Author POV
Seseorang tengah menangis didalam pelukan seseorang yang ada di atasnya. Dia menangis seperti ini setelah dirinya melakukan kesalahan fatal didalam hidupnya.
"Maafkan aku" ungkap seseorang diatasnya sambil menempelkan dahinya, membuat dahi mereka kini bertemu. Jarak keduanya semakin mendekat hingga orang itu bisa melihat jelas bahwa orang yang ada dibawahnya begitu sedih atas apa yang sudah mereka lakukan, terlebih apa yang dilakukannya.
Sama seperti halnya orang yang tengah menangis dibawahnya ini, diapun sama menyesal karena dia tidak bisa mengontrol dirinya hingga membuat mereka melakukan hal yang tak seharusnya mereka lakukan.
"Maafkan aku sudah khilaf, andai tadi aku bisa menahannya dan kamu... Kamu bisa mencegahnya pasti ini semua tidak akan terjadi. Tadi kamu...juga ikut menikmatinya jadinya aku semakin khilaf. Aku minta maaf, kamu tenang saja pasti aku akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu denganmu" bukannya orang dibawahnya ini berhenti menangis justru tangisnya semakin kencang membuatnya semakin merasa bersalah.
"Hey Lita...Lita lihat aku" sosok yang tengah menangis itu adalah Lita. Dan seseorang yang berada diatasnya adalah Dain.
Dain sejak tadi sudah meminta maaf kepada Lita atas kesalahan yang telah diperbuatnya. Namun ternyata maafnya itu tidak diterima oleh Lita karena Lita terus menangis dan tidak mau melihat kearahnya sedikitpun membuatnya bingung harus berbuat apa lagi jika seperti ini.
Kini apa yang terjadi dengan mereka seperti pepatah 'Nasi sudah menjadi Bubur', penyesalan tidak akan mungkin merubah segalanya seperti semula. Semua sudah terjadi karena kesalahan mereka, jadi untuk sekarang mereka tidak harus menyesal disaat semuanya sudah terjadi. "Lita tolong dengarkan aku dan lihat aku" Dain bergerak cepat dan membuka tangan Lita yang digunakan untuk menutup matanya, namun ternyata dia salah bergerak membuat orang yang masih dibawah dekapannya itu bergumam sambil menggigit bibirnya.
"Please Lit, cukup jangan seperti itu. Apa kamu mau kita melanjutkan hal itu kembali"
"Ka...kamu yang me...mulainya" ucapnya.
"Astaga iya ya, duh maaf ini karena kamu...tapi kepalang tanggung gimana ini" ucapnya dengan panik sambil menahan sesuatu
"Lagian elo tong pakai acara mengambil kesempatan didalam kesempitan gini, sudah tau sempit pakai menantang gitu. Sudah gak sabar yah mau berperang" maki Dain dan itu membuat Lita yang tadinya bersedih seketika tertawa kecil.
"Kamu sudah bisa senyum? Jadi tidak apa kan aku lanjutin, tanggung belum selesai"
"Enghh ter...serah kamu" dengan pasrah Lita menjawabnya karena dia tidak bisa lagi menghindarinya.
" Serius ini kita lanjut? Kalau kamu gak setuju dari sekarang enak, tapi kalau nanti kamu baru bilang aku sudah gak mau menghentikannya walaupun kamu menjerit sekalipun"
"I...iya" setelah mendapatkan jawaban itu Dain tersenyum penuh kemenangan. Setelahnya dia melakukan apa yang memang harus dilanjutkannya sejak tadi.
Kini kedua insan itu saling berlomba-lomba mencari kepuasan diri masing-masing hingga tak lama keduanya mendapatkan itu membuat keduanya bisa bernafas lega terutama Dain.
"Huuh akhirnya lega banget, biasanya keluar sembarang sekarang sudah ada tempat penampungannya yang benar" setelah mengucapkan itu, kemudian tubuh Dain langsung jatuh hingga tubuhnya menempel di tubuh seseorang yang ada dibawahnya yang masih mengatur nafasnya.
