Senin, Laura menghubungi sekolah melalui saluran yang biasa dipakai orang tua. Ia menanyakan aturan jika seorang teman dewasa menemaninya menjemput anak-anak. Petugas menjelaskan identitas tetap perlu dicatat dan Laura harus hadir sebagai orang tua yang mengambil mereka.
Laura menyampaikan nama Lee setelah memastikan tawaran itu masih berlaku. Ia juga mengatakan Fiona mempunyai kegiatan tambahan pada Selasa, sehingga mereka tidak dapat langsung pulang begitu Zio selesai. Jika Lee tidak mempunyai waktu menunggu, mereka tidak perlu menjalankan rencana itu.
'Aku bisa menunggu sesuai jadwal,' jawab Lee.
'Kalau ada pekerjaan berubah, beri tahu. Kita bisa pakai cara biasa.'
Laura membicarakan rencana terakhir kepada anak-anak malam itu. Zio menginginkan kepastian bahwa ibunya tidak meninggalkan sekolah bersama Lee sementara Fiona masih berkegiatan. Laura mengatakan mereka akan menunggu dan pulang bersama setelah adiknya selesai.
Fiona bertanya apakah Lee akan masuk sampai ke kelas. Laura menjawab tidak ada keperluan itu. Mereka akan mengikuti tempat penjemputan yang ditentukan sekolah, bukan mengubah kegiatan anak-anak menjadi kunjungan tamu.
Selasa, Laura menyelesaikan pekerjaan yang harus dilakukan sebelum pulang sementara. Daniel mengetahui ia mempunyai urusan penjemputan dan kapan dapat kembali menanggapi pekerjaan. Ia tidak meminta anggota tim lain menunda keputusan hanya karena dirinya sedang berada di luar kantor.
Lee menemuinya sesuai waktu yang disepakati. Mereka menuju sekolah dengan membawa informasi penjemputan yang sudah dikonfirmasi. Di perjalanan, Lee bertanya apakah perlu membelikan makanan untuk anak-anak. Laura menjawab ia sudah menyiapkan bekal ringan untuk waktu menunggu.
'Tidak perlu berhenti berbelanja,' katanya.
Lee menerima. Sesampainya di sekolah, ia mengikuti arahan petugas, menunjukkan identitas ketika diminta, dan menunggu bersama Laura. Tidak ada seseorang yang berlari membukakan gerbang hanya karena melihat mobil atau mengenali nama perusahaannya.
Zio muncul lebih dulu. Ia melihat ibunya, lalu melirik Lee yang berdiri sedikit di belakang. Laura menyapa dan bertanya apakah ia ingin langsung duduk sambil menunggu Fiona. Zio mengangguk, memindahkan tasnya, lalu mengeluarkan botol minum.
'Fiona masih lama?' tanyanya.
'Sesuai jadwal kegiatan tambahannya. Kita tunggu di sini.'
Zio menerima jawaban itu. Lee tidak mencoba membuatnya lebih cepat pulang dengan menawarkan mengantar sendiri lalu menjemput kembali. Rencana yang disepakati adalah menunggu bersama, dan mereka melakukannya meskipun waktu terasa panjang di sela jam kerja.
Laura menanyakan bagaimana pelajarannya hari itu. Zio bercerita singkat, kemudian mengatakan ia ingin membaca daripada terus berbicara. Lee mengangguk dan berpaling kepada Laura, membicarakan keadaan jalan tanpa menyentuh urusan penilaian kerja atau jabatan.
Angin mengangkat sudut halaman buku Zio. Ia menahannya dengan botol minum, tetapi kemudian tertawa karena tulisan di bawah botol justru tidak dapat dibaca. Laura menawarkan duduk sedikit lebih terlindung. Lee mengikuti setelah mereka berpindah, membawa tas Laura yang diminta ditolong angkat sebentar. Peristiwa kecil itu tidak istimewa bagi orang yang melintas, tetapi membuat Laura lebih tenang. Ia dapat memusatkan perhatian pada anaknya tanpa terus mengawasi apakah tamunya merasa diabaikan selama menunggu Fiona menyelesaikan kegiatan.
