Pekan berikutnya, ayah Lee kembali mengundang Laura dan anak-anak makan bersama. Undangan disampaikan melalui Lee, tetapi Laura meminta waktu membicarakannya di rumah sebelum menentukan hari. Ia tidak ingin kesenangan pada kunjungan pertama dianggap sebagai persetujuan untuk selalu datang.
Zio bersedia jika waktunya tidak terlalu lama. Fiona ingin melihat tanaman yang sebelumnya belum sempat diperhatikan. Setelah jadwal mereka diperiksa, Laura mengusulkan Jumat sore dan memastikan anak-anak tidak mempunyai keperluan sekolah yang tertinggal.
Lee menyampaikan kepada ayahnya. Mereka sepakat makan lebih awal, sehingga Laura tidak harus membawa dua anak mengantuk pulang terlalu larut. Tidak ada tamu tambahan yang akan datang tanpa diberi tahu.
Jumat, Laura menyelesaikan pekerjaannya sesuai waktu dan pulang lebih dulu untuk menemui anak-anak. Ia tidak mengulang perjalanan salon atau membuat mereka memilih pakaian baru. Fiona mengambil buku, Zio menyiapkan barangnya sendiri, dan Laura memeriksa apakah keduanya masih ingin berangkat.
'Kita sudah tahu rumahnya,' kata Fiona.
'Iya. Tapi kalau ada yang ingin diubah dari rencana, tetap boleh bilang.'
Kendaraan datang setelah mereka siap. Lee menunggu di rumah ayahnya, bukan tiba-tiba muncul dari kursi yang sejak awal dianggap kosong. Laura memastikan jam pulang kepada sopir, lalu mengajak anak-anak berangkat.
Di teras, ayah Lee menyambut dengan menyebut nama mereka. Fiona menjawab lebih jelas daripada ketika pertama datang. Zio langsung menanyakan apakah taman masih boleh dilihat sebelum makan, dan beliau mengatakan boleh selama Laura menemani.
Mereka berjalan sebentar di antara tanaman. Fiona menunjuk daun yang berbeda bentuk dan menanyakan namanya. Ayah Lee mengatakan salah satunya mint, lalu menggosok sehelai daun yang dipetiknya sendiri agar aromanya dapat dicium.
'Ini buat minuman?' tanya Fiona.
'Kadang. Tapi tidak semua daun boleh dipetik atau dimakan. Kalau tidak tahu, tanya dulu.'
Laura mengangguk mendukung. Ia tidak ingin rasa ingin tahu anak-anak berubah menjadi kebiasaan mengambil sesuatu tanpa mengenali tanaman. Fiona mencium daun yang disodorkan, lalu memberikannya kepada Zio yang ingin mencoba.
Zio mengatakan aromanya mengingatkannya pada sesuatu yang pernah diminum, tetapi tidak yakin apakah sama. Ayah Lee tidak langsung membenarkan tebakannya. Beliau menanyakan cirinya, lalu mengatakan mungkin ada campuran lain. Fiona menyimpan daun itu di telapak tangan sampai Laura menunjukkan tempat membuangnya setelah selesai, agar tidak tertinggal di dalam buku yang dibawanya.
Lee berdiri di samping ayahnya dan mendengarkan. Tidak ada alasan baginya memimpin setiap percakapan hanya karena menjadi penghubung kunjungan ini. Laura merasa lebih mudah menikmati sore ketika semua orang tidak berusaha menciptakan adegan keluarga yang sudah lengkap.
Saat makan siap, mereka kembali ke dalam bersama. Meja yang sama tidak lagi membuat Laura menghitung setiap gerakan tangannya. Ia membantu Fiona menaruh buku di tempat aman, kemudian duduk dan menunggu hidangan dibagikan.
Ayah Lee menanyakan acara kantor yang pernah disebut Laura. Ia menjawab kegiatan telah berlangsung dan hasil kerja tim diterima. Ia tidak menceritakan pemeriksaan Norma di hadapan anak-anak atau keluarga Lee. Urusan kantor tidak perlu dibuka untuk menjelaskan mengapa ia tampak lelah beberapa waktu lalu.
