain duduk, kesemutan, punggung sofa menuliskan garis, dan ia cek ponsel dengan takut kebiasaan, bukan dengan lapar berita. Tidak ada Freya. Tidak ada judul hamil. Ada Nana: dua pelanggan lama, pewangi, tidak ada yang minta Lita turun. Ada Jon: sepi, tidak ada hoodie di gang. Ada Orl: grup mama sepi, Freya lagi lagu, jangan buka, jangan sampai kamu yang bikin judul. Dia tidak buka. Lita sudah di sofa, kacamata, pipi kuning, tidak pucat, ember tidak dipakai.
"Tidak mual. Jangan IGD muka. Air sudah. Telur, garam sedikit, jangan ngegas api. Jangan buka grup. Tanya perut masih di sekolah, bukan di portal. Kita sapu. Kita tidak lahirkan nama karena takut mulut. Nama nanti. Sekarang titik. Kamu masih sofa. Minggu dekat, bukan hari ini. Jangan latihan terbang di kepala sampai kamu tidak tidur."
Dain ke dapur, api kecil, tidak ngegas. Minyak sedikit, garam di ujung sendok, Letta jadi hakim telur, kaki menggantung di kursi, barbie di meja jauh dari api, mencicipi, menimbang, luluskan dengan wajah serius yang membuat Dain ingin tertawa dan menahan.
"Tidak asin. Tidak gosong. Om tinggal. Bunda enam suap. Titik. Kalau om buka portal, hakim ambil piring. Kalau om ngegas, telur gagal. Kalau om cabut jam, hakim cabut permen."
"Tidak cabut. Tidak ngegas. Titik." Lita makan enam suap, damai, lalu buah, damai. Dain berdiri makan, tidak duduk di kasur, tidak duduk di kursi kepala, hanya berdiri di dapur seperti orang yang masih belajar rumah. Mereka tidak TV. Radio tidak. Dain hampir buka portal, jari sudah di kaca, Lita tepuk tangan sekali, pelan, dari sofa.
"Diam. Beli diam. Jam di kulkas bukan izin judul. Kalau kamu lapar berita, makan telur. Kalau kamu lapar Freya, cuci piring. Kalau kamu lapar hero, tidur. Medis bilang tidur. Jujur itu termasuk tidur. Jangan beli selesai di pagi yang masih rumah."
Dain cuci piring. Letta mengeringkan gelas, salah letak, Lita komando dari sofa, rumah berbunyi kerja, bukan pesta. Siang, Lita telpon Nana, blok satu kasar, Bu Sari pewangi, tidak minta turun, tidak lima menit, tidak gang. Dain bantu PR, salah bagi, dibetulkan, pelan, jangan ngegas di soal, jangan ngegas di angka, jangan ngegas di kepala. Letta ulang titik untuk video wali, seperti mengulang doa pendek yang tidak boleh jadi cerita.
"Bunda berobat. Dokter. Istirahat. Titik. Tidak perut. Tidak tumbuh. Tidak adik. Kalau wali tanya lama, Letta ulang titik. Kalau teman tanya, Letta diam. Kalau tante judul, Letta ember, bukan pukul."
Dain di kamar saat layar wali, keluar setelah mati, cuci piring sampai bersih, Lita biarkan, tidak komando berlebihan, cukup. Lita menutup laptop, kacamata didorong, nota lurus. "Video lulus. Tidak perut. Kamu tidak muncul. Bagus. Om di kamar, bukan di bingkai. Kalau kamu muncul, jadi berita. Kalau kamu diam, jadi rumah."
Sore, koridor dalam tiga putaran, tidak lima, Dain hitung, Letta hitung, Lita di kusen, tidak di lobby. Tetangga menunduk, tidak tanya perut, tidak tanya jam, satu hampir buka mulut, Dain sudah menunduk lebih dulu. Masuk, rantai, gorden, portal tetap mati. Jesika chat: ibu datang pagi terbang, bukan malam ini, Dain tidur, Lita jangan toko di kepala, Gavin tidak datang, cukup. Gavin chat: pelan. Dain balas titik, hanya itu, dan titik itu terasa seperti kerja. Lita tersenyum kecil, jarang. "Ayahmu belajar pendek. Pendek tidak menjual tas. Pendek tidak beli selesai."
Malam Freya tidak chat. Diam licin, bukan diam rumah. Dain menyapu remah, Lita mengkritik sudut yang dilewati, Letta meniru sapu di udara. Kerja kecil, bukan judul. Lalu Lita ke ambang kamar, lebih kuat, lebih capek, memegang kusen seperti orang yang tidak mau jatuh ke judul.
"Dain. Hari-hari ini kamu masih sofa. Jangan ke gerbang. Jangan ke kampus. Jangan latihan terbang di kepala sampai kamu tidak tidur. Medis bilang tidur kurang. Jujur itu termasuk tidur. Ember menganggur. Kaos. Tidak cincin. Tidak selesai. Tidak sangkalan panjang. Perut jadi tanya di dunia, belum nama di rumah. Kita tahan. Kita sapu. Kita tidak beli judul. Kalau kamu lapar apron, setrika kemeja, jangan gosong. Kalau kamu lapar hero, cuci ember yang tidak terpakai. Menganggur bagus."
"Tidur. Tidak gerbang. Tidak putar. Pulang nanti, sekarang rumah. Sofa. Titik." Dain menatap plafon. Letta titip barbie sebentar di dada om, lalu ambil, aturan malam yang sudah hafal. Dain memejam, jam jelek di kulkas, perut jadi tanya di dunia, belum nama, sector belum, muka ember, bukan cafe, bukan lagu, bukan hon. Magnet roster sedikit longgar. Dia tidak cabut. Dia tekan. Itu kerja malam: tekan magnet, bukan buka grup.
Dia hampir tidur, lalu bangun sebentar, cek ember, cek rantai, cek gorden, cek Lita yang sudah tutup pintu, tidak kunci. Rumah tidak pecah. Itu yang mereka beli. Bukan selesai. Bukan tas. Beli diam. Beli jam yang jelek dan tetap ditempel. Beli tiga sector yang belum, bukan piala yang sudah. Beli Mom di pagi terbang, bukan hero di malam ini. Beli titik di mulut Letta, bukan tumbuh di grup. Dia memiringkan tubuh, kaki menggantung, ember di lantai, dan untuk malam ini, roster di kulkas tidak membuatnya ngegas ke siapa pun. Hanya rumah. Hanya kaos. Hanya tidak kabur. Hanya tidak beli selesai. Hanya jam jelek yang tetap menempel sampai pagi berikutnya, sampai minggu dekat benar-benar datang, sampai dia harus kabari, sampai dia harus pulang, sampai dia harus muka ember di langit yang pendek.
Letta di kamarnya berbisik ke barbie, Dain dengar samar, tidak masuk. "Jam masih. Om tidak cabut. Bunda titik. Tante jangan judul. Hakim larang pukul. Hakim izinkan ember. Om kabari. Om pulang. Titik." Dain tersenyum kecil di gelap, tidak pesta, tidak lagu. Lita batuk sekali, bukan IGD. Ember menganggur. Portal mati. Sofa menuliskan garis di punggung. Itu malam rumah, bukan malam judul, dan Dain memaksa dirinya tidur sebelum kepala jadi toko.