Author POV
"Kamu mau sesuatu yang membuat hangat"
"Ya boleh. Apa itu" jawab Lita dengan kini dia mendongakkan kepalanya.
⚫⚪⚫⚪⚫⚪
Sebuah ciuman yang diberikan Dain kepada seorang wanita yang bernama Lita. Setelah kesalahan itu tadi, dengan cepat Dain langsung mencium Lita karena dia ingin memberikan kehangatan disana.
Sedangkan Lita yang menghangatkan seperti itu diam saja tidak sedikitpun yang semakin leluasa mencium Lita hingga ciuman mereka semakin panas.
Bahkan dengan beraninya tangan Dain merambat masuk kedalam kaos yang dipakai Lita. Dan bagaikan seperti tersihir, Lita hanya diam dan membiarkan tubuh bagian terdalamnya dijamah oleh seseorang selain mantan suaminya.
Dain rilis ciumannya untuk mereka dapat memiliki waktu mereka mengambil nafas. "Gapapa kita diberhentikan i ... ni"
Dengan pasrah Lita menganggukkan kepalanya, karena dia sudah seperti orang terhipnotis yang menuruti apa yang dilakukan Dain kepadanya. Pesona dari Dain lah yang laporan jadi diam seribu bahasa seperti ini.
Sedangkan Dain yang mendapatkan persetujuan itu melanjutkan melanjutkan hal yang belum selesai tadi, bahkan keadaan semakin panas. Dan tangan Dain sudah semakin bergirlya didalam tubuh Lita bahkan dengan beraninya dia sudah melepas ikatan kain yang melindungi area terdalam Lita.
Dain sudah tidak ingat apa-apa lagi karena dia sudah terbawa nafsu, bahkan dia tidak ingat telah melakukan wanita seperti ini. Janji yang sejak dulu dia pegang, bahwa dia tidak akan menodai wanita manapun sebelum dia menjadi istrinya, hilang begitu saja ketika dia berhadapan dengan wanita seksi dan cantik seperti Lita.
Suara erangan mulai keluar dari mulut Lita, dan hal itu membuat Dain semakin menjadi melakukan apa yang dia mau.
Puji "Subhanallah" Dain melihat keindahan pada bagian terdalam milik Lita. Baru pertama kali dia melihat langsung tubuh wanita sedalam ini karena biasanya dia melihat melalui foto, video atau lain sebagainya, tetapi kali ini dia bisa melihatnya secara langsung takjub akan keindahan ini.
"Kamu sungguh cantik luar dalam Lit" setelah ucapan itu Dain langsung menyerbu Lita, awalnya dia menciumi leher Lita kemudian dia mencium setiap bagian tubuh Lita.
Dalam posisi itu membuat Dain kesusahan sehingga dia menidurkan Lita di tikar yang sudah disiapkannya sejak tadi ..
"Lit kamu benar-benar cantik"
Hembusan nafas tersenggal-senggal dilakukan oleh Lita akibat ulah Dain, bahkan dia memanggil nama berulang kali. Sedangkan Dain yang dipanggil seperti itu, meningkatkan semangat yang terbaik untuk Lita.
"Dingin"
"Kamu kedinginan?"
Lita menganggukkan kepalanya untuk menjawabnya. Kemudian Dain ajakan masuk Lita kedalam kamar. "Maaf yah, ya sudah kita masuk"
Dain membopong tubuh Lita dengan keadaan bagian atas yang terbuka dan bagian bawah masih berpakaian lengkap. Sambil membawa Lita ke kamar sederhana.
Letakkan tubuh Lita dengan perlahan di kasur kasur, kemudian dia melepaskan baju-bajunya dan dia kembali melakukan apa yang akan naik tadi.
Dain yang tertutup hawa nafsu yang sungguh-sungguh lupa segalanya, bahkan dia lupa bahwa dia akan menodai seorang wanita yang bisa dibilang orang baru dihidupnya. Dan kini dia sudah melakukannya ..
"Sa ... sakit"
"Sakit?" Tanya Dain dengan tak percaya.
"Heemb"
"Kamu tidak mungkin baru melakukan kan Lit?
" Tidak. Tapi aku baru melakukan satu kali dan aku ... ini kedua kalinya "
" Hah "
" Mantan suamimu gila sepertinya Lit, istri cantik dan seksi kamu malah disia-diakan "batin Dain.
