Author POV
"Om baik makanannya enak semua, ini om baik beli dimana? Pasti mahal ini om soalnya enak" ucap seorang anak kecil yang tengah asik menikmati berbagai makanan yang ada di piringnya, bahkan sampai dia tidak menyadari bahwa mulutnya sudah penuh dengan makanan yang dimasukkannya begitu banyak.
"Letta, dihabisin dulu makanannya baru berbicara. Tidak boleh begitu nanti ditemenin..." anak kecil yang tengah asik menikmati berbagai makanan ini adalah Letta dan yang barusan mengingatkannya adalah Lita Sang Bunda.
Kini Leta dan juga Lita berada sebuah apartemen milik seseorang yang tadi mengundang mereka tanpa mereka tau sebelumnya. Dan seperti sekarang inilah mereka sudah disiapkan berbagai makanan untuk makan malam mewah yang kini tengah mereka nikmati.
"SETAN"
"Waduh Setannya jangan lihat om adik Barbie berasa om yang jadi setannya"
"Ti..tidak om, maaf maksud Letta bukan begitu. Masa om baik jadi setan itu tidak mungkin, kalau om-om yang dibawah tadi pantas jadi setan soalnya jahat semua"
"Om-om dibawah?" Tanya seorang laki-laki yang langsung menaruh sendoknya dan menghentikan makannya.
"Iya om, sebentar ya om kita habisin makanannya dulu. Ayo om ini makanannya enak sekali"
"Ya sudah kamu habisin dulu ya, om sudah selelsai makannya. Kalau mau besok om buatin lagi yang kayak ini"
"Jadi ini... Om yang buat?! Om selain baik juga pintar masak ya. Hebat"
"Kamu bisa saja. Ya sudah makan yang banyak kalau perlu dihabisin"
"Siap om" sementara Letta melanjutkan makannya, bundanya Lita yang ada didepannya itu langsung menghentikan makannya setelah mendengar percakapan putrinya dengan orang yang ada disebelahnya ini.
"Jadi..dia yang memasak semua makanan ini...benar kata Letta dia adalah laki-laki yang hebat"
"Makanannya tidak enak ya? Kenapa tidak kamu makan itu?" perkataan dari seseorang disamping Lita itu membuatnya langsung tersadar dari lamunannya dan menatap orang yang ada disampingnya.
"Sangat enak hanya saja aku sudah kenyang. Kamu itu lebih cocok jadi chef daripada jadi Pilot"
"Kamu tau saya seorang Pilot?"
"Ehmm....saya tau dari Letta waktu itu cerita kalau Om Baik yang dimaksud kamu itu adalah seorang Pilot. Dan waktu itu saya melihat seragammu di mobil belakang juga" Lita sekarang bisa bernafas lega karena dengan cepat dia menjawab pertanyaan itu. Sebenarnya Lita baru mengetahui bahwa orang yang bernama Dain ini adalah berprofesi sebagai Pilot saat dia berjalan dengan pelanggan setia laundry ditempatnya.
"Oh iya ya. Kalau masak kayak gini memang naluri aja sih soalnya daddy ku seorang cheff yang hebat dan sepertinya menurun kepadaku, padahal aku tidak pernah berlajar sama Daddy tapi ya coba-coba aja eh ternyata enak syukurlah aku takut tidak enak"
"Enak banget ini om, aduh perut Letta sampai penuh" bukannya Lita yang menjawabnya tetapi Letta yang kini makannya sudah selesai.
"Makasih yah adik Barbie, tapi coklatnya masih ada tuh"
"Kenyang om, Letta sekarang jadi mengantuk. Bunda..." panggilnya kepada sang bunda sambil mengusap matanya beberapa kali. Kini dia memang sudah mengantuk berat. Sebetulnya sejak awal datang kesini Letta memang sudah mengantuk tapi karena banyak makanan kesukaannya membuat dia melupakan kantuknya dan langsung menikmati makanan itu hingga kenyang. Dan saat ini dirinya sudah sangat mengantuk.
