Author POV
Ancaman sebar tidak menunggu seminggu.
Pagi itu Lita bangun lebih dulu, mual lebih singkat, lalu duduk di sofa menonton Dain yang masih mengorok miring. Dia tidak membangunkan dengan marah. Dia menyelimuti kaki Dain yang menggantung, lalu ke dapur sendiri, pelan, memegang dinding. Ketika Dain terbangun karena bau air panas, dia hampir marah karena Lita jalan sendirian, lalu menelan, karena Lita juga bos di rumahnya.
"Aku kuat ke teko. Kamu masak telur yang kemarin jangan terlalu asin."
"Siap, bos."
Sebelum Dain sempat masak telur yang kurang asin, Orlando sudah mengetuk kode. Wajahnya tidak bercanda.
"Ada folder. Belum masif. Dikirim ke tiga akun gosip, dua ditolak karena takut somasi, satu masih 'menimbang'. Isinya foto Dain di lobby malam, foto Lita buka pintu, cuplikan chat yang dipotong seolah Lita minta uang. Tidak ada foto ranjang. Tidak ada file perjanjian utuh. Freya bluff sebagian. Tapi foto lobby nyata."
Lita berdiri di balik Dain, terlalu cepat, lalu memegang kusen. Dain menahan siku.
"Duduk. Orl, portal yang menimbang itu yang mana."
Orlando sebut nama. Dain tidak hafal. Pengacara sudah dikirimi. Jesika di telpon, suaranya datar: "Ibu ke sana. Dain jangan ke kantor media. Lita jangan ke laundry. Letta jangan sekolah dulu, ibu yang ngomong ke guru, alasan sakit."
Letta menatap mereka. "Letta tidak sekolah. Tante Frey jahat lagi?"
"Tante Frey kirim foto om di lobby," kata Dain jujur, sederhana. "Bukan foto kamu. Kamu tetap di rumah. Jangan buka jendela depan."
"Lobby itu bukan dosa," kata Letta. "Om jaga bunda. Orang jahat yang foto."
Lita menarik anak itu. "Benar. Tapi orang luar tidak selalu benar. Makanya kita diam dulu."
Dain ke dapur, bukan untuk kabur, untuk menuang air. Tangannya gemetar. Foto lobby. Dia memang keluar-masuk. Dia memang tidur di sofa. Dunia bisa menulis apa saja dari satu frame pintu terbuka.
Pengacara menelepon.
"Kita kirim somasi preventif. Kita juga siapkan pernyataan: Bapak Jourdain menemani keluarga yang sedang berobat, tidak ada komentar soal kehidupan pribadi. Tidak sebut hamil. Tidak sebut Freya. Kalau folder itu terbit, kita tuntut pemotongan konteks. Dain, jangan telepon Freya. Itu yang dia mau: rekaman kamu marah."
"Tidak telpon."
Setelah panggilan, Dain duduk di lantai dekat sofa. Lita menyentuh rambutnya, singkat, lalu menarik tangan.
"Jangan jadi kecil. Aku yang biasa jadi kecil. Giliran kamu berdiri."
"Aku berdiri. Aku hanya mual."
Orlando pergi ke pengacara. Dain tidak ikut. Dia tinggal, karena semalam Lita bilang jangan berhenti di mulai, dan tinggal adalah bagian dari tidak kabur.
Siang, satu akun tetap menerbitkan. Foto Dain di lobby, caption: Pilot Rocarlton rutin ke unit janda. Ada crop wajah Lita yang memar, ditulis seolah memar itu 'bukti pertengkaran pasangan gelap', bukan bekas Freya. Dain membaca sekali, lalu memberikan ponsel ke Orlando lewat pesan: sudah terbit, urus, saya tidak bales.
Lita melihat juga, meski Dain tidak mau. Dia menangis tanpa suara, lalu berhenti, lalu mengambil buku penjualan yang dikirim Nana.
"Kalau mereka tulis saya kotor, saya tetap hitung kiloan. Kotor di berita tidak boleh bikin saya bodoh di angka."
Dain menatapnya dan, untuk pertama kali, mengerti kalimat Jesika: Lita berbeda dari Freya. Bukan karena miskin. Karena dia kembali ke kerja ketika dihina, bukan ke kamera.
Sore, Mama Freya datang ke rumah Rocarlton. Bukan ke apartemen Lita. Gavin menerima di ruang tamu, bukan di pagar. Dain dipanggil. Lita tidak. Letta di atas.
Mama Freya membawa map. Di dalamnya print chat Dain-Freya lama, foto kenangan, dan foto lobby yang sama.