"Ya sudah aku pel ... pelan-pelan" Dain mendiamkan dirinya pasti untuk memberikan ruang bagi Lita untuk menyesuaikan dirinya, setelah dirasa cukup barulah dia melakukan pergerakan namun pergerakan itu sangat lambat. Tapi ditengah Dain fokus dengan dirinya, tiba-tiba dia mendengarnya.
"Ke ... kenapa kamu menangis Lit? Apa masih sakit?" yang ditanyai itu tidak menjawabnya karena dia terus menangis, tapi tak berselang lama tiba-tiba ada pertanyaannya di jawab.
"Kita melakukan hal salah Dain" tangis Lita semakin kencang, entah mengapa kini dia seperti ada yang membangunkan dan membuat sadar bahwa apa yang dikatakan dengan Dain ini adalah SALAH BESAR.
"Hah" bagaikan disambar petir, membuat Dain langsung tersadar dan terpaku dengan apa yang berhubungan.
"Astagfirullah, gila. Apa yang aku lakukan"
"Astaga Lita" pekiknya.
"Li ... lita. Ap ... apa yang kita lakukan tadi ... astaga maafkan aku ..."
⚫⚪⚫⚪⚫⚪
"Enggh" seseorang telah menggeliat dalam tidurnya, kini lahan terbuka dia mulai membuka matanya.
Sedikit demi sedikit matanya mulai terbuka dan dia melihat ke sekitar yang terasa asing.
"Aku dimana ini?"
"Di apartemenku, tidak ingatkah semalam kita melakukan apa saja Lit" ucap seseorang sambil mengelus rambutnya dan menciumi puncak kepalanya.
"Dain"
"Iya selamat pagi" seseorang yang merupakan Dain itu kini tengah tersenyum dengan begitu lebar tepat disamping kanan Lita.
Dan setelah itu barulah Lita jadi teringat akan kejadian semalam bersama dengan kejadian jadi langsung tersipu malu.
Kok jadi merah gitu pipinya, jadi gemes pengen cium deh "
Auwh. Sekarang berani ya cubit-cubit segala" ternyata Lita tadi mencubit perut Dain dengan susah payah.
"Ehh mau kemana?" Tanya Dain karena Lita sudah bangkit dari atas dadanya dan mulai mengikat rambutnya.
"Letta, aku mau melihatnya. Pasti dia sudah bangun"
"Ah iya" tangan Dain mengelus punggung polos Lita yang ada didepannya, tetapi lama kelamaan tangan itu merambat kedepan dan meremas bagian depan Lita.
"Sudah cukup, hentikan. Letta habis ini pasti akan bangun"
"Ini masih jam 7 loh,
Lita langsung menatap tajam Dain. "Kemarin memang masih kurang untukmu? Kita sudah melakukannya lebih dari 3 kali Dain. Aku capai, kasian Leta dia pasti akan bangun setelah ini"
"Hah memang iya kalau kita sudah melakukan lebih dari tiga kali semalam"
"Apa yang perlu aku jelaskan lebih jelas lagi kemarin kita lakukan berapa kali "
" Boleh dong dijelasin, sekalian diperagain lagi juga tidak apa "Dain kini langsung bangkit dari tidurnya dan dia bersandar di ranjangnya sambil kedua, bantalan bantalan membuat bulu ketiaknya yang belum di bersihkan itu terlihat jelas oleh Lita.
"Itu menyebutkan kita Dain, sudahlah aku mau melihat Letta"
"Hahaha iya yah, tapi tidak apa loh Lit, memperagakan itu biasanya sedikit gak kayak melakukan sungguhan. Jadi gimana? Mau menjelaskannya"
Lita mengambil kimononya yang dipakainya sejak kemarin kemudian dia langsung memakainya tanpa menghiraukan perkataan Dain yang terus menggodanya. Bukan kali ini Dain menggodanya tapi sudah beberapakali bahkan semenjak mereka revisi revisi perjanjian yang telah mereka sepakati. Dan semenjak saat itu, sudah tidak ada canggung lagi bahkan sudah terlihat sangat akrab seperti sudah kenal lama.
"Sudahlah terserah kamu saja. Aku mau melihat Le ..."
"Bunda ... bunda dimana?" Terdengar teriakan anak kecil dari arah luar.
"Letta" Lita sangat datang dari siapa, dan itu suara putrinya sehingga dia langsung berlari keluar kamar itu dan mendatangi sumber suara.
Lita berlari dan mencoba mencari putrinya, ternyata putrinya kini sudah berada di pintu kamar tempatnya tidur sejak kemarin malam.
