Pada Sabtu, Zio bertanya apakah Lee dapat datang lagi. Laura sedang melipat pakaian dan berhenti agar dapat mendengar dengan jelas. Putranya ingin menunjukkan permainan papan yang berbeda dari permainan yang diceritakan minggu sebelumnya.
'Kamu ingin mengajak dia bermain?' tanya Laura.
'Kalau dia punya waktu. Tidak harus lama.'
Laura mengatakan ia akan bertanya setelah mengetahui apakah Fiona nyaman menerima tamu. Ketika ditanya, Fiona mengatakan boleh datang Minggu siang, tetapi ia mungkin tidak ikut sampai selesai. Laura menerima jawaban itu dan mengirim undangan kepada Lee dengan penjelasan sederhana.
Lee tidak langsung menjawab karena sedang mempunyai urusan. Zio sempat menanyakan apakah tidak dibalas berarti tidak ingin datang. Laura menjelaskan belum ada jawaban belum berarti apa pun selain mereka perlu menunggu.
'Kita bisa tetap bermain kalau dia tidak bisa,' tambahnya.
Menjelang malam, Lee menyatakan dapat datang sekitar dua jam. Laura menyampaikan waktu itu kepada anak-anak dan memastikan mereka masih ingin menerima. Tidak ada keperluan menyiapkan makan besar. Mereka akan makan siang lebih dulu, lalu mengeluarkan permainan setelah Lee tiba.
Minggu berjalan sesuai rencana. Zio menata papan di meja sebelum bel berbunyi, sementara Fiona memilih tempat duduk yang mudah ditinggalkan jika ia ingin beristirahat. Laura menyambut Lee dan mempersilakannya masuk. Tidak ada perkenalan ulang; mereka sudah mulai mengenali kebiasaan kecil satu sama lain.
'Aku belum pernah main yang ini,' kata Lee ketika melihat papan.
'Aku jelaskan,' jawab Zio.
Ia mulai terlalu cepat, membuat Fiona memotong karena satu aturan belum disebut. Zio mengulang dari awal, kali ini dengan memperlihatkan urutan giliran. Laura menahan diri untuk tidak mengambil alih. Anak-anak dapat menjelaskan dengan cara mereka sendiri, dan Lee boleh bertanya jika belum paham.
Permainan pertama tidak berjalan rapi. Lee lupa satu langkah dan menggerakkan bidaknya terlalu jauh. Fiona menunjuk kesalahan itu, lalu tertawa ketika lelaki tersebut mengembalikan bidak dengan wajah serius.
'Kalau di kantor salah begini, apa juga ditegur?' tanyanya.
'Seharusnya iya,' jawab Lee. 'Kalau salah, perlu dibetulkan.'
Laura memandangnya sebentar. Ia tidak mengubah permainan menjadi pembicaraan tentang keputusan kerja, tetapi jawaban tersebut membuatnya berharap Lee benar-benar dapat menerima koreksi di luar meja rumah ini.
Zio memenangkan putaran pertama. Ia ingin segera memulai lagi, tetapi Fiona meminta jeda untuk mengambil minum. Lee menunggu dan tidak menganggap berhenti sebentar merusak suasana. Laura membawa air serta makanan ringan yang sudah disiapkan.
Saat putaran kedua dimulai, Fiona memilih mengamati. Ia masih memberi komentar ketika Zio terlalu cepat memindahkan bidak. Laura ikut bermain menggantikannya, sehingga anak itu tidak diminta bertahan hanya agar jumlah pemain cukup.
Lee beberapa kali kalah tanpa mencoba mengubah aturan. Zio tertawa lebih lepas, lalu mulai menceritakan kejadian di sekolah yang berkaitan dengan permainan. Laura memperhatikan ia tidak menanyakan hadiah sebagai tanda berhasil bermain baik. Pertemuan itu cukup mempunyai kegiatan yang ingin dilakukan bersama.