"Makasih Lit, kamu sungguh luar biasa memberikan ini kepadaku. Akhirnya untuk pertama kalinya aku merasakan rasa yang luar biasa ini" Dain terdiam sejenak kemudian dia melanjutkan ucapannya tetapi dalam hatinya. "Ternyata begini ya rasanya Janda. Janda rasa Perawan. Enak banget, jadi pengen lagi"
"Pertama kali?" Tanya Lita dengan tak percaya.
Dain tidak langsung menjawabnya karena dia begitu menikmati kehangatan didalam pelukan seorang wanita yang baru saja memuaskannya . Semuanya sudah terasa lega karena dia telah mengeluarkannya apa yang selama ini dilakukannya sendiri.
"Iya pertama kalinya bagiku dan itu hanya denganmu iniLit" jawab Dain yang sudah mendongakkan kepalanya, dan kini dia menatap wajah yang tetap cantik bahkan dalam keadaan berantakan akibat ulahnya ini.
"Jadi aku..."
"Ya kamulah wanita pertamanya, jadi maafkan kalau aku lepas kontrol seperti ini karena memang inilah pengalaman pertamaku"
"Kalau aku yang pertama lalu... Kekasihmu?"
Pertanyaan itu hanya bisa tertahan di kerongkongannya karena nyatanya dia tidak berani untuk menanyakan hal itu.
"Ini sudah salah Dain. Ki...kita melakukan kesalahan besar. Bukan hanya kamu yang salah atas semua ini, tetapi aku juga karena aku...aku juga tidak bisa menjaga diriku. Walaupun aku seorang Janda tapi aku seharusnya bisa menjaganta" Lita terdiam sejenak kemudian dia melanjutkan perkataannya dari dalam hatinya saja. "Aku salah karena aku terlalu terpesona sama kamu Dain hingga membuatku lupa bahwa seharusnya aku bisa mencegahmu sejak awal, bukan membiarkanmu bahkan aku ikut menikmatinya. Murah sekali kamu menjadi wanita Lit, kamu mau saja diajak oleh laki-laki yang bahkan baru dikenalmu"
"Maafkan aku, aku yang salah seharusnya aku tidak memulainya Lit, tapi kamu tenang saja..." Dain membenarkan rambut Lita yang berantakan karena ulahnya, kemudian dia kembali melanjutkan ucapannya. "Jika sampai terjadi apa-apa sama kamu bahkan benih yang aku tanam jadi...kamu tidak perlu khawatir karena aku akan bertanggung jawab" ucapnya dengan bersungguh-sungguh karena jika dia sudah berani berbuat maka dia juga harus berani bertanggung jawab. Karena seperti itu seharusnya seorang laki-laki.
"Kamu tidak perlu terlalu menyesal seperti itu dan melakukan hal yang tidak mungkin akan kamu lakukan. Aku masih pakai IUD" jelasnya karena Lita tidak mau Dain berkorban banyak hal hanya kesalahan yang sebenarnya tidak terjadi kepadanya.
"Kamu masih memakainya jadi kita tadi aman?" Lita menganggukkan kepalanya dengan mantap.
"Iya jadi kamu tidak perlu melakukan hal itu, karena ini salahku juga jika ada sesuatu nantinya biarlah aku yang menanggungnya sendiri"
"Jangan Lit, biar kita tanggung sama-sama karena ini memang kesalahan kita jadi kitalah yang harus menyelesaikannya"
"Tidak mungkin itu terjadi Dain, kamu tidak akan bisa melakukannya"
"Kenapa tidak bisa? Aku bukan tipikal laki-laki yang akan meninggalkan seorang wanita begitu saja setelah menanamkan benihku Lit. Aku akan bertanggung jawab, pasti itu. Kamu bisa pegang ucapanku"
"Kamu sudah memiliki kekasih yang kamu cintai Dain. Aku gak mau merusak hubungan kalian"
"Ka...kamu tau aku memiliki kekasih?"