Beberapa orang tua melintas. Laura menyapa yang dikenalnya, tetapi tidak menjelaskan siapa Lee kepada semua orang. Ia tidak merasa harus menyusun cerita tentang kekasih di depan gerbang sekolah. Di tempat itu, ia datang sebagai ibu yang menjemput anak-anak dan membawa teman sesuai aturan.
Ketika Fiona akhirnya keluar, ia tampak lelah tetapi masih ingin menunjukkan sesuatu dari kegiatan tadi. Laura mendengarkan sampai selesai sebelum menanyakan apakah ia sudah siap pulang. Lee menyapa dari jarak yang tidak membuatnya harus mendekat.
'Kita pulang sekarang?' tanya Fiona.
'Kalau semua barangmu sudah ada,' jawab Laura.
Fiona memeriksa tas dan botol minumnya. Setelah ia mengangguk, mereka berjalan menuju kendaraan. Laura memastikan keduanya duduk dengan aman dan barang tidak menghalangi tempat kaki. Lee menunggu sampai semuanya siap sebelum perjalanan dimulai.
Zio bertanya apakah mereka akan singgah makan. Laura menjawab rencananya langsung pulang, sebab Fiona sudah lelah dan mereka mempunyai makanan di rumah. Lee tidak mengubahnya menjadi hadiah karena anak-anak bersedia dijemput.
'Aku juga ingin pulang,' kata Fiona.
Lee menjawab mereka akan segera tiba. Ia tidak bertanya apakah perjalanan itu lebih menyenangkan daripada penjemputan biasa. Laura memperhatikan lalu lintas dan sesekali menoleh untuk memastikan Fiona tidak membutuhkan sesuatu.
Setibanya di rumah, Zio mengucapkan terima kasih. Fiona menambahkan salam sebelum masuk. Lee tidak meminta masuk atau menunggu undangan yang tidak diberikan. Laura berpamitan di pagar, menjelaskan bahwa ia perlu menemani anak-anak beristirahat.
'Terima kasih sudah menunggu sampai kegiatannya selesai,' katanya.
'Kamu sudah memberitahuku sejak awal.'
'Iya. Tapi aku tetap menghargainya.'
Setelah kendaraan pergi, Laura kembali ke ruang tengah. Zio meletakkan tas dan mengatakan perjalanan tadi baik-baik saja. Fiona lebih tertarik meminta air dan mengganti pakaian daripada membicarakan Lee.
Laura tidak menarik kesimpulan besar. Penjemputan satu hari berjalan sesuai rencana, bukan bukti bahwa rutinitas sekolah kini harus diganti. Ia bertanya apakah anak-anak ingin mengatakan sesuatu yang perlu diubah jika ada kesempatan lain. Zio meminta tetap diberi tahu lebih dulu, sedangkan Fiona mengingatkan ibunya agar tidak lupa kegiatan tambahannya.
'Ibu tidak lupa. Karena itu tadi kita menunggu,' jawab Laura.
'Aku tahu. Cuma bilang.'
Laura tersenyum dan membantu menaruh bekal yang tersisa. Ia kemudian mengirim konfirmasi seperlunya kepada sekolah bahwa penjemputan hari itu selesai. Nama Lee tidak diubah menjadi izin tetap untuk datang sendiri pada hari lain.
Menjelang malam, Lee mengirim pesan bahwa ia senang dapat membantu. Laura membalas terima kasih, lalu menuliskan bahwa hari itu anak-anak tetap memerlukan dirinya hadir. Lee menjawab ia memahaminya.
Laura meletakkan ponsel dan kembali ke dapur. Ada rasa tenang karena tawaran bantuan kali ini tidak memaksanya menukar aturan yang dianggap penting. Ia belum tahu apakah hubungan mereka akan bergerak lebih jauh, tetapi ia mulai dapat membedakan perhatian yang memberi ruang dari perhatian yang meminta hidupnya diatur ulang sebagai balasan.