Ketika Laura sendiri lupa menghitung giliran, Zio memprotes sambil menunjuk bidak yang belum bergerak. Ia memeriksa, mengakui kekeliruannya, lalu mengembalikan satu langkah. Fiona bertepuk kecil karena akhirnya bukan hanya Lee yang harus mengulang. Tawa mereka membuat ruang tengah terasa akrab tanpa membutuhkan siapa pun menyebutnya keluarga baru.
Di sela permainan, ponsel Laura menampilkan nama Brian. Ia melihat pesan yang menanyakan kapan dapat memperoleh kabar tentang pertemuan. Laura tidak membacanya keras-keras atau meletakkan layar di depan anak-anak. Ia menyimpan ponsel dan melanjutkan gilirannya.
Zio rupanya melihat nama itu. Setelah putaran selesai, ia mendekati ibunya untuk bertanya apakah ayahnya ingin datang hari ini. Laura menjawab tidak ada rencana demikian. Pesan tersebut hanya menanyakan kabar yang akan mereka bicarakan lagi pada waktu lain.
'Kalau aku main sama Lee, bukan berarti aku tidak mau bertemu dia,' kata Zio pelan.
Laura menaruh bidaknya. 'Ibu tahu. Kamu tidak harus memilih satu orang untuk meniadakan yang lain.'
Lee mendengar kalimat terakhir dan tidak menyela. Ia membiarkan Laura menjawab anaknya tanpa menambahkan perasaan sendiri. Zio kembali duduk setelah memastikan tidak ada tamu tambahan yang datang mendadak.
Fiona kemudian mengatakan ia ingin membaca di kamar. Laura mempersilakan, mengingatkan agar memberi tahu jika membutuhkan sesuatu. Lee mengucapkan terima kasih karena ia telah mengajarkan aturan permainan. Tidak ada permintaan agar ia menyelesaikan satu putaran lagi sebagai penutup.
Ketika waktu kunjungan hampir habis, Zio ingin memulai permainan baru. Laura menunjukkan jam dan mengingatkan kesepakatan dua jam. Ia tidak menyalahkan Lee atau menggunakan rasa lelah Fiona sebagai alasan. Waktu yang disepakati memang sudah mendekati akhir.
'Kita simpan dulu,' kata Zio setelah berpikir. 'Kalau lain kali jadi main, tidak perlu menjelaskan dari awal.'
Lee mengangguk. 'Kalau aku lupa, boleh diingatkan.'
Mereka membereskan bidak bersama. Lee menanyakan tempat meletakkan kotak, tidak membuka lemari sendiri. Laura membawa gelas ke dapur dan kembali ketika ia sudah siap berpamitan.
Di pintu, Lee mengatakan ia senang diundang untuk melakukan sesuatu yang memang dipilih anak-anak. Laura berterima kasih karena ia tidak memperpanjang kunjungan setelah waktunya habis. Ia tidak menjanjikan Minggu berikutnya sebelum mengetahui rencana keluarga.
Setelah tamu pulang, Zio duduk di dekat kotak permainan dan mengatakan ia masih memikirkan pertemuan dengan Brian. Kali ini ia ingin tahu apakah mereka dapat memilih kafe dan pulang setelah satu jam.
'Kita bisa membicarakan itu besok,' jawab Laura. 'Kamu sudah punya gambaran yang lebih jelas.'
Fiona keluar untuk mengambil air. Mendengar pertanyaan kakaknya, ia mengatakan mungkin bersedia ikut jika Laura tetap di meja yang sama dan tidak ada orang lain yang dibawa tanpa kabar.
Laura mengangguk. Ia tidak langsung menelepon Brian di hadapan mereka. Ia ingin memastikan keputusan itu tidak lahir hanya karena suasana bermain masih menyenangkan. Malam nanti mereka akan beristirahat seperti biasa, dan besok, jika keduanya masih menginginkan, mereka dapat mulai menyusun pertemuan yang belum pernah benar-benar terlaksana sejak Brian kembali meminta kabar.