"Ya aku tau. Kalau dia tau kita seperti ini, dia pasti akan marah dan hubungan kalian akan dipertaruhkan"
Deg
Seketika Dain terdiam mendengar perkataan Lita. Dia baru teringat sekarang bahwa dia telah mengkhianati Freya kekasihnya dengan tidur dengan wanita lain. "Astaga Frey, maaf aku telah menodai cinta kita. Maafkan aku honey. A...aku khilaf"
Dengan cepat Dain segera melepaskan dirinya dari tubuh Lita, kemudian dia langsung beranjak dari tempatnya dan mencari celananya yang ternyata ada di bawah ranjang kasurnya. Dengan cepat Dain memakainya.
Sedangkan Lita hanya terdiam melihat Dain yang bersikap sangat aneh bahkan dia bergumam kecil sambil menyebut nama seseorang.
"Frey, hon, maafkan aku. Maafkan" ucapnya berulang kali dan itu didengar oleh Lita yang kini sudah dalam posisi duduk. Dengan tubuhnya yang masih polos, dia mencoba menutupinya dengan selimut.
Sedangkan Dain setelah mengucapkan itu pergi begitu saja tanpa sepatah katapun meninggalkan Lita yang masih berada ditempatnya. "Kamu sangat mencintainya ya Dain, bahkan kamu seperti menyesal akan perbuatan ini dibandingkan denganku. Tapi apakah kamu tidak tau bagaimana orang yang kamu cintai itu..." Tanpa sadar Lita menitikkan air matanya, kemudian dia segera berlari menuju ke kamar mandi.
⚫⚪⚫⚪⚫⚪
"Letta" gumam Lita yang baru saja keluar dari kamar mandi, kini dia sudah selesai membersihkan diri. Walaupun ini tengah malam tetapi dia memutuskan untuk tetap mandi karena tubuhnya terasa lengket semua, terlebih disini tersedia air hangat jadi dia tidak perlu merasa kedinginan.
Dan setelah dia keluar dari kamar mandi, dia baru teringat putrinya yang tadi tidur sendirian dan Lita sekarang berniat untuk menyusul putrinya dan pergi dari kamar ini, namun ketika dia hendak membuka pintu kamar ini tiba-tiba dia mencium bau yang aneh dan itu berasal dari pintu balkon yang terbuka dengan lebar.
"Dain" ucapnya karena kini dia teringat Dain yang tadi memang pergi kesana sejak dia bergumam tidak jelas. Dan kemungkinan bau ini darinya.
Dengan memberanikan diri dia berjalan kesana untuk melihat apa yang terjadi disana, dan ketika dia berada disana dia memekik dengan keras.
"Astaga! Apa yang kamu lakukan Dain" dengan berlari Lita segera merampas sesuatu yang berada ditangan Dain.
"Kenapa kamu meminum ini? Apa kamu frustasi atas apa yang terjadi tadi. Tidak perlu kamu memikirkan hal itu. Karena aku tidak akan meminta pertanggung jawaban apapun sama kamu, jadi kamu tidak perlu khawatir. Dan satu lagi tidak akan terjadi apa-apasetelah ini. Jadi kamu tidak perlu memikirkannya, dan yang terakhir, aku tidak akan memberitahukan hal ini kepada ini kasihmu atau siapapun ini. Aku akan menjaga rahasia ini, jadi kamu tidak perlu seperti ini"
Dain terdiam beberapa saat, lalu setelahnya dia menjawabnya. "Jadi kamu tidak akan hamil kan? Aku gak mau kekasihku tau akan hal ini dan meninggalkanku. Aku sangat mencintainya Lita"
"Ti...tidak" Lita terdiam sejenak untuk mengambil nafas dan mencoba menenangkan hatinya yang bergejolak dengan apa yang dikatakannya ini. "Kamu tidak akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu nantinya, dan jika ada apa-apa biarlah aku yang bertanggung jawab"
"Syukurlah, karena aku tidak mau Freya kecewa padaku" mendengar hal itu membuat hati Lita seperti ditusuk ribuan pisau. Terlalu tajam dan menyakitkan perkataan Dain.