Sayang Letta Lita menghampiri putrinya dan dirinya langsung dipeluk erat olehnya.
Kenapa sayang?
"Letta takut bunda tinggalin Letta alone"
"Tidak akan sayang. Bunda tidak akan tinggalin anak bunda yang cantik ini"
Lita melepas pelukan itu kemudian dia mencium pipi putrinya berulang kali. "Gimana tidurnya enak ya sayang?"
"Iya bunda. Kasurnya enak lembut, trus dingin-dingin tapi ada selimutnya yang tebal jadi hangat. Letta suka sama kamar bagus" ceritanya dengan bersemangat kepada bundanya.
"Letta mau later when big, bahagiain bunda beli apartemen kayak gini ya bunda"
"Amin sayang, bunda doakan, semoga apa yang kamu inginkan bisa dicapai. Amin. Tapi sebelum itu, bunda dulu yang akan bahagiain kamu" Lita tanpa sadar mulai menitikkan air dia.
"Kamu belum pernah bunda bahagiain selama ini sayang. Dan ini saatnya bunda bahagiain kamu"
"Bunda jangan menangis. Bunda gak perlu bahagiain Letta karena Letta sudah bahagia punya bunda yang cantik, baik hati dan sayang sama Letta seperti bunda. Biar Letta saja nanti yang bahagiakan bunda "
" Iya sayang,
"Bunda kemarin tidur dimana? Tadi kok tidak ada disamping Letta"
"Ehmm bunda ... bunda tidur di kamar sana. Disini banyak kamar jadi bunda tidur disana lagian kemarin Letta tidurnya nyenyak sekali dan bunda tidak mau mengganggu kamu nak jadi bunda tidur di kamar Lain "
" Maafkan bunda nak, telah datang kepadamu. Ini memang harus bunda lakukan untuk kamu "
" Iya bunda tidak apa. Bunda tapi sekarang Letta mau mandi berendam di tempat yang bagus itu "Letta menunjukkan kearah dalam, dimana ada sebuah kamar pribadi yang lengkap dengan ada bath up dan juga shower.
"Iya sayang, disitu bisa pakai air hangat juga. Letta mau mandi disana?"
"Mau-mau bunda" jawabnya sambil meloncat-loncat membuat bundanya tersenyum bahagia karena jika seperti ini maka putrinya seperti anak se usianya. Tapi jika dia sedang berbicara maka akan seperti seorang wanita dewasa karena pemikiran putrinya ini berfikiran luas dan mengerti keadaan mereka sehingga dia selalu paham akan kondisi kehidupan mereka saat ini.
"Ya sudah ayokita mandi"
"Tunggu bunda" Lita yang sudah siap berdiri dan ajakan Letta masuk kembali itu harus terhenti karena Letta relevannya.
"Ada apa sayang"
"Kok berantakan sekali trus itu leher bunda kenapa merah?" Lita yang ditanyai putrinya seperti itu laporan langkahnya.
"Ehmm aku ... ini yah ehmm ... aku ...
"Astaga Dain. Kenapa bisa aku tidak menyadarinya tadi. Semoga Letta tidak menyadarinya"
"Di balkon? Bunda sama om Dain di Balkon sampai jam berapa?"
"Ehmm ... tidak lama sayang, setelah kamu tidur om Dain dan bunda segera masuk ke kamar masing-masing karena disana sangat dingin sayang "
" Oh gitu ya. Nanti Letta kasih minyak kayu putih ya bunda biar gak merah-merah gitu "
" Iya sayang ya sudah yuk kita mandi "
" Ayo bunda "kemudian segera masuk kedalam kamar mandi dan mandi bersama.
Sementara Lita dan Leta mandi,
Wajahnya terlihat sangat berseri-seri dan terlihat jelas kini dia tengah bersenandung dengan bahagia.
"Mergo wes tau, wes tau Jeru ..." Dia menyanyikan lagu kesukaannya kemudian dia tertarik dan tersenyum sendiri. "Gila. Otak gue habis dimandiin kok tetap tidak beres gini ya, kenapa masih mikirin Lita dan kemarin malam. Apalagi ini tong-tong masa elo kemarin sudah di bahagiain masih kurang saja"
"Emang sih Lita itu ehmm ... astagfirullah buanglah pikiran kotormu Itu Dain karena kamu harus membuat makanan dengan cepat karena kasian Lita dan Letta pasti mereka sudah lapar "Mencoba mengontrol dirinya agar otaknya tidak berfikiran macam-macam karena jika tidak segera memenuhinya maka dia akan melupakan untuk membuatkan makanan bagi kedua.
