Author POV
Di mobil, Dain tidak langsung pulang ke Lita.
Jesika menyuruh Orlando putar ke rumah Rocarlton sebentar. Gavin sudah di ruang kerja, pintu terbuka, seolah sudah mendengar dari sopir.
"Negatif," kata Dain, meletakkan salinan di meja.
Gavin membaca. "Bagus. Bukan karena daddy benci bayi. Karena daddy benci senjata. Freya?"
"Saya bilang tidak lanjut. Tidak tunangan. Mama Freya ancam media."
"Pengacara sudah siaga sejak kemarin. Kamu tidak statement. Kalau ditanya, 'keluarga tidak merespons gosip'. Titik." Gavin menatap Dain lebih lama. "Lita."
"Di apartemen. Istirahat. Saya belum... saya tidak bawa bunga. Saya tidak mau kelihatan pesta di atas perutnya."
"Benar. Bawa beras, bukan bunga. Bawa kejelasan, bukan cincin. Daddy tidak menyuruh nikah hari ini. Daddy menyuruh kamu jangan tidur di dua rumah."
Jesika duduk. "Reza. Nama itu keluar dari mulut Freya sendiri di ruang dokter. Dia tergelincir."
Gavin mengangguk. "Orlando, atur ketemu di tempat netral. Bukan laundry. Bukan rumah sakit. Bukan kampus yang mudah live. Dain tidak sendirian. Tidak ada pukulan. Kalau Reza minta uang, catat. Kalau Reza minta ampun, catat. Kita kumpulkan, bukan kita pentas."
"Siap, Om."
Dain turun ke mobil lagi. Di jalan dia membeli buah, bubur, dan sabun wajah yang sama dengan yang di rumah sakit. Bukan tas. Bukan perhiasan. Kantongnya jelek, dan itu sengaja. Kasir menatap sebentar, mungkin mengenali, mungkin tidak. Dain tidak senyum ke kamera toko.
Di mobil Orlando berkata, "Loe baru saja putus di ruang dokter. Jangan ganti itu dengan belanja besar ke Lita. Belanja besar baunya tutup salah."
"Ini bubur."
"Bubur lolos. Tas tidak."
Di basement apartemen Lita, Jon mengangguk. "Sepi, Bos. Ada motor semalam, plat dicatat, pergi. Bukan Reza. Ojol salah gedung."
Dain naik. Ketuk dua kali, kode yang semalam disepakati. Lita membuka rantai, bukan gembok utama dulu, melihat, baru membuka.
Letta menubruk lututnya. "Om pulang. Tante Frey hamil?"
Dain berjongkok. "Tidak. Tes bilang tidak. Kamu jangan teriak ke tetangga. Ini urusan rumah."
"Yess. Diam. Om masak?"
"Om bawa bubur. Telur om dipecat dulu."
Lita berdiri di belakang Letta, memegang kusen. Pipinya masih memar. Matanya mencari dusta di wajah Dain.
"Kamu tidak pesta."
"Tidak. Aku capek. Aku juga sudah bilang ke Freya: tidak lanjut. Bukan karena negatif. Karena kamera, tangan, dan kebohongan. Negatif cuma nutup satu pintu."
Lita menarik napas, lalu mengangguk, lalu duduk di sofa yang semalam dipakai Dain. Dia tidak memeluk. Dia tidak bilang terima kasih seperti orang yang baru dimenangkan. Dia hanya menaruh tangan di perut, kebiasaan baru yang belum dia sadari.
"Aku tidak gembira di depanmu," katanya pelan. "Gembira itu terasa seperti menari di atas jatuhnya orang. Aku hanya... bisa napas. Sedikit."
"Napas cukup. Jangan tarinya. Aku juga tidak." Dain menaruh apel di piring yang retak. "Nanti Orl. Sekarang kamu makan yang masuk."
"Mama Freya?"
"Ancam media. Mom dan Dad yang urus. Kamu jangan buka portal."
"Aku sudah buka tadi. Ada yang tulis kamu buang pacar hamil. Ada yang tulis janda menang. Keduanya kotor."
Dain meletakkan buah di meja. "Aku tahu. Aku tidak bales. Nanti Orl ketemu Reza. Aku ikut. Kamu tetap di sini."
"Jangan pukul."
"Janji. Dua kali sudah kamu bilang. Ketiga kalinya aku tempel di notes."
Letta memakan potongan apel, lalu menyodorkan ke Lita. Lita makan. Dain merasa sesuatu di dada yang bukan kemenangan: rumah kecil ini berbunyi apel dan televisi kartun, bukan klakson berita. Dia ingin tinggal. Dia juga tahu dia harus keluar lagi.
Siang itu Lita tidur. Dain cuci piring, salah menaruh gelas, Letta tertawa. Dain telpon Nana: toko aman, karangan bunga tidak muncul lagi, ada dua pelanggan lama. Dain minta tutup lebih awal.
Orlando kirim lokasi. Cafe di hotel kecil, lantai dua, bukan etalase jalan. Jam empat.
Dain mandi di kamar mandi tamu, ganti baju yang tidak mencolok. Sebelum pergi, dia ke ambang kamar Lita.
"Aku ketemu orang itu. Kalau lebih dari dua jam, Orl yang kabari. Jangan tunggu di jendela."
Lita membuka mata. "Kalau dia bawa kamera, pergi. Aku lebih takut kamu jadi berita daripada kamu kalah adu mulut."
"Pergi kalau kamera. Tercatat."
