Author POV
Hari-hari menuju minggu dekat memendek seperti sebelum briefing, sebelum medis, sebelum lima menit toko yang sudah mereka pelajari mahal.
Dain bangun karena alarm percobaan, terlalu keras, Lita mengumpat pelan lalu tertawa kecil dari ranjang. "Belum hari H. Matikan. Ember menganggur, kamu jangan jadi sirine." Dain matikan, malu, cuci muka. Ember kosong. Lita mual sedikit, tidak hebat, jalan pelan ke kamar mandi, Dain di luar dengan ember yang tidak jadi pakai, Letta di ranjang mengulang seperti PR: bunda berobat, dokter, istirahat, titik.
"Bunda tidak bunyi banyak. Om jangan IGD muka," kata Lita dari dalam, serak, lalu keluar, pucat tipis, minum air. "Bubur. Bukan telur. Hakim kompromi. Satu tetes madu. Bukan pesta manis."
Bubur, bukan telur. Letta protes, menerima, minta dua tetes, ditolak, hakim kompromi dengan muka kesal yang lucu. Dain hampir tambah telur, Lita menggeleng. Nana kirim angka: sepi mereda, dua lama, titipan tanpa nama nol, satpam sepi, plat tidak. Lita mencatat garis lurus, tidak turun, tidak mesin, tidak lima menit, tidak foto gang.
"Kemenangan hari ini: saya tidak rindu sampai bodoh. Kamu jangan ke bandara lebih awal. Jangan ngegas ke apron. Setrika, kerah, diam. Kalau kamu pergi sekarang, itu takut, bukan tepat waktu. Takut boleh duduk. Takut tidak boleh dikendarai."
Dain tinggal. Dia setrika kemeja dinas di ruang tamu, pelan, tidak gosong, dan Lita dari sofa luluskan kerah dengan mata, bukan dengan tangan yang capek. "Kerah lurus. Bukan kerah pesta. Dinas. Jangan tas miliaran. Jangan cincin di saku. Kalau kamu pakai cincin, saya cabut jam. Kalau kamu beli selesai di kepala, telur gagal, bubur juga gagal."
Letta titip permen takeoff di map, cadangan mendarat di saku dalam, dua permen, dua aturan, dua kali kabari. Dain mengangguk, tidak tertawa besar, hanya simpan, hanya titik. Siang panas di balik gorden, rumah tidak buka jendela lebar. Dain tidak portal, tidak grup, tidak lagu. Lita angka, koreksi dua, puas. Letta bagi, Dain salah di desimal, dibetulkan, ulang, salah cerita, dibetulkan lagi, Lita menyela: "Jangan ajar ngegas di soal." Dain pelan. Letta luluskan om dengan muka kemenangan kecil.
Jesika chat: ibu datang subuh hari terbang, bukan malam ini, Dain tidur, jangan jaga sampai merah. Dain hampir tidak menurut, berdiri di dapur, lalu tidur siang dua puluh menit di sofa, bangun karena Letta menaruh barbie di map dinas, Lita ambil, tegas.
"Barbie tidak ke bandara. Om saja. Bandara bukan perang mainan. Map jangan jadi rumah boneka." Dain tertawa, pecah, setuju. Map dirapikan. Barbie ke sofa. Ember tetap di lantai, saksi konyol.
Sore, kode dua kali, Jon: sahabat. Orlando mampir sebentar, sepatu di luar, tidak omong burung, tidak balado di meja.
"Hari terbang gue tidak antar cockpit. Gue monitor Freya. Jon basement. Tante Jesika unit. Loe kabari sebelum takeoff, setelah mendarat, delay. Jangan putar. Jangan cafe. Kalau judul hamil muncul, pengacara, bukan loe di udara tulis sangkalan. Sangkalan di udara jadi berita. Loe kerja. Rumah kerja. Jangan hero. Jangan hon. Jangan balik ke orang yang jual tes. Kalau ada yang nunggu di bandara, masuk, chat gue, jangan debat parkir."
