Kamis sore, hujan turun sebelum Laura selesai membereskan pekerjaan. Ia menatap kaca yang mulai tertutup aliran air, lalu memeriksa pesan dari rumah. Anak-anak sudah tiba sesuai rencana. Ia tidak perlu bergegas menjemput di tengah hujan, tetapi tetap ingin sampai sebelum makan malam.
Lee menghubunginya untuk menawarkan perjalanan pulang bersama. Laura memastikan tidak ada tempat lain yang perlu disinggahi. Setelah lelaki itu menjawab langsung menuju rumahnya, ia menyetujui dan menunggu di bagian lobi yang terlindung.
Kali ini mereka menempuh perjalanan berdua tanpa pembicaraan tentang Brian atau pekerjaan. Suara hujan mengisi jeda di antara pertanyaan singkat. Laura mengucapkan terima kasih atas bantuan Selasa, lalu menyebut Fiona sudah kembali bersemangat setelah cukup beristirahat.
'Dia terlihat lelah waktu keluar,' kata Lee.
'Kegiatan tambahannya lebih lama daripada yang dia kira. Untung kita tidak mampir ke tempat lain.'
Lee mengangguk. Tangannya tetap tenang ketika kendaraan berjalan perlahan mengikuti antrean. Laura memperhatikan ia memberi jarak lebih jauh dari mobil di depan saat hujan bertambah deras. Ia tidak mengomentarinya sampai Lee sendiri mengatakan ia tidak suka terburu-buru ketika cuaca seperti ini.
'Pernah mengalami sesuatu?' tanya Laura pelan.
Lee tidak segera menjawab. Laura memandang ke depan dan menambahkan bahwa ia tidak harus bercerita jika tidak ingin. Ia tahu rasa tidak nyaman ketika pertanyaan biasa berubah menjadi tuntutan menjelaskan seluruh masa lalu.
'Istriku meninggal karena kecelakaan,' kata Lee akhirnya. 'Saat hujan deras.'
Laura menoleh, lalu kembali memandang jalan agar ia tidak merasa diperiksa. Ia pernah mendengar bahwa Lee seorang duda. Namun kabar yang disampaikan orang di kantor berbeda dari mendengar lelaki itu menyebut kehilangan dengan suaranya sendiri.
'Aku tidak berada di mobil itu,' lanjutnya. 'Ada waktu cukup lama ketika aku terus memikirkan apa yang mungkin berbeda kalau aku ada.'
Laura menahan jawaban yang terlalu cepat. Ia tidak tahu rincian peristiwa tersebut, dan tidak ingin mengatakan sesuatu yang seolah dapat membantah rasa bersalah hanya dalam satu kalimat. Ia bertanya apakah Lee ingin tetap berbicara atau lebih suka diam selama perjalanan.
'Aku bisa bercerita sedikit.'
Lee mengecilkan suara radio sebelum melanjutkan. Laura tidak menyentuh tangannya atau mendesaknya menatap dirinya; ia membiarkan lelaki itu memilih kata-katanya.
'Aku mendengarkan.'
Lee mengatakan kejadian itu sudah beberapa tahun berlalu, tetapi hujan masih kadang membuat ingatannya bergerak ke hari yang sama. Tidak setiap perjalanan terasa berat. Namun ada saat ketika bunyi air pada kaca cukup membuatnya memikirkan telepon yang tidak pernah ingin diterima siapa pun.
Mereka belum mempunyai anak saat istrinya meninggal. Kalimat itu diucapkan singkat, tanpa menjadikan Zio dan Fiona sebagai sesuatu yang dapat mengisi ruang kosong. Laura menghargai bahwa Lee tidak memakai kedekatan dengan anak-anaknya untuk memberi akhir baru pada cerita kehilangan tersebut.
'Aku kadang tidak tahu harus mengatakan apa ketika orang bertanya,' ujar Lee. 'Kalau jawab terlalu pendek, mereka ingin tahu lebih banyak. Kalau cerita panjang, aku sendiri yang tidak sanggup.'
