Author POV
Pagi kontrol datang lebih cepat daripada berita yang reda.
Lita bangun mual lagi, lebih ringan. Dain sudah siapkan kantong dan air. Letta ngeyel mau ikut ke rumah sakit.
"Teman-teman nanti tanya bunda di TV. Letta jaga bunda."
"Kamu jaga dari rumah," kata Lita. "Nenek baik jemput. Kamu jangan ke rumah sakit dulu. Kemarin kamera."
Jesika memang datang, membawa Letta ke rumah Rocarlton untuk sehari, bukan untuk pamer, untuk menjauhkan anak itu dari lobi klinik. Letta cium Lita lama, lalu Dain.
"Om jangan telat. Bunda jangan jatuh."
"Tidak jatuh. Pergi."
Di mobil, Lita duduk dengan sabuk longgar. Dain menyetir pelan. Radio dimatikan karena takut berita. Mereka diam sampai lampu ketiga.
"Aku takut dokter bilang kemarin salah," kata Lita. "Detak hilang. Aku sudah kasih nama di kepala. Bodoh."
"Bukan bodoh. Kita dengar apa kata alat, bukan apa kata takut." Dain mengetuk setir pelan. "Aku juga takut. Aku tidak pamer takut itu ke portal."
Klinik rawat jalan lebih sepi daripada IGD. Nama Lita dipanggil tanpa nama belakang Rocarlton. Dain masuk karena Lita izinkan, kali ini boleh melihat layar kalau Lita mengangguk.
Lita mengangguk.
Layar itu abu-abu, aneh, lalu ada titik, lalu ketukan. Teknisi lebih cepat daripada malam di IGD.
"Masih ada. Ibu istirahat. Jangan angkat. Jangan stres kalau bisa. Kontrol sesuai jadwal. Kalau nyeri hebat atau darah, langsung."
Lita menangis lagi, tapi lain: bukan takut habis, takut campur syukur yang tidak berani keras. Dain memegang bahunya, kacamatanya basah, konyol untuk laki-laki yang biasa bercanda di rumah Senja.
"Jangan bilang ke Letta dulu," bisik Lita. "Biarkan dia kira bunda pusing. Kalau berita Freya masih ngejar, aku tidak mau perut ini jadi babak kedua."
"Tidak. Notes. Jaga. Jangan statement."
Mereka keluar lewat samping. Lorong rawat jalan berbau sama seperti IGD, membuat Lita sempat berhenti. Dain menunggu, tidak menarik.
"Pelan. Tidak ada yang kejar di dalam."
Di parkir tetap ada satu orang dengan ponsel. Dain tutup muka Lita dengan jaket, bukan karena malu punya Lita, karena janji tidak memberi gambar perut. Lita sempat tergelak pelan di balik kain.
"Aku seperti barang selundupan."
"Barang yang tidak boleh jadi konten. Naik."
Mobil pergi sebelum orang itu sempat jalan. Dain melihat spion: orang itu hanya merekam plat, lalu berhenti ketika satpam mendekat.
Di perjalanan pulang, Lita memegang jaket di pangkuan, masih berbau Dain. Dia tidak memakainya. Dia hanya memegang.
"Kalau detak itu laki-laki, aku takut dia dapat muka kamu yang suka kabur. Kalau perempuan, aku takut dia dapat muka aku yang suka menunduk."
"Kita urus muka itu pelan. Hari ini detaknya ada. Itu yang kita bawa pulang."
Orlando menelepon.
"Judul pagi lebih jelek. Freya live singkat, habis ditarik, tapi cuplikan sudah keburu. Dia bilang lab palsu, keluarga loe tekan dokter, dia masih hamil, Dain pilih pelakor. Pengacara kirim somasi ke dua portal yang mau tulis 'hamil' tanpa hasil. Loe diam. Tante Jesika sudah di rumah, Letta aman, tidak nonton TV."
"Freya dimana?"
"Apartemennya. Ada mama. Ada dua teman. Jangan ke sana. Reza chat gue: Freya ancam sebar foto mereka kalau Reza tidak ngaku ini anaknya. Reza menolak. Dia takut. Gue suruh diam, rekam ancaman."
Dain menatap jalan. "Gue ke Lita dulu. Siang gue ke Dad."
"Bagus. Jangan hero."
Lita mendengar cukup untuk mengerti. "Dia tidak berhenti."
"Dia tidak dapat kertas, jadi dia pakai mulut. Mulut bisa disomasi. Kamu makan dulu. Aku tidak ke apartemennya."
Di unit, Lita berbaring. Dain masak bubur yang lebih hambar, lebih aman. Dia cuci piring. Dia lipat baju Letta. Pekerjaan kecil membuat tangannya tidak menelepon Freya.
Siang, Gavin mengadakan rapat singkat di rumah: pengacara, Jesika, Dain, Orlando. Letta di lantai atas dengan pengasuh lama keluarga, bukan di ruang itu.