"Tarik somasi. Akui Freya. Usir janda. Atau saya bawa ini ke acara malam."
Gavin tidak menaikkan suara. Beliau menuang teh yang tidak diminum siapa-siapa.
"Bu, anak ibu menampar orang di depan wartawan, mengaku hamil, hasil lab negatif, lalu mengancam sebar. Kami tidak usir pasien. Kami tidak menarik somasi karena map kenangan. Kalau ibu ke acara malam, kami ke meja hijau. Silakan pilih yang lebih mahal. Teh ini bukan damai. Ini tata krama. Tata krama tidak mengubah kertas lab."
Mama Freya menatap teh seolah itu hinaan. "Keluarga ibu dulu terima Freya. Sekarang ibu buang."
"Kami terima selama tidak ada tangan di pipi orang dan tidak ada dusta di perut. Itu batas, bukan buang."
"Dain," Mama Freya menoleh. "Kamu tujuh tahun makan di rumah saya."
"Saya minta maaf pada Bu karena cara saya merusak. Saya tidak minta maaf karena tidak kembali. Freya yang undang kamera. Saya yang buat perjanjian. Dua-duanya jelek. Yang saya tidak lakukan adalah menampar ibu anak dan mendorong anak kecil." Dain berdiri, tidak membungkuk berlebihan. "Saya tidak usir Lita. Somasi tidak ditarik."
Mama Freya pergi, map dibanting di meja, lalu diambil lagi. Mobilnya keluar cepat. Jesika yang di pintu hanya mengangguk pada satpam.
Dain pulang ke apartemen sebelum magrib, sesuai perintah Gavin. Lita sudah tahu dari Jesika, singkat.
"Kamu tidak usir saya."
"Tidak. Itu bukan hadiah. Itu keputusan." Dain melepas sepatu. "Besok pengacara ke portal. Kamu tetap sofa. Aku tetap sofa. Letta tetap tidak sekolah dulu."
Letta memeluk pinggang Dain. "Om berani. Tante nenek Freya marah, om tidak kecil."
"Om kecil di dalam. Di luar om berdiri. Cukup."
Malam itu folder kedua tidak terbit. Satu portal yang menimbang mundur. Yang sudah terbit dapat somasi, caption diubah jadi lebih hati-hati, memar Lita tidak lagi disebut 'pertengkaran gelap'. Tidak bersih. Lebih baik daripada pagi.
Reza mengirim pesan terakhir ke Dain.
Freya minta saya bersaksi lab palsu. Saya tolak. Saya pergi ke luar kota seminggu. Jangan cari. Chat sudah di pengacara Anda.
Dain membalas: tercatat. jangan laundry.
Lita kontrol makan malam: bubur, apel, vitamin. Dain di lantai, memegang kertas gambar bintang. Mereka tidak bicara cinta. Mereka bicara jam minum obat, jam Letta mandi, jam Jon ganti shift.
Sebelum tidur, Lita memanggil dari ambang, seperti dua malam lalu, tapi kali ini bukan air.
"Dain. Kalau perjanjian itu suatu hari terbit utuh, aku tidak bunuh diri dan aku tidak kabur meninggalkan Letta. Aku hanya minta kamu tidak menghilang lebih dulu dari berita. Itu saja."
"Aku di sofa. Bukan di berita. Bukan di cafe Freya." Dain berdiri, tetap di ambang. "Perjanjian itu kertas kotor. Kita sudah henti yang di kasur. Tanggung jawabnya tidak saya henti. Kalau terbit, saya yang jawab. Kamu jaga perut."
Lita mengangguk. "Besok aku mau dengar Nana baca buku penjualan. Aku bos. Sofa tidak berarti aku mati."
"Besok. Sekarang tidur."
Dain kembali ke sofa yang sama, kaki yang sama menggantung, plafon yang sama retak. Dia hampir nyenyak, lalu tidak, lalu ya. Di luar, motor plat itu tidak lewat. Di suatu tempat, Freya menatap folder yang gagal masif. Di suatu tempat, Mama Freya menelpon acara yang mulai ragu.
Sebelum benar-benar tidur, Dain membuka notes sekali lagi, menambah satu baris: jangan beli damai dengan usir Lita. Dia menutup ponsel, menutup mata, mendengar Lita batuk kecil di kamar, lalu diam.
Dain memejam dengan daftar yang belum selesai, tapi pintu terkunci, gorden turun, dan ketukan USG pagi masih ada. Untuk malam ini, itu cukup untuk tidak ngegas, dan cukup untuk tidak kabur.