Laura mengangguk. 'Kamu tidak harus memberi versi yang membuat orang lain puas.'
Lee memandangnya sekilas. Laura merasa pipinya menghangat karena kalimat itu juga mengingatkannya pada tuntutan balasan pesan mereka. Ia tidak menambahkan sindiran. Percakapan hari ini mempunyai tempatnya sendiri, tetapi ia berharap Lee kelak mengingat bahwa hak untuk menjawab pendek juga dimiliki orang lain.
Hujan mulai berkurang setelah mereka melewati persimpangan. Lee menarik napas dan mengatakan ia sudah belajar bahwa ketidakhadirannya bukan sesuatu yang dapat diubah dengan mengulang pertanyaan yang sama. Belajar tidak berarti ingatannya berhenti menyakitkan.
'Aku tidak ingin berpura-pura bisa membereskan itu,' kata Laura. 'Tapi kalau kamu bercerita, aku bisa mendengar.'
'Terima kasih.'
Untuk beberapa saat mereka hanya mendengarkan suara kendaraan lain melewati genangan. Laura memikirkan perbedaan di antara mereka. Pernikahannya berakhir karena pengkhianatan dan keputusan berpisah; Lee kehilangan orang yang masih menjadi istrinya. Sama-sama pernah menikah tidak membuat pengalaman mereka dapat disamakan begitu saja.
'Aku pernah merasa harus menjelaskan bahwa menjadi janda bukan berarti aku sedang menunggu seseorang menyelamatkanku,' katanya kemudian.
Lee mendengarkan tanpa memotong.
'Aku tetap punya hari-hari yang sulit. Tapi aku juga punya hidup yang sudah kubangun bersama anak-anak. Kalau ada orang datang, dia bertemu hidup itu, bukan tempat kosong.'
Lee mengangguk perlahan. 'Aku mengerti maksudmu.'
Laura tidak meminta ia memberi janji. Ia hanya merasa perlu menyampaikan itu setelah mendengar cerita yang jujur. Ada kedekatan yang tidak perlu dibayar dengan kalimat lebih besar daripada yang dapat mereka jalani.
Ketika kendaraan mendekati rumah, Laura memberi tahu tempat berhenti yang tidak terlalu tergenang. Lee mengikuti arahannya dan menunggu sampai ia selesai menghubungi anak-anak. Zio mengatakan pintu akan dibukakan, sementara Fiona menanyakan apakah ibunya perlu payung.
'Ibu punya. Jangan keluar ke jalan,' jawab Laura.
Ia berbalik kepada Lee sebelum turun. 'Terima kasih sudah mengantar. Dan sudah percaya untuk bercerita.'
'Terima kasih sudah tidak meminta aku cepat melupakannya.'
Laura mengangguk. Ia turun setelah hujan cukup reda untuk membuka payung. Lee tidak ikut masuk. Ia menunggu dari kendaraan sampai Laura berada di balik pagar, kemudian melanjutkan perjalanan.
Di dalam rumah, Fiona mengambil tas ibunya sementara Zio menunjukkan tempat meletakkan payung basah. Percakapan segera berubah menjadi urusan makan dan pekerjaan sekolah. Laura tidak membawa cerita istri Lee ke meja makan. Anak-anak tidak perlu menerima masa lalu orang dewasa sebagai tugas untuk dihibur.
Setelah malam tenang, ia mengirim pesan kepada Lee bahwa dirinya sudah beristirahat bersama keluarga. Ia tidak bertanya apakah semua kesedihannya sudah lebih ringan. Balasan yang datang hanya ucapan selamat malam.
Laura menaruh ponsel dan menatap sisa air di luar jendela. Ia mulai mengenal lelaki yang tidak sepenuhnya tampak dari ruangan CEO. Namun mengenal luka seseorang tidak menghapus hal yang masih perlu dibenahi di antara mereka. Ia ingin mengingat keduanya, tanpa menggunakan rasa iba sebagai alasan melupakan suaranya sendiri.