"Sini duduk sama om sambil kita lihat bintang ya didepan sana"
"Mau om"
"Sama bunda aja ya sayang, kasian om"
"Tidak apa biar sama saya saja" Lita akhirnya mengalah, dan membiarkan putrinya dipangku oleh orang yang sudah beberapa kali mereka temui.
Kini ketiganya langsung menuju ke balkon yang ada di tempat ini. Di tempat ini balkonnya sangat luas bahkan diperkirakan seluas ruang tamu di dalam apartemen yang mewah ini. Dan dibalkon ini seperti sudah di siapkan sedemikian rupa karena disini ada berbagai makanan dan juga berbagai balon dan boneka.
Awalnya Lita tadi terkejut melihat ini semua karena sepertinya ini memang sudah dipersiapkan oleh sang pemilik apartemen ini, tetapi melihat putrinya tadi kegirangan bahagia membuatnya hanya bisa terdiam dan ikut menikmatinya karena kapan lagi dia bisa membahagiakan putrinya seperti ini.
"Bintangnya bagus ya om yang itu" Letta menunjukkan beberapa bintang yang tepat berada di atasnya.
"Iya bagus, cantik kayak kamu"
"Makasih om baik, om kalau begini seperti ayah. Boleh aku peluk om"
"Boleh sayang, kamu bisa peluk om semau kamu ya" Letta memeluk erat om baik yang bernama Om Dain ini. Di pelukan Om Dain ini, dia merasa seperti berada di pelukan ayahnya dulu.
Joirdain Baldev Rocarlton Sukomulyo atau biasa dipanggil dengan Dain ini adalah anak dari pemilik Apartemen ini yaitu Gavin Rocarlton Sukomulyo. Sehingga apartemen ini dinamai Rocarlton Apartment. Hak sepeunuhnya apartemen ini memang akan berpindah kepemimpinan menjadi milik Dain, oleh sebab itu di sela-sela kesibukannya menjadi seorang Pilot, dia juga mengurus apartemen ini. Dan seperti inilah di saat libur berada dia berada di apartemen ini, selain itu dia berada di apartemen ini karena ada tujuan khusus yaitu dia ingin saya memberikan kejutan kecil-kecilan kepada dua orang baru yang baru saja hadir di hidupnya yaitu Lita dan juga Letta.
Dan sejak pertemuan mereka pertama kali saat itu, membuatnya langsung jatuh hati kepada Letta, si anak kecil yang begitu cantik dan menggemaskan ini. Sehingga dia mempersiapkan ini jauh-jauh hari agar bisa membahagiakan anak kecil yang sekarang berada di pangkuannya.
Dain kini masih dibuat terenyuh ketika tadi mendengar bahwa Letta ingin dipeluk olehnya karena dia seperti ayahnya. "Siapa laki-laki bodoh yang meninggalkan kedua wanita hebat ini, sungguh gila sekali dia menanamkan benihnya begitu saja lalu meninggalkannya. Kalau gue gantiin baru tau rasa elo tong. Astagfirullah ingat Dain ada Frey"
"Om, apartemen bagus ini milik om ya?"
"Belum kok adik Barbie, ini masih milik Daddy om"
"Oh ayah om ya"
"Iya"
"Ehmm pantas tadi om-om jahat dibawah bilangnya ini milik anak pak bos. Mereka semua itu bawahannya om kan ya?"
"Iya kenapa memangnya?"
"Tapi kok om tadi seperti yang punya apartemen ini. Soalnya tadi bunda sama Letta mau diusir karena dikira maling sama om-om jahat itu"
"Memang iya tadi Letta sama bunda diusir trus dikira maling sama mereka?"
"Iya kan bunda"
Dain langsung melihat ke arah wanita yang ada disampingnya untuk mendapatkan jawaban.
