Sabtu pagi, Laura tidak langsung memulai percakapan yang ditulisnya semalam. Ia menyiapkan sarapan dan memastikan anak-anak tidak sedang bersiap mengerjakan sesuatu yang harus segera selesai. Setelah meja dibereskan, ia meminta waktu duduk bersama sebentar.
'Ada hal tentang Ibu dan Lee yang belum Ibu ceritakan dengan benar,' katanya.
Zio meletakkan sendok terakhir di tempatnya. Fiona mendekat, bertanya apakah mereka akan pergi lagi. Laura menjawab tidak ada perubahan rencana hari itu. Ia ingin menjelaskan sesuatu, bukan mengumumkan tamu atau meminta anak-anak menyetujui keputusan.
'Waktu Ibu pertama menemui ayahnya, Ibu dan Lee sudah membuat kesepakatan untuk berpura-pura berpacaran. Itu keputusan orang dewasa yang seharusnya tidak membuat kalian bingung.'
Fiona memandang kakaknya. Zio bertanya apakah semua makan bersama dan permainan juga berpura-pura. Laura menarik napas, memikirkan cara menjawab tanpa menggunakan kehangatan yang memang terjadi untuk menyembunyikan awal hubungan mereka.
'Makan dan bermainnya benar-benar terjadi. Kalau kalian senang, perasaan kalian juga sungguh-sungguh. Yang belum Ibu jelaskan adalah bagaimana hubungan orang dewasa ini dimulai.'
'Kenapa harus berpura-pura?'
'Lee ingin diperkenalkan sebagai mempunyai pasangan di hadapan ayahnya. Ibu menyetujuinya. Ada urusan dan imbalan untuk Ibu dalam kesepakatan itu, tetapi kalian tidak ikut membuat janji apa pun.'
Laura tidak menyebut angka bulanan atau meminta mereka memahami kebutuhan uang sebagai pembenaran. Ia tidak ingin anak-anak menyimpulkan bahwa kesulitan rumah harus dibayar dengan kesediaan mereka menyayangi seseorang.
'Apa kami harus ikut supaya Ibu mendapat sesuatu?' tanya Zio.
'Tidak. Sama sekali tidak. Kalian tidak berkewajiban bertemu, bermain, atau menunjukkan rasa senang untuk memenuhi perjanjian Ibu.'
Fiona menunduk dan menanyakan mengapa ibunya tidak mengatakan sejak awal. Laura merasakan pertanyaan itu tepat mengenai bagian yang tidak dapat dilunakkan dengan alasan tidak ingin membuat mereka bingung.
'Karena Ibu menunda hal yang sulit. Waktu bilang sedang saling mengenal, itu belum menjelaskan seluruh keadaan. Ibu minta maaf. Kalian berhak mengetahui kalau ada peran yang bisa membuat kalian salah mengira.'
Zio bertanya apakah Lee sebenarnya tidak menyukai mereka. Laura mengatakan ia tidak akan menjawab seluruh perasaan Lee atas namanya. Yang dapat dilihat adalah pertemuan yang telah berlangsung, dan mereka boleh tetap menilai tindakan Lee tanpa diperintah merasa dekat.
'Ibu sedang membicarakan cara mengakhiri bagian pura-pura itu,' lanjutnya. 'Kalau nanti Ibu dan Lee memilih mempunyai hubungan yang sungguh-sungguh, itu harus pilihan baru. Bukan karena kalian diminta membantu menjaga cerita.'
'Kalau tidak jadi?' tanya Fiona.
'Rumah kita tetap rumah kita. Ibu tetap mengurus kalian. Tidak ada sesuatu yang harus kalian kembalikan karena pernah makan sup atau menerima kue.'
Fiona memandang kotak permainan yang sudah dibereskan. Ia mengatakan pernah merasa Lee menyenangkan saat kalah dan tidak marah. Sekarang ia tidak tahu apakah boleh tetap menganggapnya begitu.
'Boleh,' jawab Laura. 'Mengetahui hal baru tidak memerintahkan kamu menghapus perasaan sebelumnya. Kamu juga boleh kecewa kepada Ibu.'