"Kita tidak balas live," kata pengacara. "Kita kirim hasil lab ke portal yang bertanya secara resmi, dengan izin Dain, tanpa menyebut nama Lita. Kalau mereka tetap tulis 'kekasih hamil dibuang', kita somasi. Freya boleh nangis. Dia tidak boleh menulis diagnosa palsu."
"Lita?" tanya Jesika.
"Tidak disebut. Pasien IGD tetap privasi. Kalau Freya sebut nama laundry lagi, kita minta turunkan. Toko boleh buka terbatas."
Dain mengangguk. "Saya mau ke laundry sore, lima menit, bukan untuk foto. Untuk karyawan."
"Lima menit. Masuk belakang. Tidak ada wawancara," kata Gavin. "Pulang sebelum magrib. Lita jangan ditinggal malam tanpa orang di basement."
Rapat selesai tanpa drama. Dain naik ke lantai atas, Letta sedang menggambar pesawat yang jelek.
"Om, nenek kasih kue. Bunda boleh kue?"
"Bunda boleh dikit. Nanti om bawa. Kamu tidur di sini sampai sore, nenek antar pulang."
"Om ke Tante Frey?"
"Tidak. Om ke toko bunda. Cepat."
Laundry siang itu berbau setrika dan sabun, bukan kamera. Mesin belakang berputar. Ada satu pelanggan lama di samping, tidak menoleh. Nana menangis ketika Dain masuk belakang, lalu marah karena menangis. Len menunduk. Karyawan ketiga, yang kemarin mengunci pintu, mengangguk kaku.
"Mas, kami takut toko ditutup. Tapi kami tidak mau Mbak Lit dibilang begitu terus."
"Toko tidak ditutup. Gaji jalan. Kalau ada yang minta komentar, 'tidak ada keterangan'. Titik. Yang kemarin mengunci pintu, terima kasih. Yang takut, wajar. Jangan live."
Nana menyeka mata. "Mbak Lit pipinya... kami lihat di berita. Itu Mbak Freya, kan? Kami diam waktu itu. Kami takut. Kami salah."
"Kalian bawa dia ke taksi. Itu tidak salah. Diam di depan orang yang bawa kamera, manusia. Jangan ulang diam kalau Letta didorong lagi. Telpon saya. Telpon satpam. Jangan adu tangan."
Dain melihat buku penjualan yang sempat Lita periksa sebelum Freya datang. Angka mundur. Dia tidak bilang ke Lita sore itu. Dia catat, transfer, pergi lewat samping. Di depan, satpam menggeleng: sepi, aman, ada motor yang sama dua kali, plat sudah dikirim Jon.
Pulang, Letta sudah di sofa dengan Jesika. Lita bangun, makan kue kecil, lalu menatap Dain.
"Toko?"
"Jalan. Karyawan takut, tetap kerja. Kamu jangan ke sana minggu ini."
"Aku bos. Aku harus."
"Kamu hamil. Dokter. Notes." Dain lunak. "Nana bisa kirim foto buku. Kamu pimpin dari sofa."
Lita terdiam, lalu mengangguk, kalah pada perut, bukan pada Dain. Jesika menyembunyikan senyum tipis.
Malam itu Freya mengirim pesan terakhir yang lebih panjang dari yang lain.
Aku tidak hamil. Mama yang suruh bilang biar kamu balik. Aku takut. Aku tetap sayang. Janda itu tetap salah. Reza bohong. Kalau kamu tidak balik seminggu, aku sebar perjanjianmu. Aku punya foto kamu keluar dari apartemennya malam-malam. Aku punya chat. Jangan tes saya.
Dain membaca dua kali. Dia tidak membalas. Dia meneruskan ke pengacara dan ke Orlando. Lalu dia ke ambang kamar Lita, jujur, karena berbohong soal ancaman sebar akan lebih jelek besok.
"Freya ancam sebar foto saya keluar-masuk sini, dan perjanjian. Kakak pengacara yang pegang. Kamu tidak usah buka chatnya."
Lita duduk. Wajahnya pucat, bukan kaget total. "Dari awal aku tahu perjanjian itu bisa jadi pisau. Aku tetap tanda tangan. Kalau disebar, aku sudah janda di berita. Tinggal ditambah kata boneka. Letta..."
"Letta tidak baca perjanjian. Kita yang jaga. Aku yang buat kertas itu. Aku yang tanggung sebarnya. Bukan kamu yang harus kabur malam ini."
Lita menatapnya lama. "Kamu mulai kelihatan seperti orang yang tidak kabur. Jangan berhenti di mulai."
Dain mengangguk. Di sofa, dia tidak memutar video tamparan. Dia menulis daftar baru.
Yang harus dijaga: Lita, Letta, USG, toko.
Yang harus dicek: ancaman sebar, foto malam, chat Reza.
Yang tidak boleh: balik ke Freya karena diancam, statement, pukulan.
Di basement, plat motor yang sama lewat sekali lagi, lalu hilang. Jon mencatat. Dain tidak turun. Pintu tetap terkunci. Gorden tetap turun.