"Iya tapi tidak apa. Hal seperti ini sudah biasa terjadi dengan orang kecil seperti kami ini, karena penampilan kami sudah terlihat tidak menyakinkan untuk bisa masuk ke apartemen mewah ini" Lita sebenarnya memang masih sakit hati dengan pernyataan dari orang-orang penjaga didepan tadi tetapi dia sadar diri bahwa mereka patut di curigai karena memang berpenampilan seperti ini masuk ke apartemen mewah ini, terlebih mereka akan menemui anak dari pemilik gedung ini jelas mereka semakin di curigai. Oleh sebab itu, dia mencoba memahami akan hal itu, tetapi sepertinya Letta belum bisa memahaminya karena dia masih terlalu kecil untuk paham akan masalah ini.
"Mereka keterlaluan, besok akan aku pecat semua mereka"
"Eh jangan om..." Itu suara Letta yang matanya sudah mengecil dan hendak tertutup. "Kasian nanti anak sama istrinya dikasih makan apa. Cari kerjaan itu susah, bunda pernah seperti itu jadi kasian kalau om-om itu tidak punya pekerjaan" lanjutnya sebelum dia benar-benar menutupnya karena matanya sudah tidak kuat lagi jika terbuka.
"Kamu memang anak baik Letta" ungkapnya dan langsung memeluk tubuh yang sudah terlelap didalam pelukannya. Lagi dan lagi Dain dibuat terkagum-kagum dengan anak kecil ini, semua tingkah dan apa yang ada pada dirinya membuatnya begitu terkagum-kagum akan kepintaran dan kedewasaannya dalam menghadapi setiap masalah. "Dia anak yang sangat pintar, semoga kelak gue bisa memiliki anak sepertinya"
"Kamu pintar mendidiknya, dia sangatlah pintar dan menggemaskan. Kalau boleh tau berapa umurnya?"
"3,5 tahun"
"Dia baru umur segitu tapi dia mengerti akan hal yang belum tentu bisa dipahami oleh orang dewasa. Kamu sangat hebat mendidiknya. Walaupun kamu berjuang seorang diri iya kan ya. Tapi kamu mampu menjalankan peranmu sebagai ibu juga ayah kepada putrimu. Kamu ibu yang hebat" pujinya kepada Lita. Dain akui, Lita begitu hebat mendidik putrinya ini, karena tidak mungkin jika Letta sepintar ini jika bukan didikan dari orangtuanya terutama ibunya.
"Bukan saya yang hebat, tetapi Letta sendirilah yang hebat. Walaupun dia masih sekecil ini tetapi dia dapat memahami atas keadaan kami. Dia tidak pernah meminta apapun selama ini dan itu membuatku selalu sedih karena dia hanya memiliki satu keinginannya yaitu dia ingin kaya agar kami tidak kesusahan seperti ini, dia tidak mau setiap hari saya bekerja di cafe dan malamnya tetap bekerja mengerjakan laundry an. Tapi sayang, satu keinginannya itu belum bisa aku wujudkan" Lita bercerita tentang hal ini mengalir begitu saja, padahal tidak pernah sekalipun dia menceritakan masalah hidupnya sedikit saja kepada orang lain tetapi entah mengapa dengan orang yang baru saja dikenalnya ini membuatnya begitu nyaman bercerita seperti ini.
Dain yang mendengar sedikit hal tentang kehidupan Lita dan putrinya membuatnya langsung terenyuh. Selama ini dia hidup serba bercukupan dan tidak pernah kekurangan apapun itu, sehingga dia tidak pernah mengalami hal seperti ini. Tetapi mendengar sedikit kisah kehidupan Lita tadi membuatnya tersadar dan sekaligus langsung bersyukur karena selama ini dia menghambur-hamburkan uangnya dan tidak pernah memikirkan nasib kehidupan orang dibawahnya, dan mendengar kisah Lita tadi membuatnya ingin membuang segala keburukannya itu mulai detik ini juga. Dan mulai sekarang dia akan lebih mensyukuri apa yang dia punya karena banyak orang yang belum tentu hidup enak sepertinya.