Dan kinilah Dain langsung sibuk berkutik dengan peralatan dapur. Dain adalah seorang laki-laki yang bisa memasak bahkan bisa dikatakan sangat ahli. Walaupun dia tidak pernah mengambil sekolah khusus memasak tetapi dia begitu ahli dalam hal seperti ini karena dia dulu sering belajar Daddy nya.
Daddy nya adalah seorang sekam dan pengusaha terkenal di Benua Eropa dan Asia, sehingga dia bisa banyak hal belajar dengan Daddy nya. Jadi selain dia suka dunia, dia juga ikut dalam memasak memasak. Dan jika dia tidak sibuk, maka dia akan memanfaatkan waktunya untuk memasak makanan sendiri seperti sekarang dia ingin membuat makanan untuk kedua tamu spesialnya.
Dain begitu asik memasak hingga masakannya kini sudah selesai, namun begitu asiknya dia sampai-sampai dia tidak menyadari bahwa dua orang wanita cantik tengah mengamatinya sejak tadi.
"Okey selesai" ucap Dain memandangi beberapa menu makanan yang baru saja memerlukannya. Dia begitu bangga bahwa makanan yang dibuatnya sudah selesai semua.
"Om baik hebat. Ehmm harum baunya pasti enak lagi makanannya" teriak seorang anak kecil yang sudah cantik memakai baju baju selutut tanpa lengan berwarna merah. Dimana dia adalah Leta.
Letta tidak sendirian disana karena dia bersama dengan bundanya melihat Om Dain yang sejak tadi sibuk memasak.
"Hah Letta" pekiknya terkejut setelah di memutar tubuhnya menghadtap ke sumber suara.
Dain kini tidak hanya melihat ada Leta disana tapi juga wanita yang pembunuhan-bayang akan terjadi semalam.
"Waduh pagi hari seperti ini lihat ada dua bidadari cantik, jadi langsung dingin gitu lihatnya" ucapnya kemudian dia memindahkan masakannya ke meja makan.
"Om Dain hebat bisa masak gini. Ini pasti enak semua masakannya om"
"Pastinya dong, Ya sudah ayo kita makan" Dain mempersilahkan pengisi untuk duduk disana. Setelah semuanya duduk barulah dia yang duduk.
"Adik Barbie mau makan apa?"
"Ini apa om namanya? Letta mau ini aja deh"
"Oh ini Waffle Lava Oreo. Kamu mau ini?"
"Iya om"
"Baiklah" Dain langsung siapkan makanan itu di piring Letta.
Setelah dia selesai melayani Letta, kini dia menghadap ke Lita. "Kamu mau makan apa Lit"
"Hah ehmm ... Terserah kamu saja"
"Kamu yang makan kok jadi terserah aku sih. Apa kamu mau ..."
Lita langsung melebarkan pandangan mendengar ucapan dan tindakan Dain yang akan menjurus ke hal yang berbahaya , terlebih dahulu, Dain telah mengusap pahanya yang terbuka. Sehingga dia langsung bertindak untuk itu semua sebelum semuanya terlambat.
Dain pembelian mudah dilakukan karena Lita memakai baju dari Dain bahkan Letta juga, tapi sayang dia tidak bisa melanjutkan aktifitasnya tadi karena Lita sudah terlebih dahulu ada Letta juga.
"Enak masakan om, oh iya om baju-bajunya makasih bagus tapi kata bunda kita ambil satu ini saja yang kita pakai.
"Loh kenapa? Sudah ambil saja semuanya sayang, kalau gak kalian ambil baju-baju itu mau dipakai siapa? Kan om Dain gak mungkin memakainya"
"Tapi om .."
"Ambil saja atau kalian berdua om kunci di apartemen ini biar tidak bisa pulang "gertak Dain dengan berpura-pura.
"Iya sudah Letta ambil yah om, makasih banyak om baik"
"Iya sama-sama sayang. Sudah habiskan makanannya. Kalau mau ayo ambil lagi Ayo"
"Iya om" kemudian ketiganya menikamati pagi yang dibuatkan Dain ini. Tetapi disela-sela makan, beberapa kali tangan bermain-main di paha Lita. Sedangkan Lita yang melayani seperti itu hanya diam,