Zio menyatakan ia memang sedikit marah. Laura mengangguk dan menunggu, tidak buru-buru meminta anaknya mengerti bahwa ia sedang melakukan yang terbaik. Ia tahu mengakui kesalahan tidak menjadikan orang yang terluka wajib segera memaafkan.
Setelah jeda, Zio bertanya apakah ayah Lee tahu. Laura menjawab belum dijelaskan sepenuhnya dan itu harus dibicarakan orang dewasa. Ia tidak akan meminta anak-anak merahasiakan sesuatu jika beliau mengajukan pertanyaan kepada mereka.
'Kalau ditanya dan tidak tahu jawabannya, bilang boleh bertanya kepada Ibu atau Lee,' katanya. 'Kalian tidak perlu membuat cerita.'
Fiona ingin berhenti membicarakannya dan membaca. Laura mempersilakan. Zio tetap duduk beberapa menit, lalu bertanya sekali lagi apakah mereka boleh menolak undangan berikutnya. Laura menjawab iya, termasuk jika alasannya hanya belum ingin.
Percakapan berakhir tanpa pelukan yang diminta sebagai tanda semua sudah baik. Laura membiarkan anak-anak kembali pada kegiatan masing-masing. Ia membereskan meja perlahan, menahan dorongan mengirim pesan kepada Lee untuk mencari penghiburan sebelum tanggung jawabnya sendiri selesai dipahami.
Ketika memasukkan piring ke tempatnya, ia mendengar Fiona bertanya kepada Zio apakah nanti makan siang tetap bersama. Zio menjawab tentu saja, seolah pertanyaan itu tidak memerlukan pertimbangan. Laura berdiri sebentar di dekat wastafel. Ia lalu menyebut menu yang akan dimasak dan menanyakan apakah mereka ingin membantu mencuci sayur. Fiona memilih tidak, sedangkan Zio datang setelah menyimpan buku. Laura menerima keduanya dengan nada yang sama. Ia tidak ingin satu kegiatan rumah pun diam-diam menjadi cara menguji apakah anak-anak masih mau bersamanya setelah percakapan tadi.
Menjelang siang, ia menghubungi Lee. Laura memberi tahu bahwa ia sudah menjelaskan awal kesepakatan dengan bahasa yang dapat dipahami anak-anak, tanpa meminta mereka membawa rincian pembayaran. Ia mengatakan mereka mempunyai pertanyaan dan sebagian merasa kecewa.
'Aku ingin bicara kepada mereka,' jawab Lee.
'Tunggu sampai mereka ingin. Jangan menjadikan permintaan maaf sebagai alasan datang tanpa rencana.'
Lee menerima. Laura meminta ia juga memikirkan percakapan dengan ayahnya. Selama ini keramahan lelaki tua tersebut diterima di dalam cerita yang belum jujur. Mereka tidak boleh terus membawa anak-anak ke sana sambil menunda tanggung jawab menjelaskan.
'Aku akan berbicara kepada Ayah. Bukan meminta anak-anak menjaga rahasia,' kata Lee dengan suara yang terdengar lebih pelan.
Mereka sepakat menyiapkan pembicaraan pribadi dan peninjauan kerja secara terpisah. Tidak ada janji bahwa pengakuan ini akan segera membuat hubungan mereka lebih dekat. Laura justru ingin setiap orang mendapat ruang untuk merasakan akibatnya tanpa dijadikan hambatan yang harus dibereskan.
Sore hari, Fiona meminta ibunya duduk menemani membaca. Laura datang tanpa membicarakan Lee lagi. Zio kemudian ikut duduk dengan bukunya sendiri. Mereka berada di ruangan yang sama, tidak semua harus berbicara.
Laura tahu kepercayaan tidak kembali hanya karena ia akhirnya mengatakan yang ditunda. Namun ia dapat mulai menjaganya dengan sesuatu yang sederhana: menjawab pertanyaan tanpa cerita tambahan, memenuhi jadwal yang sudah dibuat, dan membiarkan anak-anak mendekat atau menjauh tanpa menganggapnya sebagai hukuman bagi dirinya.