"Mereka ini telah banyak memberiku pelajaran hidup. Kalian benar-benar wanita hebat kedua dan ketiga setelah Momma ku"
"Kamulah yang paling berperan Lita, Letta menjadi seperti ini karena didikan dari ibu yang cantik dan kuat sepertimu. Aku kagum dengan kalian yang bisa menjalani hidup seperti ini, kalian begitu luar biasa menjalani hidup ini. Dari kalian aku belajar banyak hal saat ini" Dain tersenyum begitu manis hingga membuat Lita terpaku.
"Kamu kenapa?" tanya Dain yang melihat keanehan Lita melihatnya.
"Hah ti...tidak. Kami harus segera pulang"
"Kenapa pulang? Ini sudah jam sebelas malam loh"
"Jam sebelas" ucap Lita dengan terkejut.
"Iya coba kamu lihat ini" Dain menunjukkan jam tangan yang melingkar ditangannya kepada Lita dan hal itu membuat Lita langsung memekik.
"Astaga"
"Akan bahaya jika kalian pulang, terlebih Letta sudah tertidur dengan nyenyak seperti ini. Lebih baik kalian menginap disini saja. Disini bahkan ada empat kamar yang kosong dan kalian bisa memakainya. Tenang aku tidak akan macam-macam... Semoga saja, jika aku tidak khilaf " Dain tidak mengungkapkan kata-kata terakhir karena itu dia lanjutkan sendiri didalam hatinya saja.
Lita nampak berfikir sejenak, karena bener apa yang dikatakan Dain terlebih sekarang putrinya sudah terlelap dan dia tidak akan bisa membawa putrinya sendirian dengan keadaan seperti ini dengan mengendarai sepeda motor jadi terpaksa dia akan menerima tawaran Dain itu.
"Dan besok kamu libur kerja kan"
"Kamu tau?"
"Apa yang tidak aku ketahui, tapi hanya satu hal yang belum aku ketahui sih..."
"Apa?"
"Ukuran Dalemanmu mana aku tau, kalau aku sudah melihatnya pasti tau"
"Sudah jangan membahas hal itu, lebih baik aku bawa Letta kedalam, kasian dia bisa masuk angin" setelah mendapatkan persetujuan dari Lita, Dain segera membawa Letta masuk kedalam apartemen dan membawanya ke salah satu kamar. Dain tak lama karena dia segera kembali dan tak lupa dia membawa selimut untuk Lita, Lita pasti kedinginan di balkon dan benar saat dirinya kembali Lita memeluk tubuhnya dengan erat.
Dain langsung mendekati tubuh itu dan langsung memakaikan selimut yang dibawanya. Sedangkan Lita dibuat terkejut dengan perlakuan tiba-tiba ini.
"Ma...makasih"
"Iya kamu pasti kedinginan jadi saya bawakan ini" Dain duduk tepat disamping Lita tetapi rangkulannya kepada Lita tetap dilakukannya. Karena dia berfikir dengan seperti ini akan membuat wanita ini menjadi hangat.
Namun ternyata lama kelamaan Lita pun tanpa sadar menaruh kepalanya di bahu Dain dan dia memeluk tubuh itu karena dia begitu kedinginan dan mencari kehangatan.
"Ka...kamu masih kedinginan" tanya Dain dengan grogi karena pelukan dari Lita. Terlebih sekujur tubuhnya langsung merinding mendapatkan pelukan seperti ini.
"Iya maaf ya, hanya sebentar saja"
"Iya tidak apa" untuk beberapa saat keduanya terdiam, hingga Dain memecahkan keheningan.
"Kamu mau sesuatu yang membuat hangat"
"Ya boleh. Apa itu?" jawab Lita dengan kini dia mendongakkan kepalanya.
Setelahnya melakukan hal yang tak terduga, bahkan membuat Lita terkejut dibuatnya.