Lita minta speaker. "Dia kerja. Saya angka. Hakim titik. Kamu monitor. Jon basement. Jangan loe bawa Dain ke cafe tujuh tahun. Langsung rumah." Orl angguk. Letta dari kursi: "Om berisik. Titik. Tidak burung. Om kabari. Kalau om ngegas, hakim ambil permen." Orl tertawa kecil, titik, tidak berdebat dengan hakim, pergi, rantai dikunci Dain, gorden dicek, portal tetap mati.
Mereka tidak ke koridor lima. Mereka tiga, Lita di kusen, tetangga menunduk, tidak tanya perut. Masuk, rantai. Freya tidak chat. Diam licin. Mereka tidak menggigit. Dain cuci tangan, Lita buka nota lagi, Letta gambar jam baru di bawah roster, lebih jelek, lebih jujur, magnet longgar, Dain tekan.
Malam Lita lebih lama di ambang, memegang kusen, suara pelan, bukan judul.
"Saya takut sendirian di judul, bukan takut kamu terbang. Terbang hakmu. Judul bukan hak Freya. Kalau dia sebar saat kamu di atas, Mom. Bukan kamu putar. Janji ketiga. Saya bos angka. Kamu bos pulang. Hakim bos titik. Ember bos kalau mual. Pengacara bos kalau judul. Kamu jangan jadi bos semua. Kamu jadi orang yang kabari dan pulang. Sofa masih sofa. Ember menganggur, biarkan. Jangan kamu bawa ember ke bandara, Orl benar, aneh."
"Janji. Tidak putar. Kabari. Pulang. Tidak sangkalan di udara. Tidak cafe. Tidak hon. Sofa. Tidak ember ke bandara." Dain menatap plafon. Letta titip barbie sebentar, ambil, aturan. Dain tidur, tidak dalam, cukup, alarm belum hari H, permen di saku map, jam jelek di kulkas, magnet ditekan lagi, sayap tidak simetris, rumah tidak pecah.
Pagi berikutnya, hari masih rumah, belum sector. Dain hampir ke bandara hanya untuk melihat apron, Lita tepuk tangan dari sofa.
"Tidak. Latihan di kepala sudah. Latihan di apron jadi berita. Kamu di rumah. Kaos. PR. Telur. Titik. Kalau kamu lapar pesawat, setrika kemeja sekali lagi, jangan gosong. Kalau kamu lapar hero, cuci ember yang tidak terpakai. Menganggur bagus."
Dain setrika sekali lagi, tidak gosong. Letta menempel gambar jam baru di bawah roster, lebih jelek, lebih jujur. "Om dekat. Bukan jauh. Nenek subuh. Ember ada. Om kabari. Kalau tante judul, Letta titik, bukan pukul." Dain berjongkok, sejajar. "Dekat. Pulang. Titik, bukan pukul." Siang ia cuci ember yang tidak terpakai, keringkan, taruh. Letta membantu berlebihan, Lita: cukup. Nana aman. Jon sepi. Freya tidak chat. Diam licin. Mereka tidak gigit.
Sore, Dain cek tas kecil: kartu, kemeja, permen, notes pulang, tidak ada cincin, tidak ada tas mahal, tidak ada lagu. Lita cek seperti nota. "Bagus. Dinas. Kurang satu: muka ember. Simpan di kepala. Jangan cafe. Jangan tujuh tahun setelah mendarat. Langsung rumah. Hakim tunggu jam." Dain simpan muka ember. Mereka koridor tiga, bukan lima. Masuk, rantai. Malam ia tidur lebih awal, dipaksa Lita, dipaksa hakim, dipaksa medis yang sudah jujur soal sofa.
Dia bangun sekali tengah malam, bukan karena Freya, karena perut Lita berbunyi lapar kecil. Bubur sisa, dihangatkan, tidak ngegas, Lita makan tiga suap, damai, kembali ke kamar, tidak kunci. Dain cuci mangkuk, ember menganggur, portal mati, dan ia kembali ke sofa seperti orang yang sudah hafal garis punggung. Tidak beli selesai. Beli tidur. Beli tidak putar. Beli muka ember yang belum dipakai di langit. Pagi belum sector. Minggu dekat, belum di tangan. Cukup. Bukan selesai. Cukup.