Author POV
Pagi berikutnya Lita tidak minta mesin, tidak minta sangkalan, tidak minta Dain ke gerbang, tidak minta nama bayi.
Dia minta angka, minta telur, minta air, minta Dain tidak buka grup orang tua, tidak buka portal, tidak buka lagu. Dain menurut, tangan sempat gatal di kunci, lalu cuci piring, lalu masak, garam sedikit. Hakim luluskan. Nana: sepi mereda, satu kasar lagi, blok, Bu Sari pewangi. Lita catat, bos. Letta video wali, kemeja sekolah, latar merapikan, foto Dain tetap turun. Dain di kamar, dengar kalimat hafal, tegak: bunda berobat, dokter, istirahat, titik. Wali tidak tanya perut, hanya tugas. Lulus. Layar mati. Dain keluar, cuci piring yang sudah bersih, Lita membiarkan, karena tangan yang gatal perlu kerja bodoh. Ember kosong. Titik di kulkas. Tanya masih di dunia, belum di judul, mereka harap.
Siang, email roster masuk ketika Lita sedang menelpon Nana. Dain tidak berteriak. Dia tunggu tutup, lalu bacakan dua kali, pelan, seperti nota kiloan: sector pendek minggu depan, dua kota dekat, pulang hari yang sama, tidak menginap, sesuai tiga sector, jam berangkat, jam kira-kira mendarat. Lita catat di kertas, bukan di kepala, tempel kulkas dekat titik, dekat pesawat jelek, dekat om kabari om pulang.
"Kabari sebelum takeoff. Kabari setelah mendarat. Kalau delay, kabari. Jangan romantis. Dinas. Kalau portal hamil, Mom dan pengacara. Jangan putar pesawat. Jangan minta sector keempat diam-diam. Saya bos angka. Kamu bos pulang. Letta bos titik. Hakim larang hero."
"Bos pulang. Tidak hero. Tidak keempat." Dain menulis jam besar. Letta gambar jam jelek, jarum tidak masuk akal, matahari di malam, tetap ditempel. Rumah jadi hangar kecil: ember, titik, jam, pesawat, tidak beli selesai, tidak beli tas, tidak beli judul.
Sore, kode dua, Jesika datang, baca roster di kulkas, puas pelan, tidak pesta, tidak belanja, tidak cincin. Beliau menatap jam jelek Letta, tersenyum tipis.
"Ibu di sini hari itu, dari pagi. Dain, jangan hero, jangan tambah sector diam-diam, jangan belok cafe setelah mendarat. Lita, jangan keras kepala toko, jangan lima menit, jangan gerbang sekolah. Letta, titik, jangan tumbuh, jangan ember ke teman." Tiga hafal, diulang sekali. Gavin: pelan. Orl: gue monitor Freya, dia siap judul, kita siap diam, loe siap pulang, jangan putar.
Jesika duduk sebentar, pegang tangan Lita, tidak pegang perut. "Tanya di grup bukan vonis. Jangan lahirkan nama karena takut mulut. Nama nanti. Sekarang titik." Lita mengangguk. Dain mengangguk. Letta mengangguk. Hangar kecil itu penuh orang yang belajar pendek. Jesika cuci gelas, Dain dilarang membantu berlebihan, Letta dilarang cerita tumbuh, Lita dilarang buka toko di kepala. Empat larangan, satu rumah. Sore jadi malam tanpa judul baru. Itu yang mereka beli: bukan selesai, bukan cincin, hanya hari yang tidak pecah, hanya jam jelek, hanya titik, hanya om yang masih di sofa, kaki menggantung, sebelum minggu dekat benar-benar datang.
Mereka makan. Telur lulus, tidak gosong. Lita enam suap, lalu buah. Dain tidak buka lagu, tidak radio, sepi yang diizinkan. Letta mengunyah, tanya, serius.
"Om dekat, kan? Bukan jauh. Bunda tidak sendirian. Nenek ada. Ember ada. Om kabari. Kalau tante judul, Letta titik, bukan pukul."
"Dekat. Pulang. Tidak kabur. Titik, bukan pukul." Dain berjongkok, sejajar. "Kalau orang tanya perut, titik. Om di udara, kamu tetap titik. Om tidak putar. Nenek jaga. Kamu jaga pintu kamar, bukan lobby."
Letta mengangguk, menempel gambar jam. Jesika menatap Dain: jangan menangis di depan roster, nanti jadi pesta. Dain tidak menangis. Dia cuci piring, keringkan, salah letak gelas, Lita komando dari sofa, Letta tertawa kecil, rumah berbunyi kerja. Jesika pulang sebelum magrib, tidak menginap, cukup. Gavin tidak datang, cukup. Orl tidak mampir, cukup. Cukup itu tema. Bukan selesai. Bukan judul. Cukup.
Malam Lita di ambang, lebih kuat, lebih capek.
"Dain. Perut jadi tanya. Saya belum kasih nama. Saya belum bilang adik. Saya bilang ini: kamu terbang dekat, saya tidak kabur, kita tidak beli selesai. Kalau dia sebar, kita sapu. Kalau tidak, kita tidur. Sofa. Bukan cincin. Bukan sangkalan panjang. Bukan ngegas ke gerbang. Muka ember, bahkan di sector pertama."
"Sofa. Dekat. Pulang. Tidak beli selesai. Jujur medis, jujur jam, jujur takut. Tidak putar." Dain menatap plafon. "Saya takut senang roster. Saya tahan. Senang kecil: jam di kulkas, bukan judul."
"Tahan. Tidur. Ember menganggur, biarkan. Kaos. Portal mati." Lita hampir tutup, lalu menambah, pelan. "Kalau kamu di udara dan saya mual, Mom. Bukan kamu yang putar. Janji lagi."
"Janji. Tidak putar. Kabari. Pulang."
Letta titip barbie sebentar di dada om, lalu ambil, aturan malam. "Om pakai ember tidur, bukan kerah. Minggu dekat. Tante jangan judul. Hakim larang. Om kabari. Om pulang. Bunda titik."
"Hakim tercatat. Kabari. Pulang. Titik." Dain cek rantai, cek jam di kulkas, cek gorden. Lita sudah tutup pintu, tidak kunci. Ember menganggur. Dia benar-benar tidur, kaos, bukan kerah, portal mati, perut jadi tanya di dunia, belum nama di rumah, dan sector pendek yang menunggunya seperti lima menit toko: cukup, jangan lebih, kali ini dia sudah tahu lensa bisa di atas gang, jadi dia akan terbang dengan muka ember, bukan muka cafe, bukan muka lagu, dan dengan kertas di kulkas yang lebih jujur daripada perjanjian pertama. Tidak beli selesai. Tidak beli tas. Beli pulang. Beli diam. Beli jam yang jelek dan tetap ditempel. Beli tiga sector, bukan piala. Beli Mom di pagi terbang, bukan hero. Beli titik di mulut Letta, bukan tumbuh di grup. Dia memiringkan tubuh, kaki menggantung, ember di lantai, dan untuk malam ini, roster di kulkas tidak membuatnya ngegas ke siapa pun. Hanya pulang. Hanya kabari. Hanya tidak kabur. Hanya tidak beli selesai. Hanya tidak buka grup. Hanya jam jelek yang tetap ditempel sampai pagi.