Di cafe itu Reza sudah duduk, helm di kursi, tidak sombong seperti di chat. Umurnya kira-kira sama dengan Dain, wajahnya biasa, jam tangan mahal. Orlando duduk dulu, Dain kemudian.
"Pilot," sapa Reza, tanpa salam.
"Reza. Kamu yang kirim peringatan."
"Saya tidak mau nama saya di TV. Freya berlebihan. Saya bilang ancam cukup. Dia bawa stasiun. Sekarang dia panik, bilang hamil, semalam telpon saya minta ikut tes. Saya tidak bodoh. Saya pakai pengaman. Kalau dia hamil, bukan saya. Atau dia tidak hamil. Saya tidak peduli. Saya mau urusan ini selesai."
Dain menatapnya. Tangan di bawah meja mengepal, lalu longgar.
"Kamu cium dia. Letta lihat. Kamu sewa kamar atas nama Freya. Tas saya ada di kamar itu."
Reza tidak menyangkal. "Freya yang sewa. Saya datang. Soal tas, itu bukan urusan saya. Saya bawa chat. Bukan untuk dijual ke portal. Untuk Anda tahu: Freya yang minta saya 'usir janda' kalau perlu. Saya tolak. Saya bukan preman."
Dia mendorong ponsel. Orlando memotret layar, lalu minta diteruskan. Chat itu kasar, bukan mesra. Freya menulis: Dain bodoh, cukup dikasih badan, jangan sampai janda dapat surat nikah. Reza membalas: saya tidak usir orang. Freya: kalau takut, jangan tidur di sini. Lalu satu lagi, lebih lama: kalau Dain datang, bilang janda itu minta uang, biar mama Dain mundur.
Dain membaca sampai mual. Bukan karena cemburu yang romantis. Karena tujuh tahun dia bela perempuan yang menulis 'cukup dikasih badan' tentang dirinya, dan 'bilang janda minta uang' tentang Lita yang bahkan menolak apartemen mahal.
"Kapan chat ini?"
"Sebelum live. Sesudah live dia lebih panik. Semalam dia minta saya sumpah di video bahwa lab palsu. Saya tutup telpon."
"Kenapa kamu kirim chat ke saya semalam?"
"Karena saya takut Anda datang ke kampus membawa nama. Saya tidak mau dipukul. Saya juga tidak mau Freya pakai saya sebagai saksi hamil. Saya putus dengan dia semalam, setelah live. Itu saja."
"Putus," ulang Dain, aneh mendengar kata itu dari mulut orang lain lebih dulu.
"Putus. Saya tidak minta uang. Saya minta nama saya tidak disebut di media. Kalau perlu, saya tanda tangan bahwa saya tidak mengaku anak."
Orlando menatap Dain, menunggu tinju yang tidak datang. Dain berdiri.
"Tidak ada pukulan. Nama kamu tidak kami sebar kecuali Freya pakai kamu lagi. Kalau kamu dekat ke laundry atau apartemen, janji ini batal."
Reza mengangguk, mengambil helm, pergi lewat tangga belakang. Cafe tetap sepi. Dain minum air, bukan kopi.
"Loe kuat," kata Orlando.
"Gue mual. Bukan kuat." Dain menaruh gelas. "Kirim salinan ke pengacara. Jangan ke Mom dulu lewat chat. Besok saya yang cerita. Saya mau pulang dulu sebelum muka saya kelihatan oleh Lita."
"Muka loe sudah kelihatan: orang yang baru tahu dia ATM. Pulang. Jangan putar ke Freya."
Dain tidak putar. Di mobil dia menahan setir sampai knuckle pucat, lalu longgar, lalu jalan. Di lampu merah dia tidak memutar video tamparan. Dia memutar kalimat Freya di chat Reza: cukup dikasih badan.
Perjanjian dengan Lita tiba-tiba terasa seperti cermin yang dipukulkan ke wajahnya sendiri. Dia memperlakukan Lita sebagai klausul. Freya memperlakukan dia sebagai klausul. Dua-duanya kotor. Bedanya, Lita tidak undang kamera, dan perut Lita ada detaknya.
Dain masuk basement, duduk di mobil lima menit, cuci muka di toilet lobby, baru naik.
Letta membuka setelah kode ketuk. "Om tidak berdarah. Bagus. Bunda takut om jadi berita."
Lita di sofa, selimut di kaki, menatap Dain seperti menimbang.
"Tidak ada pukulan," kata Dain. "Ada chat. Freya yang minta dia usir kamu. Dia tolak. Dia putus dengan Freya semalam. Freya sempat minta dia ikut tes hamil."
Lita menutup mata sebentar. "Aku seharusnya lega. Aku hanya capek. Dunia kamu memang penuh orang yang menulis kasar di ponsel dan manis di cafe."
"Aku salah satu orang itu. Dulu." Dain duduk di lantai lagi, bukan di sofa dekat lututnya. "Aku tidak minta dimaafkan malam ini. Aku minta izin tidur di sofa lagi. Besok kontrol USG. Aku antar."
Lita mengangguk. Letta menyodorkan kertas gambar: tiga orang di balkon, bintang jelek, om lebih tinggi dari pintu.
"Ini kita. Tante Frey tidak masuk kertas."
Dain menelan. "Bagus. Tante Frey tidak masuk rumah."
Malam itu portal mulai menulis judul baru: Dain buang kekasih hamil. Tidak ada hasil lab. Ada foto Freya menangis di parkir klinik, diambil dari jauh. Dain mematikan ponsel setelah mengirim satu file ke pengacara. Dia tidak membangunkan Lita untuk melihat. Lita tidak perlu judul itu sebelum tidur.