'Sekarang bisa bernapas sedikit?' tanya beliau.
'Ada pekerjaan lain. Tapi yang itu sudah selesai.'
Zio menceritakan kunjungan Lee ke rumah untuk bermain. Ayah Lee tertawa ketika mendengar putranya beberapa kali lupa aturan. Lee menerima cerita itu, mengatakan ia masih perlu latihan jika diundang lagi.
'Kita belum buat jadwal,' kata Zio.
'Aku tahu. Tidak harus sekarang.'
Laura memperhatikan jawaban itu dan kembali mengambil air. Perubahan kecil yang konsisten lebih menenangkan daripada janji besar di depan ayahnya. Ia tidak ingin menggunakan satu percakapan yang baik untuk melupakan peninjauan jabatan dan kesepakatan pribadi yang masih menunggu.
Setelah makanan utama, ayah Lee mengajak Laura duduk sebentar sementara anak-anak melihat buku di ruang yang sama. Lee pergi mengambil sesuatu dari dapur atas permintaan ayahnya, meninggalkan percakapan yang tetap dapat didengar tanpa membuat Laura merasa terpojok.
'Saya senang kalian datang lagi,' kata beliau. 'Tapi jangan merasa punya kewajiban menyenangkan saya.'
Laura mengucapkan terima kasih. Ia ingin mempercayai keramahan itu, sekaligus menyadari ada bagian tentang hubungannya dengan Lee yang belum diketahui tuan rumah. Setiap sambutan hangat kini membuat pertanyaan tentang sandiwara mereka terasa lebih berat.
'Ada hal yang masih kami bicarakan,' katanya hati-hati. 'Tentang hubungan kami dan pekerjaan saya. Saya tidak ingin memberikan kesan semuanya sudah diputuskan.'
Ayah Lee memandangnya dengan tenang. 'Kalau belum diputuskan, tidak perlu dibuat seolah sudah. Kalian yang menjalaninya.'
Laura mengangguk. Ia tidak mengungkap pembayaran di depan anak-anak tanpa persiapan, tetapi ia juga tidak menambahkan cerita tentang rencana pernikahan yang belum pernah dipilihnya. Percakapan itu menyisakan kelegaan sekaligus tanggung jawab untuk tidak terus menunda kejujuran.
Lee kembali ketika Fiona meminta air. Laura memberikannya, lalu melihat jam. Mereka masih mempunyai waktu sebentar sebelum jadwal pulang, cukup untuk membereskan buku dan mengucapkan terima kasih tanpa terburu-buru.
Ayah Lee menawarkan membungkus sedikit makanan. Laura menanyakan kepada anak-anak apakah ingin membawa untuk esok, kemudian menerima jumlah yang dapat mereka habiskan. Tidak ada hadiah besar yang harus dibalas dengan kunjungan berikutnya.
Di teras, Fiona mengucapkan terima kasih atas penjelasan tentang daun mint. Zio berpamitan dengan lebih santai. Laura menyampaikan bahwa mereka telah menikmati makan bersama, tetapi belum menjanjikan kapan dapat datang lagi.
Dalam perjalanan pulang, anak-anak membicarakan tanaman dan permainan. Laura mendengarkan sambil memegang tasnya. Di dalamnya tidak ada kartu bunga yang belum diketahui pengirimnya lagi. Namun ada satu kesepakatan yang selama ini ia bawa tanpa terlihat oleh siapa pun di meja makan.
Sesampainya di rumah, ia memastikan anak-anak beristirahat, lalu menulis beberapa hal yang ingin disampaikan kepada mereka dengan bahasa sederhana. Bukan angka pembayaran atau rincian orang dewasa. Mereka perlu mengetahui bahwa hubungan yang dilihat selama ini berawal dari sebuah peran, dan bahwa ibunya sedang memilih mengakhiri bagian yang membuatnya terus menunda mengatakan yang sebenarnya.