"Ya sudah aku pergi dulu. Mau menemani Letta" Lita sudah bersiap berlari dan pergi dari sana, namun tangannya ditahan.
"Tunggu Lit"
"Ada apa?" jawabnya tanpa melihat ke Dain.
Tidak ada jawaban setelahnya membuat Lita berusaha keras melepaskan pegangan itu dan tetap berniat segera pergi dari tempat ini, namun ternyata usahanya tidak berhasil karena pegangan Dain semakin kuat dan menariknya, hingga dia justru dia terduduk dipangkuan seseorang.
"Tolong lepaskan aku mau menemui Letta"
"Kamu disini saja temani aku"
"Tapi Letta"
"Letta pasti sudah tertidur pulas dan dia tidak akan tau kamu tidak ada disana" dan Lita tidak bisa menjawabnya lagi, membuatnya langsung terdiam..
Angin malam semakin kencang berhembus membuat Lita yang hanya memakai kimono saja langsung kedinginan membuatnya memeluk tubuhnya, tetapi sebuah tangan lain terasa memeluk pinggangnya dengan begitu erat.
"Kenapa kamu mandi di malam seperti ini, nanti kamu bisa masuk angin. Dan sekarang jadi kedinginan kan"
"Aku mandi karena terasa tidak enak. Tadi akupun mandi air hangat"
"Ehhm kamu memakai sabunku" hembusan nafas Dain terasa di leher Lita, dan itu membuat Lita seketika merinding.
"Maaf karena memang hanya ada itu"
"Tidak apa, pakai saja sesukamu. Tetapi harum sabun itu ketika kamu pakai di tubuhmu ini terasa berbeda membuatnya kembali siap kembali Lit. Kamu bisa merasakannya kan" awalnya Lita tidak paham akan maksud dari perkataan itu, tetapi setelahnya dia paham dan mengangguk kecil.
"Bisa kah kita mengulangi hal indah tadi bukan hanya sekali, tetapi seterusnya"
Lita yang terkejut langsung memutar tubuhnya menjadi menyamping dan menatap wajah Dain. "Apa maksudmu? Kita hanya bisa melakukannya tadi dan itu yang terakhir"
"Aku mohon Lit, jangan yang terakhir aku mau itu berlanjut. Aku... rasa aku sudah mulai kecanduan denganmu. Please"
"Aku tidak menjual tubuhku ini ke siapapun. Tadi hanyalah sebuah kesalahan dan aku tidak mau mengulanginya"
"Husst maafkan aku kalau perkataanku menyakitimu" Dain mengusap air mata yang keluar dari mata Lita, jujur dia menjadi merasa bersalah telah mengucapkan itu membuat Lita mungkin sakit hati karenanya.
"Aku hanya melakukan hal ini dua kali kalau kamu tau itu. Pertama dengan ayahnya Letta dan kamu adalah yang kedua"
"Aku percaya kamu orang baik. Jadi maukah kita melanjutkan hubungan yang seperti ini. Dan sebagai imbalannya aku berjanji akan mengabulkan keinginan Letta putrimu"
Lita mengerutkan keningnya karena dia tidak paham dengan maksud dari perkataan itu. "Maksudmu apa? Kamu membeli tubuhku?"
"Kamu pasti tau apa keinginan terbesar Letta kan?. Aku akan mewujudkannya. Dan kalian tidak akan hidup seperti ini. Aku tidak bermaksud membeli tu..."
"Dan itu ditukar dengan tub..."
"Iya"
"Ak..aku bukan mau merendahkanmu sebagai wanita tidak, tapi" lanjut Dain dan seketika langsung paham akan maksudnya.
"Ya aku paham"
"Jadi..."
"Apakah ini saatnya buat bahagiain Letta. Tapi apakah harus aku menukarnya dengan tubuhku ini? Ya Tuhan, aku harus bagaimana sekarang?"
"O...okey aku setuju"
"Kalau gitu kita lanjut...."
"Maafkan bunda Letta, tapi ini demi kebahagiaanmu juga"